Kamis, 05 Maret 2026

Cerpen - Dari Sungkung Menuju Harapan

 

Dari Sungkung Menuju Harapan

Di ujung perbatasan negeri, di Kampung Sungkung, Entikong yang berbatasan langsung dengan Malaysia, hiduplah seorang remaja bernama Dalmasius Asmaja. Sejak kecil ia terbiasa melihat jalan tanah becek, mendengar deru motor dari negeri seberang, dan menyaksikan banyak pemuda seusianya memilih bekerja daripada sekolah. Namun Dalmasius berbeda. Ia ingin melanjutkan sekolah ke Kota Singkawang.

Suatu pagi, sebelum berangkat, ibunya menggenggam tangannya erat.

“Dalma, Ibu cuma bisa kasih ini. Uangnya Ibu pinjam dari saudara. Jangan sia-siakan, Nak,” ucap ibunya dengan suara bergetar.

Dalmasius menunduk. “Saya janji, Bu. Saya akan sekolah sungguh-sungguh. Saya mau jadi Kepala Dusun nanti, supaya Sungkung bisa lebih maju.”

Namun perjalanan itu menjadi awal cobaan. Tukang antar yang membawa mereka justru menipu. Uang hasil pinjaman ibunya habis dibawa kabur.

“Apa maksudnya ini, Bang? Uang kami mana?” tanya Dalmasius panik.

Tukang antar itu hanya berlalu. Dalmasius terduduk lemas.

Ia dan tiga temannya—Wewen, Letus, dan Okta—akhirnya diarahkan tinggal di rumah Pak Akim, menantu Pak Chon Sian. Namun kehidupan di kota tidak mudah. Biaya hidup tinggi, tekanan besar.

“Aku pulang saja, Dal,” kata Wewen suatu malam.

“Iya, aku juga. Berat kali di sini,” sahut Letus.

Okta hanya diam, lalu berkata pelan, “Maaf ya, Dal. Aku nggak sanggup.”

Dalmasius terdiam. “Kalian yakin? Kita sudah sejauh ini…”

Tetapi mereka tetap pergi. Ia ditinggalkan seorang diri.

Malam itu ia menangis dalam diam. “Bu… uang Ibu sudah habis. Teman-teman pun pulang. Apa saya harus menyerah?”

Namun ia teringat wajah ibunya. Ia memilih bertahan.

Tak lama kemudian, ia harus pindah dan menumpang di rumah seorang pak guru, tetangga Pak Akim.

“Kalau kau memang mau sekolah, tinggal saja di sini. Tapi kau harus rajin dan jujur,” kata pak guru tegas.

“Saya mau, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak,” jawab Dalmasius mantap.

Hari-harinya berat. Ia berjalan jauh ke sekolah, kadang menahan lapar.

“Dalmasius, kenapa kau tetap bertahan?” tanya pak guru suatu sore.

Ia tersenyum kecil. “Karena kalau saya menyerah, kampung saya tetap begini-begini saja, Pak.”

Tahun demi tahun berlalu. Hingga akhirnya, ia berdiri di hari kelulusannya. Air matanya jatuh.

“Saya berhasil, Bu…” bisiknya haru.

Ia pulang ke Sungkung membawa ijazah dan mimpi yang masih menyala. Dalam hatinya hanya satu tekad: suatu hari ia akan menjadi Kepala Dusun, membangun jalan, memperjuangkan pendidikan, dan memastikan tak ada lagi anak Sungkung yang kehilangan harapan karena kemiskinan dan penipuan.

Perjuangan Dalmasius Asmaja membuktikan bahwa mimpi yang dijaga dengan keteguhan hati akan selalu menemukan jalannya.

Rabu, 04 Maret 2026

Biografi Pak Daud

 

Biografi Pak Daud

Pak Daud adalah seorang tokoh agama yang dikenal dan dihormati oleh masyarakat Desa Celongkong. Ia lahir pada tanggal 14 Mei 1980. Meskipun pendidikan formalnya hanya sampai tingkat Sekolah Dasar (SD), Pak Daud dikenal sebagai pribadi yang cerdas, bijaksana, dan memiliki pengetahuan agama yang baik. Ia menjadi panutan bagi warga karena ketulusan dan kepeduliannya terhadap sesama.

Di lingkungan masyarakat, Pak Daud dikenal sebagai sosok yang ramah, sederhana, dan selalu bersedia membantu. Ia tidak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi tempat bertanya dan meminta nasihat bagi warga sekitar.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Pak Daud berperan sebagai pengurus masjid dan guru mengaji di Desa Celongkong. Ia juga dikenal pandai mengobati orang sakit secara tradisional. Kemampuannya tersebut membuat banyak warga datang kepadanya untuk meminta pertolongan.

Pak Daud sering diundang ke berbagai masjid untuk mengisi acara keagamaan, seperti peringatan Maulid Nabi dan kegiatan keislaman lainnya. Selain itu, ia juga kerap membantu masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Ia dengan senang hati berbagi ilmu, nasihat, serta solusi kepada siapa saja yang membutuhkan.

Meski hanya lulusan SD, Pak Daud membuktikan bahwa pendidikan bukan satu-satunya ukuran kecerdasan dan kebermanfaatan seseorang. Ia tetap dihormati dan dipercaya oleh masyarakat karena sikapnya yang bijaksana dan suka menolong.

Namun, Pak Daud memiliki riwayat penyakit asma yang telah lama dideritanya. Pada suatu waktu, penyakit tersebut kambuh dan kondisinya semakin memburuk. Hingga akhirnya, beliau menghembuskan napas terakhir pada tanggal 27 Maret 2022. Ia kemudian dimakamkan di Jalan Sagatani, Desa Celongkong.

Kepergian Pak Daud meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Desa Celongkong. Jasa dan kebaikannya tidak akan pernah dilupakan. Ia dikenang sebagai sosok yang selalu membantu, mengajarkan ilmu agama, serta menjadi tempat berbagi solusi bagi warga.

Semangatnya dalam berbagi ilmu dan membantu sesama menjadi teladan berharga bagi masyarakat. Hingga kini, nama almarhum Pak Daud tetap dikenang sebagai tokoh yang menginspirasi dan membawa banyak kebaikan bagi lingkungannya.

Biografi A. Y. Saiman

 

Biografi A. Y. Saiman

A. Y. Saiman lahir di Solo pada 02 Januari 1942. Ia menempuh pendidikan hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota kelahirannya. Sejak masa muda, beliau dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan memiliki semangat pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negara. Dorongan tersebut membawanya memilih jalan hidup sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD).

Setelah menyelesaikan pendidikan umum, beliau mengikuti pendidikan kemiliteran di Solo sebagai bekal menjalani tugas negara. Kehidupan militernya kemudian membawanya bertugas di berbagai daerah, termasuk di wilayah Kalimantan Barat yang pada masa itu sedang menghadapi situasi keamanan yang cukup genting.

Pada periode tahun 1967–1968, A. Y. Saiman ditugaskan di wilayah Kodam XII/Tanjungpura, Kalimantan Barat. Saat itu, kondisi keamanan di daerah perbatasan Kalimantan Barat–Sarawak kurang stabil akibat aktivitas kelompok PGRS/Paraku yang dianggap mengganggu keamanan negara. Beliau terlibat langsung dalam operasi penumpasan kelompok tersebut bersama rekan-rekan sesama prajurit TNI.

Tahun 1967 menjadi salah satu masa penting dalam perjalanan tugasnya. Pada saat terjadi peristiwa yang dikenal dengan istilah “mangkok merah”, beliau aktif menjalankan operasi di lapangan. Dalam situasi konflik antaretnis yang menimbulkan korban jiwa dan pengungsian besar-besaran masyarakat Tionghoa di wilayah Pontianak dan Singkawang, beliau bersama pasukannya berupaya menjaga stabilitas serta mencegah meluasnya konflik. Kerja sama dengan masyarakat setempat, termasuk komunitas Dayak, menjadi bagian dari strategi menjaga keamanan wilayah.

Memasuki tahun 1968, beliau tetap melaksanakan patroli intensif di daerah perbatasan guna memastikan tidak ada lagi sisa-sisa gerilyawan yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat. Dedikasi dan loyalitasnya selama bertugas membuahkan penghargaan berupa Piagam Satyalancana Kesetiaan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya kepada negara.

Dalam perjalanan kariernya, A. Y. Saiman terakhir bertugas di Kodim 1202/Singkawang. Ia juga pernah ditempatkan di kantor PEKAS pada bagian keuangan hingga akhirnya memasuki masa purnatugas pada tahun 1992 dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Dua (Pelda).

Di balik pengabdiannya sebagai prajurit, beliau adalah sosok kepala keluarga yang bertanggung jawab. Ia menikah dengan Mahana dan dikaruniai lima orang anak, yaitu Agus Hariyanto, Dwi Elia Wati, Triyono, Susiana, dan Vera.

Perjalanan hidup A. Y. Saiman mencerminkan dedikasi seorang prajurit yang mengutamakan tugas dan tanggung jawab demi menjaga keutuhan dan keamanan negara. Pengalamannya bertugas di wilayah perbatasan Kalimantan Barat pada masa penuh tantangan menjadi bagian penting dalam sejarah pengabdian TNI di daerah tersebut.

Semangat disiplin, loyalitas, dan pengorbanan yang beliau tunjukkan selama bertugas menjadi teladan bagi keluarga serta generasi penerus. Melalui pengabdiannya, A. Y. Saiman meninggalkan jejak perjuangan yang patut dikenang dan dihargai sebagai bagian dari sejarah bangsa.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...