Hikayat
Nek Busin, Parais yang Berbudi
Pada
zaman dahulu, di sebuah kampung yang bernama Pakunam, maka tersebutlah kisah
seorang tua renta yang dikenal oleh orang sekampung sebagai Nek Busin Parais
Enyek. Ia seorang penjual anak babi yang hidupnya amat sederhana, namun hatinya
penuh dengan kesabaran dan keikhlasan.
Adapun
Nek Busin tiada beristri dan tiada pula beranak. Sejak muda hingga lanjut usia,
ia menjalani hidup seorang diri di sebuah rumah tua peninggalan ayahandanya
yang telah lama kembali ke pangkuan Jubata. Rumah itu sudah uzur, beratapkan
daun yang sering bocor apabila hujan turun, serta berdinding papan yang lapuk
dimakan usia. Namun demikian, tiada sekalipun Nek Busin mengeluh akan nasibnya,
karena baginya hidup adalah amanah yang harus dijalani dengan sabar.
Maka
tiap-tiap pagi sebelum fajar menyingsing, bangunlah Nek Busin dari tidurnya
yang sederhana. Setelah berdoa kepada Jubata, ia pun bersiap-siap mengangkat
keranjang tuanya yang telah setia menemaninya bertahun-tahun. Di dalam
keranjang itu, diletakkannya anak-anak babi yang akan dijualnya ke
kampung-kampung sekitar.
Dengan
langkah perlahan namun tetap teguh, berjalanlah ia menyusuri jalan tanah yang
panjang dan berliku. Dari satu kampung ke kampung lainnya, ia menawarkan
dagangannya dengan suara lembut dan penuh kesopanan. Orang-orang mengenalnya
sebagai pribadi yang jujur dan tidak pernah memaksa pembeli.
Bukan
sahaja anak babi yang dijualnya, bahkan ia pun sering membantu jiran
tetangganya. Ada yang menitipkan ayam kampung untuk dijual, ada pula yang
meminta tolong menjualkan hasil kebun seperti durian, cempedak, langsat,
tampui, serta asam kueni. Segala amanah itu diterimanya dengan hati lapang,
seolah-olah itu adalah tanggung jawabnya sendiri.
Namun,
wahai segala yang mendengar hikayat ini, tidaklah hidup Nek Busin sentiasa
berjalan mudah. Maka tersebutlah kisah, beberapa kali ia diperlakukan dengan
tidak adil oleh orang yang tidak berhati mulia. Ada yang mengambil barang
dagangannya tanpa membayar, ada pula yang berjanji akan membayar kemudian hari,
tetapi janji itu tidak pernah ditepati.
Setiap
kali ditimpa kejadian demikian, Nek Busin hanya terdiam. Tiada ia mengangkat
suara, apalagi membalas dengan kemarahan. Dalam hatinya, ia hanya berkata,
“Jubata itu adil adanya. Apa yang hilang daripadaku, kelak akan diganti dengan
kebaikan yang lain.” Maka dengan penuh kesabaran, ia kembali melangkah,
melanjutkan usahanya tanpa rasa dendam.
Demikianlah
hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun terus berlalu. Walaupun
hidupnya penuh kekurangan, namun Nek Busin tidak pernah berhenti berbuat baik.
Ia tetap membantu orang lain, tetap jujur dalam berdagang, dan tetap bersyukur
atas apa yang dimilikinya.
Adapun
tentang keluarganya, konon kabarnya ia mempunyai saudara. Akan tetapi,
saudara-saudaranya itu kurang peduli terhadap dirinya. Mereka jarang datang
menjenguk, apalagi membantu kehidupannya. Namun demikian, Nek Busin tidak
pernah menyimpan rasa kecewa. Baginya, setiap orang memiliki jalan hidup
masing-masing.
Ia
lebih memilih untuk mengenang ajaran ayahandanya yang dahulu selalu berkata
agar hidup dengan jujur, sabar, dan tidak menyusahkan orang lain. Ajaran itulah
yang dipegang teguh oleh Nek Busin hingga ke hari tuanya.
Hatta
pada suatu masa, orang-orang di kampung mulai melihat ketulusan hati Nek Busin.
Mereka menyaksikan sendiri bagaimana ia tetap bersabar walau sering ditipu, dan
tetap membantu walau hidupnya sendiri serba kekurangan. Maka sedikit demi
sedikit, tumbuhlah rasa hormat di hati masyarakat terhadap dirinya.
Ada
yang mulai membantu memperbaiki rumahnya, ada pula yang dengan jujur membayar
lebih atas jasanya. Bahkan orang-orang yang dahulu pernah berbuat tidak adil
kepadanya, perlahan-lahan merasa malu dan berusaha memperbaiki kesalahan
mereka.
Syahdan,
nama Nek Busin Parais Enyek pun menjadi buah tutur di kalangan masyarakat. Ia
dikenang bukan karena kekayaan atau kedudukannya, melainkan karena ketabahan,
kejujuran, dan kebaikan hatinya yang tiada berbelah bagi.
Maka
demikianlah kisah ini dikisahkan kepada segala yang mendengar, agar menjadi
teladan dalam menjalani kehidupan. Bahwasanya harta benda bukanlah ukuran utama
kebahagiaan, melainkan kesabaran, keikhlasan, serta keyakinan kepada keadilan
Jubata.
Barang
siapa yang tetap berbuat baik dalam kesempitan, niscaya akan dimuliakan pada
waktunya. Dan barang siapa yang bersabar atas ujian hidup, maka hatinya akan
menjadi terang, serta hidupnya diberkahi oleh Yang Maha Kuasa.
Tamatlah
hikayat Nek Busin Parais Enyek, si penjual babi yang tabah lagi berbudi,
menjadi pelajaran berharga bagi segala generasi yang akan datang.