Selasa, 02 September 2025

Teks Anekdot “Cinta Rame-Rame di Kantin Sekolah”

 

“Cinta Rame-Rame di Kantin Sekolah”

Di sebuah sekolah, hiduplah Pak Slamet, tukang kantin yang terkenal ramah dan sering ketawa sendiri saat menghitung kembalian. Suatu hari, muncullah Brondong Jono, anak baru yang hobi ngemil roti goreng Pak Slamet bukan karena lapar, tapi karena wajahnya polos bikin Pak Slamet senang.

Awalnya, hubungan mereka hanya soal roti dan gorengan. Tapi lama-lama, setiap Pak Slamet melihat Jono, senyumannya lebih lebar dari tumpukan kerupuknya. Ikan lele di kantin pun seakan ikut menatap iri. Burung pipit di atap juga berkicau, “Hati-hati, Pak! Anak itu jago kabur!”

Guru-guru mulai curiga. “Kenapa kantin selalu ramai saat Jono datang?” tanya Bu Wati. Pak Slamet hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Ah, itu cuma strategi bisnis, Bu. Anak-anak pasti senang kalau kantin penuh.”

Teks Anekdot “Si Genit dan Kucing Misterius”

 

“Si Genit dan Kucing Misterius”

Dahulu kala, di sebuah desa kecil, hiduplah seorang gadis bernama Nisa. Nisa terkenal karena sifatnya yang genit: setiap pria yang lewat, senyumnya selalu bikin hati berdebar. Namun, Nisa bukan hanya pandai menggoda manusia, tapi juga punya hubungan unik dengan hewan—khususnya kucing.

Suatu hari, seekor kucing hitam muncul di depan rumahnya. Setiap kali Nisa lewat, kucing itu mengeong manja. “Waduh, bahkan kucing pun tergoda aku,” gumam Nisa sambil tersenyum lebar. Teman-temannya pun menertawakan tingkahnya.

Tapi ada yang lucu: setiap kali Nisa mencoba mengelus kucing itu dengan genit, kucingnya malah mencakar tangannya. Nisa pun berteriak, “Eh, ini sih bukan genit, tapi nakal!” Semua orang yang melihat tertawa terpingkal-pingkal.

Teks Anekdot "Sapi, Terong, dan Kebun Misterius"

 

Sapi, Terong, dan Kebun Misterius

Di sebuah desa, Pak Joko memiliki kebun sayur yang terkenal subur. Suatu hari, ia menanam terong unggulan yang katanya bisa tumbuh sebesar botol minyak goreng. Tapi sayangnya, kebun itu juga jadi favorit Sapi milik tetangganya, Bu Ani.

Setiap pagi, Pak Joko datang dengan hati gembira, tapi pulang dengan wajah masam. Terong-terongnya hilang digembala sapi! “Ini terong bukan rumput, Sapi!” keluh Pak Joko sambil mengusap keningnya. Sapi hanya menatap dengan mata polos seolah berkata, “Kalau aku bisa bicara, aku pasti bilang: Kenapa kamu menanam enak-enak, tapi tidak bagi aku?”

Akhirnya, Pak Joko memutuskan memberi Sapi beberapa terong kecil. Lucunya, Sapi malah memilih yang paling besar! Warga desa tertawa, sambil berkata, “Kalau mau sukses menanam, jangan lupa bagi-bagi ke tetangga… atau sapi tetangga!”

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...