Selasa, 23 September 2025

Hikayat "Batu Saboh" Cerita Daerah Bantang Sakawokng, Kalimantan Barat

 

 HIKAYAT BATU SABOH

Syahdan, inilah cerita urokng bahare’, konon turun-temurun dituturkan di beranda rumah panjang.
Bukan dongeng penglipur lara, melainkan pesan adat, agar cucu cicit jangan mengulang nista yang telah berlaku.

Pada suatu hari, di sebuah binuo, diadakannya pesta besar. Menurut adat, pesta itu wajib dihadiri oleh seluruh warga. Kaya miskin, tua muda, bujokng ngan andaro, semua berkumpul. Gong berbunyi, sape’ berdenting, orang menari, hidangan melimpah. Pendek kata, pesta itu bagaikan syurga turun di bumi.

Di tengah keramaian itu, tampaklah seorang anak kecil. Tubuhnya kurus, pakaian lusuh, wajahnya asing. Ia mendekat kepada seorang tamu, lalu berkata dengan lirih:

“Aku kaparotn sidi, muih gek aku mintok sapingotn nasik ka kitok?”
(Aku lapar sekali, bolehkah aku meminta sepiring nasi?)

Maka diberilah ia sepiring nasik dengan lauk lengkap. Lahap benar ia makan, lalu pamit pulang. Tak lama ia kembali, meminta lagi sepiring nasik. Diberi pula. Ketiga kalinya datang lagi, dan tetap diberi serta dibekali untuk dibawa pulang.

Orang pun mulai heran. Salah seorang bertanya:

“Aok gek parutn ngu kanyang makotik nasik samanyak angko?”
(Tidakkah engkau kenyang dengan nasi sebanyak itu?)

Jawab si anak kecil:

Anok, aku anok kanyang. Pamangkanan anyian nyaman sidi, baruk kaniok aku nyacapik pamangkanan dahayo anyian. Tai aku puok karumoh, ku ngame'otn ka adik ngan umakku. Aso nyo oo makotik iyo
(Tidak, aku belum kenyang. Makanan ini sangat enak, baru kali ini aku merasakan makanan seenak ini. Tadi kubawa pulang untuk adik dan ibu, mereka pun menikmatinya).

Orang itu tersenyum sinis. Tatkala anak kecil itu datang lagi, ia dipanggil:

O, kamudok, sanapotn kau puok. Antiotn dohok i sio. Aku pane ngaepetotn kau laok nang nyaman.”
(Hei anak kecil, tunggulah sebentar. Aku akan membekalimu daging yang enak).

Diberinya sebuah bingkisan. Anak kecil itu pulang dengan gembira, seraya berkata:

“Baek sidi urok kowo.”
(Sungguh baik hati orang itu).

Namun, sesampai di jalan ia membuka bingkisan itu. Dimakannya dengan gigih meski keras tak lumat. Ketika tiba di rumah, umak-nya bertanya:

“Makot ameo kau, nak?”
(Apa yang kau makan, nak?)

Jawab si anak:

Anyian laok kitok.”
(Ini daging, Mak).

Sang umak mengambil benda itu. Alangkah terkejutnya! Rupanya bukan daging, melainkan getah kayu menggumpal. Murkalah sang ibu, berlinang air matanya:

“Sampe ati sidi dangan jayo ka kau! Anyian sih anok baparibaso ka urok. O Jubato, ngameo kee urok-urok kowo tega jako ka kami nang sontok sarantok anyian!”
(Tega sekali mereka memperlakukanmu! Ini penghinaan besar. Oh Jubato, mengapa mereka begitu kejam kepada kami yang miskin!)

Dengan hati luka, dipanggilnya kucing kesayangan. “Omeeeeng… omeng… di manakah engkau?” Seekor kucing berbulu indah datang, dielusnya penuh kasih. Lalu kucing itu menggigit sehelai kulit kayu usang, dibawanya kepada sang umak. Seolah memberi tanda.

Dipakaikanlah kulit kayu itu kepada si kucing, menyerupai pakaian manusia. Dibawanya kucing itu ke tengah pesta, disertai anaknya. Orang-orang terkejut, kemudian pecah dalam tawa:

“Hahahaha! Asu’ ngan meo’ berbaju! Hahaha!”

Gelak tawa membahana, menertawakan ibu miskin, anak kecil, dan kucing berbaju kulit kayu.

Tetapi alam murka. Guntur menggelegar, petir menyambar, angin ribut menderu. Tenda roboh, pohon tumbang, hujan turun bagaikan air terjun. Petir menyambar satu demi satu orang yang sedang tertawa. Seketika semuanya terdiam. Tiada lagi gong, tiada lagi tari, tiada lagi suara manusia.

Yang tertinggal hanyalah segumpal batu besar, kumpulan orang yang membatu. Batu itu kini disebut Batu Saboh, terletak di lereng bukit Saboh. Menjadi saksi murka alam, hingga kini dipandang keramat sebagian orang.

Maka tersebutlah Hikayat Batu Saboh, bekas pesta yang berbalik jadi nestapa.
Barang siapa menghina si miskin, barang siapa mempermainkan anak yatim, niscaya laknat Jubato turun bagai guntur.
Ambillah iktibar wahai cucu cicit: jangan sombong pada harta, jangan congkak pada kuasa. Sebab yang kekal hanyalah budi, kasih, dan adat yang suci.

 

HIKAYAT “INTE’ DAN ASU’ AKO”

 

HIKAYAT “INTE’ DAN ASU’ AKO”

Syahdan, tersebutlah sebuah bantang purba bernama Bantang Sadinik, tidak jauh dari pesisir laut. Dahulu kala, bantang itu ramai dengan suara anak-anak, bunyi gong, dan denting alu yang menumbuk padi. Namun pada suatu masa, sunyilah bantang itu. Hanya tersisa tubuh-tubuh momo, yakni jasad manusia yang telah ditinggalkan roh, terbujur kaku tanpa terurus.

Di sudut bilik yang sepi, seorang gadis kecil bernama Inte’ menangis di sisi ibunya, Inu’e. Tubuh ibunya lemah dan pucat, sedangkan ayah dan dua adiknya telah lebih dahulu berpulang ke alam subayotn, menyusul para penghuni bantang yang musnah ditelan wabah.

Dengan suara parau, Inu’e berpesan kepada anaknya,

“Inte’, pergilah engkau meninggalkan bantang ini sebelum matahari terbit. Janganlah kau menunggu ajal, sebab roh pembawa penyakit telah menebar kutuk. Ikutilah barisan bukit, dan di sana engkau akan menemukan keluarga baru. Ingatlah, Jubato melindungi anak yang tabah.”

Sesudah berkata demikian, Inu’e mengembuskan napas terakhirnya. Maka habislah semua penghuni bantang Sadinik, kecuali seorang gadis kecil itu seorang.

Dengan tangis dan air mata, Inte’ menutup jasad ayah, ibu, dan adik-adiknya dengan kain kulit kayu. Ia juga menutup tubuh-tubuh tetua dan sanak di bilik-bilik lain. Tiba-tiba terdengar suara gaib silih berganti, seperti bisikan roh leluhur:

“Ampus gi! Ampus! Ganceh ampus!”
(Pergilah! Pergi cepat!)

Maka dengan hati berat, Inte’ meninggalkan bantang yang kini menjadi timawok abó, pemukiman yang musnah ditinggal penghuninya.

Menyusuri bukit demi bukit, Inte’ berjalan seorang diri. Ia makan buah hutan, minum dari air terjun, dan memohon kekuatan kepada Jubato. Pada suatu hari, ia melihat seekor burung Rue berwarna indah, ekornya panjang bagai ukiran pusaka. Terpikat, ia berlari mengejar, namun kakinya terpeleset dan jatuh ke jurang. Untunglah tubuhnya tersangkut pada dahan pohon raksasa.

Hari berganti malam, ia terjebak di sana. Kadang monyet hutan menjatuhkan buah untuknya, kadang ular besar melintas tanpa mengganggu. Ia sadar bahwa rimba telah menjadi sahabatnya. Dalam lelapnya, ia mendengar suara roh ibu:

“Inte’, seekor anjing besar akan datang menolongmu. Sabar, anakku.”

Dan benar, datanglah seekor binatang berbulu hitam pekat, bermata garang, dengan ekor pendek sebesar jempol. Suaranya “ko…ko…ko…” menggema dari tebing. Hewan itu menjatuhkan akar kayu ke arah Inte’. Dengan berpegangan pada akar itu, ia pun naik ke atas jurang, selamat dari maut.

Sejak saat itu, binatang itu menjadi sahabatnya. Inte’ menamainya Asu’ Ako — anjing besar yang setia. Mereka berjalan bersama mengikuti anor, jalan kecil binatang hutan, hingga sampai ke sebuah bantang lain.

Tatkala anak-anak bantang melihat kedatangan gadis kecil bersama Asu’ Ako, mereka pun berteriak ketakutan. “Asu’ ako! Asu’ ako!” seru mereka. Sebab belum pernah ada manusia yang datang bersama anjing sebesar itu.

Berita cepat sampai ke telinga Timanguk, kepala bantang. Ia mengutus orang-orangnya untuk mencari gadis kecil itu. Ketika ditemukan, Inte’ bercerita tentang musibah yang menimpa Bantang Sadinik, tentang wasiat ibunya, dan tentang Asu’ Ako yang menolongnya dari jurang maut.

Mendengar kisah itu, para tetua bantang meneteskan air mata. Timanguk berkata dengan haru:

“Kasih sidi nanang kau anyian. Kau anak pilihan, dikirim Jubato ke bantang ini. Kami bangga dan bersyukur memilikimu.”

Maka diadakanlah musyawarah. Diputuskan bahwa Inte’ akan diasuh oleh sepasang suami-istri yang belum dikaruniai anak. Sejak saat itu, ia pun hidup bahagia bersama keluarga barunya, disayang oleh seluruh bantang.

Sejak kedatangan Inte’, anjing-anjing hutan mulai berdatangan ke bantang. Ada yang besar, ada yang kecil, semua dijinakkan dan dipelihara. Mereka membantu menjaga bantang, menemani berburu, serta menjadi sahabat manusia.

Maka lahirlah sebuah prinsip yang dijunjung oleh orang Dayak Salako Garantukng Sakawokng hingga kini:

“Asu’ atok i-tarimo’ ibare’ makot, kanu’ agi Taino.”
(Anjing datang pun diterima dan diberi makan, apalagi manusia.)

Demikianlah hikayat Inte’ dan Asu’ Ako, kisah seorang gadis kecil yang kehilangan keluarganya, tetapi memperoleh keluarga baru, serta sebuah sahabat yang mengajarkan kesetiaan. Hikayat ini hidup turun-temurun, dituturkan di beranda rumah panjang, sebagai tanda bahwa kasih sayang, keberanian, dan kejujuran adalah warisan yang lebih abadi dari harta dunia.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...