Sabtu, 28 Maret 2026

Hikayat Asu Rebutan Balung

 

Hikayat Asu Rebutan Balung

Alkisah, pada suatu masa di negeri yang permai, hiduplah dua orang sahabat bernama Eman dan Joni. Mereka dikenal sebagai pemuda yang rajin, namun hatinya kerap diuji oleh godaan dunia. Maka tersebutlah kisah yang menjadi pengajaran bagi sekalian manusia.

Pada suatu hari, datanglah kabar bahwa di tengah hutan terdapat sebuah peti berisi harta peninggalan seorang saudagar kaya. Maka berangkatlah Eman dan Joni dengan penuh harap. Setelah berhari-hari berjalan, sampailah mereka ke tempat yang dimaksud, lalu didapatinya peti itu terletak di bawah pohon besar.

Tatkala peti itu dibuka, tampaklah emas dan permata yang berkilauan. Maka berubah hati keduanya. Eman berkata, “Baiknya harta ini kita bagi sama rata.” Akan tetapi Joni, yang telah dikuasai nafsu, berkata, “Akulah yang lebih dahulu melihat tempat ini, maka lebih patut bagiku mengambil bagian lebih.”

Maka berselisihlah mereka dengan kata-kata keras, hingga lupa akan persahabatan yang telah lama terjalin. Perkelahian pun hampir terjadi, bagaikan asu rebutan balung, tiada lagi ingat akan budi dan malu.

Tiba-tiba datanglah seorang tua yang arif. Maka katanya, “Wahai anak muda, harta ini tiada akan membawa berkah jika diperebutkan dengan cara demikian. Barang siapa tamak, niscaya kehilangan segalanya.”

Mendengar kata-kata itu, tersadarlah Eman dan Joni. Maka mereka pun menangis menyesali perbuatan. Lalu harta itu dibagi dengan adil, dan sebagian disedekahkan kepada fakir miskin.

Maka demikianlah kisah ini menjadi teladan, bahwa keserakahan hanya membawa kehinaan, sedangkan kebijaksanaan mendatangkan kemuliaan adanya.

 

Minggu, 08 Maret 2026

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala:   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maringa. Adapun kampung itu sangatlah makmur, tanahnya ...

Kamis, 05 Maret 2026

Cap Go Meh

 

Cap Go Meh

 

Perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu tradisi budaya Tionghoa yang paling meriah di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Cap Go Meh dirayakan pada hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek dan menandai berakhirnya rangkaian perayaan Tahun Baru Tionghoa. Di Singkawang, perayaan ini memiliki ciri khas yang sangat kuat karena kota ini dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Tionghoa terbesar di Indonesia.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang tidak hanya menjadi acara keagamaan, tetapi juga menjadi agenda wisata budaya berskala nasional dan internasional. Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk menyaksikan kemeriahan festival ini. Salah satu daya tarik utama adalah atraksi para tatung, yaitu orang-orang yang dipercaya memiliki kemampuan spiritual dan menjadi perantara roh leluhur atau dewa. Para tatung melakukan ritual tolak bala dengan atraksi yang menegangkan, seperti menusukkan benda tajam ke pipi atau berdiri di atas pedang, tanpa terlihat merasakan sakit. Atraksi ini dipercaya sebagai simbol pembersihan dan perlindungan bagi masyarakat.

Selain pertunjukan tatung, perayaan Cap Go Meh juga dimeriahkan dengan arak-arakan naga dan barongsai yang mengelilingi pusat kota. Musik tradisional, tabuhan genderang, serta pakaian adat berwarna merah dan emas menambah semarak suasana. Masyarakat dari berbagai etnis, seperti Tionghoa, Melayu, dan Dayak, turut berpartisipasi sehingga mencerminkan kerukunan dan toleransi antarbudaya di Singkawang.

Secara keseluruhan, Cap Go Meh di Kota Singkawang bukan sekadar perayaan tradisional, melainkan simbol identitas budaya dan persatuan masyarakat. Tradisi ini terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang memperkaya keberagaman Indonesia.

Cerpen - Dari Sungkung Menuju Harapan

 

Dari Sungkung Menuju Harapan

Di ujung perbatasan negeri, di Kampung Sungkung, Entikong yang berbatasan langsung dengan Malaysia, hiduplah seorang remaja bernama Dalmasius Asmaja. Sejak kecil ia terbiasa melihat jalan tanah becek, mendengar deru motor dari negeri seberang, dan menyaksikan banyak pemuda seusianya memilih bekerja daripada sekolah. Namun Dalmasius berbeda. Ia ingin melanjutkan sekolah ke Kota Singkawang.

Suatu pagi, sebelum berangkat, ibunya menggenggam tangannya erat.

“Dalma, Ibu cuma bisa kasih ini. Uangnya Ibu pinjam dari saudara. Jangan sia-siakan, Nak,” ucap ibunya dengan suara bergetar.

Dalmasius menunduk. “Saya janji, Bu. Saya akan sekolah sungguh-sungguh. Saya mau jadi Kepala Dusun nanti, supaya Sungkung bisa lebih maju.”

Namun perjalanan itu menjadi awal cobaan. Tukang antar yang membawa mereka justru menipu. Uang hasil pinjaman ibunya habis dibawa kabur.

“Apa maksudnya ini, Bang? Uang kami mana?” tanya Dalmasius panik.

Tukang antar itu hanya berlalu. Dalmasius terduduk lemas.

Ia dan tiga temannya—Wewen, Letus, dan Okta—akhirnya diarahkan tinggal di rumah Pak Akim, menantu Pak Chon Sian. Namun kehidupan di kota tidak mudah. Biaya hidup tinggi, tekanan besar.

“Aku pulang saja, Dal,” kata Wewen suatu malam.

“Iya, aku juga. Berat kali di sini,” sahut Letus.

Okta hanya diam, lalu berkata pelan, “Maaf ya, Dal. Aku nggak sanggup.”

Dalmasius terdiam. “Kalian yakin? Kita sudah sejauh ini…”

Tetapi mereka tetap pergi. Ia ditinggalkan seorang diri.

Malam itu ia menangis dalam diam. “Bu… uang Ibu sudah habis. Teman-teman pun pulang. Apa saya harus menyerah?”

Namun ia teringat wajah ibunya. Ia memilih bertahan.

Tak lama kemudian, ia harus pindah dan menumpang di rumah seorang pak guru, tetangga Pak Akim.

“Kalau kau memang mau sekolah, tinggal saja di sini. Tapi kau harus rajin dan jujur,” kata pak guru tegas.

“Saya mau, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak,” jawab Dalmasius mantap.

Hari-harinya berat. Ia berjalan jauh ke sekolah, kadang menahan lapar.

“Dalmasius, kenapa kau tetap bertahan?” tanya pak guru suatu sore.

Ia tersenyum kecil. “Karena kalau saya menyerah, kampung saya tetap begini-begini saja, Pak.”

Tahun demi tahun berlalu. Hingga akhirnya, ia berdiri di hari kelulusannya. Air matanya jatuh.

“Saya berhasil, Bu…” bisiknya haru.

Ia pulang ke Sungkung membawa ijazah dan mimpi yang masih menyala. Dalam hatinya hanya satu tekad: suatu hari ia akan menjadi Kepala Dusun, membangun jalan, memperjuangkan pendidikan, dan memastikan tak ada lagi anak Sungkung yang kehilangan harapan karena kemiskinan dan penipuan.

Perjuangan Dalmasius Asmaja membuktikan bahwa mimpi yang dijaga dengan keteguhan hati akan selalu menemukan jalannya.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...