Rabu, 24 September 2025

Hikayat Net-Net

 

Hikayat Net-Net

 Syahdan pada suatu masa, tatkala kerajaan bernama Seri Bunga Permai diperintah oleh seorang raja yang adil lagi berdaulat, maka tersebutlah kisah seorang perempuan yang hidupnya penuh cela. Adapun perempuan itu tiadalah ia menempuh jalan agama, melainkan suka berbuat mungkar serta lalai akan titah Tuhan. Maka apabila ajalnya sudah sampai, tiadalah ia beroleh ketenteraman di dalam kuburnya, melainkan rohnya berkelana tanpa arah.

Hatta, pada suatu malam yang gelap gulita, roh perempuan itu menjelma menjadi seekor kucing putih. Kucing itu rupanya amat ganjil, bulunya putih bersih bagai kapas, matanya bercahaya seperti bulan purnama, dan suaranya sentiasa berbunyi “net-net, net-net.” Maka penduduk negeri pun hairanlah akan hal itu, bahkan gemetar segala hati orang yang melihatnya.

Maka dikhabarkan orang, barang siapa mendekati kucing putih itu, nescaya tubuhnya semakin lama semakin besar, sehingga bertukar rupa kembali kepada perempuan asalnya. Tetapi adapun perempuan itu tiadalah mengganggu atau mengusik sesiapa, hanya wujudnya sahaja menjadi tanda akan kemurkaan Allah kepada hamba-Nya yang lalai.

Adapun pada masa itu, istana Seri Bunga Permai pun gemparlah akan cerita kucing putih yang disebut orang dengan nama Net-Net. Raja pun menitahkan hulubalang dan segala menteri supaya menyelidik perihal tersebut, kerana banyaklah rakyat negeri berasa takut. Maka pergilah mereka ke desa-desa, mencari asal usul kisah itu.

Syahdan sampailah mereka ke sebuah dusun terpencil, maka ditemuilah seorang tua yang arif lagi berilmu. Katanya, “Bahwasanya kucing putih itu bukanlah binatang biasa, melainkan roh perempuan yang tidak tenang kerana amalnya buruk di dunia. Maka ia diberi bentuk sedemikian rupa, supaya manusia mengambil iktibar dan tidaklah lalai dalam hidupnya.”

Mendengar kata orang tua itu, maka mengertilah segala hulubalang dan menteri, lalu kembali mereka ke istana menyampaikan titah ilmu itu kepada raja. Maka titah baginda, “Bahawa sungguh, inilah tanda kebesaran Tuhan, dan pengajaran bagi segala rakyat beta. Barang siapa lalai dalam berbuat amal, nescaya hidupnya tiada tenteram di akhirat kelak.”

Sejak itulah, kisah Net-Net menjadi buah mulut di seluruh negeri. Tiadalah seorang berani mencela atau mentertawakan, bahkan mereka mengambilnya sebagai tanda peringatan. Maka anak-anak kecil dipesan oleh ibu bapanya: janganlah berbuat kejahatan, kerana kelak rohnya bisa menjadi seperti Net-Net, tiada aman, tiada tenteram.

Adapun perempuan yang menjelma itu, tiadalah ia meninggalkan kebiasaan suaranya yang berbunyi “net-net.” Maka barang kali terdengarlah suara itu di tengah malam, maka orang pun segera berzikir dan membaca doa, supaya hatinya tiada gentar.

Maka hikayat ini pun menjadi milik segala orang, diwariskan dari mulut ke mulut, supaya diketahui oleh segala anak cucu kemudian hari.

Hatta, demikianlah kisahnya, bahwasanya Net-Net itu bukanlah untuk menakutkan, melainkan memberi petunjuk. Maka hendaklah manusia berbuat amal yang baik, menjauhi maksiat dan ingat akan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Maka tamatlah Hikayat Net-Net adanya.

Hikayat "Niyayi Tawa"

 

Hikayat Niyayi Tawa

Alkisah, pada tanah Jawa yang subur makmur, tatkala kehidupan manusia berpadu erat dengan roh alam, terdapatlah seorang hantu perempuan yang bukan pengganggu, melainkan pelindung. Ia dinamai Niyayi Tawa, atau dikenal pula sebagai Niyayi Tawang.

Rupa Niyayi Tawa konon menyerupai perempuan sepuh, berwajah lebar, tubuhnya kurus renta, namun matanya menyiratkan kasih sayang yang tak terperi. Walau demikian, ia tiada menampakkan diri sembarangan. Hanya mereka yang beroleh restu, atau mereka yang tekun memberi sesaji, dapat merasakan keberadaannya.

Perempuan Jawa percaya, Niyayi Tawa bersemayam di dapur, tempat api menyala dan periuk beras mendidih. Barang siapa hendak memasak, acap kali memanggil namanya dengan lirih: “Niyayi Tawa, berkahilah masakan hamba, janganlah gosong, janganlah api padam.” Maka, entah mengapa, kayu bakar yang semula redup akan menyala kembali, periuk pun mendidih dengan tenang, masakan harum tanpa hangus. Demikianlah keajaiban yang diyakini lahir dari restu sang hantu penjaga dapur.

Namun, kehadirannya tiada boleh disepelekan. Pada tiap malam Jum’at, masyarakat desa wajib memberi sesaji berupa kembang wangi. Bersama itu, dilakukanlah ritual menggosok peralatan dapur dengan borch—serbuk pemutih tradisional—agar periuk dan kuali berkilau bersih. Semua itu sebagai tanda penghormatan kepada Niyayi Tawa, sebab tiada dapur yang terpelihara tanpa doa, dan tiada api yang abadi tanpa restu roh penjaga.

Sekali dalam setahun, diadakan pula upacara besar untuknya. Pada hari itu, para perempuan desa menyiapkan sesajen berupa nasi, lauk-pauk, dan kue tradisi. Di tengah dapur, dibuatlah boneka sederhana: sebatang tangkai dipancang, lalu batok kelapa ditaruh di atasnya. Batok itu digambari mata, hidung, dan telinga dengan bedak putih. Boneka itu kemudian dipanggil-panggil dengan sebutan “Niyayi Tawa… Niyayi Tawa…”, digoyang-goyangkan seolah hidup.

Setelah sesaji disuguhkan, perempuan desa makan bersama, namun diyakini bahwa Niyayi Tawa turut hadir, ikut serta mencicipi makanan lewat rasa yang makin nikmat. Bagi mereka, dapur bukan sekadar tempat memasak, melainkan pusat kehidupan rumah, lambang kesejahteraan, dan Niyayi Tawa adalah rohnya.

Konon, ada kisah yang sering dituturkan orang tua kepada cucu-cicit.

Pada suatu masa, hiduplah seorang istri petani bernama Ratri. Ia rajin memasak, namun selalu dirundung celaka: nasi kerap gosong, sayur sering tawar, api cepat padam. Sang suami murka, berkata bahwa Ratri tiada becus mengurus dapur. Dengan hati sedih, Ratri mengadu kepada tetua desa.

Tetua itu tersenyum arif, lalu berkata: “Engkau lupa memberi hormat kepada Niyayi Tawa. Dapur bukanlah tempat kosong, melainkan bertuan. Berilah ia sesaji, maka api akan taat kepadamu.”

Maka Ratri pun menyiapkan bunga kenanga, melati, dan mawar, diletakkan di sudut dapur. Ia menggosok periuk dan kuali dengan borch hingga berkilau, sembari berdoa: “Niyayi Tawa, terimalah persembahan hamba, jangan biarkan masakan hamba gagal.”

Ajaib, semenjak itu, nasi Ratri tak pernah gosong lagi, api selalu menyala terang, bahkan suaminya berkata, “Masakanmu kini lebih nikmat daripada sebelumnya.” Maka sejak saat itu, Ratri tiap malam Jum’at tak lupa memberi kembang, dan tiap tahun turut dalam upacara penghormatan.

Hikayat ini menjadi pelajaran bagi seluruh desa: bahwa masakan yang baik bukan hanya soal tangan yang cekatan, tetapi juga hati yang penuh hormat kepada roh penjaga.

Niyayi Tawa tiada pernah menakutkan, tiada pula menyesatkan. Ia adalah pengingat bahwa rumah tangga harus dijaga dengan kesabaran, kesucian, dan rasa syukur. Sebab dapur adalah lambang hidup: api menyala bagai semangat, periuk mendidih bagai rezeki, dan wangi masakan bagai kebahagiaan yang menyatukan keluarga.

Maka, siapa pun yang tinggal di tanah Jawa, apabila mendengar kisah Niyayi Tawa, hendaklah ia tersenyum penuh hormat. Janganlah meremehkan dapur, sebab di sanalah roh baik bersemayam, menjaga kehidupan agar tiada padam.

 

Hikayat "Ilu-Ilu"

            Hikayat "Ilu-Ilu"

             Alkisah, pada masa silam, di tanah Jawa yang berhias sawah nan membentang laksana permadani hijau, hiduplah manusia dengan adat yang luhur. Mereka memuliakan alam, menghormati leluhur, serta menjunjung tinggi tata susila. Namun, sebagaimana adanya kehidupan, ada pula yang memilih jalan sebaliknya: hidup bebas tanpa aturan, menuruti hawa nafsu, bagai daun kering yang terombang-ambing angin.

Dari jiwa-jiwa yang demikianlah lahir makhluk yang dinamai Ilu-Ilu. Arwah orang meninggal yang semasa hayatnya melupakan tata karma, menolak pitutur, serta membiarkan dirinya hanyut dalam kelengahan dunia.

Konon, rupa Ilu-Ilu menyerupai manusia, akan tetapi wajahnya senantiasa basah oleh air mata. Tangisnya bukanlah tangis biasa, melainkan tangis penyesalan yang tak berkesudahan. Ia berjalan tanpa arah, tiada rumah, tiada tempat berdiam. Malam hari maupun siang terik, ia berkeliaran dari hutan ke persawahan, dari tepian kali ke jalan sunyi. Suara tangisnya mendayu-dayu, melukai hati siapa saja yang mendengarnya, bagaikan ratapan anak kecil kehilangan ibu.

Walau ia tiada berbahaya, akan tetapi penampilannya menakutkan nian. Kulitnya pucat seperti bulan purnama tertutup kabut, matanya bengkak kemerahan, dan tubuhnya kurus laksana ranting kering. Barang siapa berjumpa dengannya, sering jatuh sakit, sebab ketakutan merayap hingga ke sumsum. Bahkan orang tua berkata: air mata Ilu-Ilu mengandung penyakit, menular bagaikan racun yang menyebar melalui embusan angin. Maka penduduk desa berpesan kepada anak-cucu: janganlah engkau dekati tangisan yang asing di tengah malam, sebab bisa jadi itu ratap dari Ilu-Ilu.

Alkisah, pada suatu malam purnama, seorang pemuda bernama Jaya tengah kembali dari pasar malam. Ia berjalan seorang diri melewati jalan sawah. Angin berembus lirih, riak padi bergoyang bagai lautan kecil. Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara tangisan: lirih mula-mula, lalu semakin jelas, mengguncangkan hati.

“Siapakah gerangan menangis di kala malam begini?” bisik Jaya dalam hatinya.

Ia berhenti, matanya menyapu gelap. Dan tampaklah sesosok bayangan duduk di tepi jalan, menundukkan wajah, menangis tersedu-sedu. Tubuhnya menyerupai manusia, namun auranya lain, dingin, membuat bulu kuduk Jaya berdiri.

Jaya hampir saja menghampiri, hendak menolong. Namun seketika ia teringat pesan neneknya: “Anakku, jika engkau dengar tangis di malam kelam, jangan sekali-kali mendekat. Itu bisa jadi tangis Ilu-Ilu. Ingatlah, airmatanya membawa celaka.”

Maka Jaya melangkah mundur perlahan, bergegas memutar jalan, meninggalkan sosok itu di balik kabut malam. Ketika ia menoleh dari kejauhan, bayangan itu masih duduk, masih menangis, air matanya menetes tiada henti, laksana hujan kecil yang tak berkesudahan.

Keesokan harinya, Jaya menceritakan pengalamannya. Orang tua kampung mengangguk penuh kebijaksanaan. “Itulah Ilu-Ilu,” kata mereka, “arwah yang menanggung sesal tiada akhir. Tangisnya adalah cermin dosa yang dibawanya sejak hidup, dan air matanya adalah racun yang lahir dari hati yang terpuruk. Maka janganlah sekali-kali engkau mendekatinya.”

Sejak peristiwa itu, Jaya kian sadar: kehidupan yang bebas tanpa aturan bukanlah jalan mulia. Ia pun menata langkah hidupnya, mematuhi adat dan petuah leluhur, agar kelak arwahnya tidak menjadi Ilu-Ilu yang meratap di jalanan sunyi.

Demikianlah, kisah Ilu-Ilu beredar dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Ia menjadi peringatan bagi manusia agar tidak terlena oleh dunia fana, agar tidak hidup semaunya tanpa peduli pada kebaikan.

Ilu-Ilu ibarat cermin dari jiwa yang terbuang: wajahnya menangis, tubuhnya meratap, hidupnya tanpa tujuan, tiada rumah, tiada tempat pulang. Dan siapa pun yang mendengar tangisnya, hendaklah menjauh, sebab itu bukan sekadar ratapan—melainkan pesan dari alam gaib bahwa penyesalan yang terlambat hanyalah ratap tanpa akhir.

 

Legenda "Cicir, Penunggu Kebun Senja"

 Legenda Cicir, Penunggu Kebun Senja

Adalah sebuah dusun purba, terletak di tepian rimba, dilingkupi pepohonan nan teduh, serta dikelilingi kebun yang bagaikan samudra hijau. Dusun itu bernama Kampung Nyiur, tempat manusia hidup berdampingan dengan alam, bertani, berladang, dan bersenda gurau di kala fajar maupun senja. Namun, di balik kesejukan tanahnya, terselip pula kisah gaib nan termasyhur, suatu dongeng yang diwariskan dari leluhur ke cucu-cicit, tentang makhluk halus bernama Cicir.

Konon, Cicir bukanlah hantu berwajah seram ataupun berujud mengerikan. Ia tak terlihat oleh mata insani, bagaikan angin lalu yang hanya terasa hembusannya. Kehadirannya diketahui melalui suara yang samar, tiruan dari bunyi belalang yang menyanyi kala malam beranjak. Bunyi itu berbunyi lirih: cir… cir… cir…, seakan memanggil dan sekaligus menegur. Barang siapa melintas sendirian di kebun selepas matahari beradu dengan cakrawala, niscaya langkahnya akan diiringi suara itu. Semakin jauh ia melangkah, kian jelas suara Cicir menggema, bagai irama yang menggetarkan dada.

Penduduk dusun berkata, “Janganlah engkau menoleh tatkala mendengar Cicir, dan jangan pula engkau berlari. Sebab, yang menoleh akan dihantui mimpi nan gulita, dan yang berlari akan diikuti bayangan tak kasatmata hingga tubuhnya lemah dan sakit.” Demikianlah pesan orang tua kepada anak cucunya. Maka tiadalah seorang pun yang berani melanggar wasiat itu.

Meski tampak menyeramkan, masyarakat Kampung Nyiur tidaklah menaruh benci kepada Cicir. Sebagian malah percaya bahwa ia adalah roh penjaga kebun, utusan dari alam untuk melindungi pepohonan dan buah-buahan dari tangan usil manusia. Suara belalang yang ditirukannya dianggap tanda penjagaan, sebagaimana lonceng pada istana yang memberi kabar kedatangan tamu. Maka para petani pun lebih berhati-hati, menjaga tanahnya, merawat pohonnya, serta tidak sewenang-wenang mengambil hasil tanpa rasa syukur.

Pada suatu petang yang temaram, tatkala rembulan baru menampakkan wajahnya di sela awan, hiduplah seorang pemuda bernama Wira. Ia gagah lagi teguh, namun hatinya sering diliputi rasa ingin tahu yang meluap-luap. Wira mendengar banyak kisah tentang Cicir, akan tetapi ia tiada puas hanya mendengarnya dari mulut orang tua. Maka diputuskanlah oleh Wira untuk berjalan seorang diri melalui kebun tatkala senja turun, dengan maksud membuktikan kebenaran legenda itu.

Langkahnya pelan namun pasti, menapaki tanah lembab yang harum oleh bau rumput basah. Angin berdesir lirih, menggoyangkan dahan-dahan seperti tangan-tangan tua yang hendak meraih. Wira melangkah semakin jauh, hingga terdengarlah suara yang samar—cir… cir… cir…—menyusup ke dalam telinga.

Pada mulanya ia sangka hanyalah belalang biasa. Namun, makin lama suara itu makin jelas, seolah bergerak mengikuti langkah kakinya. Wira berhenti, suara pun berhenti. Ia berjalan lagi, suara itu pun mengiringi. Hatinya bergetar, namun keberaniannya menahan rasa takut yang perlahan merambat.

“Adakah engkau, Cicir, yang selama ini diperkatakan orang?” bisiknya, suaranya lirih bagai doa yang tertelan angin.

Sekejap hening, lalu suara cir… cir… itu terdengar lebih nyaring, bagaikan sahutan. Wira hampir menoleh, namun ia teringat pesan orang tua: jangan menoleh, jangan berlari. Maka ia tegakkan tubuhnya, melangkah terus ke depan, dengan dada berdebar bagai genderang perang.

Setelah sampai di ujung kebun, suara itu lenyap seketika, hilang ditelan malam. Wira berhenti, menatap langit yang bertabur bintang. Ia sadar bahwa Cicir memang nyata adanya. Bukan dongeng kosong, bukan pula khayalan belaka.

Keesokan harinya, Wira menceritakan pengalamannya kepada orang sekampung. Orang tua mengangguk penuh wibawa, sedang anak-anak mendengar dengan mata terbelalak. Dari hari itu, Wira tidak lagi meremehkan nasihat leluhur. Ia pun menjadi penjaga kebun bersama para petani lain, selalu berhati-hati agar tidak merusak alam yang mereka tempati.

Maka, masyarakat semakin yakin bahwa Cicir bukanlah setan pengganggu, melainkan penunggu yang setia menjaga kebun dari tangan-tangan tamak. Ia bagai pagar gaib, bagai nyala pelita yang tak terlihat, mengingatkan bahwa setiap pohon, setiap tanah, setiap butir buah, memiliki roh yang patut dihormati.

Demikianlah, waktu bergulir, musim berganti. Namun cerita tentang Cicir tetap hidup dalam hati penduduk Kampung Nyiur. Ibu menuturkannya kepada anak, anak menyampaikannya kepada cucu, cucu pun mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Kisah itu laksana benang emas yang mengikat masa lalu dengan masa kini, memberi ajaran bahwa alam bukanlah benda mati, melainkan sahabat yang harus dijaga.

Maka barang siapa berjalan seorang diri di kebun menjelang malam, dan terdengar olehnya suara lirih cir… cir…, ketahuilah bahwa Cicir hadir. Janganlah engkau menoleh, janganlah engkau gentar, sebab ia hanyalah penanda bahwa kebun itu terjaga, dan tanah itu dirawat oleh penjaga yang tak kasatmata.

Begitulah adanya. Cicir hidup dalam legenda, tiada tampak namun senantiasa terasa, bagaikan bayang-bayang senja yang menghuni perbatasan siang dan malam.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...