Rabu, 24 September 2025

Hikayat Candra Birawa

Hikayat Candra Birawa 

Syahdan, adalah sebuah negeri di Pulau Kalimantan pada zaman dahulukala, ketika raja-raja masih bersemayam di istana berhias intan dan permata. Negeri itu makmur adanya, namun senantiasa diganggu oleh musuh dari seberang lautan, hendak merebut takhta dan kekayaan yang tiada taranya.

Hatta, pada suatu malam bulan purnama, raja yang bernama Seri Maharaja Indra Kusuma duduk termenung di balairung seri. Baginda memikirkan segala tipu daya musuh yang hendak menggulingkan kerajaan. Maka dipanggillah seorang Bujanga yang masyhur kesaktiannya, bernama Puyang Samudra, ahli dalam segala ilmu mantra dan aji-aji.

Maka sembah Bujanga itu kepada baginda:
“Tuanku yang mulia, janganlah tuanku gundah gulana. Adalah pada hamba, satu pusaka yang tiada tandingannya, yakni memanggil hantu perang yang disebut Candra Birawa, bocah bajang sakti mandraguna. Apabila ia dilepaskan, niscaya musuh hancur luluh bagai debu dihembus angin.”

Mendengar kata demikian, maka sukacitalah hati Maharaja. Baginda pun menitahkan agar segera diadakan upacara memanggil makhluk tersebut.

Maka pada tengah malam itu, dengan dupa dibakar dan jampi serapah dibacakan, Bujanga Puyang Samudra pun menyeru nama gaib. Tiba-tiba kelihatanlah asap bergumpal, lalu muncullah seorang anak kecil bertubuh kate, bermata merah menyala, giginya tajam bagai taring, itulah Candra Birawa.

Maka berkata hantu itu dengan suara bagai guruh di angkasa:
“Siapa yang berani memanggil hamba dari alam gaib?”

Sembah Bujanga:
“Adalah titah Seri Maharaja Indra Kusuma, hendak meminta pertolongan tuan hantu, supaya menghalau musuh yang hendak merampas negeri ini.”

Maka tertawalah Candra Birawa, suaranya menggema ke segenap hutan rimba Kalimantan. Katanya:
“Baiklah, akan hamba tunaikan. Tetapi syaratnya, darah musuh mesti menjadi santapan hamba.”

Baginda pun mengangguk, lalu dengan restu baginda, Candra Birawa dilepaskan ke medan perang. Maka terjadilah peperangan yang amat dahsyat. Musuh yang datang dengan ribuan bala tentara, habis porak-poranda dimakan hantu bocah bajang itu. Tentara lari tunggang-langgang, bumi bergegar oleh suara jerit tangis.

Adapun setelah perang selesai, negeri pun selamat, rakyat kembali aman. Akan tetapi, syahdan, Candra Birawa tiada mahu kembali ke alam gaibnya. Ia menuntut darah manusia tiada henti. Baginda Maharaja pun gundah gulana, takut negerinya dimakan hantu yang telah dipelihara.

Hatta, maka disembahkannya doa dan munajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan-Nya. Maka dengan izin Allah, datanglah seorang alim ulama dari tanah seberang, bernama Syekh Abdul Karim. Beliau menuliskan ayat-ayat suci pada sehelai kain putih, lalu dilemparkan kepada Candra Birawa. Seketika itu, hantu bocah bajang itu menjerit nyaring, tubuhnya mengecil, lalu lenyap hilang bagai asap tersapu angin.

Maka selamatlah negeri Kalimantan daripada ancaman hantu perang. Seri Maharaja pun insaf akan kesalahan dirinya yang memelihara makhluk gaib. Baginda berpesan kepada sekalian rakyat:
“Ketahuilah, tiada ada kekuatan melainkan pertolongan Allah jua. Barangsiapa bergantung pada jin dan syaitan, niscaya binasalah ia.”

Demikianlah hikayat ini menjadi iktibar, bahwasanya segala tipu daya dunia tiada kekal, hanya amal saleh dan doa yang menjadi benteng sejati


 

Hikayat Kaki Puspaki

 

Hikayat Kaki Puspaki 

 Syahdan, tersebutlah sebuah negeri yang termasyhur adanya, bernama Negeri Mandraguna. Negeri itu diperintah oleh seorang raja yang adil perintahnya lagi besar kuasanya, bergelar Seri Maharaja Indra Kusuma. Maka rakyat jelata sekalian hidup dalam teduh perintah baginda, tiada seorang pun yang teraniaya, melainkan segala hidup mereka sentosa adanya.

Hatta, dalam negeri itu masyhurlah khabar tentang adanya dua makhluk gaib yang tiada kelihatan oleh mata, akan tetapi kuasanya besar tiada terperi. Yang seorang bergelar Kaki Puspaki, rupanya laki-laki tua bertongkat emas; dan seorang lagi bernama Nini Puspakaki, perempuan tua berambut putih bagaikan kapas, mukanya bercahaya laksana bulan purnama. Kedua makhluk itu tiada pernah menampakkan dirinya, hanyalah roh halus yang menjaga hati manusia, mengatur kemauan serta menimbang rasa bersalah segala insan.

Adapun apabila seorang rakyat merasa bimbang, atau tatkala ia tiada mengetahui jalan yang benar, maka dipersembahkannyalah sesajen di pelataran rumah, sambil menyeru nama Mbah Kakung dan Mbah Puteri. Maka tatkala itulah roh Kaki Puspaki dan Nini Puspakaki turun menyusup ke dalam hati manusia, menanamkan rasa tenteram, memberi petunjuk antara yang baik dan yang buruk.

Syahdan, pada suatu hari, datanglah seorang pangeran bernama Radin Surya Pramana, putera baginda raja. Maka hatinya gundah gulana, sebab ia dikehendaki oleh baginda untuk memilih calon permaisuri, akan tetapi ia tiada mengetahui siapa yang patut dijadikan pasangan hidupnya. Siang malam tiada ia dapat tidur, hatinya senantiasa gelisah.

Maka Radin Surya pun memanggil seorang tiang pasek, yakni pemuka adat yang tahu akan tatacara sembahyang. Berkatalah ia, “Hai tuan pasek, bawalah daku memohon pertolongan kepada Kaki Puspaki dan Nini Puspakaki, supaya terbuka mataku memilih jalan benar.”

Maka tiang pasek pun mengatur sesajen, menyalakan dupa harum, lalu sembahyang dengan khidmat seraya menyeru, “Wahai Mbah Kakung, wahai Mbah Puteri, datanglah engkau memberi restu kepada junjungan hamba, Radin Surya Pramana.”

Hatta, tiada berapa lama, berhembuslah angin sepoi-sepoi, seakan-akan langit bergetar, dan Radin Surya pun tertidur seketika. Maka dalam tidurnya, ia bermimpi melihat sepasang kakek-nenek berpakaian putih berseri-seri, berdiri di hadapannya. Berkatalah Kaki Puspaki, “Hai anak raja, janganlah engkau bimbang lagi, karena jodohmu sudah tertulis sejak azali.” Maka Nini Puspakaki menyambung, “Carilah gadis yang berhati tulus, bukan karena parasnya, bukan pula karena pangkatnya, melainkan karena budi pekertinya. Dialah yang kelak menuntunmu menuju kebahagiaan.”

Maka terjagalah Radin Surya, hatinya terang benderang bagaikan tersuluh cahaya matahari. Disampaikanlah mimpi itu kepada baginda raja, dan kemudian ia memilih seorang gadis sederhana, anak seorang rakyat jelata, tetapi berhati mulia serta berbudi bahasa.

Baginda Maharaja pun ridha akan pilihan puteranya. Seluruh negeri pun bersuka cita, memuji kebesaran Kaki Puspaki dan Nini Puspakaki, yang senantiasa menjaga manusia agar jangan terjerumus dalam salah langkah.

Adapun hikayat ini memberi ajaran, bahwa hati manusia hendaklah ditimbang dengan rasa bijaksana, tiada hanya menurut hawa nafsu semata. Barang siapa menghargai budi dan akhlak, maka bahagialah hidupnya di dunia dan akhirat.

Maka demikianlah adanya hikayat Kaki Puspaki dan Nini Puspakaki, menjadi warisan nenek moyang, diceritakan turun-temurun, memberi pengajaran kepada segala bangsa, agar manusia tiada lupa akan petunjuk Ilahi.

 

HIKAYAT KUMBALAGENI

 

HIKAYAT KUMBALAGENI

Syahdan, tersebutlah suatu kisah yang berlaku pada zaman dahulu kala, tatkala bumi masih muda dan lautan masih gemuruh dengan suara gaib. Adapun di negeri Jawa terdapatlah seorang ratu yang masyhur namanya, tiada lain melainkan Ratu Rara Kidul, yang bersemayam di istana lautan selatan. Seri paduka ratu itu rupawan parasnya, tiada bandingnya pada segala dewi dan bidadari.

Hatta, tersebutlah pula seorang hantu yang amat digentari oleh segenap isi negeri. Namanya Kumbalageni, jin yang besar tubuhnya, matanya bernyala bagai bara api, rambutnya panjang menutup bumi, suaranya bagai guruh yang menggetarkan dada orang yang mendengarnya. Maka hantu itu tiada bertuankan, melainkan hanya tunduk pada titah Ratu Rara Kidul jua adanya.

Adapun pekerjaan Kumbalageni tiada lain melainkan menagih janji manusia yang telah berpaling nyawa daripada jasad. Bahwasanya barang siapa yang tatkala hidupnya telah bersumpah janji kepada Ratu Rara Kidul, maka tatkala matinya ia ditagih oleh Kumbalageni akan hutangnya, sama ada hutang darah, hutang nazar, ataupun hutang janji yang terlupa.

Maka tersebutlah seorang raja di tanah seberang, yang bergelar Seri Maharaja Dirgantara. Raja itu amat besar kuasanya, bala tenteranya laksana pasir di pantai, segala negeri takluk kepadanya. Akan tetapi, dalam hatinya terbitlah nafsu besar hendak menambah kekuatan. Lalu baginda bersemedi di pesisir pantai, memohon pertolongan kepada Ratu Rara Kidul.

Syahdan, tibalah sang ratu dari dasar samudra, diiringkan oleh segala dayang jin laut. Katanya kepada maharaja: "Hai raja segala raja, jikalau engkau hendak bertambah kuasa, hendaklah engkau berjanji padaku, niscaya kukaruniakan kemenangan atas segala lawan."

Maka maharaja pun berjanji dengan sumpah yang kuat, hendak mempersembahkan persembahan tatkala usia baginda sudah senja. Maka Ratu Rara Kidul pun mengabulkan doanya, dan benar, segala peperangan dimenangi oleh baginda.

Hatta, tatkala umur maharaja sampai kepada hujung hayatnya, maka baginda pun mangkat, kembali kepada Ilahi. Maka pada malam yang sunyi, terlihatlah Kumbalageni keluar dari dasar samudra, menebarkan api di langit. Segala rakyat menjadi gemetar, karena diketahuinya hantu itu hendak menagih janji arwah maharaja kepada ratu laut selatan.

Maka masuklah Kumbalageni ke dalam istana, menembus dinding emas dan batu permata, tiada satu pun yang menghalanginya. Suaranya bergema: "Wahai roh Seri Maharaja Dirgantara, keluar engkau, tunaikanlah janji kepada Ratu Rara Kidul, jangan engkau mungkir, karena sumpah itu berat lagi azabnya."

Maka roh maharaja pun dibawa pergi oleh Kumbalageni, ghaib tiada ketahuan lagi oleh rakyatnya. Adapun negeri itu kemudian menjadi goncang, karena tiada lagi pemimpin yang memegang janji pada Yang Maha Kuasa, melainkan memilih jalan syirik dengan makhluk gaib.

Syahdan, dari kisah itu dapatlah diambil ibarat oleh segala orang, bahwa barang siapa berjanji hendaklah ditunaikan, janganlah bersumpah kepada makhluk, karena tiada ada kuasa melainkan Allah jua. Dan barang siapa lupa akan janji, maka Kumbalageni tiada lalai akan menagihnya, sebab demikianlah titah Ratu Rara Kidul yang kekal adanya.

Maka hikayat ini pun menjadi tamsil bagi anak cucu, agar tiada menyimpang dari jalan yang benar. Wallahu a‘lam bisshawab.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...