Jumat, 26 September 2025

Hikayat Ratang Buno

 

Hikayat Ratang Buno

Alkisah di tanah rimba Borneo, di mana kabut pagi menyelimuti bukit dan suara burung enggang menggema di langit, hiduplah seorang pemuda gagah bernama Ratang Buno dari suku Dayak Salako. Sehari-hari ia ditemani oleh seekor anjing setia bernama Sampurat, yang selalu mengikuti ke mana ia pergi. Kampungnya tenteram adanya, sampai suatu ketika malapetaka datang.

Satu demi satu penduduk jatuh sakit. Tubuh mereka panas, mata menjadi kuning, kulit pucat laksana daun meranggas, dan tenaga lenyap seolah disedot gaib. Orang tua-tua menyebut penyakit itu pialu badan kuning. Tangisan terdengar dari setiap rumah panjang, dan doa dipanjatkan, namun tiada obat ditemukan. Maka ibunda Ratang, dengan wajah sendu, berkata pada anaknya, “Anakku, pergilah engkau ke hutan, mohonlah pada leluhur dan roh penunggu, mungkin ada penawar yang bisa menyelamatkan kita.”

Ratang pun berangkat dengan parang pusaka di pinggang, membawa segenggam beras sebagai sesaji, ditemani Sampurat yang menggonggong riang. Malam pertama ia bermalam di bawah beringin raksasa, ketika tiba-tiba angin berhenti berembus, dan dari kegelapan muncul Hantu Garing Bungkuk, berambut panjang, bermata merah menyala. Sampurat menggonggong keras, namun Ratang menunduk hormat. Hantu itu berkata, “Wahai anak manusia, engkau masuk ke wilayah kami. Apa tujuanmu?” Ratang menjawab, “Hamba datang mencari penawar pialu badan kuning yang menimpa kampung kami.”

Hantu itu tertawa lirih, “Jika demikian, engkau harus mencari sepuluh akar sakti, masing-masing dijaga oleh roh leluhur. Tiada mudah jalannya. Tetapi jika hatimu suci, roh hutan akan mengizinkan.” Ratang berjanji, “Demi kampungku, hamba sanggup.”

Maka mulailah pengembaraan panjangnya. Di tepi rawa ia menjumpai akar Karinapat, namun roh nenek tua menghadang, meminta sesaji beras agar tanah tidak murka. Ratang menabur beras, akar itu pun ia peroleh. Di lembah berangin tumbuh akar Pandan Sari, dijaga ular besar berlidah api. Ratang memohon dengan kata lembut, menjelaskan niat sucinya, dan ular itu pun reda, akar diberikan. Di hutan sepi ia menemukan akar Santidur, roh gadis menangis meminta doa leluhur sebelum mengizinkannya mengambil. Di bukit batu berdiri raksasa hitam menjaga akar Sasingkun, namun Sampurat menggonggong hingga roh itu mundur.

Demikianlah Ratang menempuh rintangan. Akar bunga Gandrajat dijaga kakek bertanduk, yang meminta ia menyanyikan mantra kuno Salako. Akar Kaimabo dijaga burung hantu bermata api, yang hanya tenang setelah Ratang menunduk memberi hormat. Akar buah Liak dijaga roh ikan gaib di sungai, yang menguji keberaniannya menyelam dalam arus deras. Akar rumput Tatak dijaga kuntilanak yang melayang-layang, namun Ratang menaburkan beras dan menyebut nama leluhur, hingga roh itu sirna. Akar Marakacang dijaga lelaki berwajah api, yang hanya pergi setelah Ratang menahan diri dari amarah. Dan akhirnya, akar Manyam Bararot dijaga nenek bermata putih, yang berkata, “Gunakanlah akar ini hanya untuk menolong, jangan untuk keserakahan.”

Satu demi satu akar dan daun terkumpul. Pada malam kesepuluh, Ratang bermimpi. Dalam mimpinya datang arwah Apai Galung, leluhur Salako, berjanggut panjang, memakai ikat kepala bulu enggang. Ia berkata, “Cucuku, rebuslah sepuluh akar ini dengan daunnya dalam periuk tanah. Airnya minumkanlah pada yang sakit, mandikan tubuh mereka. Itulah penawar pialu badan kuning. Tetapi ingat, jangan engkau gunakan ilmu ini untuk memperkaya diri, sebab hutan akan menuntut balas.”

Ratang terbangun dengan peluh di dahi, memandang Sampurat di sampingnya. “Tanpa engkau, anjing setia, tiadalah aku sanggup,” bisiknya. Sampurat menggoyang ekor, seolah mengerti.

Maka ia kembali ke kampung, membawa pulang sepuluh akar sakti. Dengan ibunya ia merebusnya dalam periuk tanah. Airnya berwarna kuning keemasan, harum namun pekat. Orang sakit meminumnya, tubuh mereka perlahan segar kembali, mata jernih, panas reda. Satu demi satu sembuhlah mereka. Orang kampung bersorak, memuji keberanian Ratang, namun ia berkata, “Bukan aku yang sakti, melainkan akar dan daun dari hutan, serta izin roh leluhur.”

Sejak saat itu, ramuan sepuluh akar diwariskan turun-temurun oleh suku Dayak Salako sebagai obat penawar pialu badan kuning. Orang Salako pun selalu mengingat, hutan adalah rumah sahabat gaib, tempat manusia, anjing, dan roh bisa berteman, asal hati jujur dan niat suci. Barangsiapa tamak, niscaya hutan menuntut balas.

 

Hikayat Pamuloótn Bangas ka Taino, Cerita Dayak Salako Garantukng Sakawokng

 

Hikayat Pamuloótn Bangas ka Taino

Alkisah pada masa purba, sebelum ada langit dan bumi, hanyalah sunyi tiada bertepi. Maka Jubato Pajaji, Sang Penguasa Segala Raya, berjalan mengitari kekosongan itu. Hatinya berbisik,

“Baiklah Aku ciptakan tanah untuk kehidupan.”

Maka dari kehendak-Nya terciptalah Binuo, tanah yang luas. Di antara sekian banyak tanah, ada yang dinamakan Binuo Sakawok, tempat sinar matahari jatuh, dikelilingi bukit berbatu, dan dialiri sungai yang menuju laut lepas.

Jubato memandangnya sambil berkata,

“Inilah tanah yang kelak akan kutaruh makhluk, supaya mereka hidup dan menjaga ciptaan ini.”

Maka diciptakanlah tumbuhan yang menghijau, binatang yang berlari dan terbang, serta manusia, sepasang saja, dengan umur sepanjang langkah menuju langit. Segala makhluk hidup damai, tiada yang saling menyakiti.

Hari-hari berlalu, binatang kian banyak jumlahnya. Melihat itu, Jubato memanggil para raja binatang berkumpul di balai agung. Dengan suara yang bergemuruh Ia bersabda,

“Hai segala binatang, dengarlah! Aku menciptakan kalian dengan kasih. Tetapi mulai hari ini tiada lagi makanan yang Kusediakan. Aku hendak memberi kalian benih. Rawatlah, tanamlah, makanlah hasil kerja tanganmu.”

Maka riuhlah sidang itu. Seekor burung kecil, Amporouk, berkicau,

“Jubato, apa maksud-Mu? Mengapa Engkau tidak lagi menyiapkan makanan bagi kami?”

Jubato pun menjawab,

“Bukan karena Aku berhenti menyayangi kalian. Aku hendak memberi amanah, supaya kalian memberi teladan rajin bekerja, bahkan bagi manusia.”

Seekor tupai, Raja Tupe, meloncat ke hadapan-Nya,

“Apakah ini karena Engkau lebih mengasihi manusia daripada kami?”

“Tidak begitu, Tupe,” sahut Jubato, “Aku sayangi kalian sama seperti manusia. Tetapi sekarang saatnya kalian membuktikan kesungguhan.”

Binatang pun terdiam, dan akhirnya menerima.

Maka satu demi satu mereka maju ke hadapan Jubato, menerima benih yang diamanahkan. Tupai melompat gembira membawa kelapa. Amporouk terbang tinggi sambil menabur benih cabai. Belalang Buntak melayang membawa sesawi. UntĆØk si kera bersorak kegirangan menerima pisang. Angkis si tikus berlari cepat dengan kacang tanah di genggamannya. Demikian pula yang lain, hingga semua pulang dengan hati riang.

Tinggallah manusia, yang belum menerima. Jubato menatapnya, lalu berkata,

“Hai manusia, kepadamu Aku berikan benih kuwat karang. Tumbuhkanlah jamur kayu ini di batang yang lapuk. Siramilah dengan air semalam suntuk, maka tumbuhlah ia sebagai makananmu.”

Manusia pun menerima dengan hormat.

Berhari-hari kemudian, ladang para binatang hijau lebat, penuh buah dan sayur. Manusia pun memanen jamur kayu. Namun istri manusia yang sedang mengandung merasakan hasrat lain. Ia berkata kepada suaminya,

“Suamiku, betapa nikmat jamur yang kita makan. Tetapi aku rindu buah pisang UntĆØk, aku ingin meminum air kelapa Tupe, aku terbayang cabai merah milik Amporouk. Tolonglah, bawakan untukku.”

Suaminya menggeleng,

“Istriku, janganlah engkau minta itu. Kita hanya diperbolehkan makan jamur. Jika kita mengambil hasil ladang binatang, murkalah mereka dan murka pula Jubato.”

Namun istrinya memohon, merayu dengan air mata,

“Kasihanilah aku, suamiku. Aku membawa anakmu dalam kandungan. Seandainya hanya sedikit, tak akan ada yang tahu.”

Hati sang suami goyah. Malam itu ia berangkat diam-diam, menyusup ke ladang-ladang binatang. Ia memetik pisang, memanjat kelapa, memungut sesawi, dan mengambil cabai. Semua ia bawa pulang dalam wadah kulit kayu, lalu berkata di depan rumah,

“Istriku, bukalah pintu. Aku bawakan buah-buahan yang engkau rindukan.”

Sang istri tersenyum lega, melahap buah-buahan itu dengan gembira.

Namun perbuatan itu tidak luput dari mata Rembulan yang bersinar, dan Angin yang berembus. Mereka berbisik,

“Lihatlah, manusia telah melanggar. Esok pasti gegerlah Binuo Sakawok.”

Benar saja, keesokan harinya binatang ribut. UntĆØk mengamuk mencari pisangnya, Tupe menuduh kelelawar, Buntak terbang kesana-kemari, Amporouk bersungut-sungut. Mereka saling menuduh, saling curiga, hingga tanah itu kacau balau.

Maka turunlah Jubato, memanggil mereka semua ke sidang besar. Dipanggilnya pula manusia, dihadirkan Rembulan dan Angin sebagai saksi.

“Wahai manusia,” sabda Jubato, “apakah engkau tahu mengapa mereka bertengkar?”

Manusia terdiam. Akhirnya ia bersujud dan berkata,

“Ampunilah aku, Jubato. Akulah yang mengambil hasil ladang mereka. Istriku mengandung dan sangat ingin mencicipi buah-buahan itu. Aku takut, tetapi aku terpaksa.”

Mendengar itu binatang murka. Mereka berseru,

“Hukumlah manusia! Jangan biarkan ia tanpa balasan!”

Jubato berusaha menenangkan,

“Tenanglah. Biarlah kita putuskan dengan adil.”

Namun tiba-tiba Amporouk terbang ke tengah balai dan berseru lantang,

“Jubato! Jika manusia dibiarkan berumur panjang, mereka akan memusnahkan kami. Berilah mereka umur pendek. Biarlah muda mati muda, tua mati tua!”

Jubato menghela nafas panjang, lalu bersabda,

“Maka demikianlah. Mulai hari ini manusia akan menggantikan kalian menanam semua benih. Kalian tetap akan mendapat bagian dari hasil kerja mereka, itulah Bangas yang tak akan lepas dari ladang. Dan umur manusia tidak lagi sepanjang langkah menuju langit. Ada yang mati muda, ada yang mati tua, sesuai kelakuannya.”

Sejak saat itu, manusia hidup bekerja keras di bawah terik matahari. Ladang mereka tidak pernah lepas dari Bangas, hama tanaman. Dan umur manusia pun menjadi pendek, tidak lagi panjang sebagaimana dahulu kala.

Demikianlah kisah Hikayat Pamuloótn Bangas ka Taino, sebagai asal mula manusia menanggung kerja, binatang menuntut bagian, dan umur manusia ditentukan oleh kelakuannya di dunia.

Tammat.

Hikayat Demong Ranjuk dan Antu Gergasi

 Hikayat Demong Ranjuk dan Antu Gergasi

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung yang letaknya di tepi rimba belantara, hiduplah seorang pemuda gagah perkasa bernama Demong Ranjuk. Ia hidup bersama istrinya yang cantik jelita, budi pekertinya halus, dan pada waktu itu tengah mengandung anak pertama mereka.

Tatkala usia kandungan semakin besar, sang istri mulai mengidam. Aneh benar keinginannya, sebab ia tidak ingin emas, permata, atau kain sutra, melainkan ingin mencicipi hati pelanduk putih. Demong Ranjuk pun menuruti kemauan istrinya. Hari demi hari ia masuk ke dalam hutan, berburu pelanduk dengan tombak dan parang. Puluhan ekor pelanduk berhasil ia tangkap, namun tak satu pun memiliki hati putih. Walau demikian, sang istri tetap bersabar, dan Demong Ranjuk terus berusaha.

Hingga pada suatu ketika, saat berburu di dalam rimba, anjing-anjingnya menyalak riuh. Disangkanya seekor pelanduk putih tertangkap, rupanya seekor babi hutan tua yang besar tubuhnya dan bertaring panjang. Maka terjadilah perkelahian hebat antara Demong Ranjuk dan hewan buas itu. Tombak dihunus, parang terangkat tinggi. Namun malang tak dapat ditolak: parang yang ditebaskan mengenai akar pohon keras, lalu berbalik menghantam lehernya sendiri. Seketika kepala Demong Ranjuk terpisah dari tubuhnya dan jatuh ke jurang yang amat dalam.

Tubuhnya masih meraba-raba mencari kepala. Dalam panik, tangannya menggenggam kepala anjing pemburu yang paling setia. Dengan nekat dipenggalnya kepala anjing itu, lalu ditancapkannya ke lehernya. Ajaib, kepala anjing tersebut menyatu dengan tubuhnya, dan Demong Ranjuk pun menjelma menjadi manusia berkepala anjing.

Karena malu menampakkan diri kepada istrinya, ia tidak kembali ke kampung. Sejak itu ia hidup mengembara di dalam hutan, membangun pondok-pondok sederhana. Di samping setiap pondok ditanamnya sebatang pohon pinang sebagai tanda. Tahun-tahun berlalu, tubuhnya kian berubah: bulu merah tumbuh lebat, wajahnya kian menyeramkan, dan ia dikenal dengan sebutan Antu Gergasi. Sementara anjing-anjingnya satu per satu menjelma menjadi burung engkererek.

Adapun di kampung, istrinya akhirnya melahirkan seorang putra yang tampan dan gagah. Anak itu tumbuh besar tanpa pernah mengenal wajah ayahnya. Setelah dua puluh tahun, ia pun bertanya kepada ibunya tentang keberadaan sang ayah. Dengan air mata berlinang, sang ibu menceritakan segala peristiwa yang menimpa Demong Ranjuk, serta berpesan:

“Jika engkau masuk ke hutan, carilah pondok-pondok peninggalan ayahmu. Di samping setiap pondok ada pohon pinang yang ditanamnya.”

Berangkatlah sang anak menyusuri rimba. Dari satu pondok ke pondok berikutnya ia berjalan, hingga sampailah ia pada pondok ketujuh. Di sana berdiri sebatang pinang yang lebat buahnya, dan dari kejauhan tampak sosok besar berbulu merah dengan kepala anjing. Nalurinya berkata: itulah ayahnya. Mereka pun berpelukan erat, melepas rindu setelah sekian lama berpisah.

Namun Demong Ranjuk menolak pulang. Katanya, “Ayahmu kini telah berubah menjadi Antu Gergasi, tak pantas kembali ke kampung.” Ia hanya menitip pesan:

“Wahai anakku, jika engkau atau keturunanmu bermalam di hutan, lalu terdengar suara anjing atau burung engkererek pada malam hari, segeralah bakar sabut pinang. Itu pertanda bahwa engkau adalah darah dagingku, orang Mualang, sehingga aku tidak akan mengganggu.”

Sejak masa itu, orang Dayak Mualang selalu berpegang pada pesan tersebut. Setiap kali mereka bermalam di hutan dan mendengar suara ganjil di malam hari, mereka segera membakar sabut pinang agar Antu Gergasi menjauh.

Akan tetapi, zaman kini telah berubah. Suara Antu Gergasi dan kicauan burung engkererek semakin jarang terdengar. Hutan yang dahulu luas kini banyak berganti menjadi perkebunan sawit. Hikayat ini pun tinggal sebagai kenangan, sekaligus peringatan bagi generasi kemudian:

janganlah lupakan hutan, sebab dari sanalah kehidupan bermula.

CERITA RAKYAT: MANTRA JUBATA DAN ANAK MUDA SALAKO

  MANTRA JUBATA DAN ANAK MUDA SALAKO

Alkisah, di tanah Kalimantan Barat, di sebuah kampung Dayak Salako yang dikelilingi hutan rimba, hidup seorang pemuda bernama Ramba. Ia anak muda yang rajin, tetapi selalu merasa dirinya tak seberapa dibanding para tetua kampung. Ramba sering mendengar cerita tentang mantra-mantra lama yang diwariskan oleh para leluhur, namun ia tidak pandai menghafalkannya.

Pada suatu malam bulan purnama, kampung Ramba hendak mengadakan upacara adat kayau, yaitu penghormatan kepada roh penjaga dan arwah leluhur. Segala sesaji telah disiapkan: beras kuning, ayam putih, sirih, dan seikat daun-daunan hutan. Para penari mulai bergerak mengelilingi apar, yakni kepala kayau yang menjadi lambang pengingat kejayaan masa lalu.

Tetua adat, Apai Panggau, memanggil Ramba ke depan. “Hai anak muda, engkau yang akan menyampaikan doa malam ini,” katanya.

Ramba gemetar. “Ampun, Apai. Aku tiada pandai membaca mantra, tiada pandai bernyanyi mambang seperti orang-orang tua dahulu.”

Tetapi Apai tersenyum, lalu berkata, “Justru karena engkau generasi baru, engkau harus belajar memohon restu Jubata dengan hatimu sendiri. Bukan kata-kata indah yang penting, melainkan niat yang suci.”

Maka dengan suara lirih, Ramba mencoba mengucapkan doa yang ia dengar dari para tetua:

“Auk nyian ka Jubato, wahai Engkau Jubata. Kami bapadoh ka awo pamo tahoh aik, kami memohon ijin kepada para arwah dan leluhur tanah air.
Saparati Kito’ panunggu wap pamo rumoh tangok, seperti Engkau penguasa yang ada di dalam kehidupan rumah tangga.
Saparati cacak, kaimpawok, dangan antok dan karimebee, seperti cicak, laba-laba, dan kluing, orang-orang akan berdatangan.
Kami anok mudo’, tiada pandai membaca, tiada tahu bernyanyi mambang lama. Engkau sajalah, Jubata, yang bacakan nyanyian itu bagi kami.”

Maka seketika suasana berubah hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin malam. Ketika Ramba menaburkan beras kuning ke arah apar bersama para penari, tampak seekor cicak turun dari balai, laba-laba meniti benang di langit-langit, dan seekor kluing melintas di tanah. Para tetua terperanjat, sebab itu pertanda arwah leluhur berkenan hadir.

Apai Panggau lalu berseru, “Lihatlah, Jubata mendengar doa kita melalui suara anak muda ini! Meski ia tiada pandai seperti kita dahulu, hatinya tulus, maka roh leluhur datang memberi tanda.”

Sejak malam itu, Ramba dihormati sebagai pemuda yang membawa pesan bahwa generasi baru tiada perlu malu bila tak hafal nyanyian lama, asalkan tetap menjaga adat, hormat pada leluhur, dan memelihara alam sekitar.

Hatta, kampung itu pun makmur kembali. Ladang menjadi subur, sungai dipenuhi ikan, dan hutan memberi hasil berlimpah. Mantra itu kemudian diwariskan turun-temurun, sebagai pengingat bahwa Jubata bukan hanya milik orang tua, melainkan juga menyertai anak-anak muda yang mau tulus memohon.

Maka demikianlah cerita rakyat Dayak Salako, tentang Ramba sang anak muda, tentang doa sederhana, dan tentang restu Jubata yang kekal bagi generasi di tanah Kalimantan Barat.

CERITA RAKYAT DAYAK SALAKO: MANTRA JUBATA DAN RAMBA ANAK MUDO’

 CERITA RAKYAT DAYAK SALAKO: MANTRA JUBATA DAN RAMBA ANAK MUDO’

Maka tersebutlah kisah di tanah Borneo, di hulu sungai yang jernih airnya, di kaki hutan yang hijau tak bertepi, hiduplah sebuah kampung Dayak Salako. Kampung itu makmur adanya, namun orang-orangnya tetap setia pada adat dan pada Jubata, penguasa segala jagat.

Pada masa itu hiduplah seorang pemuda bernama Ramba. Ia rajin bekerja, pandai menoreh karet, pandai pula membuka ladang, tetapi ia merasa dirinya kurang. Ramba tidak pandai membaca mantra, tidak pandai melagukan mambang seperti tetua adat. Sering ia mendengar suara Apai Panggau, tetua kampung, melantunkan doa panjang dengan penuh wibawa, sementara ia hanya diam, tiada tahu kata-kata sakral itu.

Hatta, pada suatu musim, kampung itu hendak mengadakan upacara besar. Upacara untuk memohon izin kepada Jubata, memohon restu kepada para arwah leluhur, agar kehidupan rumah tangga, tanah, dan sungai tetap sejahtera. Sesajian pun telah disiapkan: beras kuning, ayam putih, sirih dan pinang, tembakau, serta apar, kepala kayau, yang diletakkan di balai adat sebagai lambang pengingat masa lalu.

Ketika malam purnama tiba, gong pun dipukul, gendang berbunyi, penari-penari muda bergerak mengelilingi apar. Api pelita bergoyang tertiup angin, asap dupa menjulang, menembus atap balai menuju langit.

Apai Panggau lalu berdiri dan berkata, “Hai anak cucu Dayak Salako, malam ini kita memohon restu. Tetapi bukan aku yang akan menyampaikan doa. Hari ini, aku serahkan kepada anak muda, kepada Ramba.”

Tersebutlah Ramba gemetar. Ia menundukkan kepala, lalu berkata, “Ampun, Apai. Aku tiada tahu membaca mantra, tiada pandai melagukan mambang seperti orang tua dahulu. Aku hanyalah orang muda, orang mudo’, tiada tahu, tiada mengerti.”

Tetapi Apai Panggau menjawab, “Hai Ramba, ketahuilah, bukan kata yang indah yang dinilai Jubata, melainkan ketulusan hati. Meski engkau tiada tahu, engkau boleh mencoba. Sebab bila engkau ikhlas, Jubata dan para leluhur akan melanjutkan doa itu dengan bahasa mereka.”

Maka Ramba pun berdiri. Dengan suara lirih, ia mulai berkata:

“Auk nyian ka Jubato, wahai Engkau Jubata.
Kami bapadoh ka awo pamo tahoh aik, kami memohon ijin kepada para arwah dan leluhur tanah air.
Saparati Kito’ panunggu wap pamo rumoh tangok, seperti Engkau penguasa yang ada dalam kehidupan rumah tangga.
Saparati cacak, kaimpawok, dangan antok dan karimebee, seperti cicak, laba-laba, dan kluing, orang-orang akan berdatangan.
Kami anok mudo’, tiada pandai membaca, tiada tahu bernyanyi mambang lama. Engkau sajalah, Jubata, yang bacakan nyanyian itu bagi kami.”

Heninglah balai itu. Penari berhenti bergerak, gong berhenti berbunyi, hanya suara jangkrik menemani malam. Ketika Ramba menaburkan beras kuning ke arah apar, tiba-tiba cicak turun di dinding balai, laba-laba meniti benang dari atap, dan seekor kluing merayap di lantai.

“Lihatlah!” seru seorang tetua, “Tanda telah datang. Arwah leluhur mendengar doa anak muda ini!”

Maka para penari kembali bergerak, gong dipukul lebih keras, gendang bergema. Orang-orang menaburkan beras kuning bersama-sama, menari mengelilingi apar, dan malam itu terasa hidup oleh suara leluhur yang seolah menyatu dengan suara hutan.

Sejak malam itu, Ramba tidak lagi merasa rendah. Ia mengerti, meski tidak pandai melagukan mantra lama, tetapi dengan hati yang ikhlas ia bisa menyambung hubungan antara manusia dengan Jubata. Generasi muda pun belajar darinya, bahwa adat bukan hanya hafalan kata, melainkan kesetiaan menjaga tanah, sungai, dan hutan, tempat leluhur bersemayam.

Maka kampung itu pun makmur kembali. Ladang mereka berisi, sungai penuh ikan, hutan memberi buah dan hasil melimpah. Orang-orang berkata, “Semua ini berkat doa Ramba, berkat restu Jubata, dan berkat leluhur yang selalu menjaga.”

Hatta, cerita ini pun menjadi legenda. Dituturkan dari mulut ke mulut, dari tetua kepada cucu, bahwa generasi baru janganlah malu bila tiada tahu semua nyanyian lama. Sebab yang terutama ialah hati yang jujur, hormat kepada leluhur, dan cinta kepada alam.

Maka demikianlah tamat cerita rakyat Dayak Salako, tentang Ramba anak mudo’, tentang mantra kepada Jubata, dan tentang tanda dari cicak, laba-laba, dan kluing, saksi bahwa alam dan leluhur selalu menyertai anak cucu di tanah Kalimantan Barat.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...