Selasa, 23 September 2025

Legenda "Ranying Hatalla Langit"

 

Legenda Ranying Hatalla Langit

 Alkisah pada zaman purba, ketika dunia belum berwujud, ketika langit belum terbentang dan bumi belum terhampar, hanya ada Sang Penguasa Tunggal yang maha besar, Ranying Hatalla Langit, Tuhan Yang Maha Esa, tiada awal mula dan tiada tandingan kuasa. Dialah yang bersemayam di alam tertinggi, di singgasana cahaya yang tak tersentuh oleh siapapun. Dari kebesaran-Nya, segala sesuatu dimulai.

Pada saat itu hanya ada kekosongan, hening dan sunyi, tanpa bentuk dan tanpa suara. Maka Ranying Hatalla berkehendak, dan dari firman-Nya tercipta bumi. Gunung pun menjulang, laut beriak, hutan hijau membentang, sungai berliku, dan langit biru berhias matahari serta bulan yang bersinar silih berganti. Bintang-bintang bertaburan, menjadi permata malam yang indah. Namun bumi dan langit itu masih sepi, kosong dari kehidupan yang dapat memuliakan Sang Pencipta.

Berfirmanlah Ranying Hatalla, “Bumi yang telah Ku-ciptakan tidak boleh sunyi. Harus ada penjaga, harus ada penghubung antara langit dan dunia. Maka Ku-ciptakanlah para utusan.” Dari cahaya kuasa-Nya, lahirlah para Sangiang, dewa-dewa perkasa yang menjaga arah mata angin, mengatur perjalanan bintang, menjaga keseimbangan siang dan malam. Bersama mereka diciptakan pula tujuh Kameluh, dewi jelita yang bercahaya seperti sinar rembulan. Mereka bertugas menjaga tanah agar subur, air agar jernih, benih agar tumbuh, dan segala kesejahteraan yang kelak akan diberikan kepada manusia.

Para Sangiang dan Kameluh senantiasa berhubungan dengan Ranying Hatalla. Mereka menjadi saksi kuasa-Nya, penghubung antara dunia fana dengan langit abadi. Namun bumi masih tetap sepi. Maka Sang Pencipta pun berfirman kembali, “Tidak cukup jika hanya ada gunung, sungai, pohon, dan hewan. Harus ada manusia, yang akan mengisi bumi, menjaga adat, dan mewariskan kehidupan. Maka Aku akan menciptakan manusia pertama.”

Untuk itu Ranying Hatalla memilih tujuh bahan suci. Tanah liat diambil sebagai lambang kehidupan, kayu-kayuan dipilih sebagai lambang keteguhan, tembaga sebagai lambang kekuatan yang tahan lama, kuningan sebagai lambang cahaya yang menyinari, perak sebagai lambang kemurnian hati, emas sebagai lambang keagungan, serta besi sebagai lambang keteguhan jiwa. Bersama itu turut diambil pula kambang garing, bunga kayu garing, sebagai lambang kesucian roh.

Dari tujuh bahan itu, dengan kuasa-Nya, Ranying Hatalla membentuk dua patung, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Patung itu tidak sembarangan ditempatkan, melainkan disimpan di bukit pertama, tempat suci yang dijadikan landasan awal kehidupan. Patung tersebut ditaruh di sana selama tujuh hari tujuh malam, dijaga para Sangiang dan Kameluh dengan doa dan nyanyian suci. Bulan bercahaya lembut, bintang berjaga di langit, angin berhembus sepoi, seakan seluruh alam menanti kelahiran yang agung.

 

Malam berganti siang, siang berganti malam, hingga sampailah pada malam ketujuh. Pada saat itu Ranying Hatalla turun dengan segala kebesaran-Nya. Suasana hening, hanya cahaya agung-Nya yang menyinari bukit pertama. Para Sangiang bersujud, para Kameluh menunduk hormat. Ranying Hatalla lalu mengulurkan tangan kanan-Nya, menyentuh patung laki-laki. Dengan tangan kiri-Nya, melalui bayangan kuasa-Nya yang disebut Jata, disentuh pula patung perempuan.

Maka terjadi keajaiban besar. Kedua patung itu bergetar, mulai bernapas, lalu hidup. Dari tanah, logam, dan bunga suci itu lahir manusia pertama. Laki-laki itu diberi nama Manyamey Tunggal Garing, gagah perkasa, tegap tubuhnya, bijak bicaranya. Perempuan itu dinamakan Kameluh Putak Bulaw Janjahunan Laut, cantik jelita, bercahaya wajahnya laksana bulan purnama, lembut budi dan penuh kasih sayang.

Keduanya dipersatukan, menjadi pasangan suci yang pertama di dunia. Dari merekalah lahir keturunan agung. Anak-anak mereka ialah Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, Maharaja Bunu, dan Putir Maluyang Bulaw. Putir Maluyang Bulaw kelak menjelma menjadi Gajah Bakapek Bulaw dan Unta Hajaran Tandang, lambang kekuatan, kesetiaan, dan kebesaran yang suci.

Mereka mendiami Batu Mindan, tanah pertama yang terletak di langit paling bawah. Tempat itu menjadi persinggahan antara dunia dewa dan dunia manusia. Di sana mereka hidup dalam aturan, menjaga adat, meneladani titah Ranying Hatalla. Mereka mengenal kerja, mengenal cinta, mengenal adat, dan menurunkan segala cara hidup kepada keturunannya. Tata cara perkawinan lahir dari mereka, adat kematian pun berasal dari teladan mereka.

Di antara semua keturunan, yang paling utama bagi umat manusia ialah Maharaja Bunu. Dialah yang kemudian turun ke bumi, menjadi leluhur manusia sejati. Tata cara perkawinannya diikuti oleh seluruh anak-cucu, begitu pula cara ia menjalani kehidupan. Bahkan ketika wafat, cara kematiannya menjadi pedoman bagi semua manusia. Roh Maharaja Bunu kembali kepada Ranying Hatalla, sedangkan jasadnya dipersembahkan dalam upacara besar. Dari peristiwa itu lahirlah adat Tiwah, yakni upacara pengantaran roh dalam kepercayaan orang Ngaju.

Tiwah adalah upacara yang agung dan suci. Melalui Tiwah, manusia percaya roh dapat kembali kepada asalnya, kepada Sang Maha Pencipta. Tubuh yang berasal dari tanah, logam, kayu, dan bunga kembali kepada bumi, sementara roh diantar dengan doa, persembahan, dan api suci agar dapat menyatu dengan Ranying Hatalla Langit. Karena itulah orang Ngaju percaya, kematian bukanlah akhir, melainkan jalan pulang.

Hidup manusia hanyalah persinggahan. Lahir untuk bernafas, hidup untuk bekerja, beranak pinak, menurunkan adat, lalu kembali kepada asal. Begitulah perjalanan manusia menurut hikayat tua, yang diwariskan turun-temurun. Hingga kini, dalam Kaharingan, adat Tiwah tetap dijalankan sebagai bukti keyakinan bahwa manusia berasal dari kuasa Ranying Hatalla, dan suatu saat pasti kembali kepada-Nya.

Demikianlah hikayat tua yang diceritakan orang Ngaju dari zaman ke zaman. Bahwa dunia ini ada karena kehendak Sang Maha Tunggal, bahwa manusia pertama diciptakan dari tujuh bahan suci, bahwa dari Manyamey Tunggal Garing dan Kameluh Putak Bulaw Janjahunan Laut lahirlah leluhur agung, dan bahwa hidup dan mati hanyalah perjalanan untuk kembali kepada Ranying Hatalla Langit, penguasa langit dan bumi.

Sumber : Dra. Antonia, S.PAK & Drs. Seniman Bonaparte.

(Cerita dikembangkan sedemikian rupa oleh pengarang.)

HIKAYAT "SENGKREANG SENGKREPANG"

 HIKAYAT SENGKREANG SENGKREPANG

        Alkisah, pada masa yang lampau, sebelum bumi, langit, dan segala isinya terbentang, hanya ada kekosongan yang hening dan sunyi. Dari kekosongan itu, muncullah seorang Dewa sakti mandraguna, tiada banding tiada tara, bernama Sengkreang Sengkrepang. Dialah yang dipercaya oleh orang Dusun sebagai penguasa tunggal, Sang Maha Pencipta, sumber dari segala kehidupan.

        Sengkreang Sengkrepang memiliki kekuatan yang melampaui segala yang pernah ada. Tiada seorang pun dapat menandingi kebijaksanaan dan kesaktiannya. Dialah yang mengetahui rahasia semesta, dan dari kehendak-Nya, kehidupan mulai digerakkan.

        Pada mulanya, Dewa agung itu berpikir, bagaimana cara membentangkan bumi dan langit yang kelak akan menjadi tempat bernaung segala makhluk. Namun, beliau tidak hendak bekerja sendiri. Maka terciptalah dari kekuatan sakti-Nya satu makhluk kecil menyerupai anai-anai (rayap). Makhluk itu diberi nama Itak Tungkan Ayan Kakah Tungkan Anai.

        Setelah tercipta, Itak menghadap Sang Dewa dan menundukkan diri. Berkata Sengkreang Sengkrepang, “Wahai Itak, engkau hamba ciptaan-Ku. Kuberi engkau tugas besar: bentangkanlah langit dan bumi agar kelak dunia ini dapat menjadi tempat kehidupan.” Itak pun menjawab dengan rendah hati, “Ampun Tuanku, hamba sanggup mengerjakan perintah. Namun, berilah hamba waktu tujuh hari tujuh malam untuk menyelesaikannya.”

        Dewa pun berkenan, dan Itak segera melaksanakan tugasnya. Siang malam ia bekerja tanpa henti, mengumpulkan tanah, menegakkan langit, meratakan bumi, hingga pada akhirnya dunia mulai terbentuk.

        Ketika Itak bekerja, Sengkreang Sengkrepang mendapat sebuah wahyu dari langit yang lebih tinggi. Wahyu itu berbunyi: “Wahai Dewa Agung, apabila bumi dan langit selesai dalam tujuh hari tujuh malam, maka pada hari kedelapan haruslah bumi dan langit itu diisi. Dan engkau, wahai Dewa, hendaknya memejamkan mata, menunggu hingga waktu itu tiba.”

        Maka Sang Dewa pun menuruti perintah wahyu. Ia memejamkan matanya berhari-hari lamanya. Saat mata-Nya kembali terbuka, terbentanglah di hadapan-Nya langit biru nan luas, bumi hijau penuh harapan, gunung-gunung menjulang, sungai berliku, dan tanah yang siap menumbuhkan kehidupan.

    Pada hari kedelapan, Sang Dewa memanggil Itak. Ditanyalah makhluk kecil itu: “Siapakah yang telah membuat bumi dan langit yang megah ini?” Itak menjawab dengan jujur, “Hamba, Tuanku. Dengan kekuatan dan izin-Mu hamba menyelesaikan semua ini.” Dewa lalu bertanya lagi, “Adakah sisa tanah dari pekerjaanmu itu?” Itak menjawab, “Masih ada, Tuanku.” Dewa berkata, “Ambillah segumpal tanah itu, dan buatlah sebuah patung menyerupai diriku.” Itak pun patuh. Selama satu malam suntuk ia membentuk tanah menjadi sebuah patung yang indah, menyerupai rupa Sang Dewa.

        Keesokan harinya, patung itu telah berdiri megah. Namun meski rupanya serupa dengan Sang Dewa, patung itu diam kaku, tak bergerak, tiada tanda kehidupan. Sengkreang Sengkrepang pun menggoyang-goyangkan tubuh patung itu, namun tetap saja patung itu tidak hidup. Maka dipanggillah Itak kembali. Berkatalah Sang Dewa, “Wahai Itak, tahukah engkau dari apakah asal diriku, dan bagaimana wujudku sebenarnya?” Itak pun menjawab dengan penuh hormat, “Tuanku terjadi dari tiga unsur: tanah, air, dan api.” Namun Dewa bertanya kembali, “Apakah hanya tiga unsur itu? Tidakkah ada yang keempat?”Itak menunduk dan berkata, “Ya, Tuanku. Ada satu lagi, yaitu roh. Itulah yang menjadikan hidup, dan itulah yang disebut Tuhan.”

        Seketika setelah mendengar kata-kata Itak, Dewa Sengkreang Sengkrepang lenyap tanpa jejak. Patung tanah yang tadinya kaku, tiba-tiba bergerak, bernapas, dan hidup. Dari patung itu lahirlah seorang Dewa baru, bernama Samarikung Mulung. Samarikung Mulung adalah jelmaan yang mewarisi kekuatan Sang Dewa terdahulu. Dialah yang kemudian melanjutkan tugas menciptakan kehidupan di bumi.

        Samarikung Mulung, dengan kuasa ilahi, kemudian menciptakan seorang perempuan cantik, bernama Diang Sarunai. Ia jelita, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Keduanya dipertemukan dalam ikatan suci, lalu menikah. Dari pernikahan Samarikung Mulung dan Diang Sarunai inilah keturunan manusia pertama lahir di muka bumi. Mereka hidup, berkembang biak, dan mengisi dunia.

        Segala cara hidup manusia, menurut kepercayaan Dusun, meniru perjalanan Samarikung Mulung dan Diang Sarunai. Mereka mengalami kehidupan, mencintai, bekerja, beranak pinak, hingga pada akhirnya menghadapi kematian. Namun kematian bagi manusia Dusun bukanlah akhir. Sebab Samarikung Mulung dan Diang Sarunai pun mengajarkan cara berpulang: tubuh yang terdiri dari tanah, air, api, dan roh harus dikembalikan kepada asalnya.

        Maka dari itulah lahir tradisi pembakaran mayat, karena api adalah salah satu unsur suci yang membentuk Dewa. Dengan api, roh dapat dilepaskan menuju alam baka, sementara jasad kembali menyatu dengan tanah dan air.

        Demikianlah kisah yang diyakini orang Dusun: bahwa segala sesuatu bermula dari kehendak Sang Maha Pencipta, melalui perantara Sengkreang Sengkrepang, kemudian diwariskan kepada Samarikung Mulung dan Diang Sarunai.

        Versi ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah penciptaan yang hidup dalam kepercayaan Dayak Dusun. Namun inti dari semuanya sama: bahwa ada satu Penguasa Tunggal, Sang Maha Pencipta, yang menjadi asal muasal seluruh semesta.

 

Legenda Antu Nget-Nget dari Singkawang

 Legenda Antu Nget-Nget dari Singkawang

         Di sebuah kampung tua di pinggiran hutan Singkawang, masyarakat sering menceritakan tentang sosok gaib yang disebut Antu Nget-Nget. Konon, roh ini berasal dari seorang perempuan yang semasa hidupnya tidak menjalani kehidupan dengan baik. Setelah ajal menjemput, arwahnya tidak menemukan kedamaian. Ia tidak bisa menuju alam baka, sehingga berkeliaran di dunia manusia.

Orang-orang percaya, perempuan itu kemudian menjelma menjadi seekor kucing putih. Wujudnya sekilas tampak seperti kucing biasa, namun siapa pun yang mendekatinya akan merasakan keanehan. Kucing putih itu perlahan-lahan akan berubah ukuran, semakin lama semakin besar, hingga akhirnya kembali ke wujud asalnya: seorang perempuan dengan wajah pucat, mata kosong, dan rambut panjang yang menjuntai.

Walaupun penampilannya menyeramkan, masyarakat meyakini Antu Nget-Nget sebenarnya tidak berniat mengganggu manusia. Ia hanya muncul di waktu-waktu tertentu, biasanya ketika malam terasa sunyi dan angin bertiup lirih dari arah hutan. Kehadirannya dapat dikenali dari suara khas yang selalu ia keluarkan: “nget… nget…”. Suara inilah yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya meremang.

Di antara kisah yang beredar, ada cerita seorang pemuda yang pulang larut malam setelah menghadiri pesta panen. Dalam perjalanan melewati jalan sunyi, ia melihat seekor kucing putih duduk di pinggir jalan. Awalnya pemuda itu tidak curiga, bahkan ia mencoba mengusir kucing tersebut agar tidak menghalangi langkahnya. Namun, semakin didekati, kucing itu justru bertambah besar. Rasa takut pun mulai menyergap, terutama saat terdengar suara lirih, “nget… nget…”, yang semakin jelas di telinganya.

Pemuda itu akhirnya menyadari bahwa yang ia lihat bukan kucing biasa, melainkan Antu Nget-Nget yang sering diceritakan orang tua di kampungnya. Dengan hati berdebar, ia segera berlari pulang tanpa menoleh lagi. Sesampainya di rumah, tubuhnya gemetar hebat, namun ia bersyukur roh itu tidak menyakitinya. Sejak kejadian tersebut, ia tidak pernah lagi berjalan sendirian pada malam hari.

Masyarakat Singkawang percaya bahwa kisah Antu Nget-Nget menjadi pengingat agar manusia selalu menjalani hidup dengan baik. Jika seseorang berbuat buruk, maka arwahnya bisa saja tidak tenang setelah kematian dan menjadi makhluk yang gentayangan. Selain itu, cerita ini juga mengajarkan anak-anak agar tidak keluar rumah sendirian pada malam hari, demi menjaga keselamatan.

Hingga kini, legenda Antu Nget-Nget masih hidup dalam cerita rakyat Singkawang. Walau sebagian orang menganggapnya sekadar dongeng, banyak pula yang yakin bahwa roh itu benar-benar ada, berkeliaran di hutan dan jalan sunyi, menebarkan rasa takut lewat suara khasnya yang menyeramkan.


Hikayat "Lara Sende: Kasih yang Menjadi Tulah”

 

“Hikayat Lara Sende: Kasih yang Menjadi Tulah”

Pada masa silam, di hulu sebuah sungai besar di tanah Singkawang, hiduplah seorang gadis Dayak Salako bernama Lara Sende. Parasnya elok, tutur katanya lembut, dan ia rajin menenun kain tradisi. Semua orang di kampung menghormatinya karena kesabarannya.

Lara Sende jatuh hati pada seorang pemuda gagah bernama Jaya Bidang, anak seorang panglima kampung. Pada awalnya, cinta mereka dipuji oleh banyak orang. Mereka berjalan bersama di ladang, menimba air di sungai, bahkan sering ikut dalam gawai panen. Jaya Bidang sering bersumpah di hadapan Lara Sende, katanya:

“Selama aku bernapas, aku akan selalu di sampingmu. Seperti hutan menjaga sungai, seperti bumi menjaga langit, begitu pula aku menjaga hatimu.”

Namun, janji tinggal janji. Pada suatu malam bulan terang, saat ada tontonan sandiwara rakyat di pasar kampung, Lara Sende melihat Jaya Bidang berjalan bersama seorang gadis asing bernama Suma Ranying, yang datang dari kampung seberang. Mereka terlihat mesra, dan cara Jaya Bidang memperlakukan Suma Ranying sama persis seperti ia memperlakukan Lara Sende dahulu.

Dengan hati yang bergejolak, Lara Sende menegur Jaya Bidang. Di depan banyak orang, ia bertanya:

“Siapakah perempuan ini, Jaya? Bukankah engkau telah bersumpah setia di hadapan roh leluhur dan bumi kampung ini?”

Namun, dengan wajah menunduk, Jaya Bidang mengaku bahwa Suma Ranying kini adalah kekasihnya.

Mendengar itu, air mata Lara Sende jatuh. Dengan lantang ia berkata:

“Janji yang kau ucapkan hanyalah kata kosong. Cintamu bagaikan pelangi di langit Roban — indah sesaat lalu hilang lenyap. Kau telah melanggar pantang, mempermainkan kasih di hadapan roh leluhur. Ketahuilah, pengkhianatanmu akan berbuah malapetaka.”

Lara Sende pun berlari meninggalkan keramaian dan menuju hutan. Di bawah pohon beringin tua yang dianggap keramat, ia menaburkan manik-manik gelang tenunannya ke tanah, sambil berseru:

“Wahai roh nenek moyang, jadikan kisahku peringatan. Jangan biarkan anak cucu Dayak mudah percaya pada janji manis. Sebab cinta tak selamanya indah, hanya kesetiaan yang akan hidup kekal.”

Sejak saat itu, orang-orang kampung percaya bahwa barangsiapa mempermainkan janji cinta di hadapan leluhur Dayak, maka hidupnya akan diliputi tulah. Adapun pelangi yang muncul setelah hujan di Singkawang dipercaya sebagai lambang cinta yang singkat: indah dipandang, namun cepat sirna.

Hingga kini, para tetua Dayak masih menuturkan legenda Lara Sende dan Jaya Bidang sebagai pelajaran: bahwa cinta sejati harus dijaga dengan kesetiaan, bukan dengan kata-kata kosong.

 

Cerita Rakyat Singkawang "Kutukan Buntung Malang"


  Kutukan Buntung Malang

Dahulu kala, di sebuah kampung di Singkawang, hiduplah seorang pemuda baik hati namun memiliki lidah yang pedas. Warga menyebutnya Si Buntung Malang, karena nasibnya selalu dipenuhi kesialan. Ia suka menolong, memberi tumpangan, bahkan merawat orang-orang yang tersisih. Namun sayang, kebaikannya sering dibalas dengan pengkhianatan.

Pada suatu waktu, Si Buntung Malang menolong seorang pemuda malang yang terusir dari rumah tetangga kaya bernama Akim. Pemuda itu ia tampung, diberinya makan, bahkan ditemani bekerja di kebun durian dan singkong. Awalnya pemuda itu rajin dan tampak bersyukur. Namun, setelah berteman dengan anak-anak kampung bernama Acong dan Okpet, perangainya berubah. Ia jadi pemalas, dingin, dan sering membantah tuannya.

Buntung Malang sabar. Namun, hatinya sering teriris oleh sikap kasar pemuda itu. Bahkan suatu ketika, pemuda itu berkata dengan lancang:

“Kapan kau akan menerima orang baru tinggal di rumahmu?”

Bagi orang Dayak Salako, ucapan itu adalah tabu. Kalimat tersebut dianggap kutukan, pertanda buruk, dan penghinaan terhadap tuan rumah. Maka sejak itu, Buntung Malang merasa dirinya dihina dan tak lagi dihargai.

Hari berganti, bulan berjalan. Benarlah, pemuda itu pergi meninggalkan rumah Si Buntung Malang tanpa pamit. Ia hanya meninggalkan secarik kertas dengan tulisan singkat berisi ucapan maaf. Ia memilih bergabung dengan Acong dan Okpet, tergoda oleh janji motor, telepon genggam, serta kehidupan yang katanya lebih bebas.

Namun, kata orang tua dahulu:

“Siapa yang mengingkari kebaikan, ia akan ditimpa tulah.”

Tak lama setelah meninggalkan rumah, nasib buruk menimpa pemuda itu. Pada bulan Oktober, bulan yang diyakini sebagai bulan naas di kampung itu, ia tewas mengenaskan tertabrak truk di jalan raya. Orang-orang berkata, ia terkena kutukan lidah Buntung Malang, juga akibat melanggar pantangan suku Dayak Salako.

Sejak saat itu, warga kampung percaya bahwa siapapun yang melupakan budi, menghina tuannya, atau mengucap tabu kepada orang Dayak Salako, hidupnya tak akan panjang. Kutukan itu dikenal dengan nama Kutukan Buntung Malang.

Orang tua sering menasihati anak-anak mereka:

“Hargailah orang yang menolongmu. Jangan sekali-kali mengucap kata tabu. Sebab kutukan Buntung Malang akan selalu menanti mereka yang durhaka.”

 

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...