Matahari pagi di Kota Singkawang biasanya jatuh dengan amat lembut di atas atap-atap klenteng kuno, memantulkan warna merah dan keemasan yang hangat di sepanjang Gang Tjhia. Namun, dalam tiga minggu terakhir, sang surya tak lebih dari sekadar bulatan jingga pucat yang redup, terperangkap di balik tirai abu-abu yang pekat. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali datang, menyelimuti kota berjuluk Kota Milik Para Dewa itu dengan aroma sengit kayu terbakar.
Di sudut sudut pasar lama, A Kiong (62 tahun) sedang menyapu teras kedai kopinya dengan gerakan perlahan. Setiap kali lengannya terangkat, batuk kecil yang kering dan menyiksa keluar dari dadanya. Lengannya yang berurat membetulkan letak masker kain yang sudah tampak kekuningan di bagian hidung. Bagi A Kiong, kabut asap bukan sekadar gangguan cuaca; itu adalah abu dari masa lalu yang terus kembali setiap musim kemarau.
"Kong, tidak usah disapu terus. Debu abu ini tidak akan habis sampai hujan turun," suara Ling-Ling (17 tahun), cucu perempuannya, terdengar dari pintu samping. Ling-Ling melangkah keluar seraya membawa segelas teh krisan hangat.
A Kiong menghentikan sapunya, menyapu pandangan ke jalanan di depannya. Gunung Sari yang biasanya berdiri megah di latar belakang kota kini melenyap sepenuhnya, seolah-olah ditelan oleh kegelapan transparan. Mobil dan motor lalu lalang dengan lampu utama menyala di tengah hari, membelah jarak pandang yang tak sampai lima belas meter.
"Kalau tidak disapu, pelanggan risih, Ling," sahut A Kiong pelan, suaranya parau. "Lagipula, kalau toko ini tutup, dari mana kita bayar biaya obatmu?"
Ling-Ling menunduk. Ia tahu betul kondisi ekonomi keluarga mereka sedang tercekik. Sejak asap menebal, sekolah-sekolah di Singkawang diliburkan dan dialihkan menjadi pembelajaran daring. Wisatawan yang biasanya memadati kota untuk berburu kuliner atau sekadar memotret arsitektur tua melenyap tanpa bekas. Kota yang biasanya riuh dengan gelak tawa dan denting cangkir kopi kini bertukar menjadi kota hantu yang hening dan sesak.
Sore harinya, napas A Kiong kian memberat. Dada pria tua itu terasa seperti ditindih batu besar. Ling-Ling yang cemas mencoba mematikan kompor tempat ia merebus kuah kway teow, lalu mendekati kakeknya yang terduduk lemas di kursi kayu tua.
"Kita ke puskesmas sekarang, Kong," tegas Ling-Ling tanpa memberi ruang untuk bantahan.
"Tidak usah, Ling. Nanti juga hilang kalau kakek minum air hangat," tolak A Kiong lemah. Namun, wajahnya yang pucat dan bibirnya yang agak kebiruan tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa parunya sedang menjerit meminta udara bersih.
Tanpa membuang waktu, Ling-Ling memapah kakeknya keluar. Udara luar terasa sangat menusuk. Bau sangit membakar tenggorokan mereka seketika. Jalanan terasa asing; bangunan-bangunan megah dan lampion yang biasanya semarak kini hanya menyerupai bayangan hitam yang kabur di balik kabut tebal.
Tiba di puskesmas kecamatan, suasananya tak ubahnya ruang darurat bencana. Puluhan warga—sebagian besar balita dan lansia—memadati ruang tunggu. Suara batuk bersahut-sahutan, menciptakan simfoni duka yang mengerikan. Tabung-tabung oksigen berjejer di koridor, dan para tenaga medis berlarian dengan wajah lelah di balik masker N95 mereka.
Seorang dokter muda memeriksa A Kiong dan segera memasangkan masker nebulizer ke wajah pria tua itu. Uap obat berhembus perlahan, membantu membuka saluran pernafasannya yang menyempit.
"ISPA-nya cukup parah, dan fungsi paru Pak A Kiong sudah menurun," kata sang dokter kepada Ling-Ling dengan nada prihatin. "Beliau tidak boleh menghirup udara luar sama sekali tanpa perlindungan yang memadai. Asap tahun ini sangat beracun karena racikan abu gambut."
Ling-Ling menggenggam jemari kakeknya yang dingin. Di dalam ruangan bersuhu pendingin itu, ia melihat ke luar jendela. Hanya ada warna abu-abu monokrom yang mati. Tidak ada hijau pohon, tidak ada biru langit, tidak ada merah lampion. Semua warna asli Singkawang telah terhapus oleh ketamakan manusia yang membakar lahan demi keuntungan sepihak ratusan kilometer dari sana.
Malam harinya, setelah kondisi A Kiong agak stabil dan diperbolehkan pulang dengan membekal kantong berisi obat-obatan, Ling-Ling duduk di ambang jendela kamarnya. Ia mengenakan masker rapat-rapat, namun bau sangit itu tetap berhasil menyusup melalui celah-celah papan dinding rumah panggung mereka.
Ling-Ling mengambil ponselnya, membuka aplikasi media sosial. Ia melihat banyak unggahan teman-temannya yang mengeluhkan hal serupa—rasa perih di mata, dada yang sesak, dan ketakutan akan masa depan. Singkawang yang toleran, Singkawang yang indah, kini sedang sekarat perlahan di bawah belas kasihan angin yang tak kunjung membawa hujan.
Tiba-tiba, dari arah luar, terdengar sayup-sayup suara dentang kelenteng bersahut-sahutan dari kejauhan. Para tetua dan warga rupanya sedang menggelar doa bersama, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar langit kembali membuka tirainya dan menurunkan hujan yang mampu memadamkan bara di perut bumi gambut.
Ling-Ling memejamkan mata. Di tengah keheningan malam yang tertutup kabut, ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Ia tidak memohon kemewahan atau kelulusan sekolah yang megah. Ia hanya memohon satu hal yang paling sederhana, sesuatu yang selama ini kerap dianggap cuma-cuma namun kini menjadi hal paling mahal di kotanya.
"Tuhan," bisiknya liris di balik masker, "kembalikan langit biru kami. Biarkan kakekku bernapas lega esok pagi."
Di luar, kabut asap masih menari-nari dengan liar di bawah remang lampu jalan. Namun di dalam dada Ling-Ling, ada seberkas harapan yang menolak untuk padam—harapan bahwa Singkawang akan kembali bernapas, menyambut terbitnya matahari yang sesungguhnya.