Minggu, 20 September 2026

Cerpen Bayangan Malam di Ujung Batang

 Malam merayap makin larut di Dusun Batu Ampar. Gemericik air sungai dan derik jangkrik menjadi musik tunggal yang menemani kesunyian warga yang telah lelap. Namun, di dekat deretan rumah panggung beratap sirap, bayangan seseorang tampak bergerak mencurigakan.

Langkah kaki itu milik Karjo. Selama ini, Karjo dikenal warga sebagai pemuda yang kerap bersikap lancang dan tak tahu malu. Keelokan paras Sekar, putri bungsu Pak Lurah yang baru beranjak dewasa, telah lama menyita perhatian liciknya. Pikirannya yang keruh tak lagi mengindahkan batas-batas norma dan keadaban yang dijaga ketat oleh masyarakat setempat.

Malam itu, memanfaatkan suasana desa yang lengang, Karjo memberanikan diri menyelip ke bawah kolong rumah panggung keluarga Pak Lurah. Dengan perlahan dan tanpa bersuara, ia memanjat tangga belakang, lalu memutar engsel jendela kamar Sekar yang tidak terkunci rapat.

Sekar, yang sedang tertidur lelap, mendadak terbangun ketika merasakan hawa dingin mengusik tidurnya. Saat membuka mata, betapa terkejutnya ia mendapati sesosok pria berdiri di dalam kamarnya, mencoba menjangkau dan memegang lengannya tanpa alasan yang wajar. Sekar menjerit histeris setinggi langit, memecah keheningan malam yang sunyi.

Jeritan itu mengejutkan seluruh isi rumah. Pak Lurah bersama beberapa warga yang sedang ronda malam berhamburan datang dengan obor berkatup api membara. Karjo yang panik mencoba melompati jendela untuk melarikan diri, namun warga yang sigap langsung mengepung dan meringkusnya di halaman.

Suasana kampung seketika gempar. Ibu-ibu keluar rumah dengan wajah cemas, sementara para pemuda mengutuk perbuatan Karjo yang dinilai sangat melampaui batas dan tidak bernalar. Masuk ke kamar seorang gadis secara sengaja dan menyentuhnya tanpa hak adalah perbuatan tercela yang mencoreng kesucian kampung mereka.

Keesokan harinya, Balai Adat dipenuhi oleh warga desa. Suasana sidang berlangsung sangat hening dan tegang. Karjo duduk menunduk di tengah ruangan dengan kedua tangan terikat kain, tak berani mengangkat wajahnya di hadapan para tetua dan orang tua Sekar yang diselimuti amarah serta rasa malu.

Tetua Adat, yang memegang tongkat kebesarannya, menatap Karjo dengan pandangan penuh kekecewaan.

"Karjo," panggil Tetua Adat dengan suara bergetar namun tegas menggelegar. "Tindakanmu memasuki kamar seorang gadis secara sengaja, memegang wanita yang bukan hakmu, dan mengganggunya secara tidak sewajarnya adalah tindakan yang sangat menyolok mata!"

Tetua Adat lalu memukul lantai kayu balai adat dengan tongkatnya, menandakan dimulainya pembacaan sanksi adat atas pelanggaran berat tersebut.

"Perbuatan tercela dan menyolok mata yang kau lakukan ini, dalam bahasa daerah dan hukum warisan leluhur kita, disebut sebagai Sumbang di Mata!" tegas Tetua Adat. "Perbuatanmu telah mencoreng kesucian tempat tinggal warga, merusak martabat seorang gadis, dan menebar rasa tidak aman bagi seluruh perempuan di desa ini."

Karjo bersujud memohon ampun, "Saya khilaf, Paman Tetua... Mohon ampuni saya..."

"Khilaf tidak menghilangkan hukum, Karjo!" potong Tetua Adat tanpa keraguan. "Adat dibuat untuk menjaga kesopanan, melindungi kaum wanita, dan membentengi kita dari kebinasaan moral. Siapa saja yang melakukan kejahatan Sumbang di Mata wajib menerima sanksi terberat untuk memulihkan kebersihan dan ketenteraman desa."

Tetua Adat kemudian membacakan hukuman ketetapan yang harus dipenuhi oleh Karjo dan keluarganya:

"Atas pelanggaran Sumbang di Mata, engkau diancam dan dijatuhi hukuman berupa denda sebesar tiga tahil atau dua buah siam dengan satu siam lengkap dengan tutupnya, serta seekor babi 6 (enam) tepak!"

Mendengar ketetapan tersebut, para warga mengangguk setuju. Hukuman itu sangat berat. Denda uang tiga tahil atau tempayan berharga (siam) lengkap dengan tutupnya merupakan lambang pemulihan atas harga diri dan penutup keaiban yang telah dibuka oleh Karjo. Sementara itu, seekor babi enam tepak diwajibkan sebagai sarana ritual adat untuk membersihkan seluruh kampung dari noda dan bahaya akibat perbuatan immoral tersebut.

"Denda ini harus kau serahkan sepenuhnya dalam waktu tiga hari," lanjut Tetua Adat. "Jika engkau tidak mampu memenuhinya, hukum adat akan mengasingkanmu keluar dari kampung ini!"

Karjo tertunduk pasrah, meratapi kebodohan dan nasibnya. Seluruh harta simpanannya akan habis hanya untuk membayar sanksi adat atas nafsu dan kelakuannya yang tidak beradab.

Melalui peristiwa hukum adat Sumbang di Mata ini, warga Dusun Batu Ampar kembali teringat akan pentingnya menjaga jarak, menghormati batas-batas kesopanan, dan memuliakan kaum wanita. Tidak ada perbuatan tercela yang bisa bersembunyi dari terang hukum adat, dan setiap tindakan yang menyolok mata selalu menuntut bayaran yang teramat mahal.

Cerpen Penawar Tajamnya Mulut

Di tepian Sungai Mandor, Dusun Bukit Batu dikenal sebagai desa yang tenang dengan penduduk yang saling menggantungkan hidup pada hasil ladang. Namun, ketenangan itu sering kali terusik oleh tabiat seorang lelaki bernama Buntat. Ia bukan pencuri, bukan pula seorang penjahat berdarah dingin. Senjata Buntat hanyalah kata-kata—lebih tepatnya, ucapan pedas yang sering kali dilemparkan tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Buntat merasa dirinya adalah orang yang paling jujur. "Aku hanya bicara apa adanya," begitu kilahnya setiap kali ada tetangga yang tersinggung. Padahal, apa yang dia sebut sebagai "kejujuran" tak lebih dari umpatan, celaan, dan ejekan yang menembus batas-batas kesopanan umum.

Hari itu, suasana di Balai Desa sedang ramai. Warga berkumpul untuk merayakan syukuran panen padi. Nek Siah, seorang perempuan tua yang dihormati di dusun tersebut, membawa sebuah nampan berisi kue tradisional buatannya sendiri. Dengan tangan berguncang karena usia, ia menyajikan kue-kue itu kepada para tamu.

Ketika Nek Siah melintas di depan tempat duduk Buntat, lelaki itu tertawa keras sambil menunjuk nampan sang nenek.

"Nek Siah, kue buatanmu ini baunya seperti lumpur sawah! Lagipula, jari-jarimu yang keriput dan kotor itu apa tidak membuat kuman berpindah ke makanan?" seru Buntat dengan suara melengking. "Sudah tua sebaiknya duduk saja di rumah, tidak usah sok rajin memasak kalau hasilnya hanya membuat orang mual!"

Gelak tawa Buntat membentur dinding balai desa, namun tak ada seorang pun yang ikut tertawa. Suasana seketika berubah menjadi senyap dan kaku.

Nek Siah terpaku. Wajahnya yang berkerut berubah pucat, matanya berkaca-kaca menahan malu dan sedih yang mendalam. Di hadapan seluruh warga dusun, kehormatan dan kebaikan hatinya diinjak-injak begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nek Siah meletakkan nampannya perlahan, lalu berjalan pergi meninggalkan acara dengan bahu tergoncang menahan tangis.

Ibu-ibu yang hadir mulai berbisik gusar, sementara para pemuda menatap Buntat dengan pandangan marah. Ucapan Buntat bukan lagi sekadar gurauan kasar, melainkan telah melukai perasaan seorang tetua desa dan melanggar tata krama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Pak Lengkan, Ketua Adat Dusun Bukit Batu, berdiri dari kursi kepemimpinannya. Raut wajahnya menyirat kemarahan yang tertahan. Ia memukul meja kayu dengan telapak tangannya.

"Cukup, Buntat!" tegur Pak Lengkan dengan suara berat. "Bicaramu sudah melampaui batas kesopanan. Kau tidak hanya menyakiti hati Nek Siah, tapi kau juga telah mencoreng muka kita semua yang hadir di balai ini!"

"Saya kan cuma bercanda, Pak Lengkan," sahut Buntat santai, seolah tak merasa berdosa. "Lagipula, memang begitu kenyataannya."

"Bercanda yang melukai martabat orang lain bukanlah gurauan, melainkan kejahatan kata-kata!" potong Pak Lengkan tegas. "Mulutmu tidak pernah belajar menimbang rasa. Perbuatan dan perkataanmu hari ini telah melanggar hukum adat kita."

Keesokan harinya, Buntat dipanggil menghadap Sidang Adat. Di hadapan para tetua dan warga desa yang memadati ruangan, Pak Lengkan membacakan keputusan hukum atas pelanggaran yang telah dilakukan oleh Buntat.

"Buntat," ujar Pak Lengkan seraya menatap tajam ke arahnya. "Perbuatan dan perkataanmu yang menyinggung perasaan seseorang serta melanggar batas-batas kesopanan umum ini, dalam bahasa daerah kita disebut sebagai pelanggaran Panye-et molot—yakni tajamnya mulut yang menyengat dan merusak kerukunan."

Buntat mulai merasa tidak tenang. Ia menyilangkan tangan di dada, mencoba tetap terlihat acuh tak acuh.

"Sesuai dengan ketetapan adat yang diwariskan turun-temurun," lanjut Pak Lengkan, "siapa saja yang melakukan Panye-et molot dan menyakiti hati sesama tanpa rasa hormat, diancam dan diwajibkan membayar hukuman lagor yang berisi sepenekng unyit."

Gumam riuh terdengar dari barisan warga. Hukuman lagor—sebuah wadah khusus yang diisi penuh dengan sepenekng unyit (satu takaran kunyit)—bukan sekadar tentang materi ganti rugi. Kunyit dalam tradisi adat lambang pembersih dan penawar racun. Menghaturkan lagor berisi kunyit adalah simbol penawar atas racun perkataan jahat yang telah disebarkan, sekaligus sebagai bentuk permohonan maaf secara terbuka untuk membersihkan nama baik korban serta memulihkan kedamaian kampung.

"Kau harus menyerahkan denda adat ini secara langsung kepada Nek Siah di hadapan seluruh warga, dan memohon ampun atas tajamnya lidahmu," tegas Pak Lengkan.

Wajah Buntat yang semula congkak mendadak merah padam. Ia merasa sangat malu. Hukuman tersebut memaksanya untuk menanggalkan seluruh kesombongan yang selama ini ia banggakan. Mau tidak mau, demi menanggung sanksi adat dan menghindari pengucilan dari dusun, Buntat harus menyiapkan denda tersebut.

Sore harinya, dengan disaksikan oleh para tetua adat dan penduduk desa, Buntat membawa lagor berisi kunyit itu menuju rumah Nek Siah. Dengan menundukkan kepala dan suara yang bergetar menahan malu, Buntat berlutut menyerahkan denda adat Panye-et molot tersebut.

"Nek Siah... saya mengaku salah," ucap Buntat pelan, tak berani menatap mata tua yang teduh itu. "Mulut saya telah melukai Hati Nenek. Mohon terima denda adat ini sebagai penawar atas kata-kata saya yang kurang ajar."

Nek Siah memandangnya lama, lalu mengangguk pelan dan menerima wadah kunyit tersebut. "Kunyit ini mengobati adat, Buntat. Tapi ingatlah, luka di hati tidak sembuh dalam sehari. Jagalah mulutmu, karena lidah yang tak terkontrol bisa menjadi musuh terbesar bagimu sendiri."

Sejak peristiwa Panye-et molot itu, Buntat tak pernah lagi asal bicara. Setiap kali ia hendak melontarkan ejekan, ia teringat pada lagor berisi kunyit di rumah Nek Siah—sebuah pengingat abadi bahwa kesopanan adalah perisai diri, dan lidah yang tajam selalu memiliki harga mahal yang harus dibayar.

Cerpen Racun di Ujung Lidah.

Di Kampung Suka Maju, kabar tak pernah berjalan merambat seperti sulur ubi. Ia terbang secepat burung sriti dan mematuk siapa saja yang lengah. Namun, dari sekian banyak lidah yang gemar bersilat kata, lidah kepunyaan Bahrul-lah yang paling tajam. Bahrul tidak butuh parang untuk melukai orang; ia hanya butuh sebait bisikan yang dibungkus kepura-puraan.

Siang itu, matahari menggantung persis di atas balai desa. Udara gerah menyengat, persis seperti suasana di kedai kopi Pak Jali. Di sana, Bahrul duduk bersandar sambil menyeruput kopi hitamnya. Di sudut lain, tampak Darsa—seorang petani bersahaja yang baru saja menyelesaikan pembagian batas tanah warisan dengan sepupunya, Samad.

Bahrul memperhatikan Darsa yang sedang menghitung beberapa lembar uang kertas di mejanya. Sebuah pemikiran licik mendadak melintas di kepala Bahrul. Entah karena dengki melihat hubungan Darsa dan Samad yang mendadak rukun, atau sekadar haus akan drama yang bisa meramaikan harinya, Bahrul memajukan kursinya mendekati Darsa.

"Darsa," bisik Bahrul dengan raut wajah berkerut, seolah membawa beban dunia. "Aku sebenarnya tak mau ikut campur. Tapi sebagai tetangga yang baik, hatiku tidak tenang melihatmu dibodohi."

Darsa mendongak, alisnya bertaut. "Ada apa, Bahrul? Dibodohi bagaimana?"

"Soal tanah batas timur itu," Bahrul makin merapatkan badannya, mengecilkan suara agar terdengar makin rahasia. "Kemarin malam, aku mendengar Samad berbicara dengan tengkulak dari kota di balik rumpun bambu. Katanya, patok kayu yang kalian tanam kemarin lusa sudah digeser dua meter ke arah tanahmu. Samad tertawa-tawa, bilang kamu itu lugu dan mudah diakali."

Darah Darsa langsung mendidih. "Kau serius, Bahrul? Samad saudaraku sendiri!"

"Untuk apa aku berbohong?" Bahrul menepuk dada, memasang wajah selurus-lurusnya. "Aku kasihan padamu. Tapi tolong, jangan bilang aku yang memberitahumu. Aku hanya ingin kau waspada."

Tanpa melakukan konfirmasi, api cemburu dan sakit hati sudah membakar dada Darsa. Ia tidak tahu bahwa malam yang dimaksud Bahrul, Samad sedang menginap di rumah mertuanya di desa tetangga. Darsa yang tersulut emosi langsung bangkit, meninggalkan kedai kopi tanpa menghabiskan minumannya, melangkah lebar menuju rumah Samad dengan parang terselip di pinggang.

Tak butuh waktu lama, kekacauan pecah di ujung kampung. Darsa berteriak-teriak di depan halaman Samad, memaki-maki saudara kandungnya sendiri sebagai penipu dan pengkhianat. Samad, yang tidak tahu apa-apa dan merasa tuduhan itu sangat tidak berdasar, merasa terhina. Percekcokan mulut berganti menjadi saling dorong, hingga akhirnya parang terhunus dan warga berhamburan melerai. Samad menderita luka sabetan di lengannya, sementara pagar rumahnya hancur berantakan. Kampung yang semula tenang mendadak mencekam dan terpecah menjadi dua kubu yang saling curiga.

Kekacauan itu meluas hingga mengganggu ketenteraman seluruh desa. Pasokan air ke sawah terhenti karena warga dari dua pihak saling memblokir selokan. Kepala Desa beserta Para Tetua Adat tidak bisa tinggal diam melihat kerukunan warga yang porak-poranda hanya dalam semalam.

Hari ketiga setelah keributan, Balai Adat dipenuhi warga. Udara terasa berat oleh ketegangan. Darsa dan Samad duduk berhadapan dengan perban di lengan Samad, mata mereka masih memancarkan kemarahan. Tetua Adat, seorang pria tua bertubuh tegap dengan tatapan mata yang bijaksana, memimpin sidang.

"Sebutkan alasanmu menyerang saudaramu sendiri, Darsa!" tegas Tetua Adat.

Dengan suara bergetar karena emosi, Darsa menceritakan semua yang didengarnya dari Bahrul tentang patok tanah dan pembicaraan rahasia dengan tengkulak.

Tetua Adat kemudian memanggil saksi-saksi, termasuk mertua Samad dan tengkulak yang dimaksud. Fakta membuktikan bahwa pada malam tersebut Samad tidak ada di kampung, dan patok tanah tidak pernah bergeser sedikit pun. Darsa terpaku, wajahnya pucat pasi. Ia sadar telah diperdaya.

Pandangan tajam Tetua Adat kini tertuju pada Bahrul yang duduk mengkeret di sudut ruangan, mencoba bersembunyi di balik bahu warga lain.

"Bahrul, maju ke depan!" seru Tetua Adat.

Dengan kaki gemetar, Bahrul melangkah ke tengah ruang balai. Wajah sok tahunya hilang berganti ketakutan yang amat sangat.

"Apakah kau melihat sendiri Samad berunding dengan tengkulak malam itu?" tanya Tetua Adat dengan suara berat yang menggelegar.

"S-saya... saya hanya mendengar samar-samar, Paman... mungkin saya salah dengar..." Bahrul gagap, pelak peluh dingin membasahi dahinya.

"Salah dengar atau sengaja mereka-reka cerita?" potong Tetua Adat dingin. "Perbuatanmu bukan sekadar salah ucap. Kau telah menyebarkan berita bohong, mengadu domba dua saudara yang saling menyayangi, dan menimbulkan kekacauan besar yang merusak kedamaian seluruh kampung kita!"

Tetua Adat berdiri, meraih tongkat kayu ukirnya, dan mengetukkannya ke lantai tiga kali. Suara ketukan itu menggema, menuntut kesunyian mutlak dari seluruh warga yang hadir.

"Tindakan jahat ini dalam hukum adat kita dinamakan Capar Molot—mulut licik yang memuntahkan kebohongan dan mengadu domba sesama," ujar Tetua Adat lantang. "Sejak zaman leluhur, adat kita tidak pernah memberi ampun bagi siapapun yang memelihara lidah bercabang dan merusak ketenteraman masyarakat."

Bahrul menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata para tetua maupun tetangganya yang kini memandangnya dengan rasa jijik dan marah.

"Sesuai dengan hukum adat yang berlaku untuk pelanggaran Capar Molot," lanjut Tetua Adat, "siapa saja yang menyebarkan berita bohong yang bersifat mengadu domba atau mengakibatkan kekacauan akibat berita tidak benar tersebut, akan dijatuhi hukuman berat."

Tetua Adat mengarahkan tongkatnya tepat ke dada Bahrul. "Atas kejahatan Capar Molot yang kau lakukan, Bahrul, engkau diancam dan dijatuhi hukuman ganti rugi sebesar 3½ tahil atau setara dengan sebuah siam limus/racen!"

Suasana balai adat langsung riuh oleh bisik-bisik warga. Hukuman itu sangat berat. Denda 3½ tahil emas atau satu siam limus—tempayan kuno bernilai tinggi—bukanlah perkara kecil. Denda tersebut bukan hanya menguras harta benda yang dimiliki Bahrul hingga ia tak menyisakan apa-apa, tetapi juga menjadi tanda keaiban yang akan melekat pada namanya seumur hidup.

"Denda ini," tegas Tetua Adat lagi, "sebagian akan digunakan untuk membiayai pengobatan Samad dan memulihkan kerusakan, dan sisanya diserahkan kepada kas adat sebagai pembersih kampung dari racun kebohonganmu. Jika kau tidak mampu membayarnya hari ini, harta bendamu akan disita oleh lembaga adat!"

Bahrul jatuh berlutut di lantai kayu balai adat. Air matanya menetes, menyesali lidahnya yang tak bertulang. Hanya demi kepuasan sesaat melihat orang lain berselisih, kini ia harus kehilangan harta benda, kehormatan, dan kepercayaan dari orang-orang di kampungnya.

Darsa memandang Bahrul dengan rasa kasihan berbaur kecewa, lalu beralih menatap Samad. Kedua saudara itu akhirnya saling berjabat tangan dan berpelukan, menyadari bahwa mereka nyaris saling membunuh hanya karena termakan racun dari lidah seorang pembohong.

Sejak hari itu, kisah tentang Bahrul dan hukuman Capar Molot menjadi pelajaran yang amat berharga bagi seluruh warga. Tak ada lagi yang berani menyebar bisikan tanpa bukti, karena mereka tahu, di kampung itu, lidah yang gemar mengadu domba akan dibayar mahal dengan kebinasaan diri sendiri.

Cerpen Senjakala di Langit Montrado

Tiga tahun telah berlalu sejak tanah Sominis Pemangkat digenangi darah dan air mata. Luka tembak di lengan kiri A-Siong telah lama mengering, menyisakan guratan parut yang tebal—sebuah pengingat bisu akan hari di mana mereka berhasil menumbangkan Overste Zorg. Di sebuah gubuk sederhana di pinggiran Montrado, Mei Lan sedang mengiris umbi-umbian ketika ia melihat A-Siong masuk dengan langkah berat. Tatapan mata pemuda itu tidak lagi menyala seperti dulu; ada kelelahan mendalam yang terpancar dari sana.

"Mereka kembali, Mei Lan," kata A-Siong, suaranya parau menahan getir. "Kali ini bukan lagi sekadar satu ekspedisi kecil. Batavia mengirim singa yang jauh lebih lapar."

Mei Lan menghentikan aktivitasnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu hari ini akan tiba. Tahun 1854 membawa kabar buruk yang bergulung-gulung dari arah pesisir. Pemerintah kolonial Belanda yang murka atas kematian Zorg telah mengirim laci pasukan berskala penuh. Kali ini, pasukan itu berada di bawah kendali langsung seorang jenderal lapangan yang terkenal dingin dan tanpa ampun: Resimen Militer Andressen.

Berbeda dengan Zorg yang jemawa dan tergesa-gesa, Andressen adalah seorang ahli strategi yang kejam. Ia tidak langsung menyerbu benteng. Taktik pertamanya adalah memutus seluruh urat nadi kehidupan kami. Kapal-kapal perang Belanda memblokade muara sungai, sementara pos-pos infanteri mereka mengepung jalur darat menuju Montrado.

"Andressen tidak hanya ingin membunuh milisi kita, Mei Lan," ujar A-Siong sambil menatap keluar jendela, ke arah pasar Montrado yang kini sepi dan meranggas. "Dia ingin membuat kita kelaparan hingga kita merangkak menyerahkan diri."

------------------------------

Bulan-bulan berikutnya menjadi ujian terberat bagi cinta dan kesetiaan mereka. Kelaparan mulai merayap masuk ke dalam gubuk-gubuk perkongsian. Beras menjadi barang langka, dan wajah-wajah ceria para penambang emas kini berubah pucat bagai mayat hidup. Mei Lan dengan sabar membagi sisa-sisa persediaan makanan yang kian menipis, memastikan A-Siong tetap memiliki tenaga untuk pergi ke garis depan pertahanan.

Puncaknya terjadi pada suatu malam di penghujung tahun 1854. Pasukan Andressen mulai merangsek maju, membakar perkampungan dan menghujani benteng-benteng pertahanan dengan artileri berat tanpa henti. Suara dentuman meriam membahana membelah malam, meruntuhkan dinding-dinding kayu jati yang dahulu dianggap tak terkalahkan.

A-Siong mengenakan capingnya, menggenggam senapan sundut yang kini kekurangan mesiu. Di ambang pintu, Mei Lan memeluknya erat-erat. Air matanya jatuh menyentuh pundak A-Siong. "Kembalilah kepadaku, A-Siong. Jangan biarkan tanah ini merebutmu dariku."

"Jika aku harus gugur, Mei Lan, aku akan gugur dengan nama yang sewangi bunga lada di hatimu," bisik A-Siong pelan, sebelum akhirnya menghilang di balik kepekatan malam yang dipenuhi kepulan asap mesiu.

Di bawah komando Andressen, serangan Belanda begitu rapi dan mematikan. Satu demi satu pos pertahanan gabungan kongsi Cina rontok. Taktik gerilya yang dahulu ampuh kini dipatahkan oleh pengepungan total pasukan kolonial. A-Siong dan kawan-kawannya bertempur dengan sisa-sisa napas terakhir mereka, bertahan di antara desingan peluru dan runtuhnya barikade tanah.

------------------------------

Dua tahun penuh penderitaan itu akhirnya menemui ujungnya pada tahun 1856. Seluruh kekuatan serta pertahanan gabungan kongsi-kongsi pertambangan emas hancur total. Montrado, kota jantung perlawanan yang mereka bela dengan darah, akhirnya diduduki sepenuhnya oleh moncong meriam Belanda. Sisa-sisa milisi yang kelaparan dan kehabisan amunisi terpaksa berjalan menunduk, menyerahkan senjata mereka di halaman Balai Utama.

A-Siong berjalan di antara barisan tawanan yang selamat. Badannya kurus kering, namun matanya mencari-cari di antara kerumunan warga sipil yang dikumpulkan oleh serdadu Belanda. Di sudut alun-alun kota, di bawah penjagaan ketat tentara kolonial, ia melihat sepasang mata yang teramat dikenalnya. Mei Lan berdiri di sana, mendekap rajutan kain tua yang dahulu digunanya untuk membalut luka A-Siong.

Mata mereka bertemu. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun air mata yang mengalir di pipi keduanya menyampaikan segalanya. Perang telah usai, kekuasaan kongsi telah runtuh, dan mereka kini berstatus sebagai rakyat yang kalah, yang pengawasannya diserahkan sepenuhnya oleh Sultan kepada hukum Belanda. Mereka harus membayar pajak tiga gulden dan hidup dalam pembatasan yang ketat.

Sore itu, di bawah kibaran bendera triwarna Belanda yang berkibar angkuh di atas langit Montrado, A-Siong dan Mei Lan berjalan berdampingan meninggalkan puing-puing benteng yang hancur. Mereka kehilangan kedaulatan atas tanah emas mereka, namun di antara reruntuhan sejarah yang kelam itu, mereka berjalan pulang dengan satu-satunya harta yang gagal direbut oleh meriam-meriam Andressen: cinta dan kesetiaan yang tetap utuh di hati mereka.

------------------------------


Cerpen Bunga Lada di Balik Benteng Sominis

Suara riak air di muara sungai Pemangkat malam itu terasa sunyi, seolah menyembunyikan ketegangan yang kian mencekam. Di bawah temaram sinar bulan, Mei Lan duduk di teras sebuah gubuk kecil dekat wilayah pertahanan Sominis. Tangannya yang halus dengan telaten merajut selembar kain pelindung dada. Sesekali matanya menatap ke arah benteng kayu jati milik Kongsi Sin-Ta-Kiu yang berdiri kokoh di kejauhan. Di dalam benteng itulah, sang kekasih hati, A-Siong, sedang berjaga menyandang senapan sundutnya.

Mei Lan hanyalah seorang gadis anak petani lada setempat. Pertemuannya dengan A-Siong setahun lalu di pasar barter emas Pemangkat telah mengubah hidupnya. A-Siong adalah pemuda idealis, salah satu anggota milisi kongsi yang bersumpah untuk mempertahankan tanah otonom mereka dari cengkeraman kekuasaan mana pun. Namun, cinta mereka kini harus mekar di bawah bayang-bayang moncong meriam yang mengerikan.

Langkah kaki yang tergesa memecah kesunyian. Mei Lan menoleh dan mendapati A-Siong berjalan mendekat dengan wajah yang diselimuti peluh dan kecemasan.

"Mei Lan, besok pagi engkau harus mengungsi ke pedalaman yang lebih jauh bersama ibumu," bisik A-Siong sambil menggenggam kedua tangan gadis itu. Suaranya bergetar, menahan beban berat yang menggelayuti dadanya.

"Mengapa begitu cepat, A-Siong? Apakah mereka sudah dekat?" tanya Mei Lan dengan mata berkaca-kaca.

A-Siong mengangguk pelan. "Mata-mata kongsi memberi kabar bahwa armada besar Kompeni Belanda telah merapat di pesisir. Mereka dipimpin langsung oleh seorang perwira tinggi bernama Overste Zorg. Sultan telah meminta bantuan mereka untuk menghancurkan pertahanan kita. Esok hari, Sominis akan menjadi lautan api."

Mei Lan memeluk A-Siong dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada pemuda itu. "Aku tidak ingin kehilanganmu, A-Siong. Emas-emas di dalam perut bumi itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan keselamatanmu. Mari kita pergi bersama, mengubur masa lalu, dan hidup tenang di hulu sungai."

A-Siong terdiam sejenak. Dibelainya rambut hitam panjang Mei Lan dengan penuh kasih. "Andai saja itu mudah, Mei Lan. Namun, sumpah kongsi telah diucapkan di atas altar. Jika kami menyerah sekarang, masa depan anak-cucu kita akan diinjak-injak oleh bangsa kulit putih itu. Aku bertempur bukan hanya demi emas, melainkan demi rumah yang akan kita bangun bersama suatu hari nanti. Tunggulah aku di bukit seberang."

------------------------------

Keesokan paginya, tahun 1851, ramalan A-Siong menjadi kenyataan pahit. Langit Sominis Pemangkat berubah menjadi abu-abu pekat. Dari atas bukit tempat pengungsiannya, Mei Lan hanya bisa memandang dengan hati yang hancur saat mendengar rentetan dentuman meriam pasukan Hindia Belanda yang membakar wilayah lembah. Blam! Blam!

Di garis depan pertempuran, Overste Zorg memimpin pasukannya dengan angkuh, memuntahkan bola-bola besi panas untuk meruntuhkan dinding benteng Sin-Ta-Kiu. A-Siong dan kawan-kawannya membalas dengan nekat. Di tengah desingan peluru, A-Siong terus membidikkan senapannya, bayangan senyuman Mei Lan menjadi satu-satunya kekuatannya untuk tetap bertahan di tengah hujan timah panas.

Hingga sebuah momen penentu terjadi. Saat benteng luar mulai roboh, Overste Zorg memacu kudanya terlalu dekat ke parit pertahanan musuh. Keberanian yang jemawa itu menjadi bumerang. Seorang penembak jitu kongsi berhasil membidik dada sang komandan Belanda. Dor! Overste Zorg tertembak dan tewas seketika, jatuh terhempas ke atas tanah berlumpur Sominis.

Kematian pucuk pimpinan Belanda itu mendatangkan kekacauan hebat di barisan musuh. Serangan kolonial mendadak surut, dan pasukan kompeni terpaksa mundur secara teratur membawa jasad kaku sang perwira yang nantinya dimakamkan di atas bukit Pexieungan.

------------------------------

Ketika senja mulai turun dan asap pertempuran perlahan memudar, Mei Lan nekat berlari turun dari bukit pengungsian menuju sisa-sisa benteng yang hancur. Kakinya melompati puing-puing kayu yang masih membara dan parit-parit yang digenangi air keruh. Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi doa-doa keselamatan untuk kekasihnya.

"A-Siong! A-Siong!" teriaknya dengan suara parau di antara tumpukan korban yang bergelimpangan.

Di sudut barikade tanah yang runtuh, ia melihat sesosok pemuda sedang terduduk lemas sambil mendekap lengan kirinya yang terluka parah. Baju kain kelamnya telah robek dan berlumuran darah. Itu A-Siong.

Mei Lan langsung berlutut dan memeluk pemuda itu sembari menangis histeris. A-Siong membuka matanya yang lelah, tersenyum getir melihat gadisnya berada di sana. "Aku masih hidup, Mei Lan... Aku memegang janjiku kepadamu."

Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Mei Lan segera merobek kain rajutan pelindung dada yang dibawanya untuk membalut luka A-Siong. Walaupun hari itu pertahanan kongsi berhasil memukul mundur pasukan Belanda untuk sementara waktu, mereka tahu ini barulah awal dari badai yang lebih besar. Beberapa tahun ke depan, kompeni pasti akan kembali membawa pasukan yang lebih masif.

Namun malam itu, di bawah bayang-bayang makam Overste Zorg yang baru digali di bukit seberang, dua anak manusia itu duduk berdekatan di atas puing benteng. Cinta mereka telah teruji oleh api peperangan, membuktikan bahwa di atas tanah Kalimantan yang diperebutkan karena emasnya, ada sesuatu yang jauh lebih berharga dan tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh peluru meriam penjajah: sebuah kesetiaan yang tulus di tengah gemuruh perjuangan.

------------------------------

Cerpen Peluru Terakhir di Sominis Pemangkat

Aroma mesiu dan uap rawa yang panas mengepul di sekitar barisan pasukan ekspedisi. Aku, Overste Zorg, berdiri di garis depan sambil menggenggam hulu pedang komandoku dengan erat. Di bawah terik matahari pesisir Sambas tahun 1851, keringat bercucuran membasahi seragam wol biru gelapku yang tebal dan tidak bersahabat dengan iklim tropis ini. Di hadapanku, terbentang pemandangan yang membuat para jenderal di Batavia salah kalkulasi: sebuah benteng kayu jati dan tanah liat yang berdiri kokoh dan angkuh di wilayah Sominis Pemangkat. Itu adalah jantung pertahanan dari Sin-Ta-Kiu Kongsi.

"Mereka bukan sekadar buruh tambang yang memegang cangkul, Overste," bisik Sersan Hendrik di sampingku, tangannya gemetar saat mengisi peluru senapan sundutnya. "Mereka bertempur bagai singa yang kelaparan."

Aku mendengus remeh, meski di dalam dada, jantungku berdegup kencang. Sebagai perwira yang dibesarkan di akademi militer Eropa, aku terbiasa dengan perang linier yang teratur. Namun di sini, di belantara Borneo Barat, hukum perang berganti menjadi hukum rimba. Tiga kongsi besar—Tai-Kong, Sin-Ta-Kiu, dan Mang-Ki-Tiu—telah bersumpah untuk menghancurkan dominasi kesultanan dan menolak membayar sepeser pun upeti emas. Sultan Sambas telah meminta bantuan kami. Bagiku, ini adalah panggung untuk mengukir namaku dalam lembaran emas kejayaan kolonial Hindia Belanda.

"Siapkan artileri! Arahkan moncong meriam tepat ke gerbang pertahanan mereka!" teriakku, suaraku menggelegar membelah riuh rendah hutan. "Hancurkan dinding-dinding kayu itu!"

Blam! Blam!

Meriam-meriam kami memuntahkan bola besi panas. Tanah Sominis bergetar hebat. Dinding luar benteng Sin-Ta-Kiu berguguran, menyemburkan serpihan kayu dan debu tanah yang pekat. Aku tersenyum puas melihat kekacauan itu. "Maju! Serbu benteng!" perintahku seraya menghunus pedang perakku, memimpin ratusan infanteri menerobos kabut asap.

Namun, kepuasan itu hanya bertahan beberapa detik. Dari balik celah-celah benteng yang hancur, ribuan milisi kongsi Cina bangkit dari parit pertahanan mereka. Mereka tidak lari. Dengan caping yang menutupi wajah murka mereka, mereka membalas dengan hujan tembakan yang brutal. Suara desingan peluru timah panas memenuhi udara, bersahut-sahutan mematikan. Beberapa serdaduku bertumbangan di atas lumpur, mengerang kesakitan saat seragam biru mereka berubah warna menjadi merah darah.

"Pertahankan formasi! Jangan mundur!" teriakku di tengah kepungan asap yang kian menyesakkan napas.

Aku memacu kudaku lebih dekat ke parit pertahanan musuh, mencoba mengembalikan nyali pasukanku yang mulai goyah oleh perlawanan nekat para penambang emas itu. Aku berada di posisi yang teramat terbuka. Di atas punggung kuda, aku adalah sasaran yang sempurna.

Tiba-tiba, dari atas salah satu menara pengawas benteng yang tersisa, seorang penambang tua dari kubu Sin-Ta-Kiu membidikkan senapan laras panjangnya tepat ke arah dadaku. Waktu seolah melambat. Aku sempat melihat kilatan cahaya dari moncong senapannya sebelum sebuah suara dentuman keras memekakkan telinga.

Dor!

Hawa panas yang luar biasa seketika menghantam dadaku. Timah panas memecahkan kancing kuningan seragam kebesaranku, menembus kulit, dan menghancurkan tulang rusukku. Rasa sakit yang teramat sangat menjalar, membuat pandanganku mendadak kabur dan gelap. Pedang perak yang kupegang erat terlepas dari tanganku, jatuh berdentang di atas tanah berbatu. Tubuhku limbung, lalu terhempas keras dari atas pelana kuda, jatuh tak berdaya di atas tanah lumpur Sominis Pemangkat.

"Overste Zorg tertembak! Selamatkan Overste!"

Suara teriakan histeris Sersan Hendrik adalah hal terakhir yang kudengar samar-samar sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya. Aku, Overste Zorg, mati di tengah medan laga yang membara, jauh dari tanah airku di Eropa.

Peperangan hari itu berubah menjadi duka mendalam bagi pasukan kolonial Belanda. Serangan dihentikan, dan jasadku yang sudah kaku dievakuasi dengan susah payah oleh sisa-sisa pasukan yang mundur teratur. Keesokan harinya, di bawah langit Sambas yang mendung dan gerimis tipis, sebuah pemakaman militer yang sunyi digelar. Tubuhku diturunkan ke dalam liang lahat, dikebumikan selamanya di atas dataran tinggi yang sepi: Bukit Pexieungan Pemangkat. Sebuah tempat bernaung terakhir yang abadi bagi seorang perwira yang ambisinya terkubur oleh peluru terakhir para pembangkang emas di pedalaman Borneo.

------------------------------

Cerpen: Sumpah di Atas Bukit Pemangkat

Matahari tahun 1850 menggantung rendah di atas langit Kota Sambas, memantulkan cahaya kemerahan pada aliran sungai yang membelah pusat kesultanan. Di pedalaman yang kaya akan urat-urat emas, suasana justru sedang mendidih. Sebuah maklumat rahasia telah menyebar ke barak-barak tambang. Tiga kekuatan raksasa yang biasanya saling bersaing—Tai-Kong Kongsi, Sin-Ta-Kiu Kongsi, dan Mang-Ki-Tiu Kongsi—kini duduk bersama di satu meja penyerahan sumpah.

Bukan lagi sekadar urusan tapal batas parit galian, kali ini ambisi mereka jauh lebih besar: mereka hendak menguasai Kerajaan Sambas sepenuhnya.

"Kita sudah terlalu lama memeras keringat di lubang lumpur ini hanya untuk menyerahkan sekantong demi sekantong upeti kepada istana!" seru seorang pembesar dari Mang-Ki-Tiu Kongsi sambil menggebrak meja.

Dalih utama yang mereka pakai untuk memicu pembangkangan ini adalah penolakan mutlak atas pembayaran upeti atau cukai emas kepada pihak Kesultanan Sambas. Padahal, Sultan telah berkali-kali melayangkan peringatan keras ke wilayah pedalaman. Namun, kepala-kepala kongsi itu memilih membutakan mata dan menulikan telinga. Di dalam benak mereka, ada dua anggapan yang telah menjadi harga mati: Pertama, mereka sudah merasa tidak terikat lagi oleh perjanjian apa pun dengan Kerajaan Sambas atau Sultan. Kedua, mereka merasa sudah tidak lagi berada di bawah perintah atau kekuasaan siapa pun jua di muka bumi ini. Mereka adalah para penguasa merdeka yang berdiri di atas tumpukan emas.

Mendengar laporan tentang pembangkangan yang kian menjadi-jadi, murkalah Sultan Sambas. Istana tidak bisa lagi menoleransi durhaka yang mengancam kedaulatan negeri. Sultan segera menitahkan seluruh prajurit kesultanan untuk bergerak lambat namun mematikan. Perintah yang keluar dari lisan baginda teramat tegas: hancurkan tempat-tempat pertambangan emas serta pusat-pusat perkongsian Cina tanpa sisa.

Dalam waktu singkat, ekspedisi militer kesultanan bergerak menyisir pedalaman. Pertempuran sengit meletus beruntun di berbagai titik strategis. Wilayah Pemangkat, Sominis, Soeawi, Bengkayang, Larah, Montrado, dan Buduk seketika berubah menjadi lautan api. Namun, orang-orang perkongsian rupanya telah mencium pergerakan ini jauh-jauh hari. Mereka telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk. Mereka membangun benteng-benteng tanah yang diperkuat pagar kayu jati, mengumpulkan ribuan pucuk senapan sundut, dan melatih para buruh tambang menjadi milisi yang haus darah. Pertempuran hebat antara prajurit-prajurit Sultan melawan gabungan perkongsian Cina akhirnya pecah di pinggiran Kota Sambas, yang menjadi pusat sasaran utama pemberontakan.

------------------------------

Melihat kekuatan gabungan tiga kongsi yang teramat masif dan persenjataan mereka yang kuat, jalannya peperangan mulai berbalik menekan istana. Prajurit kesultanan menderita kerugian yang tidak sedikit. Menghadapi situasi yang kian genting, Sultan Sambas segera mengumpulkan para Pangeran bersama stafnya dalam sebuah sidang darurat di balairung istana. Diskusi berjalan dengan urat leher tegang hingga larut malam. Akhirnya, sebuah keputusan pahit dan terpaksa diambil: Sultan memutuskan meminta bantuan militer kepada pihak Belanda.

Bantuan yang dinantikan oleh Sultan tidak serta-merta datang. Batavia membutuhkan waktu untuk mempersiapkan pasukan ekspedisi mereka. Baru pada tahun 1851, armada kapal perang Belanda merapat di pesisir, membawa barisan serdadu berseragam biru di bawah pimpinan Overste Zorg.

Kedatangan pasukan Belanda langsung membawa babak baru yang penuh darah. Overste Zorg, seorang perwira eropa yang terkenal ambisius, langsung menyusun strategi pembalasan. Target utama pertamanya adalah meruntuhkan benteng pusat pertahanan milik Sin-Ta-Kiu Kongsi yang berdiri kokoh di wilayah Sominis Pemangkat.

"Hancurkan dinding kayu itu dengan artileri! Jangan biarkan mereka menembak dari balik celah!" teriak Overste Zorg dari atas kudanya, mengacungkan pedang ke arah benteng musuh.

Namun, milisi Sin-Ta-Kiu mempertahankan benteng mereka dengan nekat. Di tengah riuh rendah desingan peluru dan dentuman meriam, sebuah peluru dari senapan sundut penambang meluncur deras membelah kepulan asap. Peluru itu mengenai dada sang komandan Belanda. Overste Zorg tewas seketika di medan laga, roboh bersimbah darah di tanah Sominis. Kematian sang perwira tinggi mengejutkan pasukan kolonial. Jasadnya yang kaku segera dievakuasi dari tengah pertempuran dan kemudian dimakamkan di atas bukit Penibungan Pemangkat dengan penghormatan militer yang suram.

------------------------------

Kematian Overste Zorg tidak menghentikan bara peperangan. Sebaliknya, hal itu justru membuat Batavia kian murka. Tiga tahun berlalu dalam ketegangan yang menggantung. Memasuki tahun 1854, api pemberontakan bukannya padam, melainkan makin meluas di seluruh daerah pedalaman Borneo Barat. Pihak perkongsian Cina bahkan mendapat suntikan moral dan bantuan material yang besar dari kalangan bangsa Cina di luar perkongsian, membuat pasokan logistik dan senjata mereka seolah tidak ada habisnya.

Menghadapi jaringan perlawanan yang kian menggurita ini, Belanda tidak lagi bermain-main. Mereka mengirimkan laci pasukan berskala penuh ke wilayah Sambas, kali ini di bawah komando seorang jenderal lapangan yang bertangan besi, Resimen Militer Andressen.

Andressen menerapkan taktik bumi hangus dan pengepungan total. Ia tidak hanya menyerang benteng, tetapi juga memutus seluruh urat nadi pasokan makanan menuju pusat-pusat tambang. Jalur sungai diblokade oleh kapal-kapal perang, sementara jalur darat dijaga ketat oleh pos-pos patroli infanteri Belanda. Kelaparan dan penyakit mulai menggerogoti pertahanan dalam kongsi dari dalam.

Baru dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1856, taktik brutal Andressen membuahkan hasil akhir. Seluruh kekuatan serta pertahanan gabungan kongsi-kongsi pertambangan emas yang dahulunya begitu perkasa dapat direbut dan dihancurkan total oleh Kompeni Belanda. Kota Montrado, yang menjadi jantung pertahanan terakhir sekaligus simbol perlawanan perkongsian, berhasil dikuasai dan diduduki sepenuhnya oleh moncong-moncong meriam Belanda. Pihak perkongsian yang telah kehabisan peluru, kelaparan, dan kehilangan para pemimpin terbaiknya akhirnya menyerah kalah serta takluk tanpa syarat kepada Kompeni Belanda.

------------------------------

Selesainya peristiwa berdarah ini membawa perubahan geopolitik yang drastis di tanah Sambas. Berdasarkan kesepakatan pasca-perang, oleh Sultan, orang-orang Cina yang berdiam dalam daerah kekuasaan dan hukum Kerajaan Sambas secara resmi diserahkan pengawasannya kepada pihak Belanda.

Penyerahan wewenang ini menjadi babak baru yang penuh ketidakpastian. Dengan ikut campurnya Belanda secara mendalam di daerah Kalimantan Barat, hal ini sudah tentu menimbulkan perasaan tidak senang dan kekhawatiran yang amat sangat bagi kongsi-kongsi kecil lainnya yang tersisa di luar lingkaran pemberontakan. Mereka dilingkupi kecemasan yang pekat, karena menduga kuat bahwa kongsi-kongsi mereka akan dilenyapkan sama sekali oleh kekuatan kolonial Belanda yang terkenal serakah. Di balik kedai-kedai kopi yang senyap dan parit-parit tambang yang keruh, sisa-sisa penambang itu mulai berbisik-bisik, mencari-cari alasan dan pembenaran agar timbul kembali pertentangan baru di masa depan demi menjaga sejumput kemerdekaan yang tersisa di tanah Borneo.

--

Cerpen: Terusir dari Tanah Leluhur

Namaku Nyayan. Aku lahir di bawah rimbunnya pohon-pohon pahlawan di pedalaman Larah. Bagi sukuku, hutan ini bukan sekadar kumpulan pohon dan tanah basah. Hutan ini adalah napas kami, tempat nenek moyang kami meniti jejak, dan tempat roh-roh penjaga bersemayam dalam kesunyian. Namun, semenjak kilau kuning dari perut bumi mulai menggoda hati manusia-manusia dari luar, kedamaian di tanah kami perlahan-lahan menguap bagai embun pagi yang tersengat terik matahari.

Aku masih ingat cerita tetua adat kami tentang tahun 1770. Waktu itu aku belum lahir, namun kisah tentang dua Kepala Suku kami yang dibunuh oleh orang-orang perkongsian Cina di Montrado selalu dinyanyikan dalam ratapan malam. Kematian mereka menyulut api kemarahan. Kami menuntut balas, dan perang besar sempat mengotori kesucian hutan kami dengan darah.

Namun, keputusan Sultan Sambas setelahnya justru memojokkan kami. Demi upeti emas yang mengalir setiap bulan ke istana pesisir, orang-orang perkongsian itu diberikan kebebasan penuh untuk mengatur daerah mereka sendiri. Sejak saat itu, mereka bertindak bagai raja-raja baru. Parit-parit raksasa digali, sungai-sungai dijebol demi mencari emas, dan ladang-ladang perburuan kami kian menyusut. Kami, anak-anak kandung tanah ini, perlahan-lahan terdesak, terpaksa mundur semakin jauh ke hulu sungai dan pedalaman yang sunyi.

------------------------------

Tahun 1854 tiba, dan hutan kami kembali bergemuruh oleh suara yang asing. Bukan suara badai, melainkan suara dentuman besi yang memuntahkan api. Manusia berkulit putih yang mereka sebut Kompeni Belanda datang dari arah pesisir dengan seragam biru gelap mereka. Mereka membawa meriam-meriam besar, bergerak menuju Montrado untuk merebut tanah emas dari tangan kongsi Cina.

"Nyayan, jangan dekat-dekat ke hilir sungai hari ini. Hutan sedang marah," bisik ibuku sambil memeluk adikku erat-hari itu di dalam rumah panggung kami.

Namun, rasa ingin tahu anak muda mengalahkan rasa takutku. Dengan menggenggam mandau warisan ayahku yang terselip di pinggang, aku merayap di antara rimbunnya semak belukar di tepi rawa. Dari balik daun-daun pakis yang besar, aku menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Dua kekuatan dari luar tanah kami sedang saling menjagal.

Pasukan kongsi Cina, dengan baju kelam dan caping mereka, bergerak lincah di antara akar-akar pohon bakau. Mereka menembakkan senapan sundut dari atas pohon, menyergap pasukan Belanda yang berjalan beriringan. Di sisi lain, serdadu Belanda membalas dengan dentuman meriam yang dahsyat. Blam! Blam!

Setiap kali meriam itu berbunyi, jantungku serasa copot. Pohon-pohon raksasa yang telah berusia ratusan tahun tumbang seketika, hancur berkeping-keping. Tanah tempat kami berpijak bergetar hebat. Burung-burung enggang terbang ketakutan, meninggalkan sarang mereka yang rusak. Hutan yang dahulunya penuh dengan suara alam, kini dipenuhi oleh jeritan kesakitan manusia dan bau busuk asap mesiu.

Beberapa kali, orang-orang perkongsian meminta bantuan kami untuk menunjukkan jalan rahasia di dalam hutan guna menyergap Belanda. Di waktu lain, mata-mata Belanda mencoba menyuap kami dengan manik-manik dan kain beludru demi informasi tentang benteng kongsi. Namun, bagi kami, kedua pihak itu sama saja. Mereka bertempur bukan untuk menjaga kesucian tanah ini, melainkan untuk memperebutkan kuasa atas emas yang tertanam di bawah kaki kami. Kami terhimpit di tengah pertarungan dua raksasa serakah.

------------------------------

Tahun 1855, perang itu akhirnya mereda. Montrado jatuh ke tangan Belanda. Otoritas kongsi dihancurkan, dan bendera Belanda berkibar angkuh di atas tanah-tanah bekas galian.

Suatu sore, aku berjalan menyusuri bekas medan pertempuran di dekat Sungai Duri. Suasananya teramat memilukan. Sungai yang dahulu jernih tempat kami mencari ikan kini berubah keruh, berwarna cokelat pekat karena lumpur sisa galian tambang yang telanjur rusak oleh perang. Di tepian sungai, aku melihat sisa-sisa barikade kayu yang terbakar dan beberapa caping yang hanyut terbawa arus.

Belanda kini menjadi penguasa baru di pesisir dan pedalaman. Mereka menerapkan aturan-aturan baru, menghitung setiap kepala, dan membatasi gerak-gerik kami. Orang-orang Cina perkongsian yang dahulu jemawa kini berjalan menunduk, dipaksa membayar upeti tiga gulden dan banting setir menjadi petani lada atau buruh demi bertahan hidup di bawah telapak kaki kompeni.

Aku berdiri di atas sebuah bukit batu, menatap bentangan hutan Larah dan Montrado yang kini tak lagi sama. Banyak bagian hutan yang telah botak dan menyisakan lubang-lubang menganga berisi air hujan yang beracun. Perang emas ini telah usai, namun kemenangan dan kekalahan di antara mereka hanya menyisakan satu kepastian bagi sukuku: kami kehilangan kedamaian rumah kami. Dengan mandau yang masih setia di pinggang, aku berbalik dan berjalan melangkah lebih jauh ke dalam jantung belantara yang tersisa, menjaga tradisi kami tetap hidup di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh keserakahan meriam dan kilau emas.

------------------------------

Cerpen Catatan dari Garis Depan Montrado

Namaku Letnan Willem van Heutz. Bagiku, malam-malam di pedalaman Borneo Barat adalah siksaan yang tiada berakhir. Udara tropis yang lembap menyergap pekat, sementara suara dengung nyamuk malaria berpadu dengan ketakutan yang senantiasa mengintai di balik rimbunnya hutan. Aku duduk di dalam tenda militer darurat, ditemani temaram sebatang lilin yang mulai meleleh. Di tanganku, sebuah pena bulu menggoreskan catatan harian ini di atas kertas yang mulai menguning oleh kelembapan udara hutan khatulistiwa.

Waktu menunjukkan pertengahan tahun 1854. Tugas yang dibebankan Batavia ke pundakku sungguh berat: menundukkan "Republik" Kongsi Cina di Montrado dan mengembalikan kendali atas wilayah tambang emas terkaya ini ke tangan Kerajaan Hindia Belanda.

Bagi jenderal-jenderal kami di Batavia yang duduk nyaman di atas kursi rotan, ekspedisi militer ini hanyalah kalkulasi angka di atas kertas. Mereka mengira membawa ratusan infanteri bersenjata modern dan meriam artileri berat dari Singkawang akan langsung membuat para penambang itu gemetar ketakutan. Namun, setelah kakiku sendiri menginjak lumpur hitam daerah ini, aku sadar kami sedang memasuki sarang macan yang teramat mematikan.

"Letnan Willem! Pasukan pengintai mendeteksi pergerakan di seberang rawa!"

Suara Sersan Hendrik membuyarkan lamunanku. Ia berdiri di depan tenda dengan pakaian seragam biru gelap yang basah oleh keringat dan lumpur. Matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam. Aku segera memakai topi pet militerku, menyandang pedang, dan menggenggam sebuah senapan laras panjang model terbaru.

"Siapkan pasukan baris depan, Hendrik. Jangan biarkan formasi kita terpecah saat melintasi rawa," perintahku dengan suara sedingin mungkin, mencoba menyembunyikan detak jantungku yang kian memburu.

Kami bergerak membelah malam. Di bawah perintahku, barisan serdadu Belanda berjalan merayap dengan sangat hati-hati. Keunggulan taktik linier eropa kami sama sekali tidak berguna di sini. Rawa-rawa pekat dan pohon-pohon raksasa mengurung kami, membatasi jarak pandang hingga hanya beberapa meter ke depan.

Tiba-tiba, kesunyian malam pecah oleh kilatan cahaya beruntun dari balik semak belukar. Dor! Dor! Dor!

"Penyergapan! Mereka ada di atas pohon!" teriak Hendrik.

Suara desingan peluru senapan sundut milik milisi kongsi menyergap kami dari segala penjuru. Pasukan kongsi itu bergerak bagaikan hantu pelindung hutan. Mereka tidak memakai seragam megah, melainkan baju kain kelam dan caping, namun mereka menembak dengan akurasi yang mengerikan. Beberapa serdaduku roboh bersandarkan akar pohon, mengerang kesakitan saat timah panas menembus seragam biru mereka.

"Tembak! Arahkan meriam ke arah jam dua! Hancurkan barikade mereka!" teriakku lantang, sambil melepaskan tembakan ke arah kilatan sekilas di balik rimbunnya dedaunan.

Dentuman meriam artileri kami menggelegar, meruntuhkan pohon-pohon tua dan membelah bumi. Tanah bergetar hebat. Hawa panas dari ledakan meriam membakar kulitku. Taktik gerilya mereka sungguh cerdik, namun mereka tidak memiliki daya hancur sebesar artileri kami. Perlahan namun pasti, lewat pertempuran berdarah yang menguras nyawa, kami berhasil mendesak mereka mundur jengkal demi jengkal menuju benteng utama mereka di Montrado.

------------------------------

Memasuki awal tahun 1855, pengepungan pertahanan terakhir telah mencapai puncaknya. Kami berhasil memutus seluruh urat nadi logistik menuju pusat kota tambang. Dari balik teropongku, aku melihat kota otonom yang dahulunya sangat makmur itu kini meranggas. Asap hitam mengepul dari bekas galian emas yang terbengkalai.

Malam sebelum penyerahan diri secara resmi, aku berjalan menyusuri baris depan parit pertahanan kami. Aku melihat tubuh-tubuh kurus para milisi kongsi yang tewas kelaparan di balik dinding pembatas kayu. Di balik ketegasanku sebagai seorang perwira, hatiku sesungguhnya teriris. Mereka bukan sekadar penambang liar; mereka adalah orang-orang yang mempertahankan tanah, rumah, dan impian kemerdekaan yang telah mereka bangun sejak tahun 1760 dari keringat dan darah. Kami datang ke sini sebagai penakluk yang memaksakan kehendak demi emas dan kekuasaan Batavia.

Keesokan paginya, aku berdiri tegak di samping Komandan Ekspedisi di halaman Balai Utama Montrado. Hari itu terasa amat sunyi. Ratusan milisi kongsi berjalan menunduk, menyerahkan senapan-senapan mereka yang telah berkarat ke dalam tumpukan sitaan. Bendera kejayaan mereka diturunkan dengan khidmat. Sebagai gantinya, aku menarik tali untuk mengibarkan bendera triwarna merah, putih, biru milik Kerajaan Belanda di langit Borneo.

Seorang pemimpin kongsi yang sudah tua melintas di hadapanku dengan tangan terikat. Matanya yang tajam menatapku lurus, tidak menyiratkan ketakutan, melainkan sebuah harga diri yang tidak akan pernah bisa ditekuk oleh sebutir peluru pun.

Tugas kami telah selesai. Montrado telah takluk secara resmi di bawah administrasi kolonial. Pajak 3 gulden mulai diberlakukan untuk setiap kepala sebagai tanda ketundukan mereka pada kuasa kami. Namun, saat aku menatap kibaran bendera kami di atas tanah galian emas yang telah hancur ini, aku tidak merasakan kemenangan sama sekali di dalam dadaku. Aku hanyalah seorang letnan yang berhasil bertahan hidup dari sebuah perang kolonial yang kejam, membawa pulang secarik kertas laporan keberhasilan untuk Batavia, namun meninggalkan sebagian dari kedamaian jiwaku terkubur di bawah tanah basah pedalaman Borneo.

------------------------------

Cerpen: Senjakala di Hulu Sungai Duri

Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana bau mesiu dan lumpur bercampur menjadi satu di udara pagi itu. Namaku A-Siong. Di usiaku yang kini menginjak kepala lima, rambutku telah memutih, sama putihnya dengan sisa-sisa debu penyaringan emas yang dahulu kuayak di hulu Sungai Duri. Namun, bayang-bayang tahun 1854 itu tidak pernah sedetik pun lekang dari kepalaku.

Puluhan tahun lalu, ketika aku masih seorang pemuda yang penuh ambisi, aku datang ke tanah Borneo ini bersama gelombang kolonisasi. Kami, orang-orang perkongsian, menganggap bumi Kalimantan Barat sebagai tanah harapan. Di bawah bendera Kongsi Tai-Kong yang berpusat di Montrado, kami merasa menjadi penguasa sejati. Kami membabat rimba, mengeruk bukit, dan membangun koloni mandiri yang megah. Raja-raja Melayu yang lelah setelah perang saudara tahun 1772 tak lagi punya taji untuk mengatur kami. Kami adalah sebuah republik di tengah belantara; merdeka dan berdaulat.

Namun, kemakmuran adalah magnet bagi keserakahan yang lebih besar. Hari itu, saat mentari baru saja menyembul di balik tajuk pohon jati, peluit tanda bahaya berbunyi melengking di seluruh penjuru benteng pertahanan kami.

"Kompeni! Serdadu Belanda datang dari arah Singkawang!" teriak Ah Hin, sahabat karibku, sambil berlari kencang memegang senapan sundutnya yang masih hangat.

Aku segera melompat ke balik barikade tanah. Dadaku bergemuruh hebat saat melihat dari kejauhan barisan serdadu berkulit putih berbaris rapi dengan seragam biru gelap mereka. Di belakang mereka, moncong-moncong meriam artileri berat diarahkan tepat ke jantung pertahanan kami. Batavia telah mengirimkan badai untuk merebut emas yang kami urus dengan tetesan darah.

"Jangan biarkan mereka maju selangkah pun, A-Siong!" pekik Ah Hin di antara desingan peluru yang mulai membelah kesunyian hutan.

Aku mengangguk mantap, membidikkan senapanku ke arah garis depan musuh, lalu menarik pelatuk. Dor! Hawa panas menyembur ke wajahku. Pertempuran gerilya yang brutal pun pecah. Selama berminggu-minggu, kami memanfaatkan lebatnya hutan dan pekatnya rawa untuk menahan gempuran mereka. Kami bergerak bagai hantu di tanah leluhur baru kami, menyergap dari balik rimbunnya belantara, lalu menghilang.

Namun, taktik gerilya kami perlahan menemui jalan buntu. Kompeni Belanda menembaki benteng-benteng kayu kami tanpa henti menggunakan meriam berat. Suara dentumannya meremukkan nyali dan meruntuhkan pertahanan yang kami bangun bertahun-tahun. Jalur logistik kami diputus, menyisakan kelaparan yang teramat sangat di dalam benteng. Aku menyaksikan kawan-kawanku roboh satu per satu, bukan hanya karena timah panas, melainkan karena perut yang kosong.

Puncaknya terjadi di awal tahun 1855. Dengan tubuh yang kurus kering dan hati yang remuk redam, kami terpaksa menyaksikan bendera kejayaan kongsi diturunkan dari Balai Utama Montrado. Sebagai gantinya, bendera triwarna Belanda berkibar angkuh di langit yang mendung.

Aku terpaksa berbaris, menyerahkan senapan kesayanganku ke dalam tumpukan besi tua yang disita oleh serdadu kolonial. Uang gulden yang dingin kini menggantikan mata uang kongsi kami, dan selembar kartu identitas seharga 3 gulden terpaksa kubeli demi memastikan aku tidak digantung sebagai pemberontak.

Kini, masa-masa kejayaan itu telah terkubur bersama runtuhnya koloni kami. Aku tidak lagi memegang sekop emas atau senapan. Di sebuah kedai kopi kecil di pesisir Singkawang, aku menghabiskan sisa hidupku dengan menyeduh kopi untuk para nelayan, sambil menatap riak air laut yang tenang—meratapi senjakala koloni emas yang kini hanya menjadi debu dalam lembaran sejarah.

------------------------------


Cerpen:Benih Konflik di Hulu Sungai Duri

Kilau kuning di dasar parit-parit pedalaman telah lama mengubah takdir bumi Kalimantan Barat. Jauh di hulu wilayah Mampawa, riak air Sungai Duri tidak lagi sekadar mengalirkan air jernih, melainkan membawa serbuk-serbuk emas yang menggoda iman siapa saja. Ketika kabar mengenai keberhasilan penambangan emas itu sampai ke telinga Panembahan Mampawa, sebuah rencana besar pun dirancang. Sang penguasa mendengar desas-desus tentang keganasan, keuletan, dan ketangguhan tenaga-tenaga Cina dalam membuka lahan tambang. Tanpa membuang tempo, didatangkanlah 20 (dua puluh) orang Cina dari Brunai untuk memulai misi besar: mengumpulkan emas di sepanjang daerah Sungai Duri, sebuah wilayah subur yang terletak persis di perbatasan sebelum memasuki tanah Sambas.

Strategi Panembahan Mampawa yang mendatangkan gelombang awal pekerja asing ini ternyata membuahkan hasil yang teramat gemilang. Emas mengalir deras ke pundi-pundi istana. Keberhasilan yang mencolok ini tidak luput dari pandangan jeli tetangga mereka di utara. Sultan Umar Akamuddin dari Sambas, yang menyaksikan bagaimana Mampawa mendadak makmur karena emas, memutuskan untuk meniru cara usaha tersebut. Pada tahun 1760, Sultan Sambas secara resmi mengizinkan adanya kebijakan "Kolonisasi" Cina dalam skala yang jauh lebih masif.

Ribuan pekerja didatangkan untuk mengadakan penggalian emas secara besar-besaran di daerah Larah. Dalam waktu singkat, keserakahan dan ambisi manusia membuat wilayah penambangan ini meluas tanpa kendali hingga mencapai Montrado (Kecamatan Samalantan). Karena luasnya daerah yang mengandung bijih emas, pekerja-pekerja Cina mendapati kesempatan emas untuk turut serta mengeduk kekayaan bumi sedalam-dalamnya. Hutan-hutan lebat ditebang, bukit-bukit dikeruk, dan berdirilah perkampungan-perkampungan baru yang dihuni oleh para perantau dari daratan Tiongkok.

------------------------------

Pada masa-masa awal, kemakmuran yang melimpah itu sempat menutupi sebuah bom waktu yang mengintai di balik rimbunnya hutan tropis. Sudah menjadi kebiasaan lama bagi raja-raja Melayu pada waktu itu bahwa persoalan tapal batas wilayah antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya tidak begitu diperhatikan. Selama emas belum ditemukan dan hutan masih berupa belantara sunyi, sikap para raja dalam hal batas geografis ini cenderung acuh tak acuh. Mereka lebih mementingkan hubungan kekerabatan dan perdagangan di pesisir.

Namun, air tenang itu seketika bergolak setelah daerah-daerah perbatasan terpencil tersebut berubah menjadi pemukiman padat dan bertransformasi menjadi sumber penghasilan utama bagi kantong-kantong raja. Ketika garis batas menentukan seberapa banyak upeti emas yang masuk ke istana, timbullah perselisihan hebat soal tapal batas kerajaan. Batas wilayah di sekitar Sungai Duri, Larah, dan Montrado yang dahulunya kabur kini diperdebatkan dengan urat leher yang tegang oleh para utusan istana.

Persoalan batas tanah ini dengan cepat menjadi benih perselisihan yang tumbuh subur dan merembet secara terus-menerus di antara raja-raja Melayu sendiri. Kebencian lama dipupuk kembali, dan diplomasi antar-kerajaan menemui jalan buntu. Puncaknya, pada tahun 1772, genderang perang bertalu-talu membelah kesunyian malam. Perang saudara yang mengerikan pecah melibatkan pasukan Mampawa melawan Sambas.

Pertempuran bersenjata tidak dapat dielakkan lagi. Pasukan dari kedua belah pihak bentrok di jalur-jalur logistik dan perbatasan. Salah satu dampak paling memilukan dari perang saudara ini dirasakan langsung oleh para imigran tambang. Perkampungan Cina di Selakau hancur lebur menjadi abu akibat dari imbas perselisihan berdarah tersebut. Rumah-rumah papan dibakar, instalasi penyaringan emas dihancurkan, dan ribuan pekerja lari kocar-kacir menyelamatkan diri ke dalam hutan. Beruntung, setelah kehancuran yang membawa kerugian besar bagi kedua belah pihak, kesadaran mulai muncul. Melalui perundingan yang melelahkan, perselisihan tapal batas ini akhirnya dapat diselesaikan secara damai, meninggalkan luka mendalam dan puing-puing yang berserakan.

------------------------------

Perang saudara tahun 1772 itu ternyata menjadi titik balik sejarah yang tak terduga. Akibat peperangan yang menguras energi dan harta tersebut, raja-raja Melayu menjadi sangat lemah kedudukannya. Otoritas istana goyah, keuangan menipis, dan kendali militer di wilayah pedalaman melonggar drastis.

Situasi rapuh ini dibaca dengan sangat cerdas oleh para pekerja tambang. Hal ini memberi peluang emas bagi orang-orang Cina untuk berkembang secara mandiri tanpa perlu terlalu banyak mendengarkan perintah dari istana. Mereka sadar, jika mereka tetap terpecah-pecah dalam kelompok kecil, mereka akan selalu menjadi korban pertama setiap kali para raja Melayu bertikai atau ketika kongsi dagang Belanda (VOC) mulai ikut campur mencengkeramkan kukunya.

Dari kesadaran untuk bertahan hidup itulah, kegiatan usaha orang-orang Cina ini selanjutnya timbul dalam bentuk yang lebih terorganisasi, yakni perserikatan-perserikatan atau kongsi-kongsi. Awalnya, mereka hanyalah kelompok penambang kecil yang terikat tali persaudaraan sewilayah asal di Tiongkok. Namun, melihat peta politik yang berubah, mereka mulai bersatu.

Tujuan utama dari pada pembentukan perserikatan atau kongsi Cina ini adalah dengan cara berserikat atau mengadakan penggabungan dari perserikatan-perserikatan kerja kecil yang terpisah-pisah, meleburnya menjadi satu wadah perserikatan kerja yang amat besar. Kekuatan finansial disatukan, hukum internal ditegakkan, dan pasukan pengawal kongsi mulai dibentuk serta dipersenjatai secara mandiri.

Pada akhirnya, kongsi-kongsi besar yang bersatu ini membentuk sebuah "KOLONI" tersendiri di pedalaman Kalimantan Barat. Mereka mendirikan wilayah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri, lengkap dengan hukum, pasar, dan benteng pertahanan mereka. Langkah raksasa ini diambil dengan satu tujuan yang sangat jelas dan mutlak: supaya posisi dan kedudukan mereka menjadi jauh lebih kuat di atas tanah penambangan, serta siap menghadapi segala bentuk saingan, tekanan, maupun ancaman militer yang sewaktu-waktu bisa datang dari raja-raja Melayu maupun dari kekuatan kolonial Belanda yang mulai mengincar emas mereka. Koloni mandiri ini kini berdiri tegak di tengah belantara, siap mengukir lembaran sejarah baru yang penuh dengan darah dan kejayaan.

------------------------------


Cerpen Deru Senjata di Tanah Monterado

Kabut tipis beraroma tanah basah menyelimuti pedalaman Kalimantan Barat. Di daerah Montrado dan Buduk, suasana yang semula damai kini berubah menjadi mencekam. Waktu itu menunjukkan tahun 1770. Ribuan orang Cina perkongsian yang telah lama menetap untuk menambang emas mulai menaruh rasa tidak puas yang teramat sangat. Dada mereka bergolak, menolak untuk tunduk dan mematuhi perintah dari Kepala-Kepala Suku Daya yang memimpin wilayah tersebut atas nama Sultan Sambas.

"Kita yang memeras keringat di lubang galian, mengapa harus mereka yang mengatur tanah ini?" bisik sersan perkongsian di bawah temaram obor.

Ketidakpuasan itu membakar keberanian mereka hingga meluap menjadi pemberontakan terbuka. Peperangan dahsyat pecah di Montrado dan Buduk. Jerit tangis dan dentum senjata laras panjang membelah kesunyian hutan pedalaman. Dalam pergolakan yang berdarah itu, dua orang Kepala Suku Daya yang setia kepada kesultanan dibunuh dengan kejam oleh orang-orang Cina perkongsian. Kematian para pemimpin suku ini menyulut api kemarahan yang luar biasa. Dengan genderang perang yang bertalu-talu, orang-orang Daya menuntut balas. Perang besar pun berkobar di beberapa daerah, mengubah aliran sungai menjadi merah.

Melihat situasi yang kian tak terkendali, Sultan Sambas akhirnya turun tangan untuk meredam pertumpahan darah. Melalui sebuah keputusan besar, Sultan menetapkan bahwa orang-orang Cina di daerah-daerah tersebut harus tunduk di bawah kekuasaan Sultan sepenuhnya. Sebagai gantinya, Cina perkongsian diwajibkan membayar upeti setiap bulan—bukan lagi setiap tahun sebagaimana yang sudah-sudah. Namun, Sultan juga memberikan kebebasan kepada pihak perkongsian untuk mengatur daerah otonom mereka sendiri.

Keputusan ini menjadi pedang bermata dua. Kebebasan itu praktis membuat wewenang perkongsian Cina menjadi sangat mutlak di Montrado dan Buduk. Sebaliknya, orang-orang Suku Daya yang berada di bawah wewenang mereka perlahan-lahan mulai terdesak. Mereka terpaksa mundur, meninggalkan tanah leluhur, dan berpindah semakin jauh ke daerah pedalaman yang sunyi.

------------------------------

Waktu terus bergulir, hingga dua puluh lima tahun berlalu. Emas yang terkandung di dalam perut bumi Kalimantan Barat semakin memikat hati, namun sekaligus menumbuhkan ketamakan yang baru. Pada tahun 1795, perselisihan tidak lagi datang dari luar, melainkan berkobar di antara sesama perkongsian Cina sendiri.

Dua kubu besar kini berhadapan: Tai-Kong Kongsi yang berpusat di Montrado, dan Sin-Ta-Kiu Kongsi yang berpusat di Sambas. Pemicu pertempuran ini adalah perebutan wilayah penggalian emas di daerah Sungai Raya (yang kini dikenal sebagai Kecamatan Sungai Raya). Daerah kekuasaan Tai-Kong Kongsi yang sangat luas dan kaya ternyata menyimpan cadangan emas yang luar biasa besar, memicu kecemburuan dan gesekan batas wilayah.

Pertempuran hebat antar-sesama kongsi Cina pun pecah dengan skala yang besar-besaran. Dentuman meriam kuno dan senapan memenuhi lembah Sungai Raya. Namun, Tai-Kong Kongsi terbukti memiliki organisasi yang jauh lebih rapi dan persenjataan yang sangat kuat. Pasukan Sin-Ta-Kiu Kongsi terdesak hebat, kocar-kacir menahan gempuran demi gempuran, hingga akhirnya mereka terpaksa mengaku kalah.

Dalam keadaan yang terdesak dan terhina, pihak Sin-Ta-Kiu yang sebagian besar merupakan orang-orang suku Hokian tidak tinggal diam. Mereka mengirim utusan rahasia menghadap Sultan Sambas. Di hadapan sang penguasa, perwakilan Sin-Ta-Kiu bersujud, meminta bantuan militer kepada Sultan Sambas serta rakyat Sarbas. Demi meyakinkan Sultan, mereka mengikat janji suci dan bersumpah dengan lantang: "Setia dan tidak akan mendurhakai Sultan dan Rakyat Sambas!"

Mendengar sumpah setia tersebut, Sultan Sambas melihat sebuah kesempatan untuk mengembalikan wibawa kesultanan yang sempat terkikis di wilayah tambang. Sultan segera mengumpulkan pasukan terbaiknya. Rakyat Sambas berduyun-duyun menyambut seruan perang, bergabung bersama sisa-sisa pasukan Sin-Ta-Kiu yang haus akan pembalasan.

------------------------------

Tahun 1796, serangan balasan berskala penuh diluncurkan. Pasukan gabungan Sultan Sambas dan Sin-Ta-Kiu bergerak bagaikan gelombang pasang, menyerbu wilayah kekuasaan Tai-Kong Kongsi. Pertempuran kali ini berjalan jauh lebih sengit dan brutal. Setiap jengkal tanah Monterado dipertahankan mati-matian dengan tetesan darah.

Di barisan paling depan pasukan Sultan, berdiri seorang pria gagah berani dengan pakaian kebesaran prajurit Sambas. Beliau adalah Tengku Samboti, seorang Panglima Sultan yang terkenal berhati baja dan tidak kenal takut. Dengan pedang terhunus, Tengku Samboti memimpin pasukannya menerobos hujan peluru, membakar barikade-barikade pertahanan musuh, dan mendesak pasukan Tai-Kong Kongsi hingga terpojok ke benteng pertahanan terakhir mereka di Monterado.

"Maju! Demi Sultan dan tanah Sambas, jangan biarkan mereka menginjak-injak harga diri kita!" teriak Tengku Samboti, suaranya menggelegar mengatasi riuh rendah jalannya pertempuran.

Benteng terakhir Tai-Kong Kongsi dikepung dengan rapat. Pasukan gabungan menyerbu dari segala penjuru. Namun, pertahanan benteng itu teramat kokoh. Dalam sebuah kepungan yang kritis saat mencoba mendobrak gerbang benteng, sebuah peluru nyasar mengenai dada sang panglima. Tengku Samboti roboh di atas tanah Monterado yang berdebu. Sang Panglima gugur sebagai pahlawan, mengembuskan napas terakhirnya tepat di tengah medan laga yang sedang membara.

Gugurnya Tengku Samboti tidak membuat nyali pasukan surut, melainkan justru membakar amarah rakyat Sambas menjadi berlipat ganda. Dengan semangat membara untuk membalaskan kematian sang panglima, gerbang benteng akhirnya berhasil dijebol. Pasukan Tai-Kong Kongsi yang sudah kehabisan daya akhirnya mengaku kalah, takluk, dan menyerahkan diri sepenuhnya setelah Monterado berhasil diduduki total pada tahun 1796 itu.

Peperangan panjang yang melelahkan itu akhirnya usai. Guna menghormati jasa dan pengorbanan sang panglima yang gugur di benteng terakhir, seluruh rakyat Sambas mengabadikan peristiwa berdarah dari tahun 1795 sampai 1796 tersebut dengan sebuah nama yang akan terus dikenang oleh anak cucu mereka: "Perang Tengku Samboti". Sebuah perang tentang perebutan emas, harga diri, dan sumpah setia di tanah Kalimantan.

------------------------------


Cerpen: Ratapan di Ujung Jembatan Sunyi

Malam telah melarut pasrah di atas langit Kota Lama. Udara dingin berembus menusuk pori-pori, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Aris melajukan sepeda motornya membelah jalanan yang kian sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sebagai seorang pekerja paruh waktu di sebuah gudang ekspedisi, pulang larut malam seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari.

Jalanan yang dilewatinya malam ini adalah jalur pintas menuju rumahnya, sebuah kawasan tua yang dibelah oleh sebuah sungai besar. Di atas sungai itu, berdiri sebuah jembatan beton tua peninggalan zaman kolonial. Orang-orang sekitar kerap menyebutnya Jembatan Ratapan, sebuah nama yang awalnya Aris anggap hanyalah isapan jempol untuk menakut-nakuti anak kecil. Namun, suasana malam ini entah mengapa terasa berbeda. Atmosfer di sekitar jembatan terasa pekat dan menekan dada.
Saat roda motornya mulai menapak jembatan, lampu sorot kendaraannya menangkap sekelebat bayangan putih. Aris refleks memperlambat laju motornya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Di ujung pembatas jembatan, tampak sesosok makhluk sedang duduk bersimpuh.
Aris memicingkan mata, mencoba memastikan apa yang dilihatnya. Makhluk itu menyerupai seorang wanita dengan rambut hitam yang sangat panjang, terurai tak beraturan hingga menyentuh semen jalan. Ia mengenakan gaun putih terusan yang panjang namun tampak kumal di bagian bawahnya. Namun, yang paling ganjil dan membuat kuduk Aris berdiri adalah posisi tubuhnya. Wanita itu tidak tampak normal; posturnya melengkung ke depan seolah sedang mendekap dan menggendong sesuatu dengan sangat erat. Bukan di punggung seperti layaknya menggendong bakul, melainkan di perutnya. Sesuatu yang didekapnya itu terbungkus samar, menyatu dengan kepekatan malam sehingga wujud aslinya sama sekali tidak jelas.
"Siapa malam-malam begini duduk di situ?" bisik Aris pada diri sendiri, mencoba mengusir rasa takut dengan logikanya.
Namun, logika Aris langsung runtuh berkeping-keping saat wanita itu mulai mengeluarkan suara. Dari mulutnya yang tertutup rambut, terdengar suara tangisan bernada lirih dan mengalun panjang. Suara itu begitu sendu, bergema di antara gemercik air sungai di bawah jembatan. Itu bukan tangisan kuntilanak yang melengking menakutkan seperti di film-film horor, melainkan ratapan terdalam dari sejiwa makhluk yang sedang meratapi nasib buruknya sendiri. Tangisan yang penuh dengan penyesalan yang amat sangat.
Aris menghentikan motornya beberapa meter dari makhluk itu, terpaku seolah terhipnotis oleh aura kesedihan yang pekat. Menurut cerita orang tua-tua yang pernah ia dengar samar, sosok itu adalah Peri Gendong. Konon, makhluk jenis ini berasal dari jiwa manusia yang ketika hidupnya memiliki tabiat yang kurang baik, lalu mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Kini, setelah raganya mati, ia dikutuk menjadi makhluk yang sendu, berjalan linglung menyusuri malam untuk menyesali apa yang pernah ia perbuat di masa lalu.
Tiba-tiba, suara tangisan lirih itu berubah. Pada saat tertentu yang tak terduga, makhluk itu mendongak sedikit dan mengeluarkan teriakan panjang. “Aaaarrrggghhh…”
Teriakan itu meluncur membelah kesunyian malam, memilukan hati siapa saja yang mendengarnya. Itu adalah pekikan rasa frustrasi, sebuah protes tak berdaya atas keputusan sepihak yang pernah ia ambil saat masih mengembuskan napas sebagai manusia. Ia terjebak dalam lingkaran penyesalan abadi, menggendong beban kesalahannya di perut, ke mana pun ia pergi.
Aris merasakan bulu kuduknya meremang hebat, tetapi di saat yang sama, rasa iba yang teramat sangat menyeruak di dalam hatinya. Ia melihat bagaimana makhluk itu kemudian bangkit berdiri dengan wajah yang terus menunduk dalam. Peri Gendong itu mulai berjalan menyusuri pembatas jembatan. Cara jalannya sungguh aneh; kadang ia bergerak sangat cepat seolah-olah tubuhnya seringan kapas yang tertiup angin malam, namun di detik lain gerakannya berubah menjadi sangat pelan dan berat, seakan beban di perutnya mendadak seberat bongkahan batu hitam.
Kadang kala, penampakannya menjadi tidak jelas di mata Aris, berubah wujud menjadi seperti bayangan semu yang samar, sebelum akhirnya memadat kembali menjadi sosok berbaju putih. Makhluk itu terus berjalan menunduk, menangis lirih, dan meratapi takdir buruk yang ia ciptakan sendiri. Ia adalah monumen hidup dari sebuah penyesalan yang terlambat.
Aris menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan memutar tuas gas sepeda motornya, melewati sosok itu dengan kepala tertunduk sebagai bentuk rasa hormat sekaligus ngeri. Peri Gendong itu tidak menoleh, tidak juga berniat mengejarnya. Ia terlalu sibuk dengan kedukaan dan beban mistis di perutnya.
Sambil memacu motornya menjauh dari Jembatan Ratapan, suara tangisan sendu yang mengalun itu masih terngiang-ngiang di telinga Aris. Malam itu, Aris mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari dimensi yang berbeda: bahwa hidup, seberat apa pun jalannya, harus diperjuangkan dengan baik. Sebab, mengakhiri hidup dengan cara yang salah ternyata tidak menghapus penderitaan, melainkan justru mengabadikan penyesalan dalam rupa ratapan yang tiada pernah menemui ujungnya.

Hikayat Hantu Pohon Kering: Kisah Si Linglung yang Mendamba Jodoh

Syahdan, maka tersebutlah perkataan sebuah perkampungan yang amat terpencil di ujung sebuah negeri, namanya Kampung huma Serumpun. Adapun kampung itu berbatasan langsung dengan lahan persawahan yang teramat luas. Untuk menuju ke kampung tersebut, sekalian musafir dan penduduk haruslah melewati sejalur jalan yang amat sepi lagi sunyi. Di tepi jalan itu, berdirilah sebatang pohon yang telah mati lagi kering meranggas, tiada berdaun walau sehelai pun.

Maka pada pohon kering itulah bersemayam sesosok makhluk gaib yang digelari orang tua-tua sebagai Hantu Pohon Kering. Adapun peri tabiat hantu ini terlampau jahil lagi usil. Tiap-tiap malam tatkala bulan mulai naik, ia gemar sekali mengganggu dan membayangi para pejalan kaki atau pengendara sepeda motor yang kebetulan lalu-lalang di jalan sepi itu. Diikutinya orang-orang itu dengan setia, mulai dari pangkal jalan tempat pohon kering itu berdiri, hingga sampai ke gerbang desa yang dituju.
Maka gemparlah sekalian penduduk desa, menyangka bahwa pohon kering itu amat angker dan dihuni oleh setan yang berniat mencelakakan manusia. Padahal, jika dicermati dengan saksama oleh orang-orang yang arif, kelakuan hantu ini sebetulnya tiada ubahnya seperti anak kecil belaka. Tiada ia berniat mendatangkan mudarat atau mencabut nyawa. Segala keusilannya itu berpunca daripada kegundahan hatinya yang teramat sangat, sebab telah sekian lama ia hidup menyendiri dan tiada kunjung mendapatkan jodoh.
Maka dengan mengganggu masyarakat sekitar, sejatinya hantu itu hanyalah mendambakan perhatian. Ia berharap agar ada di antara manusia yang mengerti akan permasalahan batinnya, serta ikut membantu mencari jalan keluar atas nasibnya yang merana. Namun, apatah daya, oleh karena tiada seorang pun di lingkungan itu yang mengerti duduk perkaranya, maka sekalian penduduk hanya menaruh rasa takut dan menjauhinya.
Alkisah, pada suatu malam yang diselimuti kabut tipis, lewatlah seorang pemuda bernama indra di jalan sepi itu dengan mengendarai sepeda motornya. Adapun Indra ini merupakan seorang pemuda yang dianugerahi mata batin yang tajam, lagi pula berani hatinya. Tatkala ia melintasi pohon kering itu, segeralah Hantu Pohon Kering turun dan mengikutinya dari belakang, menciptakan bayangan hitam yang bergerak-gerak.
Indra yang merasakan kehadiran makhluk itu tiada menjadi gentar. Malahan, ia menghentikan laju sepeda motornya di pinggir jalan, lalu menoleh ke belakang. Maka terkejutlah sang hantu melihat manusia yang berani menatapnya.
Maka terjadilah dialog antara keduanya. Bertanyalah Indra dengan suara yang tenang, “Wahai makhluk penghuni pohon kering, apakah gerangan maksudmu senantiasa mengikuti dan mengusik perjalanan kami sekalian manusia? Adakah engkau hendak bermusuhan?”
Maka dari mulut si hantu keluarlah suara yang lirih lagi penuh keputusasaan, tiada kedengaran menyeramkan sama sekali. Tuturnya, “Wahai anak muda yang bijaksana, ketahuilah olehmu, sesungguhnya aku tiada bermaksud jahat. Segala kelakuanku ini hanyalah iseng belaka, berpunca daripada rasa stres dan frustrasi yang teramat sangat di dalam dadaku, sebab sampai hari ini aku tiada jua mendapatkan jodoh. Aku hidup sebatang kara di pohon kering ini, merana tanpa ada yang menemani.”
Mendengar penuturan yang demikian jujur lagi sepele dari makhluk gaib itu, maka tertawalah Indra di dalam hatinya, namun ia pun menaruh rasa iba yang amat besar. Kelakuan hantu yang disangka angker itu ternyata hanyalah ekspresi dari rasa kesepian makhluk yang merindukan pasangan hidup.
Maka berkatalah Indra seraya memberi janji, “Jikalau demikian duduk perkaranya, wahai hantu pohon kering, maka tenanglah engkau. Aku berjanji kepadamu, apabila di dalam perjalananku atau pengembaraanku suatu saat nanti aku bertemu dengan makhluk yang sejenis dengan dirimu, lagi pula berjenis kelamin perempuan, maka secepatnya hal itu akan kuberitahukan kepadamu agar engkau dapat meminangnya.”
Mendengar janji yang keluar dari mulut pemuda itu, maka bertambahlah girang hati si hantu. Wajahnya yang semula muram berubah menjadi ceria. Ia pun sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh Indra, sebab baru kali itulah ada manusia yang sudi mendengarkan keluh kesahnya.
Maka sejak malam yang bersejarah itu, Hantu Pohon Kering pun memegang teguh janjinya. Ia menghentikan sama sekali segala aktivitas keusilannya. Tiada lagi ia membayangi pejalan kaki ataupun mengejar pengendara yang lewat. Jalan menuju Kampung Huma Serumpun pun menjadi aman dan damai, sementara si hantu dengan sabar menanti di atas pohon keringnya, menunggu kabar gembira yang dijanjikan tentang belahan jiwanya. Maka tamatlah hikayat ini dengan membawa kedamaian bagi sekalian makhluk.

Hikayat Hantu Kopek: Kabut Hitam di Sudut Gelap Negeri Pasir Karang

Syahdan, maka tersebutlah perkataan sebuah negeri yang amat besar lagi ramai, bernama Negeri Pasir Karang. Adapun negeri itu terbagi atas dua rupa kehidupan; pada siang hari ia dipenuhi oleh para pedagang yang hilir mudik mencari rezeki, namun tatkala malam telah melabuhkan tirainya, maka sepi pulalah jalan-jalan kota, menyisakan kegelapan yang pekat pada sudut-sudut jalanan yang tiada berlampu.

Maka pada zaman itu, gemparlah sekalian penduduk kota oleh sebuah cerita gaib. Konon di jalan-jalan kota yang sunyi, tatkala jam telah melewati tengah malam, sering kali terlihat sesosok makhluk aneh yang berjalan menggelandang bagaikan orang yang kehilangan arah. Orang tua-tua menyebut makhluk itu dengan nama Hantu Kopek, sebab peri wujudnya terlampau ganjil, memiliki payudara yang amat besar lagi panjang menjuntai hingga hampir menyentuh bumi.

Adapun Hantu Kopek itu hobinya merangkak perlahan menyusuri aspal dan bebatuan, bergerak lambat bagaikan gelandangan di dunia manusia yang tiada bermata pencarian. Sungguhpun rupa makhluk itu amat menakutkan bagi mata yang memandang, namun tiada pernah ia mengganggu atau menggoda para musafir yang kebetulan lalu-lalang di malam hari. Jalannya yang cuma merangkak itu membatasi geraknya, sehingga ia senantiasa terlihat linglung, berjalan tanpa tujuan yang pasti, bagaikan makhluk yang kurang cerdas batinnya.

Alkisah, pada suatu malam yang kelam, ada seorang pemuda bernama indra. Adapun Indra ini terlampau gemar menuntut ilmu-ilmu hitam yang sesat, demi mengejar kesaktian yang semu di atas muka bumi. Ia tiada mengindahkan petuah para alim ulama, melainkan senantiasa mencari tempat-tempat gaib yang memiliki dimensi berbeda guna melakukan ritual pemujaan.

Maka pada malam itu, bertemulah Indra dengan seorang dukun tua yang amat keji perangainya di batas kota. Berkata sang dukun, “Wahai anakku Indra, jikalau engkau benar-benar haus akan kekuatan yang tiada tandingnya, pergilah engkau mencari tempat-tempat yang pernah disinggahi oleh Hantu Kopek. Sebab makhluk itu tiada sembarangan diam; ia hanya akan berdiam diri di pojok-pojok jalan yang minim lampu, atau di bawah jembatan yang sepi sambil menatap riak-riak air sungai di malam hari. Tempat yang disinggahinya itu pastilah memiliki dimensi yang berbeda dan menyimpan energi spiritual yang amat besar.”

Mendengar petuah yang demikian, maka bertambahlah girang hati Indra. Tiada ia berpikir panjang akan mudaratnya. Maka berjalanlah ia menyusuri sungai-sungai tua dan kolong jembatan yang gelap di pinggiran kota Negeri Pasir Karang. Setelah lama ia mencari, maka dilihatnyalah dari kejauhan sesosok makhluk sedang duduk termenung di pojok jembatan yang kelam, di bawah temaramnya sinar bulan yang tertutup awan. Benarlah adanya, makhluk itu adalah Hantu Kopek yang sedang linglung menatap air.

Tatkala makhluk itu merangkak pergi meninggalkan tempat tersebut dengan gerakannya yang lambat, segera pula Indra berlari menuju spot atau area bekas dudukan sang hantu. Hatinya dipenuhi rasa jemawa. Tanpa membuang tempo, Indra segera mengambil posisi bersila, lalu mulailah ia bermeditasi dan melakukan ritual gaib dengan membaca mantera-mantera gelap untuk menyerap energi yang tertinggal di tempat itu. Ia menyangka bahwa energi spiritual yang besar di tempat tersebut akan menambah kesaktian ilmu hitamnya menjadi berlipat ganda.

Maka pada saat yang bersamaan, lewatlah seorang pengembara yang arif lagi bijaksana bernama Tuan wali. Adapun Tuan Wali itu dikaruniai oleh Sang Pencipta mata batin yang amat bersih lagi suci, sehingga ia dapat melihat segala rupa aura gaib yang tiada tampak oleh mata manusia biasa. Tatkala Tuan Wali melihat Indra sedang duduk bermeditasi di tempat bekas Hantu Kopek itu, maka terkejutlah ia.

Dengan mata batinnya yang bersih, Tuan Wali melihat dengan jelas bahwasanya tempat yang disinggahi Hantu Kopek itu sebetulnya memancarkan aura yang teramat buruk. Benar tempat itu nyaman bagi sang hantu karena dimensinya yang berbeda, namun kenyamanan itu berasal dari kepekatan energi negatif yang kotor. Apalagi tempat itu telah dipakai bertopang oleh makhluk semacam Hantu Kopek, maka sisa auranya berubah menjadi racun spiritual yang amat merusak jiwa manusia.

Maka segeralah Tuan Wali mendekati Indra, lalu ditepuknya bahu pemuda itu seraya berkata dengan suara yang lemah lembut namun tegas, “Wahai anak muda yang sedang terpedaya! Hentikanlah ritualmu yang sesat ini, dan bangkitlah engkau dari tempat yang nista ini.”

Indra pun terkejut lalu membuka matanya dengan amarah yang meluap, “Mengapa engkau berani mengganggu meditasiku, wahai orang tua? Aku sedang menyerap energi spiritual yang besar dari tempat ini demi menambah kesaktianku!”

Maka tersenyum berwibawa Tuan Wali seraya menggelengkan kepalanya, “Wahai Indra, ketahuilah olehmu, jangan sekali-kali engkau meniru perbuatan memuja energi di tempat yang demikian. Sungguh, aura buruk yang muncul di daerah bekas makhluk ini ternyata memberikan energi yang amat buruk pula bagi batinmu. Tiada ada manfaat sedikit pun yang dibawanya bagi manusia, melainkan hanyalah kegelapan yang akan merusak kesucian jiwamu dan menjerumuskanmu ke dalam kesengsaraan yang abadi.”

Mendengar penjelasan dari Tuan Wali yang disampaikan dengan pancaran ketulusan, maka bergetarlah hati Indra. Perlahan-lahan ia merasakan dadanya menjadi teramat sesak dan kepalanya pusing bagai dipukul gada, akibat energi buruk yang sempat diserapnya tadi. Barulah ia sadar akan kebenaran kata-kata Tuan Wali. Ia pun segera berdiri dan memohon ampun atas kelalaian hatinya yang telah memuja tempat-tempat kotor demi kesaktian duniawi.

Maka sejak hari itu, Indra bertobat dan meninggalkan segala ilmu gelapnya. Ia pun ikut mengembara bersama Tuan Wali untuk membersihkan hatinya. Sementara itu, Hantu Kopek tetaplah merangkak linglung di sudut-sudut malam Negeri Pasir Karang, menjadi tanda bagi sekalian manusia agar senantiasa menjauhi tempat-tempat gelap yang membawa aura buruk bagi kehidupan. Maka tamatlah hikayat ini dengan membawa kebaikan bagi mereka yang mau berpikir.

------------------------------

Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino

Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu...