Senin, 21 September 2026

HIKAYAT PARAWAKNG TUJUH: PERI KISAH PENEBANGAN POHON JAHANANG DAN PECAHNYA AMUK PERTEMPURAN MELAWAN LEO BAJA

Alkisah Mani Amas Mula Menebas Belukar, Maka tersebutlah pula perkataan tatkala fajar menyingsing di ufuk timur, memancarkan sinar yang kemerah-merahan laksana sapuan darah di langit yang fana. Adapun Mani Amas, setelah menetapkan niatnya yang tegar lagi angkuh untuk melawan sekalian pertanda alam, bangunlah ia pada pagi-pagi buta itu. Maka diambilnyalah sebilah parang miliknya yang amat panjang lagi tajam, lalu diasahnya pada batu asahan hingga kilau besinya berkilat-kilat memantulkan cahaya. Sesudah itu, diikatkannyalah sarung parang yang terbuat daripada kayu pilihan itu dengan sekukuh-kukuhatnya pada pinggangnya.

Maka berjalannyalah Mani Amas seorang diri masuk ke dalam rimba raya, melangkah mengikuti arah dan jurusan yang sebenarnya telah dilarang keras oleh garis petunjuk adat (solor tuha tahutn). Setelah ia berjalan menempuh rimbunnya hutan dalam beberapa kurun waktu, maka sampailah ia ke sebidang tanah yang telah dipilihnya sejak menebas pertama untuk dijadikan lahan ladang barunya.

Hatta, demi menjejakkan kaki di sana, pertama-tama dibuatnyalah sebuah panggung kayu sederhana yang tinggi, yakni suatu platform untuk tempat ia duduk beristirahat tatkala kelelahan. Maka bersiaplah Mani Amas seraya menghunus parangnya yang tajam itu, lalu mulailah ia menebas sekalian semak belukar, pohon-pohon kecil, dan tumbuhan menjalar yang merintangi lahan tersebut. Setelah beberapa lama ia bekerja dengan memeras keringat, maka selesailah pekerjaan menebas itu dilakukan.

Maka dipandangnya sebuah pohon yang teramat besar lagi tinggi menjulang ke langit, yang tumbuh di tengah-tengah lahan tersebut. Demi melihat besarnya pohon itu, maka Mani Amas pun membuat sebuah aram-aram, yaitu perancah atau tangga kayu yang tinggi bersandar pada batang pohon, karena ia bermaksud hendak memanjat dan menebang pohon besar tersebut dari atas.

Kalakian, setelah pekerjaan menebas itu usai, maka dibiarkannyalah sekalian kayu-kayu dan ranting hasil tebasan itu terbaring berserakan di atas tanah ladang selama satu bulan lamanya. Hal itu dilakukannya agar sekalian kayu itu menjadi kering kerontang setelah dijemur di bawah terik matahari, supaya mudah dibakar kelak. Setelah genap satu bulan kurun waktunya berlalu, maka Mani Amas pun kembali lagi ke ladang itu dengan membawa sebuah beliung besi yang tajam, lengkap dengan tangkai kayu dan pegangannya yang kukuh.

Maka dipanjatnyalah aram-aram yang tinggi itu dengan langkah yang mantap. Setelah ia sampai di atas perancah, maka diayunkannyalah beliungnya dengan sekuat-kuat tenaganya, mulai menebang sebatang pohon suci yang bernama pohon jahanang. Setiap kali beliung itu menghantam batang pohon, maka bergemululah suaranya membelah kesunyian rimba. Setelah beberapa lama ia bertekun menebang, maka pohon jahanang yang besar itu pun mulai condong, lalu runtuh dan tumbanglah ia ke bumi dengan suara yang amat dahsyat, laksana runtuhnya sebuah bukit.

Maka Mani Amas pun turunlah dari atas aram-aram dengan hati yang puas lagi penuh kemenangan. Akan tetapi, syahdan tatkala itu ia tiada mengetahui, bahwa di balik rimbunnya dedaunan hutan yang gelap, ada sepasang mata musuh yang sejak tadi mengendap-endap, memperhatikan dan mengintip segenap gerak-geriknya dengan penuh rasa benci dan dendam yang amat berkarat.

Adapun musuh yang mengintai itu tiada lain melainkan Leo Baja, seorang ksatria perang yang amat masyhur kegagahannya, yang berasal dari kaum Raram Barangan. Maka tepat pada seketika kaki Mani Amas baru saja menjejak dan menyentuh tanah ladang, melompatlah Leo Baja keluar dari tempat persembunyiannya dengan rupa yang amat garang. Maka bertempek dan berteriaklah ia dengan suara yang menggelegar membelah rimba, katanya, "Inilah hasil duniaku!"

Sambil berteriak demikian, maka dilemparkannyalah sebuah tombak dengan sekuat-kuat tenaganya, mengarah tepat ke dada Mani Amas. Demi melihat mata tombak yang datang meluncur laksana kilat itu, maka Mani Amas yang cekatan itu pun melompat tiga kali berturut-turut ke arah pinggir, sehingga luputlah ia daripada mata tombak tersebut. Seketika itu juga, Mani Amas langsung menarik pedangnya yang panjang dari sarungnya, seraya bersiap sedia menghadapi maut.

Hatta, maka pecahlah amuk pertempuran yang teramat sengit di antara kedua ksatria itu di tengah-tengah ladang yang sunyi. Maka melompatlah mereka berdua ke sana kemari, ke kiri dan ke kanan, saling memotong, menetak, menangkis, dan memukul dengan senjata masing-masing. Maka berdentang-dentunglah bunyi besi pedang mereka beradu, menimbulkan percikan api yang menerangi kegelapan celah pohon. Pada awal mulanya amuk pertempuran itu, tiada seorang pun di antara mereka yang dapat menang atau kalah, sebab kedua-duanya sama-sama pandai, sama-sama sakti, lagi sama-sama cepat gerakannya laksana angin yang berkisar.

------------------------------


HIKAYAT PARAWAKNG TUJUH: PERI KISAH FIRASAT MAUT DI TANAH PROYEK ANUM DAN KETEGARAN HATI MANI AMAS

Alkisah Keberangkatan Mani Amas ke Parawakng Tujuh, Maka tersebutlah pula perkataan dalam lembaran zaman kuno purba kala, tatkala angin musim berladang tahunan mulai berembus meniup daun-daun di rimba raya. Adapun pada masa itu, tibalah masanya bagi segenap anak cucu manusia di bumi Bolekng Batungkakng untuk turun ke hutan guna menebas belukar dan membuka ladang yang baru, demi kelangsungan hidup kaum kerabat mereka. Syahdan, maka Mani Amas, selaku tetua adat yang memegang pangkat tuha tahutn, tiada mau ketinggalan. Ia bermaksud hendak mencari sebidang tanah yang subur di pedalaman rimba Parawakng Tujuh.

Akan tetapi, hukum adat dan tatanan nenek moyang telah menggariskan dengan sekukuh-kukuhatnya, bahwa tiada boleh seorang pun manusia mengunyam beliung atau mengayunkan parang ke batang pohon sebelum ia pergi meminta nasihat dan mencari petunjuk daripada firasat alam serta pertanda-pertanda yang gaib. Maka Mani Amas pun berjalanlah seorang diri masuk ke dalam kerapatan hutan Parawakng Tujuh, tempat bersemayamnya sekalian arwah leluhur dan tanda-tanda makrifat alam semesta.

Hatta, tatkala Mani Amas tengah berjalan mengendap-endap di bawah rimbunnya pohon-pohon besar, tiba-tiba alam yang tadinya riuh oleh kicau unggas mendadak menjadi sunyi senyap, sepi bagai kuburan. Angin tiada lagi berembus, dan duniaku seolah-olah tertahan oleh suatu kekuatan yang teramat ngeri. Kalakian, dalam kesunyian yang mencekam itu, telinga Mani Amas menangkap sejenis suara yang amat ganjil lagi menyalahi kodrat alam yang lazim.

Dari balik semak belukar yang gelap, terdengarlah suara lolongan seekor rusa jantan. Akan tetapi, demi didengar dengan amat teliti, rusa itu tiada berbunyi laksana rusa pada umumnya, melainkan memekik dan memanggil dengan suara seekor kijang yang melengking parau. Belum sempat hilang rasa terkejut di dalam dada Mani Amas, sekonyong-konyong di atas kepalanya terdengar suara berderak yang amat dahsyat. Prakkk! Sebatang dahan pohon yang masih hijau lagi kokoh tiba-tiba saja jatuh terhempas ke atas tanah tanpa ada angin maupun guntur yang menyebabkannya.

Maka Mani Amas pun melangkah maju beberapa depa, lalu pandangannya tertumbuk pada suatu pemandangan yang menambah ngeri rasa di dalam hati. Ia melihat sebatang pohon mati yang telah lama kering, runtuh lalu batangnya menumpangi dan menyangkut pada pohon lain yang masih hidup. Dalam kitab adat kuno orang-orang Parawakng Tujuh, rentetan firasat yang ganjil dan dahsyat ini tiada lain melainkan sebuah pertanda yang amat keras lagi mengerikan. Segala isyarat itu membawa kabar serta nubuat ghaib, bahwa jikalau lahan itu tetap dibuka untuk pekerjaan ladang tahunan, niscaya akan ada seorang manusia yang bakal menemui ajal secara mengerikan, mati terbunuh dalam genangan dan semprotan darah (kematian darah).

Arkian, setelah Mani Amas menyaksikan dan mendengar segala pertanda yang begitu keras menentang langkahnya, ia pun berdiri termangu-mangu di tengah rimba. Seharusnya, selaku seorang tetua adat, ia tunduk dan kembali ke kampung untuk membatalkan niatnya berladang pada tahun itu. Akan tetapi, pada saat itu, setan telah menyusup ke dalam hati dan pikirannya, melahirkan rasa sombong, pongah, lagi tegar hati yang teramat sangat.

Maka Mani Amas pun berkata-kata di dalam hatinya dengan penuh rasa jemawa, "Apakah gunanya aku ini bergelar tetua adat jikalau aku harus ketakutan hanya karena mendengar lolongan binatang dan jatuhnya sebatang dahan kering? Aku ini orang perkasa yang tahu seluk-beluk rimba. Firasat ini tiada akan mampu menumbangkan diriku."

Maka dengan hati yang angkuh dan keras kepala, Mani Amas mengambil keputusan yang amat berani lagi terlarang, yaitu melawan dan mengabaikan sekalian pertanda-pertanda buruk yang dikirimkan oleh alam kayangan. Ia membulatkan tekadnya untuk tetap pergi menebang pohon di tempat itu pada keesokan harinya, seolah-olah tiada suatu malapetaka pun yang sedang berjalan mengintai jiwanya dari belakang.

------------------------------



HIKAYAT PARAWAKNG TUJUH: PERI KISAH BUJAKNG ONYES DAN KATA AMANAT DI ATAS BUMI BATUNGKAKNG

Alkisah Peri Mula Cerita, Sebermula maka tersebutlah suatu perkataan hikayat zaman purba kala, zaman nenek moyang yang empunya ceritera adat, peri kebiasaan, dan petunjuk asrar orang-orang Dayak sekaliannya. Adapun kisah yang amat indah lagi sarat dengan hukum tatanan ini mula-mula diturunkan oleh para arif bijaksana dari tanah Parawakng Tujuh. Maka di sanalah konon tempat kedudukan parasiatn, yakni suatu khasiat serta mukjizat spiritual yang amat sakti, yang tiada lain melainkan berasal daripada karunia sakti kaum manusia yang mendiami bumi Bolekng Batungkakng.

Maka pada zaman itu, tersebutlah seorang laki-laki yang menjadi tiang kaum, bergelar ia Mani Amas. Adapun Mani Amas itu orangnya amat perkasa lagi teguh hatinya, lagi pula ia memegang pangkat tuha tahutn, yaitu seorang tetua adat yang dihormati dan dipatuhi segala titah perkataannya oleh segenap isi negeri. Syahdan, Mani Amas itu mempunyai seorang saudara laki-laki yang lebih tua, bernama Ujan Tungal, yang padanya melekat gelar panyanakng kalangkakng, yakni sosok yang menjaga tali darah dan garis keturunan agung agar tiada putus dari satu generasi kepada generasi yang kemudian.

Maka bermula kisah asmara dan kekeluargaan mereka itu, tatkala Mani Amas memperistrikan seorang anak dara yang elok parasnya, bernama Kari Amas. Bermula Kari Amas ini tiada lain melainkan anak perempuan yang tertua daripada seorang ibu budiman bernama Dayakng Litatn. Alkisah, maka Kari Amas itu mempunyai beberapa orang saudara, dan adalah seorang adiknya yang laki-laki yang paling bungsu lagi termuda di antara sekalian kaum kerabatnya, bernama ia Bujakng Onyes.

Hatta, maka adalah takdir Yang Maha Kuasa atas diri Bujakng Onyes itu, tatkala ia dilahirkan ke dunia fana, tubuhnya tiada sesempurna anak-anak manusia yang lain. Kalakian, bermula waktu ia masih kecil lagi sedang mekar tumbuh, kena ia oleh sejenis penyakit yang amat jahat, dinamai penyakit puru atau frambusia. Maka sebab tiada obat yang dapat menahan jalannya penyakit itu, kian lama kian merusaklah ia ke dalam daging, hingga akhirnya mendatangkan infeksi yang teramat parah pada sekalian sendi-sendi dan tulang-tulang di sekujur tubuhnya.

Maka apabila penyakit itu telah reda, tinggallah Bujakng Onyes dengan tubuh yang cacat lagi daif. Jikalau ia berjalan ke sana kemari di tengah-tengah kampung, senantiasa pincanglah jalannya, berayun ke kiri dan ke kanan, menahan rasa ngilu pada tulang-tulangnya yang telah bengkok. Syahdan, melihatkan keadaan yang demikian itu, maka manusia-manusia di bumi, baik dari golongan anak-anak muda maupun orang-orang yang kurang bijaksana hatinya, sering kali menaruh rasa pongah lagi jemawa. Maka apabila mereka melihat Bujakng Onyes lewat di hadapan mereka, berkumpullah orang banyak itu seraya bersorak-sorak mengolok-olokkan dia.

Maka dibuatkanlah oleh manusia-manusia bumi itu sebaris nyanyian singkat lagi ejekan yang senantiasa mereka dendangkan dengan riuh-rendah apabila hendak menyakiti hati Bujakng Onyes, demikianlah bunyinya:

Tepos dicabut, padi dituangkan;

Sekarang kasar kemudian lembut, sekarang tinggi kemudian rendah.

Adapun nyanyian itu mereka ulang-ulang sepanjang hari, laksana angin yang meniup daun kering, tiada menaruh rasa belas kasihan sedikit jua pun kepada hamba Allah yang sedang dirundung kemalangan fisik itu.

Akan tetapi, tatkala didengar oleh tetua adat dan orang-orang yang beroleh petunjuk makrifat, maka mereka pun menahan tangan manusia-manusia bumi yang suka mencela itu. Maka kata orang tua-tua yang arif, "Wahai sekalian manusia yang bebal hatinya, janganlah sekali-kali engkau berani mengolok-olokkan atau mencela kekurangan makhluk lain yang ada di bawah langit ini. Ketahuilah olehmu sekalian, bahwa sesungguhnya keberhasilan, kemuliaan, serta nasib baik orang-orang yang bertubuh sempurna semacam kita ini tiada pernah bersifat tetap. Segala sesuatu yang ada di atas bumi ini bergulir laksana roda pedati."

Syahdan, berkatalah pula tetua adat itu memberikan pengajaran dari nyanyian tersebut, "Siapakah di antara kita, manusia yang fana ini, yang benar-benar mengenali dan mengetahui kapan datangnya ayu, yakni malapetaka yang amat dahsyat, yang senantiasa berjalan mengendap-endap dan siap menerkam kita dari arah belakang? Hari ini kita tegak berdiri dengan megah, esok lusa boleh jadi kita tersungkur di atas tanah. Maka peliharakanlah lidahmu daripada mencela hamba yang daif." Maka nyanyian tentang Bujakng Onyes itu pun diangkat menjadi sebuah madah peringatan adat yang amat suci bagi sekalian manusia di Parawakng Tujuh, agar senantiasa hidup dalam kerendahan hati dan tiada takabur atas nikmat tubuh yang sehat.

------------------------------


HIKAYAT ENE’ PANITAH: TITAH SANG PENJAGA HUKUM KAYANGAN

Sebermula, maka inilah suatu riwayat yang keluar dari mulutku, Ene’ Panitah, yang memegang kuasa adat dan tatanan suci di atas puncak kayangan. Biarlah sekalian penghuni bumi dan langit mendengar, bagaimana jalannya hukum dan keadilan mesti ditegakkan, walau hati seorang ayah harus dirundung duka yang teramat dalam.

Syahdan, pada masa dahulu kala, aku bertakhta di ladang kayangan bersama Ene’ Duniang. Orang-orang di bumi menyangka ia adalah istriku, namun ketahuilah olehmu, bahwa kami tiada pernah bercampur dan bersetubuh layaknya manusia fana yang digerakkan oleh syahwat. Kami menjaga kesucian langit. Maka tatkala Ene’ Duniang memohon sebuah hajat kepada Yang-Yang si Jubata, maka dikaruniakanlah ke pondok kami seorang anak laki-laki yang kami namai Baruakng Kulup. Aku mengasuhnya dengan ketegasan hukum langit, karena kelak ia yang akan mewarisi rahasia semesta.

Hatta, demi Baruakng Kulup itu tumbuh remaja, hatinya senantiasa condong hendak turun bermain-main ke bumi. Aku tiada melarang, namun ketahuilah bahwa manusia di bumi itu tabiatnya bebal, suka memboroskan makanan, dan tiada tahu arti hemat. Kesucian kayangan tiada boleh bercampur dengan kebebalan bumi.

Akan tetapi, takdir malang mula mengintai akibat kelalaian Ene’ Duniang yang kurang waspada menjaga anak laki-laki itu bermain. Tanpa sepengetahuanku, sebutir padi suci—benda yang paling berharga di ladang kayangan ini—telah melekat pada tulang kering Baruakng Kulup saat ia turun ke bumi. Padi itu dimakan oleh Ne’ Umang-Umang dan khasiatnya membuat mereka segar seketika. Di sanalah manusia bumi yang cerdik lagi serakah mulai membujuk anakku untuk menyelundupkan harta suci kayangan.

Maka pada bulan yang keenam, ketujuh, hingga bulan kedelapan, aku melayangkan pandanganku mengintip ke arah bumi manusia. Alangkah murkanya aku tatkala melihat hamparan hijau dan kuning tanaman padi tumbuh subur di dekat dapur manusia! Anakku, Baruakng Kulup, telah mencuri padi itu dengan menyembunyikannya di dalam kemaluannya demi menuruti keinginan manusia bumi.

Maka meledaklah amarahku yang dahsyat. Aku menghadap Ene’ Duniang seraya membentak dengan mata menyala-nyala, "Coba lihat apa yang dilakukan Baruakng Kulup di bawah sana! Dia telah memberikan padi kita kepada manusia. Ini semua karena kau tiada waspada memperhatikan anak laki-laki itu waktu dia bermain!"

Ene’ Duniang hanya bisa menangis tersedu-sedu seraya meratap, "Apa yang bisa kita perbuat sekarang?"

Maka sahutku dengan tegas demi menegakkan hukum langit, "Akibat perbuatannya, manusia akan menjadi miskin karena tiada hidup hemat. Hukum harus dijalankan. Tunggu saja, aku akan memasang tombak lompat untuk membunuh anak itu!"

Maka aku pun memasang perangkap tombak maut di perbatasan kayangan. Aku tahu Ene’ Duniang terus menangis sambil membersihkan rambutnya, namun hukum tiada boleh pandang bulu. Akan tetapi, kasih seorang ibu rupanya melahirkan muslihat. Saat Baruakng Kulup mengendap-endap kembali ke atas, Ene’ Duniang menggeser seonggok bangkai babi betina tua tepat ke arah mata tombak jebakanku, lalu menyuruh anakku melarikan diri ke alam Subayan. Ketika aku memeriksa perangkap itu, istriku berkata, "Anak kita telah melarikan diri, dan hanya bangkai babi betina tua ini yang tertembus oleh tombak."

Aku terdiam. Aku tahu anakku lolos, dan aku membiarkannya pergi ke alam Subayan untuk menebus dosanya. Di sana ia menikah dengan Ne' si Putih dan melahirkan sewakul penuh burung-burung peramal. Ketika Baruakng Kulup kembali menghadapku dengan rasa bingung dan terbebani, aku berikan ia petunjuk, "Tusukkan sebatang bambu aur di tanah pada ujung serambi luar, lepaskan burung-burung itu satu per satu dan berikan nama."

Maka dilepaskannyalah burung itu seekor demi seekor; mulai dari Keto’, Kohoat, Caruit, Buria’, Biang, Jantek, Rooh, Anst, Jiji, Dugal, Tongo’, hingga Adain. Aku menitahkan, "Burung-burung itu adalah anak-anakmu, abang dari keturunanmu kelak. Mereka akan menjadi pembawa ketentuan adat dan pertanda peramal bagi manusia jika hendak membuka ladang padi." Setelah itu, kuperintahkan ia menceraikan istri arwahnya dan turun ke bumi untuk menikahi seorang manusia bernama Jamani.

Kalakian, anakku beroleh anak di bumi bernama Kuling Langit. Aku telah mengariskan hukum, bahwa cucuku itu tiada boleh melanggar suara dan larangan dari abang-abangnya (burung peramal) saat hendak bermain dan memakan buah langsat di halaman.

Namun pada suatu hari yang malang, cucuku Kuling Langit bersikap tegar hati. Ia melanggar isyarat buruk dari burung Keto’ dan Jantek yang melarangnya sampai tiga kali berturut-turut. Ia nekat memanjat pohon buah-buahan tersebut, hingga akhirnya terjatuh—debuk!—dan tewas seketika di atas batu-batuan. Itulah akibat yang nyata bagi siapa saja yang berani melawan hukum dan ketentuan adat.

Melihat jasad Kuling Langit dibawa terbang dengan penuh cinta oleh burung-burung peramal naik ke kayangan, hatiku yang keras akhirnya luluh. Aku melihat kesetiaan unggas-unggas itu kepada adiknya. Maka dengan kekuasaan sakti yang ada padaku, kubangkitkan kembali Kuling Langit dari kematian, lalu kuhadiahkan ia kehidupan abadi untuk tinggal bersama kami di kayangan dan tiada lagi kembali kepada manusia.

Arkian, setelah segalanya genap, aku memanggil kembali Baruakng Kulup. Hatiku tiada lagi dipenuhi amarah, melainkan kebijaksanaan. Kebalikan dari hukuman, aku berikan ia tugas mulia. Titahku, "Wahai Baruakng Kulup, kembalilah engkau ke tengah-tengah manusia di bumi. Ajarkanlah kepada mereka sekalian ketentuan-ketentuan adat dan arti dari bahasa burung-burung peramal itu."

Maka sejak hari itu hingga masa sekarang, sekalian orang Dayak di bumi amat memperhatikan bahasa burung dan mematuhi aturan berladang. Padi yang dulu dicuri kini menjadi berkat yang diatur oleh hukum adat yang kutinggalkan. Hukum langit telah tegak, dan bumi telah beroleh tatanannya.

Maka tamatlah Hikayat Ene’ Panitah.

HIKAYAT NE’ DUNIANG: RATAP IBU DI ATAS TANAH KAYANGAN

Berdasarkan teks naskah asli di atas, tokoh ibu dari Baruakng Kulup tertulis sebagai Ene' Duniang atau Ne' Duniang (bukan Nek Binuang) [180].

Sebermula, maka inilah suatu kisah yang dipersembahkan daripada mulutku, Ne’ Duniang, yang memeliharakan rahasia purba kala di atas puncak kayangan. Biarlah sekalian manusia di bumi mendengar, bagaimana kepiluan seorang ibu atas takdir anak lanangnya yang membawa berkat sekaligus petaka ke dunia fana.

Syahdan, pada masa dahulu kala, aku ini dinobatkan oleh orang-orang dunia sebagai istri kepada Ene’ Panitah yang maha sakti. Akan tetapi, ketahuilah olehmu wahai anak cucu, bahwa sesungguhnya kami tiada pernah bercampur dan bersetubuh layaknya laki-isteri yang beroleh syahwat dunia. Rahimku ini sunyi, sepi bagai malam yang tiada berbintang. Maka tatkala kesunyian itu tiada tertahankan lagi olehku, bersujudlah aku seraya menadahkan tangan ke atas langit, menyembah Yang-Yang si Jubata [180].

Maka sembahku dengan hati yang remuk, "Wahai Tuanku Sang Jubata yang memegang tiang semesta, karuniakanlah apalah kiranya bagi hamba ini seorang anak, supaya ada yang meramaikan pondok ladang ini." [180]

Maka dengan takdir serta kun fayakun Sang Pencipta, seketika itu juga menjelmalah sesosok anak laki-laki yang elok parasnya di hadapanku. Tiada ia dibentuk dalam rahimku, namun demi menatap matanya, tumpahlah segenap kasih sayangku. Lalu kami namai akan dia Baruakng Kulup [180].

Hatta, demi Baruakng Kulup itu tumbuh menjadi remaja, hatinya senantiasa rindu dendam hendak turun bermain-main ke bumi fana. Maka kuizinkan ia pergi dengan hati yang was-was. Di bawah sana, ia bermain judi gading, panca, dan menyumpit bersama Ne’ Umang-Umang dan Ne’ si Bulit-Bulit [180]. Anakku senantiasa menang, hingga pada suatu hari, takdir malang mula mengintai. Tanpa diketahuinya, sebutir padi yang suci dari ladang kayangan kami telah melekat pada tulang keringnya tatkala ia turun ke bumi [180].

Maka tatkala butir padi itu dimakan oleh Ne’ Umang-Umang, kalahlah anakku dalam permainan [180]. Di sanalah bermula petaka itu. Manusia bumi yang serakah membujuk anakku agar menyelundupkan padi suci itu ke bumi [181].

Aduhai, seketika itu runtuhlah duniaku! Aku yang sedang duduk tenang di pondok ladang dikejutkan oleh Baruakng Kulup yang berlari terengah-engah, "Cepat, Ibu, mari kita pulang! Jangan duduk di sini saja sampai menumpahkan padi. Nanti Ayah bisa marah!" [181]

Rupanya, anakku yang bebal namun berhati mulia itu telah menyembunyikan sebutir padi di dalam kemaluannya demi menghidupi manusia bumi yang kelaparan [182]. Namun, tiada suatu pun yang luput dari pandangan Ene’ Panitah yang tajam bagai elang. Demi suamiku mendapati ada tanaman padi tumbuh menghijau di bumi manusia pada bulan keenam hingga kedelapan, meledaklah amarahnya yang dahsyat [182].

Maka bentak Ene’ Panitah kepadaku dengan mata menyala-nyala, "Coba lihat apa yang dilakukan Baruakng Kulup di bawah sana! Dia telah memberikan padi kita kepada manusia. Ini semua karena kau tiada waspada menjaga anak laki-laki itu tatkala bermain!" [182]

Maka aku pun menangis tersedu-sedu, air mataku laksana air terjun yang tiada membendung duka. Kataku dengan ratap yang pilu, "Aduhai, apalah yang dapat kita perbuat sekarang?" [182]

Suamiku menjawab dengan bengis, "Tunggu saja, aku akan memasang tombak lompat untuk membunuh anak itu!" [182]

Mendengar hal itu, hancurlah hatiku sebagai seorang ibu. Tiada rela aku melihat anak yang kupohonkan dari Sang Jubata mati di tangan ayahnya sendiri. Maka sambil berpura-pura duduk membersihkan rambut kepalaku dan terus menangis, mataku tajam melirik ke arah bumi [182]. Aku melihat bayangan Baruakng Kulup hendak kembali naik ke kayangan [182].

Maka dengan segenap daya muslihatku, kugeserlah bangkai seekor babi betina tua tepat ke arah mata tombak jebakan itu [182]. Demi anakku tiba dengan langkah yang sunyi mengendap-endap, aku berbisik di balik angin malam, "Larilah, Baruakng! Kau bersalah telah memberi manusia padi! Ayahmu hendak membunuhmu!" [182]

Maka selamatlah anakku daripada maut, sedang tombak itu hanya menembus bangkai babi betina [182]. Sebelum ia lari sejauh-jauhnya, sempatlah aku menitipkan pesan terakhir, "Hati-hatilah anakku, jika engkau mengambil jalan yang lurus, niscaya engkau tiba di alam Subayan. Tetapi jika ke kiri, engkau menuju ke arah manusia." [183]

Akan tetapi, takdir tiada dapat ditolak. Anakku tersesat ke jalan yang lurus dan menikah di alam arwah Subayan dengan Ne’ si Putih [183]. Demi ia kembali kepadaku dan mengadu bahwa istrinya melahirkan sewakul penuh burung, aku pun kembali memberikannya helah (tipu muslihat) agar ia mencabut rambut putih di kepala istrinya supaya mereka bercerai, karena masanya di alam kematian belumlah tiba [183, 184]. burung-burung itulah yang kemudian dinamai Keto', Jantek, dan lainnya, sebagai petunjuk berladang bagi manusia [184].

Kalakian, anakku pun turun ke bumi, menikah dengan Jamani dan beroleh cucu bagiku bernama Kuling Langit [185]. Sebelum anakku naik kembali ke atas menemui aku, ia telah berpesan agar cucuku jangan melanggar suara abang-abangnya (burung peramal) [185].

Maka pada suatu hari yang malang, cucuku Kuling Langit bersikap tegar hati memanjat pohon langsat, melanggar pantang dan isyarat buruk dari burung Keto’ dan Jantek sampai tiga kali berturut-turut [185, 186]. Maka terjatuhlah ia—debuk!—lalu tewas di atas batu-batuan [186].

Melihat jasad cucuku dibawa terbang oleh burung-burung peramal naik ke kayangan, tangisanku kembali pecah membelah langit [186]. Hatiku hancur melihat cucuku terbujur kaku. Namun, Ene’ Panitah yang melihat keteguhan burung-burung itu akhirnya luluh, lalu dibangkitkannya kembali Kuling Langit dari kematian untuk hidup abadi bersama kami di kayangan [186].

Kini, tinggallah aku di atas kayangan yang sunyi ini, memandang ke bawah, ke arah bumi fana. Anakku, Baruakng Kulup, telah kutitahkan kembali ke tengah-tengah manusia untuk mengajarkan ketentuan adat dan bahasa burung peramal [186]. Walau raganya tiada lagi di sisiku, namun hatiku tenteram melihat setiap kali manusia bumi menanam padi dan mendengar suara burung di hutan, mereka sedang merawat warisan cinta dan pengorbanan yang kuperjuangkan bagi anakku, Baruakng Kulup.

Maka tamatlah Hikayat Ne’ Duniang.


HIKAYAT BARUAKNG KULUP DAN ASAL-USUL PADI

Sebermula maka tersebutlah perkataan peri rukun kebiasaan dan tatanan kaum Dayak yang turun-temurun dipeliharakan sekalian manusia hingga pada masa hari ini. Adapun adat dan agama itu asalnya daripada titah serta kemauan Ene’ Panitah yang maha sakti. Alkisah maka adalah seorang perempuan bernama Ene’ Duniang, konon ia itu berpura-pura menjadi istri kepada Ene’ Panitah, akan tetapi syahdan sebenarnya mereka itu tiada pernah bersetubuh dan tiada bercampur layaknya laki-istri.

Hatta, maka Ene’ Duniang pun memohonkan suatu hajat kepada Yang-Yang si Jubata, sembahnya, "Wahai Tuanku Sang Jubata, jikalau ada rahim-Mu, karuniakanlah apalah kiranya hamba ini seorang anak laki-laki."

Maka dengan takdir Yang Maha Kuasa, seketika itu juga menjelmalah seorang anak laki-laki tampan, lalu dinamai akan dia Baruakng Kulup. Setelah Baruakng Kulup itu meningkat besar, maka ia pun rindu hendak bermain-main ke dunia bumi. Maka turunlah ia ke bumi, lalu berteman dengan Ene’ Umang-Umang dan Ne’ si Bulit-Bulit. Maka mereka pun bermainlah bersuka-sukaan, bertaruh main gading, panca, dan menyumpit. Maka dalam segala permainan itu, senantiasa kalahlah Ne’ si Bulit-Bulit sekalian adiknya oleh Baruakng Kulup, sebab makanan mereka itu hanyalah kulat (jamur) semata-mata, tiada memiliki kekuatan tubuh.

Kalakian, pada suatu hari Baruakng Kulup turun kembali ke bumi. Demi ia menjejakkan kaki, tatkala itu ada sebutir tanaman yang melekat pada tulang keringnya. Maka tatkala dilihat oleh Ne’ Umang-Umang akan butir itu, lalu diambil dan dimakannya. Seketika itu juga, maka dirasanya tubuhnya menjadi amat segar dan kuat tak terperi. Maka dengan berkat memakan butir itu, pada sekali bertanding, kalahlah Baruakng Kulup ditewaskan oleh Ne’ Umang-Umang.

Maka Baruakng Kulup pun heran seraya bertanya, "Geriangan apa yang membuatkan engkau boleh menang atas diriku ini?"

Maka sahut Ne’ Umang-Umang, "Bahwa aku telah memakan benda yang berkilau di tulang keringmu itu. Apakah gerangan namanya?"

Maka kata Baruakng Kulup, "Itulah yang dinamakan padi."

Maka kata Ne’ Umang-Umang, "Wahai sahabatku, sembunyikanlah sedikit padi itu dan bawakan bagi kami, karena kami sekalian belum pernah melihat benda yang seelok itu."

Maka Baruakng Kulup pun kembali ke kayangan, lalu menyembunyikan sebutir padi pada ujung cawatnya. Tetapi demi dilihat oleh ayahnya, maka padi itu direbut kembali. Maka Baruakng Kulup pun berdiri termangu-mangu. Atas muslihat Ne’ Umang-Umang, maka pada kali yang lain, Baruakng Kulup pun menyembunyikan padi itu di dalam kemaluannya, lalu dibawanya turun ke bumi dan diserahkan kepada manusia. Pesannya, "Tanamlah olehmu akan padi ini di dekat dapur, dan bertekunlah bersembunyi agar jangan kelihatan oleh ayahku."

Maka ditanamlah padi itu oleh manusia. Bermula dari bulan keenam, ketujuh, hingga bulan kedelapan, maka padi itu pun merumpunlah dan mengeluarkan kuncup tangkai yang elok, lalu berbunga dan masaklah ia. Akan tetapi, Ene’ Panitah mendapati hal itu lalu murka ia karena anaknya telah memberikan padi kepada manusia yang bebal dan suka memboroskan makanan.

Maka Ene’ Panitah pun memasang suatu perangkap tombak lompat hendak membunuh Baruakng Kulup. Tetap dengan belas kasih ibunya, ditolaknya seonggok bangkai babi betina tua ke perangkap itu, sehingga tombak itu mengenai babi, dan loloslah Baruakng Kulup melarikan diri.

Sebelum pergi, berpesanlah ibunya, "Wahai anakku, jika engkau menempuh jalan yang lurus, niscaya engkau tiba di alam Subayan (alam arwah). Tetapi jika engkau mengambil jalan ke kiri, niscaya engkau menuju ke negeri manusia."

Maka sebab tiada hati-hati, berjalannyalah Baruakng Kulup pada jalan yang lurus, lalu sampailah ia ke alam Subayan. Di sana ia terpikat dan menikah dengan seorang anak dara arwah bernama Ne’ si Putih. Maka setelah genap sembilan bulan sepuluh hari, melahirkanlah Ne’ si Putih akan satu bakul penuh berisi burung-burung. Maka heranlah Baruakng Kulup melihat anaknya berupa unggas. Lalu ia menghadap ayahnya di kayangan.

Maka titah ayahnya, "Tusukkanlah sebatang bambu aur di serambi luar, lalu lepaskan burung-burung itu satu per satu dan berikan nama."

Maka dilepaskannyalah burung itu seekor demi seekor; yang pertama dinamainya burung Keto’, kemudian Kohoat, Caruit, Buria’, Biang, Jantek, Rooh, Anst, Jiji, Dugal, Tongo’, dan Adain. Maka burung-burung itulah yang dititahkan menjadi petunjuk (peramal) bagi manusia tatkala hendak berladang padi. Sesudah itu, atas titah ayahnya, dicabutnyalah sehelai rambut putih di kepala Ne’ si Putih, maka seketika itu juga bercerailah mereka.

Hatta, maka Baruakng Kulup pun diperintahkan turun ke bumi manusia dan menikah dengan seorang perempuan bumi bernama Jamani, lalu beroleh seorang anak laki-laki dinamai Kuling Langit. Sebelum Baruakng Kulup kembali ke kayangan, ia berpesan kepada Jamani, "Jikalau anak kita hendak bermain dan memakan buah langsat, perhatikanlah olehmu akan suara abang-abangnya (burung peramal) itu. Jika mereka melarang, jangan sekali-kali dilanggar, karena mereka itu kakak kandungnya sendiri."

Alkisah pada suatu hari, Kuling Langit sangat ingin memakan buah langsat. Maka ia pun turun ke halaman hendak memanjat pohon. Tiba-tiba burung Keto’ dan Jantek terbang melintas seraya berbunyi memberikan pertanda buruk sampai tiga kali berturut-turut. Namun Kuling Langit tiada mengindahkan petunjuk abangnya itu. Maka ia pun bersikap tegar hati lalu memanjat pohon buah-buahan tersebut. Demi ia sampai di atas, belum pun sempat memakan buah itu, maka tiba-tiba terjatuhlah ia—debuk!—lalu terhempas di atas batu-batuan dan mati seketika itu juga.

Maka menangislah sekalian burung-burung itu melihat adiknya tewas. Maka dengan kekuatan sayapnya, dibawanyalah jasad Kuling Langit naik ke kayangan menghadap sang kakek. Maka oleh Ene’ Panitah, dibangkitkanlah kembali Kuling Langit dari kematian, lalu hidup abadi ia di kayangan dan tiada lagi kembali kepada manusia.

Arkian, maka Ene’ Panitah pun menitahkan Baruakng Kulup turun kembali ke bumi manusia, titahnya, "Pergilah engkau hai Baruakng Kulup, ajarkanlah kepada sekalian manusia akan bahasa dan ketentuan-ketentuan burung peramal itu."

Maka sebab itulah, hingga pada masa hari ini, sekalian orang-orang Dayak amat memeliharakan tata cara mendengar isyarat bahasa burung-burung tersebut apabila hendak membuka ladang dan menanam padi, menurut segala ajaran kuno yang ditinggalkan oleh Baruakng Kulup.

Maka tamatlah Hikayat Baruakng Kulup.

------------------------------

Cerpen: Tongkat Hitam dan Janji di Balik Beton Proyek

Manusia mengenalku sebagai Dentha, sang mandor gaib. Di dunia yang tak kasat mata ini, tugas-tugas pengusiran selalu jatuh ke tanganku. Saban kali para cukong manusia ingin mendirikan mal atau gedung bertingkat, akulah yang disewa untuk mensterilkan lahan dari hantu-hantu lama. Di tangan kananku, tergenggam sebuah tongkat kayu hitam pekat yang menjadi sumber seluruh kekuatanku. Bersama sepuluh anak buah kepercayaanku, aku adalah penguasa mutlak di wilayah proyek ini. Aku tak pernah gagal, tak pernah ragu, sampai malam itu—malam ketika aku bertemu dengannya.

Dia adalah Laras, roh wanita penjaga pohon jati tua yang tumbuh di pojok lahan. Berbeda dengan roh lain yang menyerangku dengan benci, Laras hanya berdiri diam di bawah rembulan, menatapku dengan sepasang mata redup yang menyimpan kesedihan teramat dalam.

"Pergilah, Laras. Tempat ini sudah dibeli manusia. Sebulan lagi beton-beton akan menancap di tanahmu," ujarku dingin, meski ada debar aneh yang mendadak menyusup ke dalam dadaku yang biasanya sekeras batu.

Laras tersenyum getir, melangkah mendekat tanpa rasa takut sedikit pun pada tongkat hitamku. "Lalu ke mana aku harus pergi, Dentha? Kota ini sudah penuh. Di mana-mana hanya ada kaca dan baja. Jika aku pergi, aku hanya akan menjadi hantu gelandangan tanpa rumah."

Melihat gundah di wajahnya, egoku runtuh. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, aku melakukan kerja ekstra yang menguras energiku. Aku menyiapkan sebuah tempat baru untuknya, sebuah sudut hutan terpencil yang belum terjamah manusia, jauh di luar kota.

"Aku sudah menyiapkan tempat untukmu di sana, Laras. Pergilah demi aku," bisikku malam itu, menggenggam jemarinya yang sedingin es.

Laras menatapku lekat-lekat. "Aku tidak peduli dengan tempat indah itu, Dentha. Aku hanya ingin bersamamu. Berjanjilah, setelah tugasmu di sini selesai, kau akan menyusulku ke hutan itu."

"Aku berjanji," jawabku mantap. Janji itulah yang menjadi asmara rahasia di antara kami, sebuah harapan manis di tengah gersangnya dunia proyek.

Namun, cinta di dunia gaib sering kali berakhir tragis. Beberapa roh tua sekutu Laras menolak keras untuk pindah. Mereka merasa dikhianati dan memilih bersembunyi di celah-celah bumi, menyusun rencana perlawanan.

Memasuki bulan kedua, saat bangunan manusia mulai meninggi, roh-roh itu mulai memprotes. Mereka merusak mesin ekskavator, memutus kabel baja, dan membuat para pekerja manusia jatuh sakit. Proyek kacau balau. Pemilik modal manusia menuntut hasil lewat ritual sajen di tengah malam. Aku terdesak oleh sumpah kontrak.

"Cari pengacau-pengacau itu! Hancurkan siapa saja yang menolak pergi!" perintahku pada anak buahku dengan amarah yang meluap. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat agar bisa segera menyusul Laras.

Pertempuran hebat di dimensi gaib pecah malam itu. Jeritan roh-roh yang tercabik bergema di udara malam. Aku merangsek maju membawa tongkat hitamku, menumbangkan setiap perlawanan. Hingga di sebuah sudut pondasi yang gelap, langkahku terhenti.

Laras berdiri di sana. Ia tidak pergi ke hutan yang kujanjikan. Di tangannya, ada sebilah pusaka bumi berenergi pekat. Wajahnya yang dulu lembut kini dipenuhi kekecewaan yang teramat runtuh.

"Kau membohongiku, Dentha," isaknya, air mata darah mengalir di pipinya. "Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau menghancurkan kaumku. Kau mengusir mereka demi menjadi budak keserakahan manusia!"

"Laras, tidak! Aku melakukan ini agar kita bisa segera pergi bersama!" teriakku, mencoba mendekat.

"Sudah terlambat, Dentha! Asmara kita adalah sebuah kesalahan!"

Laras menerjangku dengan sisa seluruh kekuatannya. Bukan untuk membunuhku, melainkan untuk menghancurkan sumber kutukan yang membelenggu hidupku. Ia menghantamkan seluruh inti energinya langsung ke arah tongkat hitam di genggamanku.

KRAAAK!

Tongkat kekuasaanku retak dan hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan itu, seluruh kekuatan gaibku menguap tak bersisa. Aku ambruk, dadaku terasa hampa dan sesak. Namun yang lebih menyakitkan adalah melihat tubuh Laras yang perlahan memudar, menjadi abu spiritual yang terbawa angin malam karena telah mengorbankan seluruh eksistensinya untuk menghancurkan tongkatku.

"Laras!!!" jeritanku melengking membelah malam, namun terlambat. Dia telah tiada, menyisakan kehampaan yang abadi. Anak-anak buahku yang melihatku kehilangan kekuatan langsung lari kocar-kacir meninggalkanku.

Kini, mal megah itu telah berdiri dengan kokoh. Di malam hari, lampu-lampunya berkilauan memikat hati manusia. Namun di basement terdalam yang gelap dan pengap, aku duduk bersandar pada tiang beton.

Aku kini hanyalah roh cacat yang lemah dan tak berdaya. Aku kehilangan segalanya—kekuatanku, harga diriku, dan wanita yang kucintai. Aku menjadi hantu gelandangan di atas tanah yang dulu kubersihkan dengan tanganku sendiri. Di tengah kebisingan langkah kaki manusia di atas sana, aku hanya bisa meratapi nasib, memeluk bayang-bayang janji asmara kami yang telah hancur terkubur di bawah dinginnya semen dan beton proyek.

Cerpen: Mandor Gaib dan Tangisan dari Tanah Proyek

Malam itu, dinginnya angin mengembus aroma tanah basah dan besi berkarat di area proyek pembangunan mal mewah setinggi dua puluh lantai. Di tengah kegelapan, berdiri sesosok makhluk tinggi besar yang dikenal sebagai Dentha. Wajahnya legam, matanya memancarkan redup cahaya kekuningan, dan tangan kanannya menggenggam erat sebuah tongkat kayu hitam yang memancarkan aura magis pekat—sumber seluruh kekuatannya.

Di sekelilingnya, sepuluh anak buah kepercayaannya berdiri siaga, menjaga perbatasan lahan agar tidak ada penyusup spiritual yang kembali. Proyek harus steril. Itu adalah sumpah dan kontrak gaib yang ia sepakati dengan pemilik modal manusia.

Tiba-tiba, dari balik tumpukan semen, muncul sesosok wanita tua bertubuh ringkih dengan pakaian compang-camping. Ia adalah salah satu penghuni lama lahan itu, roh yang telah menetap di sana sejak tempat itu masih berupa hutan jati ratusan tahun lalu.

"Tolong, Tuan Dentha... hamba mohon jangan usir kami lagi," ratap roh tua itu sambil bersimpuh di kaki Dentha. Suaranya bergetar penuh keputusasaan.

Dentha menatapnya dingin. Ia menghentakkan tongkatnya ke tanah, memicu gelombang kejut tak kasat mata yang membuat roh tua itu terjungkal. "Lahan ini sudah dibeli. Manusia akan membangun gedung di sini, dan tugasku adalah memastikan kalian semua pergi. Tempat ini bukan lagi milik kalian!"

"Tapi kami tidak punya tempat tujuan!" jerit roh tua itu, air mata darah menetes di pipinya yang pucat. "Semua lahan di kota ini sudah penuh dengan gedung-gedung tinggi. Tempat lain juga sudah memiliki penghuni tetap. Jika kami pergi, kami akan menjadi hantu gelandangan yang hancur perlahan-lahan di jalanan!"

Dentha terdiam sesaat. Jauh di dalam lubuk hatinya yang kelam, ia merasakan secuil iba. Pengusiran dengan kekerasan sebulan terakhir ini telah memakan banyak korban di pihak penghuni lama.

"Aku tahu," ucap Dentha, suaranya berat mengelegar, namun nadanya melunak. "Karena itulah aku telah menyiapkan tempat baru untuk kalian. Jauh di luar wilayah kota ini, sebuah hutan tua yang belum tersentuh besi-besi manusia. Pergilah ke sana demi keselamatan kalian sendiri."

"Hutan itu terlalu jauh, Tuan... perjalanan ke sana akan memusnahkan energi kami yang sudah lemah akibat pertempuran ini," sahut roh tua itu sambil terisak.

"Itu satu-satunya pilihan kalian. Pergi dengan damai, atau anak buahku yang akan menghancurkan kalian tanpa sisa," ancam Dentha, meski hatinya terasa berat. Menyiapkan tempat baru sebenarnya menguras energinya secara ekstra, namun ia lebih memilih jalur itu daripada harus memusnahkan mereka semua.

Melihat tidak ada pilihan lain, roh tua itu bangkit dengan tubuh gemetar. "Baik, kami akan pergi... Kami mengalah pada keserakahan manusia dan kekejaman tugasmu."

Keesokan harinya, proses pembangunan fisik oleh para pekerja manusia pun dimulai. Alat-alat berat meraung-raung, mengeruk tanah dalam-dalam. Dentha memandang dari dimensi gaib, meyakini tugasnya telah selesai dan lahan tersebut telah sepenuhnya steril dari gangguan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di bawah kepemimpinan roh tua yang menyimpan dendam terdalam karena diusir dari tanah kelahirannya, beberapa roh penghuni lama menolak untuk pergi ke hutan jauh yang dijanjikan. Mereka memilih bersembunyi di celah-celah terdalam bumi, bersiap melakukan perlawanan terakhir demi mempertahankan harga diri mereka.

Memasuki bulan kedua pembangunan, keanehan mulai terjadi.

"Brakkk!"

Tiba-tiba mesin ekskavator yang sedang mengeruk tanah mendadak mati total. Kabel baja pada mesin derek putus tanpa sebab, menjatuhkan balok beton besar yang hampir merenggut nyawa pekerja. Tidak hanya itu, satu per satu pekerja manusia mulai jatuh sakit secara misterius dengan demam tinggi dan igauan mengerikan.

"Ada yang tidak beres dengan lahan ini," bisik salah seorang mandor manusia dengan wajah pucat.

Melihat kekacauan itu, Dentha murka. Ia tahu ini adalah wujud protes dari sisa-sisa penghuni lama yang membangkang. Malamnya, ia mengumpulkan seluruh anak buahnya.

"Cari mereka! Hancurkan siapa saja yang masih berani menginjakkan kaki di lahan ini!" perintah Dentha, matanya menyala merah, dipenuhi amarah yang dipicu oleh rasa bersalah karena gagal menjaga sterilisasi proyek.

Pertempuran hebat di dimensi gaib pun pecah di tengah malam yang buta. Anak-anak buah Dentha merangsek maju, menyerang sisa-sisa penghuni lama dengan kejam. Suara lolongan pilu dan jeritan roh yang tercabik-cabik bergema di udara, meski tak satu pun manusia mampu mendengarnya.

Dentha maju ke garis depan, mengayunkan tongkat saktinya untuk menumbangkan roh-roh yang melawan. Hingga akhirnya, ia berhadapan kembali dengan roh wanita tua yang tempo hari memohon kepadanya. Di tangan roh tua itu, terdapat sebuah jimat kuno berisi energi bumi yang pekat.

"Kau mengkhianati belas kasihanku!" bentak Dentha.

"Kau yang mengkhianati tanah ini, Dentha!" balas roh tua itu dengan tatapan penuh kebencian. "Kau menjadi budak manusia demi memusnahkan bangsa kita sendiri!"

Tanpa ragu, roh tua itu menerjang Dentha, meledakkan seluruh sisa energinya langsung ke arah tongkat kekuasaan Dentha. Ledakan spiritual yang dahsyat pun terjadi.

"KRAAAK!"

Tongkat hitam di tangan Dentha retak, lalu hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan hancurnya tongkat tersebut, seluruh kekuatan besar Dentha menguap seketika. Tubuhnya melemah drastis, dadanya terasa hampa. Di hadapannya, roh wanita tua itu perlahan memudar, menjadi abu spiritual yang terbawa angin malam setelah mengorbankan seluruh eksistensinya.

Anak-anak buah Dentha yang melihat pemimpin mereka kehilangan kekuatan langsung mundur ketakutan, meninggalkan lahan yang kini dipenuhi aura kematian dan keputusasaan.

Kini, bangunan mal mewah itu telah berdiri kokoh dan megah di dunia manusia. Namun di balik dinding-dinding betonnya yang berkilau, di sudut-sudut gelap yang tak pernah tersorot lampu, bersemayam sebuah kisah tragis.

Dentha, sang mandor gaib yang dulunya perkasa, kini hanyalah sosok roh yang lemah, cacat, dan tak berdaya. Ia kehilangan segalanya—tongkatnya, kekuatannya, dan harga dirinya. Ia kini terperangkap selamanya di basement gedung tersebut, menjadi gelandangan di atas tanah yang dulu ia bersihkan dengan darah bangsanya sendiri, meratapi nasibnya yang tragis sembari mendengarkan tawa riang manusia yang menari di atas penderitaan makhluk-makhluk yang terusir.

Cerpen: Lampion Merah di Atas Tanah Montrado

Nenek moyang kami di pedalaman Borneo selalu percaya bahwa hutan dan sungai tidak pernah berbohong. Jauh sebelum terompet perang berbunyi dan dentuman besi memecah heningnya rimba, pepohonan telah meranggas dan angin membawa bau kecurigaan.

Dahulu kala, sewaktu Sultan Umar Alamudin masih bertahta di Sambas, kami melihat orang-orang berwajah pucat dan tubuh kurus turun dari kapal asing yang aneh. Mereka bersimpuh di tanah, memohon dengan sangat agar diberi sepetak tempat tinggal di Larah. Orang-orang tua kami di suku Dayak melihat mereka dengan belas kasihan. Kami mengajari mereka cara berdampingan dengan hutan, dan tak jarang gadis-gadis kami dipersunting oleh mereka. Saat itu, mereka tampak seperti tetangga yang taat dan rajin.

Namun, emas mengubah segalanya. Lapisan emas di tanah kami bagaikan sihir hitam yang menghapus rasa terima kasih.

Saya masih ingat betul cerita tentang hari naas saat pesta Tajau. Tetua kami dan warga suku Dayak datang dari dalam hutan dengan hati polos dan gembira untuk ikut merayakan pesta orang-orang Cina tersebut. Kami diajak makan bersama, mendengarkan irama musik, dan diajak melihat rahasia di dalam tepekong. Penjaga-penjaga benteng kami melonggarkan ikatan senjata mereka, terbuai oleh tawa dan keramahan yang ternyata palsu.

Di dalam pekong besar yang dipenuhi pendar merah lampion, asap hio membumbung tinggi bercampur dengan aroma hidangan pesta Tajau. Para tetua kongsi Cina dan pimpinan suku Dayak duduk berdampingan, saling melempar tawa dan meneguk tuak bersama. Di mata orang awam, aula itu tampak seperti simbol persaudaraan, namun di balik takdir yang terselubung, aura kematian sedang mengintai.

Di sudut aula yang paling tenang, Ah Seng—seorang pemuda kongsi—duduk dengan dada yang bergemuruh hebat. Di hadapannya duduk Barin, gadis Dayak bermata jernih dengan hiasan bunga melati di sanggul rambutnya.

Ah Seng mengetahui rencana rahasia para pimpinan kongsinya: bahwa jamuan ini hanyalah siasat berdarah untuk melumpuhkan orang-orang Dayak dan merebut kekuasaan atas tambang emas secara mutlak. Sementara itu, Barin menatap Ah Seng dengan penuh kepercayaan dan kasih sayang, sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengancam.

"Barin, pergilah dari sini sekarang... Lewat pintu belakang," bisik Ah Seng dengan suara bergetar penuh keputusasaan.

Barin mengerutkan dahi, bingung. Namun sebelum kata-katanya terucap, sebuah dentuman mendengung keras membelah riuk tawa di aula.

DONGGG!

Pukulan gong nyaring membahana dari dalam tepekong, menggetarkan tiang-tiang kayu bangunan. Suara itu adalah isyarat pembantaian.

Dalam sekejap mata, keramahan para pemuda kongsi berubah menjadi cengiran dingin. Kilatan pisau panjang dan parang dihunus serentak dari bawah meja jamuan. Para tamu dan penjaga benteng Dayak yang terlena ditusuk dari belakang saat cangkir minuman masih ada di genggaman mereka. Suasana damai berganti menjadi neraka banjir darah.

Di tengah kekacauan itu, seorang prajurit kongsi mengarahkan bilah parangnya ke arah Barin. Melihat bahaya itu, Ah Seng melompat tanpa ragu dan memasang dadanya sendiri sebagai perisai. Besi dingin menembus punggung Ah Seng. Ia roboh ke lantai kayu yang tergenang darah, memeluk Barin erat-erat di bawah pendar lampion merah yang bergoyang bisu.

Bertahun-tahun setelah tragedi berdarah itu, kekuasaan kongsi-kongsi Cina di Montrado tumbuh makin congkak, namun pondasinya kian rapuh oleh perang saudara dan kemarahan tanah Borneo.

Dari tepi perbukitan Lumar, Chen Wei—seorang juru catat tua di Balai Kongsi—menatap kepulan asap yang membubung dari reruntuhan pasar Kulor. Dentuman meriam dahsyat terdengar dari arah pesisir: pasukan Kompeni Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Andresen telah tiba membawa kapal perang beruap dan mortir-mortir besar.

Chen Wei mendesah berat. Ia ingat bagaimana beberapa hari lalu kongsi mereka menolak menyerah dengan sombong. Namun di hadapan disiplin militer Kompeni, benteng-benteng kongsi runtuh satu per satu. Pejuang kongsi membakar pasar mereka sendiri sebelum mundur kocar-kacir ke dalam hutan.

Pada bulan Juni 1854, asap perang di Montrado perlahan menyusut. Chen Wei berdiri di barisan depan bersama puluhan tokoh kongsi, semuanya mengenakan pakaian putih polos sebagai tanda duka dan kepasrahan mutlak. Di sepanjang jalan, ribuan warga keturunan Cina bersimpuh di atas tanah liat yang basah saat pasukan Belanda berbaris masuk.

Chen Wei menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh debu jalanan. Kejayaan, kedaulatan, dan kebebasan kongsi yang dahulu dibangun di atas cucuran keringat—dan dilumuri pengkhianatan di pesta Tajau—kini resmi berakhir, terkubur di bawah bayang-bayang penguasa baru dari seberang lautan.

Dari balik rimbunnya dedaunan di atas bukit, saya dan para pemuda Dayak mengamati pemandangan itu dalam diam.

Kami melihat orang-orang yang dahulu membantai saudara-saudara kami di dalam pekong, kini bersimpuh dan berlutut memohon ampun di hadapan tentara Kompeni. Kekuasaan kongsi yang dibangun di atas tanah Larah akhirnya runtuh juga.

Gema gong pembantaian di pekong puluhan tahun silam telah berganti menjadi dentuman meriam asing. Kami mengelus hulu mandau di pinggang, menyadari bahwa meski satu penindas telah tunduk di tanah ini, hutan dan tanah kelahiran kami akan selalu menuntut kami untuk tetap waspada.

Cerpen: Bunga Melati di Balik Lampion Pekong

 Telah dibuatkan dokumen PDF berisi cerpen bertema tragis dan cinta dengan sudut pandang orang Cina di Pekong.Aroma wangi hio yang terbakar perlahan di atas altar tembaga malam itu tak mampu memadamkan kegelisahan yang menggejolak di dada Ah Seng. Di dalam pekong yang dipenuhi pendar merah lampion, meja-meja kayu panjang telah tertata rapi menyajikan hidangan pesta Tajau—babi panggang berkulit renyah, sup hangat, dan gentong-gentong tuak jernih. Gelak tawa para anggota kongsi dan tamu-tamu dari suku Dayak melintasi aula, menciptakan ilusi kedamaian yang teramat semu.

Di sudut aula yang paling tenang, Ah Seng menatap gadis di hadapannya. Barin, gadis Dayak bermata jernih dengan hiasan bunga melati di sanggul rambutnya, tersenyum lembut sembari mengulurkan cangkir keramik berisi tuak. Ah Seng menerimanya dengan jemari gemetar. Sudah dua tahun berlalu sejak mereka pertama kali bertemu di tepi Sungai Larah, ketika Ah Seng terluka diserang demam dan Barin merawatnya dengan dedaunan obat. Sejak hari itu, jiwa mereka saling tertaut, melangkahi tembok tebal perbedaan bangsa dan keyakinan.

“Mengapa wajahmu begitu pucat, Ah Seng?” bisik Barin penuh kelembutan, jemari halusnya menyentuh lengan Ah Seng. “Hari ini orang-orangmu mengajak sukuku bersuka ria. Apakah engkau tidak bahagia melihat kita duduk bersama?”

Suara Barin bagaikan sembilu yang menyayat hati Ah Seng. Pria muda itu memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Barin yang polos dan penuh kepercayaan. Ah Seng tahu rahasia kelam yang tersembunyi di balik keramahan para tetua kongsinya. Pesta Tajau ini bukanlah simbol persahabatan, melainkan sebuah jebakan berdarah yang dirancang untuk menghabisi para penjaga benteng dan tetua Dayak demi menguasai secara mutlak tanah-tanah tambang emas di Montrado.

Ah Seng menggenggam erat pergelangan tangan Barin. “Barin, dengarkan aku,” bisiknya setengah berbisik, nadanya sarat akan keputusasaan. “Pergilah dari sini sekarang. Lewat pintu belakang pekong. Bawa adikmu dan tinggalkan benteng ini.”

Barin mengerutkan dahi, matanya memancarkan kebingungan. “Mengapa? Ayahku dan para tetua baru saja diajak minum bersama pemimpin kongsimu. Mereka sedang bercengkerama di depan altar—”

Sebelum Ah Seng sempat menarik Barin berdiri, sebuah suara mendengung keras membelah riuk tawa di aula.

DONGGG!

Dentuman gong tembaga raksasa dari dalam tepekong bergema dahsyat, menggetarkan dinding-dinding kayu dan menghentikan seluruh aktivitas di dalam ruangan.

Seketika itu juga, senyum ramah para pemuda kongsi berubah menjadi dingin dan kejam. Dari bawah meja jamuan dan balik lipatan baju, kilatan parang dan pisau panjang dihunus serentak. Suasana damai bertukar menjadi neraka dalam sekejap mata. Jeritan histeris pembantaian meletus. Ayah Barin dan para penjaga Dayak yang terlena tanpa senjata diikat oleh pengkhianatan, ditusuk tanpa ampun saat cangkir minuman masih berada di genggaman mereka.

“Ah Seng! Apa yang terjadi?!” jerit Barin histeris saat melihat ayahnya ambruk bersimbah darah di depan altar.

“Lari, Barin! Lari!” teriak Ah Seng seraya melompat berdiri, menarik tubuh Barin ke dalam pelukannya untuk melindungi gadis itu dari kekacauan yang merebak.

Namun, di tengah kegelapan hati yang dikuasai rasa tamak dan dendam, tidak ada tempat bagi cinta. Seorang prajurit kongsi dengan mata merah memegang parang berdarah menerobos kerumunan, mengarahkan bilahnya tajam ke arah Barin. “Pengkhianat! Jangan biarkan orang Dayak tersisa!”

“Tidak!” jerit Ah Seng.

Tanpa ragu sedikit pun, Ah Seng memutar tubuhnya, memasang dadanya sendiri sebagai perisai. Bilah tajam itu menembus punggung Ah Seng dengan telak. Rasa dingin merayap seketika, disusul rasa panas membakar yang menghentikan napasnya. Ah Seng terhuyung, roboh ke lantai kayu yang kini banjir oleh genangan darah, membawa Barin jatuh bersamanya.

“Ah Seng! Ah Seng!” Barin meratap histeris, memangku kepala kekasihnya. Air matanya menetes berhamburan, membasahi wajah Ah Seng yang makin pucat.

Ah Seng menggenggam jemarinya yang makin dingin, menyentuh pipi Barin untuk terakhir kalinya. Bunga melati di sanggul Barin telah terlepas, jatuh tepat di atas dada Ah Seng yang bersimbah darah. "Pergi... Barin... hiduplah..." bisik Ah Seng dengan sisa napasnya yang patah-patah.

Genggaman tangan Ah Seng terkulai lemas. Mata pria muda itu tetap terbuka, menatap lampion-lampion merah yang bergoyang di langit-langit pekong—menyaksikan bagaimana pesta kegembiraan yang diimpikannya berakhir menjadi tragedi kelam yang membunuh cintanya dan meremukkan jiwanya di tanah Montrado.

Cerpen: Gema Gong di Dalam Pekong

Aroma dupa puyer dan hio membumbung tinggi, menyatu dengan wangi lemak babi bakar serta uap mangkuk-mangkuk sup yang mengepul di dalam pekong. Dari balik tiang-tiang kayu merah berpahat naga, suara tawa dan dering cangkir-cangkir keramik beradu riuh melintasi aula utama. Hari itu adalah puncak perayaan pesta Tajau, hari di mana pintu-pintu benteng yang biasanya tertutup rapat justru dibuka lebar-lebar untuk para tamu dari balik belantara.

Di sudut meja panjang, seorang pemuda Dayak bernama Nyarik memegang cangkir tuak dengan jemari berkeringat. Matanya menatap takjub pada lampion-lampion kain merah yang bergantung di langit-langit, memancarkan pendar keemasan yang belum pernah ia lihat di dalam hutan. Di sekelilingnya, belasan tetua Dayak dan prajurit penjaga benteng duduk berdampingan dengan para penambang serta pimpinan kongsi Cina. Mereka makan bersama, meneguk minuman persahabatan, dan mendengarkan kisah-kisah rahasia di balik patung-patung tepekong yang diagungkan.

"Minumlah, Saudara!" seru seorang penambang Cina di samping Nyarik sambil mengukir senyum lebar dan menuangkan tuak hangat hingga meluap dari cangkirnya. "Hari ini tidak ada sekat di antara kita. Aturan benteng dilupakan, senjata disimpan. Hari ini kita saudara!"

Nyarik tersenyum polos, rasa curiga yang biasa menyelimuti hatinya perlahan-lahan luntur tersapu oleh kehangatan tuak dan ramahnya sambutan tuan rumah. Di luar sana, penjaga-penjaga benteng dari sukunya tampak telah melepaskan pegangan pada hulu mandau, ikut tertawa dan berbaur dalam keramaian yang makin riuh. Perempuan-perempuan Dayak yang membawa anak-anak kecil pun duduk tenang di pelataran, menikmati hidangan manis yang jarang mereka kecap.

Namun, di tengah gelak tawa yang membahana, Nyarik merasakan sesuatu yang aneh. Ia mendapati beberapa pemuda kongsi yang berdiri di dekat tiang-tiang utama tidak menyentuh cangkir mereka sama sekali. Mata mereka tidak menatap piring atau sajian, melainkan terus melirik ke arah pintu ruang dalam, tempat sebuah gong tembaga besar tergantung di kegelapan.

Nyarik meletakkan cangkirnya, hendak mengusap peluh di dahi. Ia baru saja bermaksud menyapa pamannya di ujung meja ketika mendadak seluruh pergerakan di dalam ruangan terasa membeku.

DONGGG!

Dentuman gong dari dalam tepekong bergema dahsyat, menggetarkan lantai kayu dan memekakkan telinga.

Suara itu bukanlah penutup doa, melainkan awal dari mimpi buruk yang teramat kelam.

Sebelum gema gong pertama sempat memudar, senyum ramah di wajah penambang di samping Nyarik mendadak sirna, berganti menjadi cengiran dingin yang mengerikan. Tanpa sepatah kata pun, kilatan besi tajam meluncur dari bawah meja. Nyarik menyaksikan dengan mata terbelalak saat pisau panjang menembus dada pamannya yang masih memegang mangkuk minuman.

"Penghianatan!" jerit Nyarik, suaranya serta-merta tertutup oleh jeritan histeris yang meletus bersahutan di seluruh aula.

Suasana jamuan damai dalam sekejap berubah menjadi ladang pembantaian yang brutal. Para penjaga benteng Dayak yang terlanjur melepaskan ikatan disiplin dan senjata mereka tewas seketika di tempat duduknya, ditusuk dari belakang oleh tuan rumah yang beberapa detik lalu mengulang kata 'saudara'. Cangkir-cangkir porselen pecah berantakan di lantai, bercampur dengan darah merah yang menggenang dan membasahi meja-meja jamuan.

Nyarik melompat mundur, menghindari tebasan pisau yang nyaris menyambar lehernya. Ia bergerak kalap menembus kekacauan, mengabaikan rasa perih di bahunya. Di pelataran luar, pemandangan jauh lebih mengerikan melukai matanya. Perempuan-perempuan dan anak-anak suku Dayak berlari ketakutan sambil meratap, memohon belas kasihan di bawah kepungan senjata, namun mereka dirobohkan tanpa ampun satu per satu.

"Berlari! Lari ke hutan!" teriak seorang prajurit Dayak yang bersimbah darah, berusaha menahan pintu gerbang dengan sisa-sisa tenaganya sebelum akhirnya runtuh dihantam senjata musuh.

Nyarik menerobos asap dupa dan uap darah yang makin pekat, melompati barikade kayu benteng yang kini telah dikuasai penuh oleh para pejuang kongsi. Dari balik kegelapan hutan yang dingin, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang dengan dada naik-turun.

Di dalam pekong yang kini dipenuhi jeritan tangis dan tumpahan darah, pendar lampion merah masih menyala terang. Nyarik mengepalkan tangannya rapat-rapat, membiarkan air mata dan darah menetes ke tanah. Jamuan di dalam pekong telah berakhir, tetapi dendam dan luka atas pengkhianatan malam itu akan terpatri selamanya dalam ingatan sukunya, menyulut api perlawanan yang tak akan padam selama bertahun-tahun mendatang.

Cerpen: Runtuhnya Kejayaan di Tanah Montrado (atau Di Bawah Naungan Langit Montrado)

Di bawah naungan langit Montrado yang muram, Chen Wei berdiri di tepi perbukitan Lumar, menatap kepulan asap yang masih membubung dari reruntuhan pasar Kulor. Sebagai seorang juru catat di Balai Kongsi, ia telah menyaksikan bagaimana kejayaan yang dibangun oleh bangsa dan leluhurnya selama satu abad perlahan-lahan runtuh menjadi debu dan abu.

Pikiran Chen Wei melayang pada kisah-kisah tua yang sering diceritakan mendiang kakeknya. Dahulu, hampir seratus tahun yang lalu, leluhur mereka tiba di tanah Borneo ini dengan kapal berbongkah aneh. Mereka datang sebagai rombongan manusia yang lesu, pucat, dan keletihan, bersimpuh di hadapan Sultan Umar Alamudin untuk memohon sepetak tanah kecil di Larah demi bertahan hidup. Dengan cucuran keringat dan ketekunan yang tiada tara, mereka menggali tanah berawa, memeras emas dari perut bumi, hingga mengubah belantara menjadi kota-kota kongsi yang makmur dan mandiri.

Namun, Chen Wei menyadari betul bahwa kemakmuran dan kekuasaan sering kali membutakan mata. Benih-benih kecongkakan mulai tertanam sejak tragedi berdarah pesta Tajau puluhan tahun silam. Kelompok kongsi menanggalkan rasa terima kasih mereka, membantai sekutu pribumi, dan menyatakan diri sebagai penguasa tunggal atas tanah-tanah tambang. Setelah itu, perang saudara yang haus darah antar-kongsi sendiri meletus, merobek persatuan mereka dan meninggalkan jejak dendam yang mendalam.

Kini, masa penghakiman bagi bangsanya telah tiba. Dari balik celah dinding benteng Lumar yang retak, Chen Wei memperhatikan derap langkah pasukan Kompeni Belanda yang bergerak maju di bawah pimpinan Letnan Kolonel Andresen.

"Apakah perlawanan di Lohabang dan Kulor benar-benar sudah berakhir?" tanya Chen Wei dengan suara gemetar kepada seorang prajurit kongsi yang terengah-engah di sampingnya.

Prajurit itu menyapu darah dan lumpur di dahinya, lalu menggeleng lemas. "Benteng-benteng kita di Kulor telah hancur dihantam mortir mereka. Pasukan Tirailleur Belanda menyeberangi sungai di bawah hujan peluru kita tanpa ragu. Sebelum mundur, para pejuang kita membakar pasar Kulor agar tidak jatuh ke tangan musuh, tetapi itu tak menghentikan langkah mereka. Pasukan Kompeni kini tinggal selangkah lagi dari jantung Montrado."

Chen Wei mendesah berat, meremas gulungan kertas catatan kongsi di tangannya. Ia ingat betul bagaimana beberapa hari yang lalu kongsi mereka mengirimkan surat balasan yang penuh kesombongan kepada pihak Belanda—menyatakan bahwa mereka lebih baik membakar seluruh rumput di tanah ini daripada harus menundukkan kepala. Namun, menghadapi kekuatan meriam, kapal perang beruap, dan disiplin militer Eropa, keberanian dan gertakan itu menguap begitu saja.

Dari kejauhan, dentuman meriam terakhir terdengar perlahan surut, digantikan oleh keheningan yang menyiksa. Di dalam Balai Kongsi Montrado, para tetua dan penguasa tambang tidak lagi memikirkan kejayaan emas atau otonomi republik kecil mereka. Yang tersisa di wajah mereka hanyalah rasa takut akan pemusnahan total.

"Kirimkan utusan," bisik Chen Wei pelan, mendahului keputusan para tetua yang sedang tertunduk lelah. "Himpun dua belas warga terpenting kota ini. Katakan pada komandan Belanda bahwa orang-orang yang mengobarkan perang telah melarikan diri ke hutan, dan yang tersisa di sini hanyalah warga sipil yang memohon ampun."

Tanggal 2 Juni 1854 menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan Chen Wei sepanjang hidupnya. Matahari pagi menyinari jalanan utama Montrado yang bisu. Chen Wei berdiri di barisan depan bersama tiga puluh tokoh kongsi, semuanya mengenakan pakaian putih polos sebagai tanda duka dan kepasrahan mutlak.

Di sepanjang tepi jalan, ribuan warga keturunan Cina—para penambang, pedagang, dan keluarga mereka—bersimpuh di atas tanah liat yang basah. Saat bayonet dan sepatu bot tentara Belanda berbaris melintas di hadapan mereka, Chen Wei menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh debu.

Dalam sujud pasrah itu, Chen Wei menyadari bahwa era kejayaan, kebebasan, dan kedaulatan kongsi-kongsi Cina di tanah Borneo telah resmi berakhir. Mimpi besar yang dibangun oleh keringat leluhurnya kini terkubur di bawah naungan kekuasaan baru dari negeri yang jauh.

Cerpen: Awan Hitam di Atas Tanah Lumar

Nenek moyang kami di pedalaman Borneo selalu percaya bahwa hutan dan sungai tidak pernah berbohong. Jauh sebelum terompet perang berbunyi dan bunyi dentuman besi memecah heningnya rimba, pepohonan telah meranggas dan angin membawa bau bau kecurigaan.

Dahulu kala, sewaktu Sultan Umar Alamudin masih bertahta di Sambas, kami melihat orang-orang berwajah pucat dan tubuh kurus turun dari kapal asing yang aneh. Mereka bersimpuh di tanah, memohon dengan sangat agar diberi sepetak tempat tinggal di Larah. Orang-orang tua kami di suku Dayak melihat mereka dengan belas kasihan. Kami mengajari mereka cara berdampingan dengan hutan, dan tak jarang gadis-gadis kami dipersunting oleh mereka. Saat itu, mereka tampak seperti tetangga yang taat dan rajin.

Namun, emas mengubah segalanya. Lapisan emas di tanah kami bagaikan sihir hitam yang menghapus rasa terima kasih.

Saya masih ingat betul cerita tentang hari naas saat pesta Tajau. Tetua kami dan warga suku Dayak datang dari dalam hutan dengan hati polos dan gembira untuk ikut merayakan pesta orang-orang Cina tersebut. Kami diajak makan bersama, mendengarkan irama musik, dan diajak melihat rahasia di dalam tepekong. Penjaga-penjaga benteng kami melonggarkan ikatan senjata mereka, terbuai oleh tawa dan keramahan yang ternyata palsu.

Lalu, sebuah pukulan gong terdengar keras dari dalam tepekong.

Suara itu bukanlah tanda kehormatan, melainkan panggilan pembantaian. Dalam sekejap mata, senyum ramah berganti menjadi kilatan senjata tajam. Saudara-saudara kami ditusuk dari belakang saat masih memegang mangkuk minuman. Perempuan dan anak-anak Dayak yang berlari meminta belas kasihan dibantai tanpa ampun. Benteng kami direbut, darah suku kami membasahi tanah Larah, dan sejak hari itu, mereka menanggalkan topengnya. Mereka tidak lagi menjadi tetangga, melainkan penguasa yang tamak.

Bertahun-tahun setelahnya, kami rakyat Dayak hidup dalam penderitaan di bawah tirani kongsi-kongsi tersebut. Kami diperlakukan tak ubahnya hewan pengangkut barang. Raja-raja Melayu pun dibuat tak berdaya; upeti diputus dan hukum mereka diinjak-injak. Ketika bentrok antar-kongsi meletus, hutan kami terbakar dan ladang kami dirusak oleh perang saudara berdarah mereka sendiri.

Hingga akhirnya, bunyi dentuman yang lebih dahsyat terdengar dari arah pesisir Singkawang. Orang-orang kulit putih dari Jawa—pasukan Kompeni Belanda—datang membawa meriam-meriam besar dan kapal beruap.

Dari balik rimbunnya dedaunan di atas bukit, saya dan para pemuda Dayak mengamati pertempuran demi pertempuran yang terjadi di Lumar, Kulor, hingga Montrado. Kami melihat bagaimana pasukan Kompeni merayap di atas tanah liat berawa yang basah, tidur di atas dahan-dahan pohon kerdil saat hujan deras, dan menembakkan mortir ke arah benteng-benteng kongsi. Orang-orang Cina yang dulunya begitu congkik dan kejam kepada kami, kini berlari ketakutan ke dalam hutan atau membakar pasar-pasar mereka sendiri sebelum mundur.

Pada bulan Juni 1854, asap perang di Montrado perlahan menyusut. Dari puncak bukit, kami menyaksikan barisan ratusan prajurit Kompeni berbaris masuk ke jantung kota. Orang-orang yang dahulu membantai leluhur kami di pesta Tajau, kini berbaris mengenakan pakaian putih polos, bersimpuh dan berlutut di atas debu jalanan untuk memohon ampun.

Rakyat Dayak mengamati semua itu dalam diam dari balik pepohonan rimba. Kekuasaan kongsi yang dibangun di atas pengkhianatan akhirnya runtuh, digantikan oleh bayang-bayang penguasa baru dari seberang lautan. Kami mengelus hulu mandau di pinggang, menyadari bahwa meski satu penindas telah tunduk di tanah ini, hutan dan tanah kelahiran kami akan selalu menuntut kami untuk tetap waspada.

Cerpen: Panji-Panji di Atas Lumar

Mentari pagi belum sepenuhnya menerobos pekatnya kabut rawa ketika desingan peluru pertama memecah keheningan di sekitar benteng Lumar. Di balik dinding kayu tebal dan tumpukan tanah yang kokoh, Kapitan A-Lian mengencangkan ikatan kain merah di kepalanya. Di sampingnya, belasan pemuda dengan wajah berjelaga memegang erat lila dan tombak-tombak panjang.

"Mereka mulai bergerak dari arah benteng Singkawang!" seru seorang pengintai yang baru saja melompat turun dari barikade atas. "Empat ratus prajurit Kompeni dipimpin langsung oleh de Stuers! Mereka membawa meriam-meriam besar!"

Gemuruh derap sepatu bot tentara kolonial terdengar makin mendekat, bersahutan dengan bunyi gesekan semak belukar yang basah. Hujan deras yang mengguyur sejak malam tak sedikit pun menyurutkan tekad para pejuang kongsi.

"Kapitan! Pasukan musuh terlalu banyak, dan senjata kita makin berkurang!" jerit Ah-Seng, seorang pemuda penambang emas yang tangannya gemetar memegang senapan tua. "Apakah kita harus mundur ke pedalaman seperti yang dilakukan kongsi lain?"

Kapitan A-Lian menepuk bahu pemuda itu dengan keras, menatap matanya dalam-dalam. "Mundur? Ke mana kita akan mundur, Ah-Seng? Ke dalam rawa-rawa untuk mati kelaparan? Tanah Lumar dan Larah ini adalah rumah kita! Leluhur kita mengolah tanah ini dari hutan beracun menjadi ladang kehidupan. Jika hari ini kita menyerahkan benteng ini tanpa perlawanan, kita merampas masa depan anak-cucu kita sendiri!"

"Tapi meriam dua belas pon mereka akan menghancurkan gerbang ini dalam hitungan menit!" timpal seorang tetua kongsi dengan napas terengah-engah.

Kapitan A-Lian melompat ke atas panggung kayu, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara hingga memantulkan kilatan cahaya pagi.

"Dengar semuanya!" teriak A-Lian, suaranya menggema menembus debuman meriam yang mulai bersahutan. "Kompeni berpikir kita hanya barisan pedagang dan penambang yang bisa ditakut-takuti dengan denda emas dan gertakan perang! Mereka pikir dengan membakar rumah-rumah kongsi, kita akan berlutut memohon belas kasihan! Hari ini, kita tunjukkan kepada de Stuers dan seluruh pasukannya bahwa kehormatan orang-orang Montrado tidak bisa dibeli dengan thail emas!"

"Merdeka atau hancur bersamanya!" teriak para prajurit kongsi serempak, membakar semangat yang tadinya redup.

BOOM!

Dinding bagian timur benteng bergetar hebat dihantam bola besi meriam. Kayu-kayu bertumbangan, menyemburkan debu dan serpihan tajam. Melalui lubang yang menganga, barisan prajurit infanteri kolonial mulai merangsek masuk dengan bayonet terpasang.

"Tahan posisi!" perintah Kapitan A-Lian seraya mengacungkan pedangnya. "Tembak setelah mereka melewati parit!"

"Sekarang! Tembak!" jerit Ah-Seng.

Rentetan tembakan lila dan senapan memenuhi udara. Pertempuran jarak dekat yang sengit tak dapat dihindarkan. Kapitan A-Lian menerjang ke garis depan, memimpin perlawanan dengan keberanian yang membakar dada setiap prajuritnya. Walaupun gempuran meriam terus menghantam dinding-dinding benteng, tak ada satu pun pejuang yang beranjak mundur.

Setiap meter tanah benteng Lumar dipertahankan dengan titisan darah dan jeritan keberanian. Bagi mereka, ini bukan lagi sekadar perang perebutan tambang atau emas, melainkan sebuah pertaruhan harga diri atas tanah tempat mereka telah berakar dan hidup.

Cerpen: Gema di Tanah Montrado

Bau lumpur, bau mesiu, dan bau keringat bercampur pekat di udara pesisir Borneo Barat. Kapitan Tan berdiri di atas bukit kecil yang menghadap ke arah muara Sungai Slakouw, matanya menatap tajam ke arah vegetasi rimbun yang membentang di bawahnya. Jauh di masa lalu, hampir satu abad yang lalu, nenek moyangnya tiba di tanah ini. Saat itu, kapal berbongkah aneh yang mereka tumpangi jatuh jangkar di tepi berpayah Sambas. Dengan tubuh kurus, wajah pucat, dan lutut yang menyentuh tanah, mereka bersimpuh di hadapan Sultan Umar Alamudin, memohon secarik tanah kecil untuk sekadar membangun pondok dan mengadu nasib.

Sultan yang baik hati memberi mereka ruang di Laskar Larah. Berbekal impian akan lapisan emas surgawi yang tersembunyi di dalam perut bumi, orang-orang Kanton dan Hokian itu menggali tanpa kenal lelah. Berita manis tentang kilau emas dengan cepat melintasi lautan, memanggil ribuan rombongan baru. Mereka hidup dalam damai, membayar pajak dengan teratur, dan menikahi gadis-gadis Dayak setempat. Namun, kedamaian itu perlahan terkikis oleh ambisi dan kejayaan yang kian membesar.

Kini, kenangan itu seolah lenyap tergerus zaman. Topeng kesetiaan telah lama ditanggalkan. Perselisihan, perang saudara antar-kongsi, hingga pertumpahan darah pada pesta-pesta adat telah mengubah segalanya. Kongsi-kongsi Cina di Montrado tidak lagi merasa menjadi bawahan; mereka telah tumbuh menjadi kekuatan mandiri yang mengatur hukumnya sendiri, mencetak mata uangnya sendiri, dan menguasai tambang-tambang kaya.

Namun, kapal-kapal bermesin uap dan bersenjata lengkap dari gubernemen Belanda telah merapat. Banner-banner perang Kompeni terkibar. Pertempuran demi pertempuran di Pemangkat dan Singkawang telah membuktikan bahwa tentara kolonial tidak lagi datang untuk berdiplomasi dengan penuh kesabaran, melainkan untuk menegakkan penundukan total.

"Kapitan, pasukan Belanda sudah berhasil menembus rawa-rawa Singkawang!" seru seorang prajurit kongsi dengan napas terengah-engah, memutus lamunan Kapitan Tan. "Mereka berjalan empat hari penuh di atas tanah liat yang digenangi air laut. Pasukan Tirailleur mereka merayap di antara semak belukar, bahkan tidur di atas dahan-dahan pohon kerdil saat hujan deras mengguyur malam. Mereka telah menguasai Kulor!"

Kapitan Tan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Berita mengenai kekalahan di benteng-benteng Kulor adalah pukulan telak. Kapten Nauta dari pihak Belanda telah mengerahkan mortir dan meriam, menyeberangi sungai selebar sepuluh ela di bawah hujan peluru, dan memaksa para pejuang kongsi mundur sambil membakar pasar mereka sendiri hingga menjadi puing-puing berasap.

"Apakah para kepala kongsi masih bermaksud bertahan?" tanya Kapitan Tan, suaranya terdengar berat dan serak.

"Banyak pejuang yang melarikan diri ke pegunungan, Kapitan," jawab prajurit itu dengan waut wajah panik. "Surat ancaman yang kita kirim tanggal 23 Mei lalu—yang menyatakan bahwa kita lebih baik membakar seluruh rumput daripada tunduk—ternyata tidak menghentikan langkah Letnan Kolonel Andresen. Pasukan Belanda terus maju. Di Lohabang, pasukan Mayor de Brabant berhasil memukul mundur serangan balik kita. Sekarang, pasukan besar mereka sedang bergerak langsung menuju Montrado."

Kapitan Tan menghela napas panjang. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar derap langkah ribuan prajurit, dentuman meriam, dan kepulan asap yang makin mendekat. Ia membayangkan 1.700 prajurit infanteri Belanda yang diangkut oleh kapal-kapal perang seperti Celebes, Borneo, dan Onrust, dilengkapi dengan ratusan senjata api, howitzer, dan granat tangan. Kekuatan tempur itu terlalu besar untuk ditahan oleh kongsi yang kini terpecah belah dan kehabisan pasokan.

Ia berjalan memasuki Balai Kongsi Montrado. Di sana, para sesepuh dan tetua kota berkumpul dengan wajah muram. Kertas-kertas perjanjian lama dan pundi-pundi emas tersebar di atas meja, tak lagi memiliki arti di hadapan moncong meriam yang kian merapat.

"Tidak ada lagi tempat untuk berlari," ucap salah seorang tetua dengan suara gemetar. "Gubernemen Belanda telah mengeluarkan pengumuman. Jika kita ingin selamat, kita harus menyerahkan diri dan meminta ampun. Jika kita terus melawan, Montrado akan diratakan dengan tanah, sama seperti yang terjadi di tempat lain."

Seorang tetua lain menimpalinya dengan getir, "Raja-raja Melayu tak lagi bisa melindungi kita, dan kekuatan kita sendiri telah habis dimakan perang saudara dan kepungan tentara Belanda. Apakah kita harus mengorbankan anak dan istri kita demi pride kongsi yang sudah runtuh?"

Ruangan itu hening sejenak. Kapitan Tan menatap bendera kongsi yang tergantung di dinding balai. Dulu, dengan bendera ini mereka merasa menang, menyambut pasukan kolonial dengan musik dan tembakan kegembiraan yang berpura-pura tunduk. Namun kali ini, permainan berpura-pura itu telah mencapai ujungnya. Pilihan yang tersisa hanyalah pemusnahan total atau penyerahan diri secara mutlak.

"Siapkan utusan," kata Kapitan Tan akhirnya, keputusan berat itu terasa mengganjal di tenggorokannya. "Kirim duabelas warga terpenting dari Montrado untuk menemui pihak Belanda. Katakan bahwa orang-orang yang mengobarkan perang telah melarikan diri ke hutan, dan yang tersisa di Montrado hanyalah warga sipil yang menginginkan kedamaian."

Prajurit dan tetua yang mendengar keputusan itu tertunduk, namun ada raut lega di wajah mereka. Nasib telah berputar. Satu abad setelah leluhur mereka tiba sebagai orang-orang yang memohon belas kasihan di hadapan Sultan, kini anak cucu mereka harus kembali berlutut, kali ini di hadapan penguasa baru yang membawa persenjataan modern dari Eropa.

Tanggal 2 Juni 1854, matahari terbit melintasi langit Montrado dengan cahaya keemasan yang redup. Tidak ada dentuman meriam yang menyambut pagi itu. Sebagai gantinya, keheningan yang mencekam menyelimuti jalan-jalan utama kota.

Dari arah Lohabang, barisan panjang pasukan Letnan Kolonel Andresen bergerak masuk dengan langkah tegap. Baju seragam mereka ternoda tanah liat dan air rawa, namun senapan dan bayonet mereka berkilat tertimpa sinar matahari. Di barisan paling depan, tiga puluh tokoh terpenting Montrado berjalan perlahan, mengenakan pakaian putih polos sebagai lambang duka dan penyesalan.

Di sepanjang tepi jalan, ratusan petani, penambang, dan penduduk Montrado bersimpuh di atas tanah. Mereka menundukkan kepala, membiarkan tubuh mereka bersentuhan dengan debu, persis seperti yang disyaratkan dalam perintah penyerahan diri.

Kapitan Tan berdiri di barisan paling depan di antara para tetua yang berlutut. Saat roda meriam dan derap sepatu bot tentara Belanda melintas di hadapannya, ia memejamkan mata. Selama satu setengah jam penuh, pasukan kolonial berbaris melintasi kota tanpa ada satu pun peluru yang dilepaskan. Era kebebasan kongsi-kongsi mandiri di tanah Montrado resmi berakhir, terkubur di bawah bayang-bayang kekuasaan baru yang kini memegang kendali penuh atas bumi Borneo Barat.

Cerpen: Ratapan di Parit Montrado

Kabut tebal menggantung rendah di atas perbukitan Kulor, menudungi duka yang merayap diam-diam di sebuah rumah panggung beratap rumbia. Di dalam pondok kayu yang lapuk itu, bau minyak tanah bercampur dengan aroma tanah basah dan desah napas keputusasaan. Seorang pria bernama A-Chai menatap nanar selembar kertas berstempel merah yang tergeletak di atas meja. Kertas itu bukan sekadar surat pajak biasa, melainkan ancaman terselubung dari sang penyewa—seorang pachter yang bertindak bak raja kecil menggantikan kekuasaan Kongsi Thai Kong yang telah runtuh beberapa tahun lalu.

"Berapa lagi yang dia minta, A-Chai?" suara Mei-Lan, istrinya, memecah kesunyian malam. Perempuan itu sedang memeluk erat anak balitanya yang terbatuk-batuk di sudut tempat tidur.

A-Chai menyapu wajahnya yang kusam dengan telapak tangan yang sarat bekas luka kerja keras. "Satu gulden per bulan. Si penyewa menuntut bayaran atas sepuluh kuli di pertambangan emas kita. Padahal enam kuli sudah kabur minggu lalu karena parit-parit air mengering dan emas tak lagi tampak dari lumpur."

"Tetapi kita tidak punya uang sebesar itu!" jerit Mei-Lan pelan, matanya menyiratkan ketakutan yang mendalam. "Hasil panen padi dari ladang belakang pun belum sempat ditumbuk. Orang-orang Dayak di hulu kemarin datang meminta sewa tanah dalam bentuk natura, sesuai janji kita saat pertama kali membuka hutan ini!"

A-Chai mencengkeram rambutnya dengan rasa frustrasi yang meluap. Ia paham betul betapa tragisnya nasib mereka. Di masa lalu, ketika Kongsi Thai Kong masih memegang kendali, pimpinan kongsi memeras mereka dengan menaikkan beban pajak secara sewenang-wenang setiap kali tambang mereka menunjukkan hasil. Kini, setelah kongsi hancur dan Pemerintah Eropah memberlakukan hukum Staatsblad, nasib para penambang kecil bukannya membaik. Aturan perizinan bertuliskan tinta emas itu hanyalah kedok; di ceruk-ceruk Montrado, hukum tetaplah cambuk pemeras darah di tangan sang penyewa.

"Kalau besok uang sewa dan utang persekot itu tidak dilunasi, si penyewa akan menyita seluruh saluran air dan tempat penyimpanan air milik kita," bisik A-Chai lirih. "Bahkan lahan pertanian ini akan dia serahkan kepada orang lain."

Keokesokan harinya, ketika matahari pagi baru saja membiaskan cahaya suram melalui celah pepohonan, derap langkah kaki berderap menghampiri pelataran. Ah-Kuat, tangan kanan sang penyewa yang dikenal dingin, melangkah maju membawa tiga orang algojo berwajah garang.

"A-Chai!" panggil Ah-Kuat dengan suara keras memecah keheningan pagi. "Bawa keluar emasmu, atau serahkan hak atas saluran air ini!"

A-Chai melangkah keluar dengan tubuh bergetar, diikuti oleh Mei-Lan yang mendekap erat anaknya di dada.

"Tuan Ah-Kuat, kasihanilah kami," pinta A-Chai sambil membungkuk dalam-dalam. "Hujan belum turun berbulan-bulan. Kolam penampungan air kami kering sehingga kami tidak bisa mencuci emas. Biarkan kami mengolah ladang ini dulu. Hasil panen padi nanti akan kami serahkan seluruhnya untuk mencicil utang persekot itu!"

Ah-Kuat tertawa dingin, sebuah tawa kejam yang tak menyentuh matanya. "Hukum atau perjanjian lama, semuanya tak berlaku jika kau menunggak pajak, A-Chai! Kau tidak bayar, maka hakmu atas parit-parit air ini hangus! Penyewa telah memutuskan, seluruh infrastruktur irigasi ini disita dan akan dijual kepada rombongan kuli baru dari Kulor!"

"Tidak bisa begitu, Tuan!" Mei-Lan memotong, matanya menyala oleh keputusasaan. "Saluran air ini digali sendiri oleh suami saya bersama warga kampung! Kami membendung sungai kecil itu dengan keringat kami sendiri! Jika air disita, dengan apa kami menyiram ladang? Bagaimana anak kami bisa makan?"

"Perempuan tidak usah ikut campur!" bentak Ah-Kuat dingin. "Bongkar pematang air itu! Alirkan airnya ke tambang sebelah selatan!"

Para algojo mulai mengayunkan cangkul, menghancurkan bendungan air (airleding) yang dibangun A-Chai dengan susah payah. Melihat hasil keringat dan harapan hidup keluarganya dihancurkan, A-Chai kehilangan akal sehatnya. Dengan jeritan histeris, ia berlari menerjang algojo terdepan.

Namun, keputusasaan tak berdaya di hadapan kekerasan. Seorang algojo mendorong A-Chai dengan sangat keras hingga tubuhnya terlempar. Kepala A-Chai membentur sudut batu padas yang tajam di tepi parit air.

Brak!

Suara benturan keras itu disusul oleh jeritan histeris Mei-Lan. Darah segar menyembur deras dari kepala A-Chai, dengan cepat mengalir merembes masuk ke dalam parit pengairan yang jernih.

Ah-Kuat hanya meludah ke tanah, menatap dingin pada tubuh A-Chai yang terkulai lemas di tepi parit. "Lelaki bodoh. Selalu saja ada yang mati demi sepetak tanah yang bahkan bukan milik mereka." Tanpa sedikit pun rasa iba, Ah-Kuat dan para pengawalnya berjalan pergi meninggalkan perkarangan itu.

Mei-Lan menjatuhkan dirinya ke tanah, memangku kepala suaminya yang kian mendingin. Air matanya menetes panas, bercampur dengan darah A-Chai yang membasahi pangkuannya.

"Mei-Lan..." bisik A-Chai dengan napas yang kian terseok-seok. Tangannya yang gemetar terangkat lambat, menyentuh pipi istrinya. "Bawa anak kita... lari ke perkampungan Dayak di hulu gunung... Jangan pernah... jangan pernah kembali ke tanah pertambangan ini... Tempat ini telah dikutuk..."

Napas terakhir A-Chai berhembus seiring terpejamnya kedua matanya secara perlahan. Di parit pengairan yang tenang, warna merah darah A-Chai perlahan memudar, larut dan terbawa arus air leding menuju tambang-tambang di hilir—menjadi saksi bisu atas takdir tragis para jiwa kecil yang tergilas oleh serakahnya pajak, buruknya sistem hukum kolonial, dan dinginnya rimba Montrado.

Cerpen: Darah di Air Leding

Nama saya A-Chai. Saya hanyalah satu dari ribuan san-khe—orang-orang asing dari daratan Cina yang berlayar mengarungi lautan demi segenggam emas di rimba Montrado. Dahulu, kakek dan ayah saya bertaruh nyawa di bawah panji Kongsi Thai Kong. Mereka membanting tulang melubangi tanah, membendung sungai, dan menggali kim-kheo—parit-parit air—agar emas dapat dicuci dari lumpurnya. Tapi kini, kongsi besar itu telah dihancurkan oleh serdadu-serdadu Eropah, dan hidup kami bukannya membaik, melainkan terperosok ke dalam neraka yang lebih kelam.

Malam itu, dingin Montrado meresap hingga ke tulang. Di atas meja kayu lapuk, temaram lampu minyak menerangi selembar kertas berstempel merah.

"Berapa lagi yang dia minta, A-Chai?" suara Mei-Lan, istri saya, memecah kesunyian. Ia sedang memangku anak kami yang kurus dan terbatuk-batuk.

Saya menatap telapak tangan saya sendiri yang kapalan dan penuh bekas luka. "Satu gulden per bulan. Si pachter—penyewa tambang yang dipasang pemerintah Eropah itu—menuntut pajak atas sepuluh kuli. Padahal enam kuli sudah melarikan diri minggu lalu karena tanah nam kita tak lagi memancarkan kilau emas."

"Tapi kita tidak punya uang sebesar itu!" jerit Mei-Lan dengan suara tertahan. "Hasil panen padi dari ladang belakang juga belum genap ditumbuk. Orang-orang Dayak di hulu kemarin datang meminta bagian sewa tanah dalam bentuk natura, sesuai janji kita saat pertama kali membuka hutan ini!"

Saya mencengkeram rambut saya yang kusam dengan rasa putus asa. "Aku tahu, Mei-Lan! Tapi si penyewa tak mau tahu. Menurut aturan baru Staatsblad, dia bertindak atas nama pemerintah. Kalau besok uang pajak dan tunggakan persekot tidak dilunasi, dia akan menyita seluruh pekerjaan air dan tempat penyimpanan air milik kita! Bahkan tanah ladang ini akan dibeli orang lain!"

Betapa ironisnya nasib kami, bangsa yang memeras keringat di tanah orang. Di zaman kongsi dulu, pimpinan kami memeras pajak dengan sewenang-wenang setiap kali tambang kami menunjukkan hasil. Sekarang, setelah kongsi runtuh, si penyewa yang baru bertindak tak kalah kejamnya. Mereka memanfaatkan utang persekot untuk membelenggu leher kami. Bagi Tuan-Tuan Eropah di kota, aturan di atas kertas nampak adil, tapi di celah-celah gunung Montrado ini, hukum hanyalah cambuk pemeras darah.

Keesokan harinya, ketika kabut tebal masih menyelimuti pepohonan, derap langkah sepatu memecah pagi. Ah-Kuat, sang antek penyewa dari suku kami sendiri, datang membawa tiga algojo berwajah dingin.

"A-Chai!" panggil Ah-Kuat nyaring. "Bawa keluar emasmu, atau serahkan surat tanah ini!"

Saya melangkah keluar dengan tubuh bergetar, sementara Mei-Lan memeluk erat anak kami di ambang pintu.

"Tuan Ah-Kuat, kasihanilah kami sesama saudara," ikrar saya sambil membungkuk rendah. "Hujan tak kunjung turun. Fut-long—danau penampungan air kami kering. Kami tak bisa mencuci emas. Biarkan kami memanen padi dulu. Seluruh hasilnya akan saya serahkan untuk membayar sewa."

Ah-Kuat terkekeh dingin. "Saudara? Di Montrado tak ada saudara jika sudah berurusan dengan pajak! Kau tidak bayar, maka hakmu atas tambang dan seluruh saluran air ini hangus! Penyewa telah memutuskan, parit-parit air ini disita!"

"Tidak bisa begitu, Tuan!" Mei-Lan berlari keluar, matanya menyala. "Saluran air ini digali sendiri oleh suami saya dan orang-orang tua kita! Kami menahan alur sungai dengan darah dan keringat! Kalau air ini disita, bagaimana ladang kami bisa tumbuh? Bagaimana anak kami makan?"

"Perempuan tidak usah ikut campur!" bentak Ah-Kuat. "Air ini akan dialirkan untuk kuli-kuli baru di Kulor!"

Dada saya bergemuruh. Amarah yang terpendam bertahun-tahun membakar kesadaran saya. Saya melihat para algojo mulai mengayunkan cangkul, menghancurkan pematang air (kim-kheo) yang telah saya rawat saban hari.

"Jangan sentuh air itu!" teriak saya histeris.

Tanpa berpikir panjang, saya menerjang algojo terdepan. Namun tubuh saya yang kurus kering karena kurang makan tak berdaya menghadapi kekerasan. Seorang algojo mendorong saya dengan kasar. Tubuh saya terlempar, dan kepala saya menghantam batu padas tajam di tepi parit air.

Krak!

Pemandangan di mata saya mendadak berubah merah. Rasa hangat mengalir deras dari pelipis saya, merembes cepat ke dalam parit air leding yang jernih.

"A-Chai!" jeritan histeris Mei-Lan terdengar jauh, seolah datang dari balik awan.

Saya terbaring tak berdaya. Dalam samar, saya melihat darah saya sendiri melarut di dalam air—air yang selama ini saya gunakan untuk mencuci emas dan menyiram ubi makanan babi kami. Ah-Kuat hanya meludah ke tanah, menatap saya tanpa sedikit pun iba sebelum melangkah pergi membawa serombongan algojonya.

Mei-Lan berlutut di samping saya, memangku kepala saya yang bersimbah darah. Air matanya menetes panas di pipi saya.

"Mei-Lan..." bisik saya dengan sisa napas yang kian sesak. "Bawa anak kita... lari ke perkampungan Dayak di hulu..."

"Tidak, A-Chai! Jangan tinggalkan kami!"

"Pergilah..." ceguk saya, merasakan dingin yang teramat sangat merayapi dada. "Tanah ini... telah dikutuk oleh emas... Jangan biarkan anak kita mati sebagai kuli di parit-parit jahat ini..."

Mata saya pelan-pelan makin memberat. Cahaya matahari pagi di Montrado perlahan padam. Di dalam parit yang mengalir tenang, darah seorang san-khe miskin hanyut terbawa arus—menjadi tumbal bisu dari serakahnya pajak, buruknya hukum kolonial, dan nasib tragis bangsa kami di tanah perantauan.

Cerpen : Kutuk Lumpur Kulor

Malam di Montrado selalu menyimpan sunyi yang berat, seberat lumpur emas yang dikikis para kuli di parit-parit leding. Di dalam sebuah pondok beratap rumbia yang lembap, A-Chai menatap telapak tangannya yang kapalan dan tercemar jelaga. Di atas meja kayu yang lapuk, selembar kertas berstempel merah berpendar suram disinari temaram lampu minyak.

Itu adalah surat dari sang penyewa—seorang pachter yang bertindak bak raja kecil menggantikan kedudukan Kongsi Thai Kong yang dibubarkan beberapa tahun lalu.

"Berapa lagi yang dia minta, A-Chai?" suara Mei-Lan, istrinya, memecah kesunyian. Perempuan itu menyusui bayi mereka yang terbatuk-batuk kecil di sudut pembaringan.

A-Chai mendengus getir, melempar kertas itu ke meja. "Satu gulden per bulan. Dia bilang ini pajak untuk sepuluh orang pekerja di tambang Kulor. Padahal, enam orang sudah kabur minggu lalu karena air sungai mengering dan emas tak lagi tampak."

"Tapi kita tidak punya uang sebesar itu!" jerit Mei-Lan pelan, takut membangkitkan amarah kegelapan malam. "Hasil panen padi di ladang belakang juga belum genap ditumbuk. Orang-orang Dayak di hulu kemarin datang meminta bagian sewa tanah dalam bentuk natura, sesuai janji kita saat pertama kali membuka hutan ini!"

"Aku tahu, Mei-Lan. Aku tahu!" A-Chai mencengkeram rambutnya yang kusam. "Tapi si pachter tidak mau peduli. Dia bilang, kalau besok uang sewa dan tunggakan persekot tidak dilunasi, dia akan menyita seluruh leding dan kolam penyimpanan air kita. Bahkan tanah pertanian ini akan diserahkan kepada orang lain!"

Tragedi itu membayang jelas di mata A-Chai. Dahulu, ketika Kongsi Thai Kong masih berjaya, pimpinan kongsi memeras mereka dengan menaikkan pajak sesuka hati setiap kali tambang mereka mulai menunjukkan hasil. Kini, setelah kongsi runtuh dan Gubernemen Eropah mengambil alih, nasib mereka bukannya membaik. Pemerintah di kota membuat aturan Staatsblad yang berbunga-bunga, tetapi di ceruk Montrado ini, hukum hanyalah cambuk di tangan sang penyewa.

Keesokan harinya, kabut tebal masih menggantung di atas bukit ketika langkah kaki berderap menghampiri pondok A-Chai. Seorang pria berbadan tegap dengan pakaian sutra hitam melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Di belakangnya, berdiri tiga orang algojo berwajah dingin membawa parang panjang. Dia adalah Ah-Kuat, tangan kanan sang penyewa.

"A-Chai!" panggil Ah-Kuat dengan suara nyaring memecah udara pagi. "Bawa keluar emasmu, atau serahkan surat tanah ini!"

A-Chai keluar dengan tubuh gemetar, diikuti Mei-Lan yang memeluk erat anaknya.

"Tuan Ah-Kuat, kasihanilah kami," puji A-Chai sambil membungkuk dalam-dalam. "Hujan belum turun berbulan-bulan. Leding kami kering, kami tidak bisa mendulang emas. Biarkan kami mengolah ladang ini dulu. Hasil panen padi nanti akan kami serahkan seluruhnya untuk mencicil utang persekot itu!"

Ah-Kuat tertawa terkekeh, suara tawa yang tak menyentuh matanya. "Hukum Staatsblad atau aturan kongsi, semuanya sama saja di sini, A-Chai! Kau tidak bayar sewa, maka hakmu atas tambang dan air ini hangus! Mulai hari ini, leding air dan kolam penampungan ini disita!"

"Tidak bisa begitu, Tuan!" Mei-Lan memotong, matanya menyala oleh keputusasaan. "Air leding itu digali sendiri oleh suami saya bersama warga kampung! Kami membendung sungai kecil itu dengan keringat kami sendiri! Kalau air disita, dengan apa kami menyiram ladang? Bagaimana bayi kami bisa hidup?"

"Perempuan tidak usah ikut campur!" bentak Ah-Kuat dingin. "Penyewa telah memutuskan. Leding air ini akan dijual kepada rombongan kuli baru dari Kulor. Kalian, jika ingin tetap tinggal di tanah ini, harus bekerja menjadi kuli gaji harian!"

"Ini tanah yang diizinkan oleh Tua Kampung Dayak kepada kami!" teriak A-Chai, kehilangan kesabarannya. "Kami tidak merugikan siapapun! Kenapa kalian begitu tega memeras orang sesuku sendiri?"

"Hakmu sudah mati sejak kau menunggak pajak, A-Chai!" Ah-Kuat memberi isyarat kepada para algojonya. "Bongkar pematang air itu! Alirkan airnya ke tambang sebelah selatan!"

"Jangan!" jerit A-Chai.

Tanpa berpikir panjang, A-Chai berlari menerjang algojo yang memegang cangkul di dekat parit utama. Namun, nasib buruk telah merantai orang-orang kecil di Montrado. Seorang algojo mendorong A-Chai hingga terjatuh keras ke atas batu padas yang tajam. Kepala A-Chai membentur sudut batu, menyemburkan darah segar yang mengalir cepat masuk ke dalam parit air leding yang jernih.

"A-Chai!" Mei-Lan menjerit histeris, menjatuhkan dirinya ke samping tubuh suaminya yang terkulai.

Darah A-Chai mewarnai alur air yang selama ini dia rawat dengan susah payah. Pria itu memegangi dada suaminya yang bergerak kian lemah, menatap langit Montrado yang terasa begitu asing dan kejam.

Ah-Kuat hanya meludah ke tanah, menatap dingin pada tubuh yang sekarat itu. "Lelaki bodoh. Selalu saja ada yang mati demi sepetak tanah yang bahkan bukan milik mereka."

Tanpa sedikit pun rasa iba, Ah-Kuat dan para pengawalnya berjalan pergi meninggalkan perkarangan itu, melangkah melintasi parit-parit emas yang kini menyerap darah pembukanya.

A-Chai menatap istrinya dengan pandangan yang mulai kabur. Tangannya yang berdarah terangkat lambat, menyentuh pipi Mei-Lan yang basah oleh air mata.

"Pergilah... Mei-Lan..." bisik A-Chai dengan nafas yang terseok-seok. "Bawa anak kita... pergi ke perkampungan Dayak di hulu gunung... Jangan pernah... jangan pernah kembali ke tambang ini... Tempat ini... telah dikutuk oleh emas dan ketakutan..."

"Tidak, A-Chai! Jangan tinggalkan kami!" tangis Mei-Lan pecah, menggema di antara pepohonan rimba Montrado.

Namun, mata A-Chai perlahan terpejam. Nafas terakhirnya berhembus bersama angin pagi yang dingin. Di parit pengairan yang tenang, warna merah darahnya perlahan memudar, larut dan terbawa arus air leding menuju tambang-tambang emas di hilir—menjadi saksi bisu atas tradisi penindasan, hukum yang pincang, dan nasib tragis para jiwa kecil yang tergilas di tanah Montrado.

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...