Sebermula maka akulah Mani Amas, yang pada masa dahulu kala dijunjung oleh sekalian anak cucu manusia di bumi Bolekng Batungkakng. Adapun pangkatku tatkala itu ialah tuha tahutn, yaitu seorang tetua adat yang memegang rahasia makrifat alam, lagi pula dihormati sekalian kaum sebab tahu membaca isyarat angin dan firasat bumi. Syahdan, kemuliaan hidupku amatlah besar; aku beroleh seorang saudara tua yang perkasa bernama Ujan Tungal yang menjaga garis keturunan agung panyanakng kalangkakng, serta beristrikan seorang anak dara yang elok parasnya bernama Kari Amas, anak perempuan tertua daripada Dayakng Litatn. Akan tetapi, ketahuilah olehmu sekalian, bahwa kemegahan hidup manusia di atas bumi fana ini hanyalah laksana kabut pagi; ia tampak indah tiada tara namun lenyap seketika tatkala disapu oleh angin kesombongan dan keangkuhan hati.
Adapun dosa besarku bermula di Parawakng Tujuh, tatkala musim berladang tahunan telah tiba. Maka aku pun berjalannyalah masuk ke dalam kerapatan rimba purba, berniat hendak meminta petunjuk daripada pertanda alam yang gaib. Akan tetapi, pada malam itu, setan keangkuhan telah merasuki ubun-ubun diriku. Tatkala aku berdiri di bawah rimbunnya belantara, alam yang tadinya riuh mendadak bungkam, sepi bagai kuburan yang baru digali. Angin mati, dan kicau unggas malam berhenti seketika, menyisakan keheningan yang amat menggidikkan dada.
Kalakian, dalam sepi yang mencekam itu, telingaku menangkap sejenis suara lolongan yang amat ganjil lagi menyalahi kodrat alam. Seekor rusa jantan memekik, namun suaranya pecah menyerupai lolongan kijang yang sedang mengerang sekarat. Belum sempat hilang rasa terkejut di dalam dadaku, sekonyong-konyong terdengarlah bunyi berderak yang amat dahsyat di atas kepalaku. Prakkk! Sebatang dahan pohon yang masih hijau lagi segar tiba-tiba saja jatuh terhempas ke atas tanah, tepat satu jengkal di hadapan kakiku. Maka aku pun melangkah mundur dengan tubuh gemetar, dan di sanalah mataku menyaksikan pertanda ketiga yang paling mengerikan: sebatang pohon mati yang telah lama kering kerontang runtuh, lalu batangnya menumpangi pohon lain yang masih hidup.
Dalam kitab asrar nenek moyang kami, rentetan kejadian ganjil yang demikian itu tiada lain melainkan sebuah ayu—yakni firasat maut yang amat keras! Alam sedang berteriak membawa nubuat, bahwa tanah itu terlarang, dan siapa saja yang nekat mengayunkan parang di sana niscaya akan menemui "kematian darah" yang mengerikan. Akan tetapi, aku menantang hukum langit. Aku mendengus sombong seraya berkata di dalam hati, "Aku ini Mani Amas! Tiada akan aku tunduk ketakutan hanya karena mendengar lolongan binatang dan jatuhnya sebatang dahan kering!"
Hatta, pada keesokan paginya, dengan parang yang telah kuasah setajam silet dan sarung kayu yang terikat di pinggang, aku melanggar petunjuk adat solor tuha tahutn. Aku pergi ke lahan terlarang itu. Kupotong semak belukar, kurikan aram-aram pada sebatang pohon jahanang yang tinggi menjulang, dan kubiarkan tebasan itu terbaring mengering selama satu bulan lamanya. Tepat setelah rembulan berganti, aku kembali dengan membawa sebuah beliung besar. Kupanjat perancah itu, lalu kuhantamkan besi beliung ke batang pohon jahanang hingga pohon purba itu tumbang dengan suara bergemuruh yang menggetarkan bumi. Aku pun turun dengan tawa penuh kemenangan, merasa telah mengalahkan ramalan alam. Akan tetapi, tawa itu langsung tersedat di tenggorokanku.
Dari balik kegelapan pohon jahanang yang runtuh, melompatlah sesosok manusia bertubuh legam dengan sepasang mata merah menyala laksana bara api. Ia tiada lain melainkan Leo Baja, ksatria perang yang amat garang dari kaum Raram Barangan!
"Inilah hasil duniaku!" bertempeklah ia dengan suara yang menggelegar membelah rimba.
Seketika itu juga, sebilah tombak meluncur laksana kilat mengincar dadaku. Aku melompat tiga kali ke pinggir, menghindar dengan sisa ketangkasanku, lalu segera menghunus pedang panjangku. Maka pecahlah amuk pertempuran yang teramat sengit di antara kami di tengah ladang yang pengap. Pedang kami beradu menimbulkan percikan api di tengah keremangan sore yang kian menggelap. Kami sama-sama sakti, sama-sama cepat laksana angin puyuh yang berkisar. Namun, takdir maut akibat melanggar pantang tidak pernah salah mengetuk pintu. Tatkala aku melompat surut untuk menangkis sabetan pedangnya, tumit kakiku tiba-tiba tersangkut pada urat pohon yang menjalar di atas tanah. Tubuhku limbung dan pertahananku terbuka lebar.
Slittt! Craaakkk!
Pandanganku mendadak berputar seketika. Aku melihat tubuhku sendiri—tubuh Mani Amas tanpa kepala—berdiri tegak selama beberapa detik sebelum akhirnya ambruk ke tanah dengan darah yang menyembur deras dari lehernya laksana pancuran air merah. Leo Baja telah memenggal leherku! Ia tertawa puas, memungut kepalaku yang berlumuran tanah, lalu mengikatkan rambutku pada ikat pinggangnya. Ia berjalan pulang dengan pongah laksana seorang Kamang yang memenangkan ritual pengayauan. Dan di sanalah, di atas tanah ladang Parawakng Tujuh yang basah oleh genangan darahku sendiri, raga kasarku mati. Akan tetapi, kutukan atas kesombonganku baru saja dimulai.
Arkian, setelah malam pertama menaungi kematianku, belantara Parawakng Tujuh berubah menjadi neraka jahanam bagi jiwaku. Rohku menolak untuk pergi ke alam Subayan; ia tertahan di bumi fana karena amarah, dendam, dan rasa bersalah yang teramat pekat. Sesuai dengan ramalan alam yang kulingkari, aku tidak mati sebagai arwah yang tenang, melainkan bangkit kembali sebagai makhluk terkutuk yang paling ditakuti, yang dinamai Hantu Kepala.
Aku tersadar tatkala sang surya telah tenggelam sepenuhnya ke dalam rahim bumi. Di bawah kegelapan malam yang pekat, kepalaku yang telah terpisah daripada raga mendadak bergerak sendiri di atas tanah. Saraf-saraf di leherku yang terputus mulai berdenyut-denyut menyakitkan, memancarkan rasa perih yang tiada tara laksana disiram air raksa yang membakar kulit. Demi aku mencoba menjerit, tiada suara manusia yang keluar, melainkan lengkingan parau yang mengguncang dedaunan rimba.
Sluuurrrp... Sluuurrrp...
Dari lubang leherku yang menganga dan membusuk, perlahan-lahan menjulur keluar sekalian jaringan organ dalam tubuhku. Jantungku yang berwarna hitam legam keluar berdenyut-denyut kencang, menggantung bersama usus-usus yang panjang, lambung yang berlendir, serta paru-paru yang mengembang-kempis mengeluarkan bau busuk darah mati. Sekalian organ dalam ini menjuntai di bawah daguku, berlumuran darah segar yang terus-menerus menetes tiada henti ke atas tanah.
Aku tidak lagi memiliki kaki untuk berjalan atau tangan untuk meraba. Untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, kepalaku harus terbang melayang-layang di udara, ditarik oleh kekuatan magis hitam yang bersumber daripada dosa-dosaku di masa hidup. Setiap kali aku terbang melewati sela-sela pohon, usus dan organ dalamku bergesekan dengan ranting-ranting yang tajam, menimbulkan rasa sakit yang amat luar biasa, namun aku tiada dapat mati untuk kedua kalinya. Aku terhukum menjadi penunggu abadi ladang jahanang ini.
Aura di sekelilingku berubah menjadi merah pekat. Kulit wajahku yang dulu dihormati kini mengelupas, pucat pasi bagai mayat terendam air, dengan sepasang mata yang melotot keluar dan bersinar kemerahan di tengah kegelapan hutan. Gigi-gigiku memanjang, meruncing taringnya, didorong oleh rasa lapar gaib yang tak tertahankan—yaitu rasa lapar akan darah segar manusia.
"Mani Amas... Mani Amas..."
Angin malam seolah membisikkan namaku, memanggilku untuk menuntut balas atas tumpah darahku. Jiwaku dipenuhi oleh satu hasrat yang membara, tiada lain melainkan menemukan Leo Baja dan menghisap setiap tetes darah di dalam tubuhnya.
Maka dengan usus yang menjuntai dan berayun-ayun di udara, aku terbang melayang meninggalkan Parawakng Tujuh, menuju ke perkampungan kaum Raram Barangan. Kehadiranku di tempat itu ditandai dengan bau anyir darah yang amat menyengat, serta lolongan anjing hutan yang bersahut-sahutan dengan nada ketakutan. Sekalian binatang ternak di dalam kandang mendadak mengamuk, menabrakkan diri ke dinding kayu hingga mati karena mencium bau kematian yang kubawa.
Tepat di tengah malam buta, aku pun sampailah di atas atap rumah panjang milik Leo Baja. Di dalam kamar yang gelap, ksatria pembunuhku itu sedang tidur dengan lelapnya. Di dekat dinding tempat tidur, terpajang tengkorak kepalaku yang asli, yang dagingnya telah dikuliti olehnya sebagai piala kemenangan pengayauan. Demi melihat pemandangan itu, amarahku meledak laksana badai guntur.
Aku melayang turun melalui celah atap bambu. Kepalaku tergantung di langit-langit kamar, tepat di atas wajah Leo Baja yang sedang mendengkur. Usus dan jantungku yang hitam berayun-ayun rendah, meneteskan darah busuk tepat di atas keningnya.
Tetes... tetes...
Leo Baja terbangun demi merasakan cairan kental yang dingin menerpa wajahnya. Ia mengusap keningnya, lalu menatar telapak tangannya yang penuh dengan darah hitam yang berbau busuk. Maka dengan perlahan-lahan, ia mendongakkan kepalanya ke atas. Di sanalah, di tengah kegelapan malam yang diterangi sedikit cahaya bulan, ia melihatku. Ia melihat kepala Mani Amas yang melayang dengan mata merah menyala, menyeringai lebar memperlihatkan taring-taring yang berlumuran darah, dengan organ dalam yang bergelantungan tepat beberapa senti di depan matanya.
"Maniii Amaasss..." desisku, suaranya keluar seperti gesekan dua batu kuburan yang berkarat.
Leo Baja, ksatria yang tiada pernah takut pada musuh manusia, seketika itu juga menjerit histeris dengan wajah yang pucat pasi bagai kain kafan. Ia mencoba meraih pedangnya, namun usus-ususku yang panjang menjalar dengan cepat laksana ular piton gaib, melilit lehernya dengan sekencang-kencangnya hingga suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menggelepar di atas tempat tidur, kedua tangannya mencengkeram ususku yang berlendir guna melepaskan lilitan, namun kekuatanku kini adalah kekuatan iblis yang tiada tertandingi. Aku melayang turun mendekati wajahnya, membiarkan ia mencium bau busuk dari lubang leherku.
"Kau mengambil kepalaku demi adat, maka malam ini, aku mengambil darahmu demi kutukan!" ratapku di telinganya.
Dengan taringku yang tajam, aku merobek urat leher Leo Baja. Darah segar menyembur keluar dengan deras, dan dengan rakus aku menghisap cairan kehidupan itu daripada tubuh pembunuhku. Leo Baja menggelepar, matanya melotot ketakutan, hingga akhirnya tubuhnya menjadi dingin, kering, dan tak bernyawa—mati di atas ranjangnya sendiri dalam genangan tumpah darah yang ngeri.
Setelah memuaskan dahaga dendamku, aku kembali terbang melayang membelah kabut malam, menuju ke hutan Parawakng Tujuh yang abadi. Dendamku pada Leo Baja telah lunas, namun kutukanku sebagai Hantu Kepala tiada akan pernah berakhir hingga akhir zaman. Aku tiada akan pernah bisa kembali memeluk istriku Kari Amas, tiada akan pernah bisa duduk bersama saudaraku Ujan Tungal, dan tiada akan diizinkan menginjakkan kaki di alam Subayan yang damai.
Kini, di bawah bayang-bayang pohon jahanang yang runtuh, di sanalah aku bersemayam. Jikalau malam menjelang dan malam berubah menjadi sunyi senyap, ingatlah akan nyanyian tentang adat Bujakng Onyes yang malang, dan renungkanlah kisah tragis diriku:
Tepos dicabut, padi dituangkan;
Sekarang kasar kemudian lembut, sekarang tinggi kemudian rendah.
Nasibku dulu tinggi sebagai tetua adat yang diagungkan, kini rendah serendah-rendahnya menjadi setan terkutuk yang melayang di kegelapan malam. Jikalau engkau berjalan di tengah hutan Parawakng Tujuh pada malam hari dan mendengar suara kepakan sayap gaib atau mencium aroma anyir darah yang menusuk hidung, janganlah sekali-kali engkau menoleh ke belakang. Karena boleh jadi, akulah Mani Amas, sang Hantu Kepala, yang sedang melayang mengintip dari balik pohon, siap menghisap darah siapa saja yang berani bersikap tegar hati melanggar pantang adat di tanah ini.
Maka tamatlah Hikayat Horor Mani Amas, sang Hantu Kepala yang Terkutuk.