Senin, 21 September 2026

Cerpen: Cahaya dari Utara

Nama aku Ratu Sepudak. Di dalam dadaku mengalir darah gagah prajurit Majapahit. Bersama enam perwira lainnya, aku menyeberangi lautan luas hingga akhirnya menjejakkan kaki di tanah Kota Lama ini dan mendirikan sebuah kerajaan. Selama bertahun-tahun, aku bertakhta di bawah naungan ajaran leluhurku, menghormati para dewa, serta memimpin rakyatku dengan hukum Hindu yang kami bimbing dari tanah Jawa. Bagi saya, kejayaan Sambas adalah segalanya.

Namun, takdir Kerajaan Sambas berubah pada suatu hari yang tak terlupakan.

Dari balik gelombang sungai, tampak bahtera megah berlabuh dari Kerajaan Berunai. Dari atas kapal itu, turunlah seorang raja muda bernama Raja Tengah. Ia tidak datang membawa balatentara untuk berperang, melainkan membawa kedamaian. Baginda datang bersama istrinya, Ratu Surya, serta putra mereka yang masih muda, Raden Sulaiman—putra yang lahir tatkala mereka singgah di Kerajaan Tanjung Pura.

Sebagai tuan rumah, aku menyambut Raja Tengah beserta rombongannya di istana. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari sosok Raja Tengah. Ia memeluk agama Islam.

Hari demi hari berlalu, dan aku semakin sering memperhatikan gerak-geriknya. Tutur katanya sangat santun, tegur sapanya halus, dan tata cara pergaulannya begitu memikat hati. Tidak ada keangkuhan dalam dirinya. Perilaku dan pusaka budi pekerti yang ditunjukkan oleh Raja Tengah benar-benar menarik perhatianku.

"Bagaimana mungkin seorang raja memiliki kelembutan hati yang begitu menenangkan?" batinku saat memperhatikan cara baginda berinteraksi dengan para menteri dan rakyatku.

Perlahan namun pasti, keindahan akhlak yang dipancarkan oleh Raja Tengah mulai menyentuh sanubariku. Bukan hanya aku, seluruh kerabat kerajaan dan rakyat Sambas pun ikut terpesona oleh kedamaian ajaran Islam yang dibawanya. Aku melihat bagaimana rakyatku begitu mudah menerima kehadiran mereka. Hati yang dahulu keras bak batu karang, kini luluh oleh hidayah.

Tanpa ada paksaan atau pertumpahan darah, aku bersama seluruh kerabat kerajaan dan rakyat jelata mengambil keputusan besar: kami memeluk agama Islam. Sejak saat itu, Kota Lama bergetar oleh gema doa yang baru.

Tahun demi tahun berlalu, dan aku menyadari bahwa usiaku tak lagi muda. Aku memandangkan pandangan ke masa depan Kerajaan Sambas. Aku melihat dua anak kandungku: Raden Prabu Kencana dan putriku, Mas Ayu Bungsu. Aku memutuskan untuk menikahkan Mas Ayu Bungsu dengan Raden Sulaiman, putra Raja Tengah yang bijaksana. Di sisi lain, keponakanku, Pangeran Perabu Kencana, kupersiapkan untuk melanjutkan takhta.

Ketika hari-hariku di dunia ini mulai mendekati akhir, aku memanggil keponakanku itu. Aku tahu, aturan di tanah Borneo mengatur bahwa raja tidak dipilih langsung oleh pemungutan suara rakyat, melainkan ditetapkan berdasarkan garis keturunan dan kesepakatan para menteri.

"Wahai keponakanku," bisikku pelan sebelum memejamkan mata untuk selamanya. "Jagalah negeri ini dengan asas bahwa raja ada untuk rakyat, dan rakyat ada untuk raja."

Sesudah aku wafat, Pangeran Perabu Kencana pun dinobatkan menjadi Raja Sambas di Kota Lama dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Ia memimpin didampingi saudaranya, Pangeran Aria Mangkurat, sebagai patih, serta menantuku, Raden Sulaiman, sebagai wakil patih.

Dari alam yang tenang ini, aku hanya bisa berharap agar benih kedamaian dan keimanan yang ditinggalkan oleh Raja Tengah di Kota Lama dapat terus terjaga, serta Raden Sulaiman—yang begitu dicintai rakyat—selalu dilindungi dari benih-benih iri dengki yang kelak mengintai kerajaanku.

HIKAYAT RAJA TENGAH DAN RADEN SULAIMAN

Alkisah maka tersebutlah perkataan sebuah negeri yang amat elok parasnya di tanah Borneo, bernama Kota Lama. Adapun pada zaman dahulu kala, tatkala tataran tanah Jawa masih dinaungi panji-panji Majapahit yang mahamulia, berdirilah Kerajaan Sambas. Syahdan, adalah seorang hulubalang perkasa lagi arif bijaksana, Baginda Ratu Sepudak namanya. Baginda merupakan salah seorang daripada tujuh perwira agung Majapahit yang berlayar menyeberangi samudra luas hingga sampai ke tanah Sambas, lalu bertakhta di sana dengan memeluk agama Hindu.

Hatta beberapa lamanya Baginda Ratu Sepudak bertakhta dengan adil dan saksama, maka dengan takdir Allah Subhana Wa Ta’ala, tibalah sebuah bahtera megah dari Tanah Berunai. Adalah bahtera itu dipimpin oleh seorang raja muda yang amat budiman, bertatahkan budi pekerti yang luhur serta paras yang rupawan, bergelar Raja Tengah. Baginda Raja Tengah telah memeluk agama Islam yang suci dan berlayar bersama sanak keluarga serta para pengikutnya yang setia.

Maka tatkala Raja Tengah beserta rombongan menginjakkan kaki di pertiwi Kota Lama, disambutlah mereka dengan penuh karunia oleh Ratu Sepudak. Kalakian, melihat akan tingkah laku, tutur kata yang manis, serta budi bahasa Raja Tengah yang amat santun, tergeraklah hati Ratu Sepudak. Kasih dan kagum meliputi sanubari sang raja tatkala menyaksikan indahnya akhlak yang dipancarkan oleh ajaran Islam melalui gerak-gerik Raja Tengah. Maka tiada berapa lama antaranya, dengan hidayah Tuhan Yang Maha Esa, Ratu Sepudak beserta seluruh pembesar, menteri, hulubalang, dan rakyat jelata Kerajaan Sambas pun bersatu hati menguakkan kegelapan lalu memeluk agama Islam.

Syahdan, sebelum Baginda Raja Tengah sampai di Kota Lama, telah lebih dahulu baginda singgah di Negeri Tanjung Pura, Sukadana, yang tatkala itu dipertuan oleh Giri Kesuma. Di sanalah Raja Tengah mempersunting seorang putri yang cantik jelita, Ratu Surya namanya. Maka daripada perkawinan yang dipenuhi rasa cinta dan kebahagiaan itulah lahir seorang anak laki-laki yang elok parasnya, diberi nama Raden Sulaiman. Raden Sulaiman tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah berani, cerdas, serta amat dikasihi oleh segenap rakyat jelata.

Hatta beberapa jalan masa berlalu, maka dengan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, berpulanglah Ratu Sepudak ke rahmatullah. Maka mengikut adat istiadat yang terpakai di Tanah Borneo pada zaman purbakala, takhta kerajaan tiadalah dipilih oleh rakyat, melainkan turun-temurun mengikut garis keturunan dan persepakatan para menteri serta kerabat di dalam istana. Maka diangkatlah keponakan Ratu Sepudak yang bernama Pangeran Perabu Kencana naik takhta menduduki singgasana Sambas di Kota Lama, dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda.

Adapun baginda Ratu Anom Kesuma Yuda lalu melantik saudaranya, Pangeran Aria Mangkurat, menjadi Patih Kerajaan. Sedangkan Raden Sulaiman, anakanda Raja Tengah yang amat bijaksana itu, diangkat menjadi Wazir Kedua untuk membantu pemerintahan.

Alkisah, pada suatu masa, Baginda Ratu Anom Kesuma Yuda hendak berangkat berlayar melintasi lautan menuju Negeri Johor. Tujuan baginda tiada lain adalah untuk menyerahkan upeti tahunan sebagaimana lazimnya adat perhubungan antarnegeri pada zaman itu. Maka diiringi oleh berton-ton perkakas dan beberapa buah perahu pencalang yang sarat dengan alat persenjataan lengkap, berangkatlah sang raja melaut.

Sepeninggal Ratu Anom Kesuma Yuda berlayar ke tanah Johor, maka istana Kota Lama pun diliputi awan hitam pertikaian. Pangeran Aria Mangkurat rupanya menyimpan rasa dengki dan dengki yang amat sangat di dalam dadanya. Ia tidak dapat menahan rasa iri tatkala melihat betapa Raden Sulaiman amat dijunjung, dikasihi, dan dihormati oleh segenap lapisan rakyat Sambas. Maka Pangeran Aria Mangkurat pun senantiasa mencari jalan dan akal jahat untuk menjatuhkan Raden Sulaiman.

Syahdan, beberapa bulannya Ratu Anom Kesuma Yuda di perantauan, tibalah seputik surat kiriman baginda dari lautan. Maka dibacalah surat tersebut oleh Raden Sulaiman dan Pangeran Aria Mangkurat. Warta di dalam surat itu menyebutkan:

 "Bahwasanya Kami akan segera kembali ke tanah air pada saat bulan purnama raya tiba di Kuala Muara Sungai Sambas Besar. Maka hendaklah segala menteri dan rakyat bersiap sedia menyambut kedatangan Kami dengan segala upacara kebesaran diraja."

Mendengar peritah tersebut, Raden Sulaiman dengan hati yang suci penuh kebhaktian segera bergegas menemui Kiyai Setia Bakti. Bersama-sama, mereka berdua bekerja siang dan malam mengatur segala persiapan, menghias muara, serta menyiapkan perahu-perahu pengiring untuk menyambut junjungan mereka. Sebaliknya, Pangeran Aria Mangkurat dengan angkuh dan sombongnya memalingkan muka, sedikit pun tiada mau mengindahkan atau membantu persiapan tersebut.

Kalakian, tatkala malam bulan purnama raya memancarkan cahayanya yang keemasan di atas permukaan air, Raden Sulaiman bersama Kiyai Setia Bakti telah bersiap di muara Sungai Sambas Besar. Dari jauh, sayup-sayup mata memandang, tampaklah ratusan layar putih milik armada Ratu Anom Kesuma Yuda membentang megah membelah gelombang. Maka Raden Sulaiman pun segera meluncurkan perahu-perahunya, menyongsong baginda dengan sorak-sorai gembira, diiringi bunyi-bunyian gamelan dan genderang yang bergema memenuhi angkasa. Baginda Ratu Anom pun diarak masuk menuju istana dengan segala kemuliaan dan kebesaran raja.

Namun, tatkala perayaan yang megah itu berlangsung di dalam istana, Pangeran Aria Mangkurat tiada muncul memunculkan diri. Hatinya kian terbakar oleh hawa nafsu dan sifat iri dengki melihat pesta penyambutan Raden Sulaiman yang amat gilang-gemilang itu. Dalam amarah yang tiada tertahan lagi, Pangeran Aria Mangkurat lalu mencabut kerisnya dan membunuh Kiyai Setia Bakti, hamba yang setia itu, tanpa rasa kemanusiaan.

Mendengar kematian Kiyai Setia Bakti, Raden Sulaiman amat berduka cita. Ia segera menghadap Ratu Anom Kesuma Yuda untuk memohon keadilan. Namun aduhai, sang raja tiada memberikan tindakan apa pun jua terhadap Pangeran Aria Mangkurat. Maka suasana di istana Kota Lama menjadi amat keruh, tegang, dan penuh dendam, bagaikan retak menunggu belah.

Melihat perselisihan yang kian meruncing dan ancaman perang saudara yang dapat menumpahkan darah rakyat yang tiada berdosa, Raden Sulaiman pun mengambil keputusan yang bijaksana. Katanya di dalam hati, "Tiada guna berbalah sesama saudara yang hanya akan merusakkan negeri." Maka Raden Sulaiman bersama istrinya, Puteri Mas Ayu Bungsu (putri dari Ratu Sepudak), menghadap Ratu Anom Kesuma Yuda untuk memohon izin mengundurkan diri.

Dengan hati yang berat, Raden Sulaiman memboyong keluarganya keluar daripada Kota Lama. Mereka berjalan menelusuri rimba dan sungai hingga sampai ke suatu tempat bernama Bandir. Di sanalah Raden Sulaiman membuka perkampungan baru yang dikelilingi benteng, yang kemudian diberi nama Kota Bangun. Di Kota Bangun itulah lahir putra pertamanya, membawa kegembiraan di tengah masa pengasingan.

Sementara itu, ayahandanya, Baginda Raja Tengah, berlayar menuju Negeri Sarawak di sebelah utara untuk menjemput sanak saudaranya. Namun, setibanya di Sarawak, takdir Allah menentukan jalan lain. Baginda Raja Tengah jatuh sakit yang amat berat hingga akhirnya mangkat di sana. Jenazah raja yang budiman itu lalu dimakamkan dengan penuh penghormatan di tepi Sungai Bedil, yang pada masa kini dikenali sebagai kota Kuching, ibu kota Negeri Sarawak.

Syahdan, meski Raden Sulaiman telah mengalah dan berdiam diri di Kota Bangun, Pangeran Aria Mangkurat tiada berhenti menabur fitnah. Ia meniupkan desas-desus jahat kepada Ratu Anom Kesuma Yuda bahwasanya Raden Sulaiman di Kota Bangun sedang mengumpulkan kekuatan untuk melakukan kudeta dan merebut takhta Kerajaan Sambas. Fitnah itu sengaja diembuskan lantaran rasa dengkinya yang tiada kunjung padam melihat rakyat banyak yang terus-menerus datang dan menaruh kasih sayang kepada Raden Sulaiman.

Demikianlah kisah ketabahan, kearifan, dan budi pekerti Raden Sulaiman beserta keluarga diraja, yang senantiasa mengutamakan kedamaian dan keselamatan rakyatnya di atas kepentingan takhta dan kekuasaan. Maka tamatlah hikayat ini.

HIKAYAT TAN UNGGAL: PERI KISAH PUTRA BULUH YANG DEWIK-TERKUTUK DAN RAJA ZALIM DI NEGERI SAMBAS

Alkisah Pelayaran Ratu Muda ke Pulau Kabung

Sebermula maka tersebutlah suatu perkataan kisah kelanjutan silsilah raja-raja di tanah Sambas. Adapun raja pertama yang mendirikan tapak keteguhan kerajaan ini dengan berdaulat penuh—tanpa menggunakan gelar sultan—ialah seorang raja budiman bernama Ratu Muda. Syahdan, Kerajaan Sambas pada masa itu amatlah aman dan sentosa, segala rakyat hidup berkecukupan di bawah naungan keadilan baginda.
Hatta, maka pada tahun sekitar 1296 Masehi, pada suatu hari yang amat baik ketikanya, Ratu Muda pun berencana hendak pergi berlayar guna pesiar (bersenang-senang) bersama segenap keluarga kerajaan dan para hulu balangnya. Maka bertolaklah armada perahu baginda menyusuri ombak laut, berlayar menuju ke arah sebelah timur, hingga sampailah mereka ke sebuah pulau yang indah bernama Pulau Kabung—yaitu sebuah pulau yang terletak di dalam wilayah Kecamatan Sungai Raya sekarang ini.
Maka demi mendaratlah perahu baginda di tepi pantai Pulau Kabung yang sepi itu, sekalian keluarga kerajaan pun turun beristirahat di bawah rumbunnya pohon-pohon kelapa. Kalakian, tatkala hari menjelang tengah hari, berserulah permaisuri dan keluarga raja kepada para pengawal, meminta apalah kiranya dicarikan rebung buluh muda (pucuk bambu yang masih muda) di dalam hutan pulau tersebut, untuk diolah menjadi hidangan sayur santapan raja.
Maka pergilah beberapa orang pengawal masuk ke dalam kerapatan hutan bambu. Demi mereka melihat sebatang pohon buluh yang amat subur, bersiaplah seorang pengawal seraya mengayunkan parangnya hendak menebang rebung muda tersebut. Akan tetapi, sekonyong-konyong terhentilah tangan pengawal itu demi mendengar suatu keanehan yang teramat besar. Dari dalam salah satu ruas bambu yang hendak dipotong itu, terdengarlah suara tangisan seorang anak kecil, bersambung dengan sebuah teriakan ganjil yang meminta dengan sangat agar ia segera diambil dan diselamatkan.
Maka gemparlah sekalian pengawal itu, lalu dengan perlahan-lahan dipotongnyalah ruas bambu tersebut dengan penuh rasa takjub. Maka ruas bambu yang ajaib itu pun segera dibawa menghadap ke hadapan Ratu Muda di tepi pantai. Demi Ratu Muda membelah ruas bambu itu dengan tangannya sendiri, alangkah terperanjatnya sekalian orang yang hadir di tempat itu. Maka dari dalam ruas bambu yang pecah, muncullah seorang anak bayi laki-laki yang amat mungil, bertubuh tegap, perkasa rupa parasnya, dan yang paling membingungkan akal ialah anak bayi itu uniknya telah memiliki satu buah gigi yang tumbuh di rahangnya.
Maka demi melihat keelokan dan keajaiban anak bayi tersebut, bertumpahlah rasa kasih sayang Ratu Muda. Maka anak bayi itu pun diangkatnya menjadi anak angkat kerajaan, lalu diberi nama akan dia Tan Unggal.
Syahdan, waktu pun terus berjalan laksana air Sungai Sambas yang mengalir tiada henti. Tan Unggal kian hari kian tumbuh menjadi besar, tegap badannya, lagi tiada bertanding kegagahannya di antara sekalian pemuda di kerajaan. Akan tetapi, konon menurut cerita orang tua-tua yang memegang rahasia makrifat zaman, Tan Unggal itu sesungguhnya bukanlah manusia biasa. Ia adalah sesosok dewa dari khayangan yang beroleh murka, lalu dijatuhkan hukuman berupa kutukan oleh penguasa langit, hingga menjelmalah ia menjadi setitik embun murni yang jatuh ke bumi, lalu masuk ke dalam ruas bambu hingga dilahirkan sebagai manusia fana.
Hatta, demi Tan Unggal telah meningkat dewasa, mulailah watak kedewaan yang terkutuk itu muncul di dalam jiwanya. Ia memiliki sifat yang teramat angkuh, sombong, lagi besar ambisinya untuk menguasai takhta Kerajaan Sambas. Tiada lagi ia menaruh rasa hormat kepada ayah angkatnya, Ratu Muda. Maka pada suatu hari, dengan tegar hati dan pongahnya, Tan Unggal tegak berdiri di hadapan rakyat seraya menuntut dengan paksa agar segenap isi negeri mengakui dirinya sebagai raja yang sah menggantikan Ratu Muda.
Maka demi melihat ketegaran hati anak angkatnya yang penuh ambisi itu, serta demi melihat rasa ketakutan yang mula menjalar di hati rakyat Sambas, Ratu Muda pun dirundung duka yang teramat dalam. Baginda yang bijaksana itu berpikir, jikalau ia mempertahankan takhtanya, niscaya akan pecah perang saudara yang dapat memusnahkan ketenteraman negeri. Maka demi menjaga keselamatan dan kemaslahatan segenap penduduk yang dicintainya, Ratu Muda mengambil keputusan yang amat mulia: baginda memilih untuk pergi mengasingkan diri, raib meninggalkan lingkungan istana demi menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan di lingkungan kerajaan.
Arkian, setelah perginya Ratu Muda, maka naiklah Tan Unggal ke atas singgasana, berdaulat penuh menjadi Raja Sambas yang baru. Maka sejak hari pertama ia memegang tampuk kekuasaan, berubahlah Negeri Sambas yang tadinya aman sentosa menjadi sebuah negeri yang penuh dengan ratap dan tangis kemalangan. Tan Unggal memerintah dengan tangan besi; perbuatannya teramat kejam, bengis, lagi tiada menaruh rasa belas kasihan sedikit jua pun kepada rakyat jelata.
Jauh daripada itu, Tan Unggal juga memiliki sifat yang teramat serakah lagi ditunggangi oleh hawa nafsu duniawi yang tiada berujung. Ia mengambil perempuan di sana kemari untuk dijadikan istrinya, hingga selirnya tiada terhitung lagi banyaknya. Maka akibat keserakahan dan kelakuan sang raja yang laksana serigala kelaparan itu, timbullah ketakutan yang teramat sangat di dalam hati segenap orang tua di Negeri Sambas.
Banyak anak gadis dan perawan yang ketakutan, tiada lagi berani melangkahkan kaki keluar dari ambang pintu rumah mereka. Segenap orang tua yang memiliki anak gadis yang elok parasnya segera membuat tempat-tempat rahasia di dalam kolong rumah atau di dalam kerapatan hutan untuk menyembunyikan anak-anak mereka. Mereka senantiasa diliputi rasa cemas dan ketakutan yang teramat sangat, kalau-kalau anak gadis mereka yang suci diambil paksa begitu saja di tengah jalan oleh para hulu balang Tan Unggal demi memuaskan nafsu sang raja yang zalim. Rakyat menjerit ke langit malam, meratapi nasib negeri yang kini dikuasai oleh putra buluh titisan dewa terkutuk itu.
Maka tamatlah Hikayat Tan Unggal.

HIKAYAT RATU MESTIKA BINTANG:

Sebermula maka tersebutlah suatu perkataan kisah zaman purba kala, zaman kuno tatkala bumi Kalimantan Barat belum seramai dan semegah masa hari ini. Adapun pada masa ratusan tahun yang lampau, wilayah yang kini dinamai Kota Sambas—yang menjadi ibu kota kecamatan dan kabupaten—syahdan belumlah ada berdiri rumah-rumah yang indah atau pasar yang ramai. Maka pada zaman itu, kawasan tersebut tiada lain melainkan hanyalah sebuah hutan rimba belantara yang teramat lebat, gelap, lagi diliputi oleh pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi ke angkasa.

Hatta, maka di dalam kerapatan rimba belantara yang sunyi itu, konon menurut cerita orang tua-tua, hiduplah sesosok makhluk halus yang teramat sakti lagi gaib bernama Mestika Bintang. Adapun makhluk halus yang mendiami rimba Sambas itu tiada lain melainkan berasal daripada golongan yang disebut oleh manusia di bumi sebagai "orang kebenaran", yaitu kaum mahluk halus purba yang bersemayam di alam dimensi yang tak kasat mata, namun sesekali menampakkan diri kepada manusia yang berhati bersih.

Kalakian, maka bermula riwayat asal-usul raja-raja Sambas, yaitu pada tahun sekitar 1291 Masehi. Pada waktu itu, berdiri sebuah kerajaan besar yang berdaulat penuh atas tanah Sambas. Jauh sebelum berdirinya kerajaan yang dipimpin oleh raja-raja melayu tersebut, segenap rakyat dan penduduk yang mendiami wilayah itu masih menganut agama kuno nenek moyang mereka, yaitu animisme dan Hinduisme. Kerajaan Sambas pada masa itu tergolong amat luas wilayah kekuasaannya, membentang dari pesisir pantai hingga ke pedalaman gunung-gunung purba.

Maka pada suatu hari, tatkala sang surya sedang memancarkan sinarnya yang teramat terik di atas langit Sambas Besar, sekonyong-konyong alam yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi gempar. Udara bergetar dengan suara bergemuruh yang amat dahsyat, laksana runtuhnya tiang-tiang langit. Dari celah awan-awan hitam yang mendadak menggumpal, jatuhlah sebuah benda ganjil yang memancarkan cahaya berkilau-kilauan, membelah angkasa dengan kecepatan yang amat luar biasa. Maka benda ganjil yang bercahaya laksana bintang jatuh itu terhempas tepat di atas puncak Gunung Semujuh, sebuah gunung yang berdiri dengan megahnya di dalam kawasan Sungai Sambas Besar.

Hatta, demi mendengar kabar tentang jatuhnya benda ganjil itu, maka Raja Sambas yang berkuasa pada masa itu segera berangkat memimpin para pengawal dan hulu balangnya naik ke puncak Gunung Semujuh. Demi sampai di sana, maka terperanjatlah sang raja melihat sebuah barang yang teramat indah, berkilau memancarkan cahaya redup keemasan di tengah kegelapan batu gunung. Maka dipungutlah benda ganjil itu oleh sang raja dengan penuh rasa takjub. Karena elok rupanya dan bersinar laksana bintang di langit malam, maka Raja Sambas memberi nama bagi benda ganjil itu dengan nama Ratu Mestika Bintang.

Sejak hari itu, barang ganjil tersebut dirawat dengan sekukuh-kukuhatnya di dalam lingkungan istana kerajaan. Keberadaan Ratu Mestika Bintang membawa khasiat spiritual yang amat besar bagi kelangsungan negeri, sehingga kabarnya terdengar melintasi lautan luas hingga sampai ke telinga para penguasa di tanah Jawa.

Arkian, maka keindahan dan kesaktian Ratu Mestika Bintang itu mula melahirkan rasa dengki dan ketamakan di hati para penguasa luar. Maka tersebutlah riwayat peri keturunan Kertarajasa Jaya Wardhana yang bertakhta di tampuk kemegahan Kerajaan Majapahit. Demi didengar oleh mereka akan perihal barang ganjil yang jatuh dari langit di tanah Sambas itu, maka timbullah ambisi yang teramat besar di dalam dada keturunan Majapahit untuk merebut dan memilikinya secara paksa.

Maka dikirimkanlah armada perang dan para ksatria pilihan dari tanah Jawa menyeberangi lautan luas, menuju ke tanah Kalimantan Barat demi memperebutkan pusaka Ratu Mestika Bintang. Maka pecahlah huru-hara dan perselisihan yang hebat di antara kedua belah pihak. Istana Sambas dikepung oleh kekuatan besar yang hendak mengambil barang ganjil tersebut.

Hatta, demi melihat keserakahan manusia yang tiada berujung dan peperangan yang dapat menumpahkan darah rakyat jelata, Ratu Mestika Bintang yang memiliki jiwa spiritual yang suci itu pun merasa murka lagi berduka. Ia tiada rela jika dirinya dijadikan alat pemuas nafsu kekuasaan bagi raja-raja fana di atas bumi.

Maka pada suatu malam yang buta, tatkala peperangan sedang mencapai puncaknya, sekonyong-konyong pancaran cahaya berkilau-kilauan membubung tinggi dari dalam kotak tempat penyimpanan pusaka tersebut. Cahaya itu menerangi seluruh penjuru istana laksana fajar yang menyingsing di tengah malam. Demi didatangi oleh sang raja dan para pengawal, alangkah terkejutnya mereka karena kotak tersebut telah kosong melompong.

Ratu Mestika Bintang telah menghilang alias raib secara misterius bersama dengan benda mestikanya yang suci. Kehilangannya yang sedemikian itu terjadi dengan sekilas mata, tiada meninggalkan jejak sedikit jua pun bagi para manusia yang mengejarnya. Keturunan Majapahit yang datang memperebutkannya pun terpaksa pulang dengan tangan hampa, menelan kekecewaan yang teramat dalam karena pusaka langit itu telah menolak untuk dimiliki oleh keserakahan mereka.

Maka setelah raibnya Ratu Mestika Bintang dari dunia nyata manusia, ia tiada benar-benar musnah dari alam semesta. Dengan kekuatan gaib yang dimilikinya, Ratu Mestika Bintang beralih dimensi menembus tirai alam halus, lalu melayang pergi menuju ke sebuah daerah pedalaman di ujung utara yang kini dinamai daerah Paloh.

Di tanah Paloh yang dipenuhi hutan belantara dan rawa-rawa purba itulah, Ratu Mestika Bintang menetap dan mendirikan sebuah kerajaan baru di alam dimensi gaib. Karena ia adalah titisan suci dari langit yang membawa kebijaksanaan, maka sekalian kaum makhluk halus dan "orang kebenaran" yang mendiami wilayah tersebut tunduk dan patuh kepadanya. Maka diangkatlah Ratu Mestika Bintang menjadi pendiri, raja, sekaligus kepala atau penghulu bagi sekalian orang-orang halus di daerah Paloh hingga pada masa hari ini.

Maka sejak peristiwa raibnya Ratu Mestika Bintang itu, pusat pemerintahan raja-raja Sambas kuno pun mulai berpindah-pindah demi menjaga keselamatan negeri, mulai dari Kota Lama, Kota Bandir, hingga ke Balai Pinang, sebelum akhirnya dibangun keraton Sambas yang megah. Namun bagi rakyat Sambas, kisah Ratu Mestika Bintang tetap abadi menjadi sebuah legenda suci. Tiap-tiap kali orang berjalan melewati daerah Paloh dan merasakan hembusan angin yang ganjil lagi berbau harum, mereka percaya bahwa Ratu Mestika Bintang bersama kaum orang kebenaran sedang mengawasi tanah Sambas dari balik tirai dunia gaib dengan penuh kedamaian.

Maka tamatlah Hikayat Ratu Mestika Bintang.

------------------------------

HIKAYAT HANTU KEPALA MANI AMAS: RATAP ARWAH YANG TERKUTUK DI TANAH PARAWAKNG TUJUH

Sebermula maka akulah Mani Amas, yang pada masa dahulu kala dijunjung oleh sekalian anak cucu manusia di bumi Bolekng Batungkakng. Adapun pangkatku tatkala itu ialah tuha tahutn, yaitu seorang tetua adat yang memegang rahasia makrifat alam, lagi pula dihormati sekalian kaum sebab tahu membaca isyarat angin dan firasat bumi. Syahdan, kemuliaan hidupku amatlah besar; aku beroleh seorang saudara tua yang perkasa bernama Ujan Tungal yang menjaga garis keturunan agung panyanakng kalangkakng, serta beristrikan seorang anak dara yang elok parasnya bernama Kari Amas, anak perempuan tertua daripada Dayakng Litatn. Akan tetapi, ketahuilah olehmu sekalian, bahwa kemegahan hidup manusia di atas bumi fana ini hanyalah laksana kabut pagi; ia tampak indah tiada tara namun lenyap seketika tatkala disapu oleh angin kesombongan dan keangkuhan hati.

Adapun dosa besarku bermula di Parawakng Tujuh, tatkala musim berladang tahunan telah tiba. Maka aku pun berjalannyalah masuk ke dalam kerapatan rimba purba, berniat hendak meminta petunjuk daripada pertanda alam yang gaib. Akan tetapi, pada malam itu, setan keangkuhan telah merasuki ubun-ubun diriku. Tatkala aku berdiri di bawah rimbunnya belantara, alam yang tadinya riuh mendadak bungkam, sepi bagai kuburan yang baru digali. Angin mati, dan kicau unggas malam berhenti seketika, menyisakan keheningan yang amat menggidikkan dada.

Kalakian, dalam sepi yang mencekam itu, telingaku menangkap sejenis suara lolongan yang amat ganjil lagi menyalahi kodrat alam. Seekor rusa jantan memekik, namun suaranya pecah menyerupai lolongan kijang yang sedang mengerang sekarat. Belum sempat hilang rasa terkejut di dalam dadaku, sekonyong-konyong terdengarlah bunyi berderak yang amat dahsyat di atas kepalaku. Prakkk! Sebatang dahan pohon yang masih hijau lagi segar tiba-tiba saja jatuh terhempas ke atas tanah, tepat satu jengkal di hadapan kakiku. Maka aku pun melangkah mundur dengan tubuh gemetar, dan di sanalah mataku menyaksikan pertanda ketiga yang paling mengerikan: sebatang pohon mati yang telah lama kering kerontang runtuh, lalu batangnya menumpangi pohon lain yang masih hidup.

Dalam kitab asrar nenek moyang kami, rentetan kejadian ganjil yang demikian itu tiada lain melainkan sebuah ayu—yakni firasat maut yang amat keras! Alam sedang berteriak membawa nubuat, bahwa tanah itu terlarang, dan siapa saja yang nekat mengayunkan parang di sana niscaya akan menemui "kematian darah" yang mengerikan. Akan tetapi, aku menantang hukum langit. Aku mendengus sombong seraya berkata di dalam hati, "Aku ini Mani Amas! Tiada akan aku tunduk ketakutan hanya karena mendengar lolongan binatang dan jatuhnya sebatang dahan kering!"

Hatta, pada keesokan paginya, dengan parang yang telah kuasah setajam silet dan sarung kayu yang terikat di pinggang, aku melanggar petunjuk adat solor tuha tahutn. Aku pergi ke lahan terlarang itu. Kupotong semak belukar, kurikan aram-aram pada sebatang pohon jahanang yang tinggi menjulang, dan kubiarkan tebasan itu terbaring mengering selama satu bulan lamanya. Tepat setelah rembulan berganti, aku kembali dengan membawa sebuah beliung besar. Kupanjat perancah itu, lalu kuhantamkan besi beliung ke batang pohon jahanang hingga pohon purba itu tumbang dengan suara bergemuruh yang menggetarkan bumi. Aku pun turun dengan tawa penuh kemenangan, merasa telah mengalahkan ramalan alam. Akan tetapi, tawa itu langsung tersedat di tenggorokanku.

Dari balik kegelapan pohon jahanang yang runtuh, melompatlah sesosok manusia bertubuh legam dengan sepasang mata merah menyala laksana bara api. Ia tiada lain melainkan Leo Baja, ksatria perang yang amat garang dari kaum Raram Barangan!

"Inilah hasil duniaku!" bertempeklah ia dengan suara yang menggelegar membelah rimba.

Seketika itu juga, sebilah tombak meluncur laksana kilat mengincar dadaku. Aku melompat tiga kali ke pinggir, menghindar dengan sisa ketangkasanku, lalu segera menghunus pedang panjangku. Maka pecahlah amuk pertempuran yang teramat sengit di antara kami di tengah ladang yang pengap. Pedang kami beradu menimbulkan percikan api di tengah keremangan sore yang kian menggelap. Kami sama-sama sakti, sama-sama cepat laksana angin puyuh yang berkisar. Namun, takdir maut akibat melanggar pantang tidak pernah salah mengetuk pintu. Tatkala aku melompat surut untuk menangkis sabetan pedangnya, tumit kakiku tiba-tiba tersangkut pada urat pohon yang menjalar di atas tanah. Tubuhku limbung dan pertahananku terbuka lebar.

Slittt! Craaakkk!

Pandanganku mendadak berputar seketika. Aku melihat tubuhku sendiri—tubuh Mani Amas tanpa kepala—berdiri tegak selama beberapa detik sebelum akhirnya ambruk ke tanah dengan darah yang menyembur deras dari lehernya laksana pancuran air merah. Leo Baja telah memenggal leherku! Ia tertawa puas, memungut kepalaku yang berlumuran tanah, lalu mengikatkan rambutku pada ikat pinggangnya. Ia berjalan pulang dengan pongah laksana seorang Kamang yang memenangkan ritual pengayauan. Dan di sanalah, di atas tanah ladang Parawakng Tujuh yang basah oleh genangan darahku sendiri, raga kasarku mati. Akan tetapi, kutukan atas kesombonganku baru saja dimulai.

Arkian, setelah malam pertama menaungi kematianku, belantara Parawakng Tujuh berubah menjadi neraka jahanam bagi jiwaku. Rohku menolak untuk pergi ke alam Subayan; ia tertahan di bumi fana karena amarah, dendam, dan rasa bersalah yang teramat pekat. Sesuai dengan ramalan alam yang kulingkari, aku tidak mati sebagai arwah yang tenang, melainkan bangkit kembali sebagai makhluk terkutuk yang paling ditakuti, yang dinamai Hantu Kepala.

Aku tersadar tatkala sang surya telah tenggelam sepenuhnya ke dalam rahim bumi. Di bawah kegelapan malam yang pekat, kepalaku yang telah terpisah daripada raga mendadak bergerak sendiri di atas tanah. Saraf-saraf di leherku yang terputus mulai berdenyut-denyut menyakitkan, memancarkan rasa perih yang tiada tara laksana disiram air raksa yang membakar kulit. Demi aku mencoba menjerit, tiada suara manusia yang keluar, melainkan lengkingan parau yang mengguncang dedaunan rimba.

Sluuurrrp... Sluuurrrp...

Dari lubang leherku yang menganga dan membusuk, perlahan-lahan menjulur keluar sekalian jaringan organ dalam tubuhku. Jantungku yang berwarna hitam legam keluar berdenyut-denyut kencang, menggantung bersama usus-usus yang panjang, lambung yang berlendir, serta paru-paru yang mengembang-kempis mengeluarkan bau busuk darah mati. Sekalian organ dalam ini menjuntai di bawah daguku, berlumuran darah segar yang terus-menerus menetes tiada henti ke atas tanah.

Aku tidak lagi memiliki kaki untuk berjalan atau tangan untuk meraba. Untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, kepalaku harus terbang melayang-layang di udara, ditarik oleh kekuatan magis hitam yang bersumber daripada dosa-dosaku di masa hidup. Setiap kali aku terbang melewati sela-sela pohon, usus dan organ dalamku bergesekan dengan ranting-ranting yang tajam, menimbulkan rasa sakit yang amat luar biasa, namun aku tiada dapat mati untuk kedua kalinya. Aku terhukum menjadi penunggu abadi ladang jahanang ini.

Aura di sekelilingku berubah menjadi merah pekat. Kulit wajahku yang dulu dihormati kini mengelupas, pucat pasi bagai mayat terendam air, dengan sepasang mata yang melotot keluar dan bersinar kemerahan di tengah kegelapan hutan. Gigi-gigiku memanjang, meruncing taringnya, didorong oleh rasa lapar gaib yang tak tertahankan—yaitu rasa lapar akan darah segar manusia.

"Mani Amas... Mani Amas..."

Angin malam seolah membisikkan namaku, memanggilku untuk menuntut balas atas tumpah darahku. Jiwaku dipenuhi oleh satu hasrat yang membara, tiada lain melainkan menemukan Leo Baja dan menghisap setiap tetes darah di dalam tubuhnya.

Maka dengan usus yang menjuntai dan berayun-ayun di udara, aku terbang melayang meninggalkan Parawakng Tujuh, menuju ke perkampungan kaum Raram Barangan. Kehadiranku di tempat itu ditandai dengan bau anyir darah yang amat menyengat, serta lolongan anjing hutan yang bersahut-sahutan dengan nada ketakutan. Sekalian binatang ternak di dalam kandang mendadak mengamuk, menabrakkan diri ke dinding kayu hingga mati karena mencium bau kematian yang kubawa.

Tepat di tengah malam buta, aku pun sampailah di atas atap rumah panjang milik Leo Baja. Di dalam kamar yang gelap, ksatria pembunuhku itu sedang tidur dengan lelapnya. Di dekat dinding tempat tidur, terpajang tengkorak kepalaku yang asli, yang dagingnya telah dikuliti olehnya sebagai piala kemenangan pengayauan. Demi melihat pemandangan itu, amarahku meledak laksana badai guntur.

Aku melayang turun melalui celah atap bambu. Kepalaku tergantung di langit-langit kamar, tepat di atas wajah Leo Baja yang sedang mendengkur. Usus dan jantungku yang hitam berayun-ayun rendah, meneteskan darah busuk tepat di atas keningnya.

Tetes... tetes...

Leo Baja terbangun demi merasakan cairan kental yang dingin menerpa wajahnya. Ia mengusap keningnya, lalu menatar telapak tangannya yang penuh dengan darah hitam yang berbau busuk. Maka dengan perlahan-lahan, ia mendongakkan kepalanya ke atas. Di sanalah, di tengah kegelapan malam yang diterangi sedikit cahaya bulan, ia melihatku. Ia melihat kepala Mani Amas yang melayang dengan mata merah menyala, menyeringai lebar memperlihatkan taring-taring yang berlumuran darah, dengan organ dalam yang bergelantungan tepat beberapa senti di depan matanya.

"Maniii Amaasss..." desisku, suaranya keluar seperti gesekan dua batu kuburan yang berkarat.

Leo Baja, ksatria yang tiada pernah takut pada musuh manusia, seketika itu juga menjerit histeris dengan wajah yang pucat pasi bagai kain kafan. Ia mencoba meraih pedangnya, namun usus-ususku yang panjang menjalar dengan cepat laksana ular piton gaib, melilit lehernya dengan sekencang-kencangnya hingga suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menggelepar di atas tempat tidur, kedua tangannya mencengkeram ususku yang berlendir guna melepaskan lilitan, namun kekuatanku kini adalah kekuatan iblis yang tiada tertandingi. Aku melayang turun mendekati wajahnya, membiarkan ia mencium bau busuk dari lubang leherku.

"Kau mengambil kepalaku demi adat, maka malam ini, aku mengambil darahmu demi kutukan!" ratapku di telinganya.

Dengan taringku yang tajam, aku merobek urat leher Leo Baja. Darah segar menyembur keluar dengan deras, dan dengan rakus aku menghisap cairan kehidupan itu daripada tubuh pembunuhku. Leo Baja menggelepar, matanya melotot ketakutan, hingga akhirnya tubuhnya menjadi dingin, kering, dan tak bernyawa—mati di atas ranjangnya sendiri dalam genangan tumpah darah yang ngeri.

Setelah memuaskan dahaga dendamku, aku kembali terbang melayang membelah kabut malam, menuju ke hutan Parawakng Tujuh yang abadi. Dendamku pada Leo Baja telah lunas, namun kutukanku sebagai Hantu Kepala tiada akan pernah berakhir hingga akhir zaman. Aku tiada akan pernah bisa kembali memeluk istriku Kari Amas, tiada akan pernah bisa duduk bersama saudaraku Ujan Tungal, dan tiada akan diizinkan menginjakkan kaki di alam Subayan yang damai.

Kini, di bawah bayang-bayang pohon jahanang yang runtuh, di sanalah aku bersemayam. Jikalau malam menjelang dan malam berubah menjadi sunyi senyap, ingatlah akan nyanyian tentang adat Bujakng Onyes yang malang, dan renungkanlah kisah tragis diriku:

Tepos dicabut, padi dituangkan;

Sekarang kasar kemudian lembut, sekarang tinggi kemudian rendah.

Nasibku dulu tinggi sebagai tetua adat yang diagungkan, kini rendah serendah-rendahnya menjadi setan terkutuk yang melayang di kegelapan malam. Jikalau engkau berjalan di tengah hutan Parawakng Tujuh pada malam hari dan mendengar suara kepakan sayap gaib atau mencium aroma anyir darah yang menusuk hidung, janganlah sekali-kali engkau menoleh ke belakang. Karena boleh jadi, akulah Mani Amas, sang Hantu Kepala, yang sedang melayang mengintip dari balik pohon, siap menghisap darah siapa saja yang berani bersikap tegar hati melanggar pantang adat di tanah ini.

Maka tamatlah Hikayat Horor Mani Amas, sang Hantu Kepala yang Terkutuk.


HIKAYAT PARAWAKNG TUJUH: PERI KISAH PENEBANGAN POHON JAHANANG DAN PECAHNYA AMUK PERTEMPURAN MELAWAN LEO BAJA

Alkisah Mani Amas Mula Menebas Belukar, Maka tersebutlah pula perkataan tatkala fajar menyingsing di ufuk timur, memancarkan sinar yang kemerah-merahan laksana sapuan darah di langit yang fana. Adapun Mani Amas, setelah menetapkan niatnya yang tegar lagi angkuh untuk melawan sekalian pertanda alam, bangunlah ia pada pagi-pagi buta itu. Maka diambilnyalah sebilah parang miliknya yang amat panjang lagi tajam, lalu diasahnya pada batu asahan hingga kilau besinya berkilat-kilat memantulkan cahaya. Sesudah itu, diikatkannyalah sarung parang yang terbuat daripada kayu pilihan itu dengan sekukuh-kukuhatnya pada pinggangnya.

Maka berjalannyalah Mani Amas seorang diri masuk ke dalam rimba raya, melangkah mengikuti arah dan jurusan yang sebenarnya telah dilarang keras oleh garis petunjuk adat (solor tuha tahutn). Setelah ia berjalan menempuh rimbunnya hutan dalam beberapa kurun waktu, maka sampailah ia ke sebidang tanah yang telah dipilihnya sejak menebas pertama untuk dijadikan lahan ladang barunya.

Hatta, demi menjejakkan kaki di sana, pertama-tama dibuatnyalah sebuah panggung kayu sederhana yang tinggi, yakni suatu platform untuk tempat ia duduk beristirahat tatkala kelelahan. Maka bersiaplah Mani Amas seraya menghunus parangnya yang tajam itu, lalu mulailah ia menebas sekalian semak belukar, pohon-pohon kecil, dan tumbuhan menjalar yang merintangi lahan tersebut. Setelah beberapa lama ia bekerja dengan memeras keringat, maka selesailah pekerjaan menebas itu dilakukan.

Maka dipandangnya sebuah pohon yang teramat besar lagi tinggi menjulang ke langit, yang tumbuh di tengah-tengah lahan tersebut. Demi melihat besarnya pohon itu, maka Mani Amas pun membuat sebuah aram-aram, yaitu perancah atau tangga kayu yang tinggi bersandar pada batang pohon, karena ia bermaksud hendak memanjat dan menebang pohon besar tersebut dari atas.

Kalakian, setelah pekerjaan menebas itu usai, maka dibiarkannyalah sekalian kayu-kayu dan ranting hasil tebasan itu terbaring berserakan di atas tanah ladang selama satu bulan lamanya. Hal itu dilakukannya agar sekalian kayu itu menjadi kering kerontang setelah dijemur di bawah terik matahari, supaya mudah dibakar kelak. Setelah genap satu bulan kurun waktunya berlalu, maka Mani Amas pun kembali lagi ke ladang itu dengan membawa sebuah beliung besi yang tajam, lengkap dengan tangkai kayu dan pegangannya yang kukuh.

Maka dipanjatnyalah aram-aram yang tinggi itu dengan langkah yang mantap. Setelah ia sampai di atas perancah, maka diayunkannyalah beliungnya dengan sekuat-kuat tenaganya, mulai menebang sebatang pohon suci yang bernama pohon jahanang. Setiap kali beliung itu menghantam batang pohon, maka bergemululah suaranya membelah kesunyian rimba. Setelah beberapa lama ia bertekun menebang, maka pohon jahanang yang besar itu pun mulai condong, lalu runtuh dan tumbanglah ia ke bumi dengan suara yang amat dahsyat, laksana runtuhnya sebuah bukit.

Maka Mani Amas pun turunlah dari atas aram-aram dengan hati yang puas lagi penuh kemenangan. Akan tetapi, syahdan tatkala itu ia tiada mengetahui, bahwa di balik rimbunnya dedaunan hutan yang gelap, ada sepasang mata musuh yang sejak tadi mengendap-endap, memperhatikan dan mengintip segenap gerak-geriknya dengan penuh rasa benci dan dendam yang amat berkarat.

Adapun musuh yang mengintai itu tiada lain melainkan Leo Baja, seorang ksatria perang yang amat masyhur kegagahannya, yang berasal dari kaum Raram Barangan. Maka tepat pada seketika kaki Mani Amas baru saja menjejak dan menyentuh tanah ladang, melompatlah Leo Baja keluar dari tempat persembunyiannya dengan rupa yang amat garang. Maka bertempek dan berteriaklah ia dengan suara yang menggelegar membelah rimba, katanya, "Inilah hasil duniaku!"

Sambil berteriak demikian, maka dilemparkannyalah sebuah tombak dengan sekuat-kuat tenaganya, mengarah tepat ke dada Mani Amas. Demi melihat mata tombak yang datang meluncur laksana kilat itu, maka Mani Amas yang cekatan itu pun melompat tiga kali berturut-turut ke arah pinggir, sehingga luputlah ia daripada mata tombak tersebut. Seketika itu juga, Mani Amas langsung menarik pedangnya yang panjang dari sarungnya, seraya bersiap sedia menghadapi maut.

Hatta, maka pecahlah amuk pertempuran yang teramat sengit di antara kedua ksatria itu di tengah-tengah ladang yang sunyi. Maka melompatlah mereka berdua ke sana kemari, ke kiri dan ke kanan, saling memotong, menetak, menangkis, dan memukul dengan senjata masing-masing. Maka berdentang-dentunglah bunyi besi pedang mereka beradu, menimbulkan percikan api yang menerangi kegelapan celah pohon. Pada awal mulanya amuk pertempuran itu, tiada seorang pun di antara mereka yang dapat menang atau kalah, sebab kedua-duanya sama-sama pandai, sama-sama sakti, lagi sama-sama cepat gerakannya laksana angin yang berkisar.

------------------------------


HIKAYAT PARAWAKNG TUJUH: PERI KISAH FIRASAT MAUT DI TANAH PROYEK ANUM DAN KETEGARAN HATI MANI AMAS

Alkisah Keberangkatan Mani Amas ke Parawakng Tujuh, Maka tersebutlah pula perkataan dalam lembaran zaman kuno purba kala, tatkala angin musim berladang tahunan mulai berembus meniup daun-daun di rimba raya. Adapun pada masa itu, tibalah masanya bagi segenap anak cucu manusia di bumi Bolekng Batungkakng untuk turun ke hutan guna menebas belukar dan membuka ladang yang baru, demi kelangsungan hidup kaum kerabat mereka. Syahdan, maka Mani Amas, selaku tetua adat yang memegang pangkat tuha tahutn, tiada mau ketinggalan. Ia bermaksud hendak mencari sebidang tanah yang subur di pedalaman rimba Parawakng Tujuh.

Akan tetapi, hukum adat dan tatanan nenek moyang telah menggariskan dengan sekukuh-kukuhatnya, bahwa tiada boleh seorang pun manusia mengunyam beliung atau mengayunkan parang ke batang pohon sebelum ia pergi meminta nasihat dan mencari petunjuk daripada firasat alam serta pertanda-pertanda yang gaib. Maka Mani Amas pun berjalanlah seorang diri masuk ke dalam kerapatan hutan Parawakng Tujuh, tempat bersemayamnya sekalian arwah leluhur dan tanda-tanda makrifat alam semesta.

Hatta, tatkala Mani Amas tengah berjalan mengendap-endap di bawah rimbunnya pohon-pohon besar, tiba-tiba alam yang tadinya riuh oleh kicau unggas mendadak menjadi sunyi senyap, sepi bagai kuburan. Angin tiada lagi berembus, dan duniaku seolah-olah tertahan oleh suatu kekuatan yang teramat ngeri. Kalakian, dalam kesunyian yang mencekam itu, telinga Mani Amas menangkap sejenis suara yang amat ganjil lagi menyalahi kodrat alam yang lazim.

Dari balik semak belukar yang gelap, terdengarlah suara lolongan seekor rusa jantan. Akan tetapi, demi didengar dengan amat teliti, rusa itu tiada berbunyi laksana rusa pada umumnya, melainkan memekik dan memanggil dengan suara seekor kijang yang melengking parau. Belum sempat hilang rasa terkejut di dalam dada Mani Amas, sekonyong-konyong di atas kepalanya terdengar suara berderak yang amat dahsyat. Prakkk! Sebatang dahan pohon yang masih hijau lagi kokoh tiba-tiba saja jatuh terhempas ke atas tanah tanpa ada angin maupun guntur yang menyebabkannya.

Maka Mani Amas pun melangkah maju beberapa depa, lalu pandangannya tertumbuk pada suatu pemandangan yang menambah ngeri rasa di dalam hati. Ia melihat sebatang pohon mati yang telah lama kering, runtuh lalu batangnya menumpangi dan menyangkut pada pohon lain yang masih hidup. Dalam kitab adat kuno orang-orang Parawakng Tujuh, rentetan firasat yang ganjil dan dahsyat ini tiada lain melainkan sebuah pertanda yang amat keras lagi mengerikan. Segala isyarat itu membawa kabar serta nubuat ghaib, bahwa jikalau lahan itu tetap dibuka untuk pekerjaan ladang tahunan, niscaya akan ada seorang manusia yang bakal menemui ajal secara mengerikan, mati terbunuh dalam genangan dan semprotan darah (kematian darah).

Arkian, setelah Mani Amas menyaksikan dan mendengar segala pertanda yang begitu keras menentang langkahnya, ia pun berdiri termangu-mangu di tengah rimba. Seharusnya, selaku seorang tetua adat, ia tunduk dan kembali ke kampung untuk membatalkan niatnya berladang pada tahun itu. Akan tetapi, pada saat itu, setan telah menyusup ke dalam hati dan pikirannya, melahirkan rasa sombong, pongah, lagi tegar hati yang teramat sangat.

Maka Mani Amas pun berkata-kata di dalam hatinya dengan penuh rasa jemawa, "Apakah gunanya aku ini bergelar tetua adat jikalau aku harus ketakutan hanya karena mendengar lolongan binatang dan jatuhnya sebatang dahan kering? Aku ini orang perkasa yang tahu seluk-beluk rimba. Firasat ini tiada akan mampu menumbangkan diriku."

Maka dengan hati yang angkuh dan keras kepala, Mani Amas mengambil keputusan yang amat berani lagi terlarang, yaitu melawan dan mengabaikan sekalian pertanda-pertanda buruk yang dikirimkan oleh alam kayangan. Ia membulatkan tekadnya untuk tetap pergi menebang pohon di tempat itu pada keesokan harinya, seolah-olah tiada suatu malapetaka pun yang sedang berjalan mengintai jiwanya dari belakang.

------------------------------



HIKAYAT PARAWAKNG TUJUH: PERI KISAH BUJAKNG ONYES DAN KATA AMANAT DI ATAS BUMI BATUNGKAKNG

Alkisah Peri Mula Cerita, Sebermula maka tersebutlah suatu perkataan hikayat zaman purba kala, zaman nenek moyang yang empunya ceritera adat, peri kebiasaan, dan petunjuk asrar orang-orang Dayak sekaliannya. Adapun kisah yang amat indah lagi sarat dengan hukum tatanan ini mula-mula diturunkan oleh para arif bijaksana dari tanah Parawakng Tujuh. Maka di sanalah konon tempat kedudukan parasiatn, yakni suatu khasiat serta mukjizat spiritual yang amat sakti, yang tiada lain melainkan berasal daripada karunia sakti kaum manusia yang mendiami bumi Bolekng Batungkakng.

Maka pada zaman itu, tersebutlah seorang laki-laki yang menjadi tiang kaum, bergelar ia Mani Amas. Adapun Mani Amas itu orangnya amat perkasa lagi teguh hatinya, lagi pula ia memegang pangkat tuha tahutn, yaitu seorang tetua adat yang dihormati dan dipatuhi segala titah perkataannya oleh segenap isi negeri. Syahdan, Mani Amas itu mempunyai seorang saudara laki-laki yang lebih tua, bernama Ujan Tungal, yang padanya melekat gelar panyanakng kalangkakng, yakni sosok yang menjaga tali darah dan garis keturunan agung agar tiada putus dari satu generasi kepada generasi yang kemudian.

Maka bermula kisah asmara dan kekeluargaan mereka itu, tatkala Mani Amas memperistrikan seorang anak dara yang elok parasnya, bernama Kari Amas. Bermula Kari Amas ini tiada lain melainkan anak perempuan yang tertua daripada seorang ibu budiman bernama Dayakng Litatn. Alkisah, maka Kari Amas itu mempunyai beberapa orang saudara, dan adalah seorang adiknya yang laki-laki yang paling bungsu lagi termuda di antara sekalian kaum kerabatnya, bernama ia Bujakng Onyes.

Hatta, maka adalah takdir Yang Maha Kuasa atas diri Bujakng Onyes itu, tatkala ia dilahirkan ke dunia fana, tubuhnya tiada sesempurna anak-anak manusia yang lain. Kalakian, bermula waktu ia masih kecil lagi sedang mekar tumbuh, kena ia oleh sejenis penyakit yang amat jahat, dinamai penyakit puru atau frambusia. Maka sebab tiada obat yang dapat menahan jalannya penyakit itu, kian lama kian merusaklah ia ke dalam daging, hingga akhirnya mendatangkan infeksi yang teramat parah pada sekalian sendi-sendi dan tulang-tulang di sekujur tubuhnya.

Maka apabila penyakit itu telah reda, tinggallah Bujakng Onyes dengan tubuh yang cacat lagi daif. Jikalau ia berjalan ke sana kemari di tengah-tengah kampung, senantiasa pincanglah jalannya, berayun ke kiri dan ke kanan, menahan rasa ngilu pada tulang-tulangnya yang telah bengkok. Syahdan, melihatkan keadaan yang demikian itu, maka manusia-manusia di bumi, baik dari golongan anak-anak muda maupun orang-orang yang kurang bijaksana hatinya, sering kali menaruh rasa pongah lagi jemawa. Maka apabila mereka melihat Bujakng Onyes lewat di hadapan mereka, berkumpullah orang banyak itu seraya bersorak-sorak mengolok-olokkan dia.

Maka dibuatkanlah oleh manusia-manusia bumi itu sebaris nyanyian singkat lagi ejekan yang senantiasa mereka dendangkan dengan riuh-rendah apabila hendak menyakiti hati Bujakng Onyes, demikianlah bunyinya:

Tepos dicabut, padi dituangkan;

Sekarang kasar kemudian lembut, sekarang tinggi kemudian rendah.

Adapun nyanyian itu mereka ulang-ulang sepanjang hari, laksana angin yang meniup daun kering, tiada menaruh rasa belas kasihan sedikit jua pun kepada hamba Allah yang sedang dirundung kemalangan fisik itu.

Akan tetapi, tatkala didengar oleh tetua adat dan orang-orang yang beroleh petunjuk makrifat, maka mereka pun menahan tangan manusia-manusia bumi yang suka mencela itu. Maka kata orang tua-tua yang arif, "Wahai sekalian manusia yang bebal hatinya, janganlah sekali-kali engkau berani mengolok-olokkan atau mencela kekurangan makhluk lain yang ada di bawah langit ini. Ketahuilah olehmu sekalian, bahwa sesungguhnya keberhasilan, kemuliaan, serta nasib baik orang-orang yang bertubuh sempurna semacam kita ini tiada pernah bersifat tetap. Segala sesuatu yang ada di atas bumi ini bergulir laksana roda pedati."

Syahdan, berkatalah pula tetua adat itu memberikan pengajaran dari nyanyian tersebut, "Siapakah di antara kita, manusia yang fana ini, yang benar-benar mengenali dan mengetahui kapan datangnya ayu, yakni malapetaka yang amat dahsyat, yang senantiasa berjalan mengendap-endap dan siap menerkam kita dari arah belakang? Hari ini kita tegak berdiri dengan megah, esok lusa boleh jadi kita tersungkur di atas tanah. Maka peliharakanlah lidahmu daripada mencela hamba yang daif." Maka nyanyian tentang Bujakng Onyes itu pun diangkat menjadi sebuah madah peringatan adat yang amat suci bagi sekalian manusia di Parawakng Tujuh, agar senantiasa hidup dalam kerendahan hati dan tiada takabur atas nikmat tubuh yang sehat.

------------------------------


HIKAYAT ENE’ PANITAH: TITAH SANG PENJAGA HUKUM KAYANGAN

Sebermula, maka inilah suatu riwayat yang keluar dari mulutku, Ene’ Panitah, yang memegang kuasa adat dan tatanan suci di atas puncak kayangan. Biarlah sekalian penghuni bumi dan langit mendengar, bagaimana jalannya hukum dan keadilan mesti ditegakkan, walau hati seorang ayah harus dirundung duka yang teramat dalam.

Syahdan, pada masa dahulu kala, aku bertakhta di ladang kayangan bersama Ene’ Duniang. Orang-orang di bumi menyangka ia adalah istriku, namun ketahuilah olehmu, bahwa kami tiada pernah bercampur dan bersetubuh layaknya manusia fana yang digerakkan oleh syahwat. Kami menjaga kesucian langit. Maka tatkala Ene’ Duniang memohon sebuah hajat kepada Yang-Yang si Jubata, maka dikaruniakanlah ke pondok kami seorang anak laki-laki yang kami namai Baruakng Kulup. Aku mengasuhnya dengan ketegasan hukum langit, karena kelak ia yang akan mewarisi rahasia semesta.

Hatta, demi Baruakng Kulup itu tumbuh remaja, hatinya senantiasa condong hendak turun bermain-main ke bumi. Aku tiada melarang, namun ketahuilah bahwa manusia di bumi itu tabiatnya bebal, suka memboroskan makanan, dan tiada tahu arti hemat. Kesucian kayangan tiada boleh bercampur dengan kebebalan bumi.

Akan tetapi, takdir malang mula mengintai akibat kelalaian Ene’ Duniang yang kurang waspada menjaga anak laki-laki itu bermain. Tanpa sepengetahuanku, sebutir padi suci—benda yang paling berharga di ladang kayangan ini—telah melekat pada tulang kering Baruakng Kulup saat ia turun ke bumi. Padi itu dimakan oleh Ne’ Umang-Umang dan khasiatnya membuat mereka segar seketika. Di sanalah manusia bumi yang cerdik lagi serakah mulai membujuk anakku untuk menyelundupkan harta suci kayangan.

Maka pada bulan yang keenam, ketujuh, hingga bulan kedelapan, aku melayangkan pandanganku mengintip ke arah bumi manusia. Alangkah murkanya aku tatkala melihat hamparan hijau dan kuning tanaman padi tumbuh subur di dekat dapur manusia! Anakku, Baruakng Kulup, telah mencuri padi itu dengan menyembunyikannya di dalam kemaluannya demi menuruti keinginan manusia bumi.

Maka meledaklah amarahku yang dahsyat. Aku menghadap Ene’ Duniang seraya membentak dengan mata menyala-nyala, "Coba lihat apa yang dilakukan Baruakng Kulup di bawah sana! Dia telah memberikan padi kita kepada manusia. Ini semua karena kau tiada waspada memperhatikan anak laki-laki itu waktu dia bermain!"

Ene’ Duniang hanya bisa menangis tersedu-sedu seraya meratap, "Apa yang bisa kita perbuat sekarang?"

Maka sahutku dengan tegas demi menegakkan hukum langit, "Akibat perbuatannya, manusia akan menjadi miskin karena tiada hidup hemat. Hukum harus dijalankan. Tunggu saja, aku akan memasang tombak lompat untuk membunuh anak itu!"

Maka aku pun memasang perangkap tombak maut di perbatasan kayangan. Aku tahu Ene’ Duniang terus menangis sambil membersihkan rambutnya, namun hukum tiada boleh pandang bulu. Akan tetapi, kasih seorang ibu rupanya melahirkan muslihat. Saat Baruakng Kulup mengendap-endap kembali ke atas, Ene’ Duniang menggeser seonggok bangkai babi betina tua tepat ke arah mata tombak jebakanku, lalu menyuruh anakku melarikan diri ke alam Subayan. Ketika aku memeriksa perangkap itu, istriku berkata, "Anak kita telah melarikan diri, dan hanya bangkai babi betina tua ini yang tertembus oleh tombak."

Aku terdiam. Aku tahu anakku lolos, dan aku membiarkannya pergi ke alam Subayan untuk menebus dosanya. Di sana ia menikah dengan Ne' si Putih dan melahirkan sewakul penuh burung-burung peramal. Ketika Baruakng Kulup kembali menghadapku dengan rasa bingung dan terbebani, aku berikan ia petunjuk, "Tusukkan sebatang bambu aur di tanah pada ujung serambi luar, lepaskan burung-burung itu satu per satu dan berikan nama."

Maka dilepaskannyalah burung itu seekor demi seekor; mulai dari Keto’, Kohoat, Caruit, Buria’, Biang, Jantek, Rooh, Anst, Jiji, Dugal, Tongo’, hingga Adain. Aku menitahkan, "Burung-burung itu adalah anak-anakmu, abang dari keturunanmu kelak. Mereka akan menjadi pembawa ketentuan adat dan pertanda peramal bagi manusia jika hendak membuka ladang padi." Setelah itu, kuperintahkan ia menceraikan istri arwahnya dan turun ke bumi untuk menikahi seorang manusia bernama Jamani.

Kalakian, anakku beroleh anak di bumi bernama Kuling Langit. Aku telah mengariskan hukum, bahwa cucuku itu tiada boleh melanggar suara dan larangan dari abang-abangnya (burung peramal) saat hendak bermain dan memakan buah langsat di halaman.

Namun pada suatu hari yang malang, cucuku Kuling Langit bersikap tegar hati. Ia melanggar isyarat buruk dari burung Keto’ dan Jantek yang melarangnya sampai tiga kali berturut-turut. Ia nekat memanjat pohon buah-buahan tersebut, hingga akhirnya terjatuh—debuk!—dan tewas seketika di atas batu-batuan. Itulah akibat yang nyata bagi siapa saja yang berani melawan hukum dan ketentuan adat.

Melihat jasad Kuling Langit dibawa terbang dengan penuh cinta oleh burung-burung peramal naik ke kayangan, hatiku yang keras akhirnya luluh. Aku melihat kesetiaan unggas-unggas itu kepada adiknya. Maka dengan kekuasaan sakti yang ada padaku, kubangkitkan kembali Kuling Langit dari kematian, lalu kuhadiahkan ia kehidupan abadi untuk tinggal bersama kami di kayangan dan tiada lagi kembali kepada manusia.

Arkian, setelah segalanya genap, aku memanggil kembali Baruakng Kulup. Hatiku tiada lagi dipenuhi amarah, melainkan kebijaksanaan. Kebalikan dari hukuman, aku berikan ia tugas mulia. Titahku, "Wahai Baruakng Kulup, kembalilah engkau ke tengah-tengah manusia di bumi. Ajarkanlah kepada mereka sekalian ketentuan-ketentuan adat dan arti dari bahasa burung-burung peramal itu."

Maka sejak hari itu hingga masa sekarang, sekalian orang Dayak di bumi amat memperhatikan bahasa burung dan mematuhi aturan berladang. Padi yang dulu dicuri kini menjadi berkat yang diatur oleh hukum adat yang kutinggalkan. Hukum langit telah tegak, dan bumi telah beroleh tatanannya.

Maka tamatlah Hikayat Ene’ Panitah.

HIKAYAT NE’ DUNIANG: RATAP IBU DI ATAS TANAH KAYANGAN

Berdasarkan teks naskah asli di atas, tokoh ibu dari Baruakng Kulup tertulis sebagai Ene' Duniang atau Ne' Duniang (bukan Nek Binuang) [180].

Sebermula, maka inilah suatu kisah yang dipersembahkan daripada mulutku, Ne’ Duniang, yang memeliharakan rahasia purba kala di atas puncak kayangan. Biarlah sekalian manusia di bumi mendengar, bagaimana kepiluan seorang ibu atas takdir anak lanangnya yang membawa berkat sekaligus petaka ke dunia fana.

Syahdan, pada masa dahulu kala, aku ini dinobatkan oleh orang-orang dunia sebagai istri kepada Ene’ Panitah yang maha sakti. Akan tetapi, ketahuilah olehmu wahai anak cucu, bahwa sesungguhnya kami tiada pernah bercampur dan bersetubuh layaknya laki-isteri yang beroleh syahwat dunia. Rahimku ini sunyi, sepi bagai malam yang tiada berbintang. Maka tatkala kesunyian itu tiada tertahankan lagi olehku, bersujudlah aku seraya menadahkan tangan ke atas langit, menyembah Yang-Yang si Jubata [180].

Maka sembahku dengan hati yang remuk, "Wahai Tuanku Sang Jubata yang memegang tiang semesta, karuniakanlah apalah kiranya bagi hamba ini seorang anak, supaya ada yang meramaikan pondok ladang ini." [180]

Maka dengan takdir serta kun fayakun Sang Pencipta, seketika itu juga menjelmalah sesosok anak laki-laki yang elok parasnya di hadapanku. Tiada ia dibentuk dalam rahimku, namun demi menatap matanya, tumpahlah segenap kasih sayangku. Lalu kami namai akan dia Baruakng Kulup [180].

Hatta, demi Baruakng Kulup itu tumbuh menjadi remaja, hatinya senantiasa rindu dendam hendak turun bermain-main ke bumi fana. Maka kuizinkan ia pergi dengan hati yang was-was. Di bawah sana, ia bermain judi gading, panca, dan menyumpit bersama Ne’ Umang-Umang dan Ne’ si Bulit-Bulit [180]. Anakku senantiasa menang, hingga pada suatu hari, takdir malang mula mengintai. Tanpa diketahuinya, sebutir padi yang suci dari ladang kayangan kami telah melekat pada tulang keringnya tatkala ia turun ke bumi [180].

Maka tatkala butir padi itu dimakan oleh Ne’ Umang-Umang, kalahlah anakku dalam permainan [180]. Di sanalah bermula petaka itu. Manusia bumi yang serakah membujuk anakku agar menyelundupkan padi suci itu ke bumi [181].

Aduhai, seketika itu runtuhlah duniaku! Aku yang sedang duduk tenang di pondok ladang dikejutkan oleh Baruakng Kulup yang berlari terengah-engah, "Cepat, Ibu, mari kita pulang! Jangan duduk di sini saja sampai menumpahkan padi. Nanti Ayah bisa marah!" [181]

Rupanya, anakku yang bebal namun berhati mulia itu telah menyembunyikan sebutir padi di dalam kemaluannya demi menghidupi manusia bumi yang kelaparan [182]. Namun, tiada suatu pun yang luput dari pandangan Ene’ Panitah yang tajam bagai elang. Demi suamiku mendapati ada tanaman padi tumbuh menghijau di bumi manusia pada bulan keenam hingga kedelapan, meledaklah amarahnya yang dahsyat [182].

Maka bentak Ene’ Panitah kepadaku dengan mata menyala-nyala, "Coba lihat apa yang dilakukan Baruakng Kulup di bawah sana! Dia telah memberikan padi kita kepada manusia. Ini semua karena kau tiada waspada menjaga anak laki-laki itu tatkala bermain!" [182]

Maka aku pun menangis tersedu-sedu, air mataku laksana air terjun yang tiada membendung duka. Kataku dengan ratap yang pilu, "Aduhai, apalah yang dapat kita perbuat sekarang?" [182]

Suamiku menjawab dengan bengis, "Tunggu saja, aku akan memasang tombak lompat untuk membunuh anak itu!" [182]

Mendengar hal itu, hancurlah hatiku sebagai seorang ibu. Tiada rela aku melihat anak yang kupohonkan dari Sang Jubata mati di tangan ayahnya sendiri. Maka sambil berpura-pura duduk membersihkan rambut kepalaku dan terus menangis, mataku tajam melirik ke arah bumi [182]. Aku melihat bayangan Baruakng Kulup hendak kembali naik ke kayangan [182].

Maka dengan segenap daya muslihatku, kugeserlah bangkai seekor babi betina tua tepat ke arah mata tombak jebakan itu [182]. Demi anakku tiba dengan langkah yang sunyi mengendap-endap, aku berbisik di balik angin malam, "Larilah, Baruakng! Kau bersalah telah memberi manusia padi! Ayahmu hendak membunuhmu!" [182]

Maka selamatlah anakku daripada maut, sedang tombak itu hanya menembus bangkai babi betina [182]. Sebelum ia lari sejauh-jauhnya, sempatlah aku menitipkan pesan terakhir, "Hati-hatilah anakku, jika engkau mengambil jalan yang lurus, niscaya engkau tiba di alam Subayan. Tetapi jika ke kiri, engkau menuju ke arah manusia." [183]

Akan tetapi, takdir tiada dapat ditolak. Anakku tersesat ke jalan yang lurus dan menikah di alam arwah Subayan dengan Ne’ si Putih [183]. Demi ia kembali kepadaku dan mengadu bahwa istrinya melahirkan sewakul penuh burung, aku pun kembali memberikannya helah (tipu muslihat) agar ia mencabut rambut putih di kepala istrinya supaya mereka bercerai, karena masanya di alam kematian belumlah tiba [183, 184]. burung-burung itulah yang kemudian dinamai Keto', Jantek, dan lainnya, sebagai petunjuk berladang bagi manusia [184].

Kalakian, anakku pun turun ke bumi, menikah dengan Jamani dan beroleh cucu bagiku bernama Kuling Langit [185]. Sebelum anakku naik kembali ke atas menemui aku, ia telah berpesan agar cucuku jangan melanggar suara abang-abangnya (burung peramal) [185].

Maka pada suatu hari yang malang, cucuku Kuling Langit bersikap tegar hati memanjat pohon langsat, melanggar pantang dan isyarat buruk dari burung Keto’ dan Jantek sampai tiga kali berturut-turut [185, 186]. Maka terjatuhlah ia—debuk!—lalu tewas di atas batu-batuan [186].

Melihat jasad cucuku dibawa terbang oleh burung-burung peramal naik ke kayangan, tangisanku kembali pecah membelah langit [186]. Hatiku hancur melihat cucuku terbujur kaku. Namun, Ene’ Panitah yang melihat keteguhan burung-burung itu akhirnya luluh, lalu dibangkitkannya kembali Kuling Langit dari kematian untuk hidup abadi bersama kami di kayangan [186].

Kini, tinggallah aku di atas kayangan yang sunyi ini, memandang ke bawah, ke arah bumi fana. Anakku, Baruakng Kulup, telah kutitahkan kembali ke tengah-tengah manusia untuk mengajarkan ketentuan adat dan bahasa burung peramal [186]. Walau raganya tiada lagi di sisiku, namun hatiku tenteram melihat setiap kali manusia bumi menanam padi dan mendengar suara burung di hutan, mereka sedang merawat warisan cinta dan pengorbanan yang kuperjuangkan bagi anakku, Baruakng Kulup.

Maka tamatlah Hikayat Ne’ Duniang.


HIKAYAT BARUAKNG KULUP DAN ASAL-USUL PADI

Sebermula maka tersebutlah perkataan peri rukun kebiasaan dan tatanan kaum Dayak yang turun-temurun dipeliharakan sekalian manusia hingga pada masa hari ini. Adapun adat dan agama itu asalnya daripada titah serta kemauan Ene’ Panitah yang maha sakti. Alkisah maka adalah seorang perempuan bernama Ene’ Duniang, konon ia itu berpura-pura menjadi istri kepada Ene’ Panitah, akan tetapi syahdan sebenarnya mereka itu tiada pernah bersetubuh dan tiada bercampur layaknya laki-istri.

Hatta, maka Ene’ Duniang pun memohonkan suatu hajat kepada Yang-Yang si Jubata, sembahnya, "Wahai Tuanku Sang Jubata, jikalau ada rahim-Mu, karuniakanlah apalah kiranya hamba ini seorang anak laki-laki."

Maka dengan takdir Yang Maha Kuasa, seketika itu juga menjelmalah seorang anak laki-laki tampan, lalu dinamai akan dia Baruakng Kulup. Setelah Baruakng Kulup itu meningkat besar, maka ia pun rindu hendak bermain-main ke dunia bumi. Maka turunlah ia ke bumi, lalu berteman dengan Ene’ Umang-Umang dan Ne’ si Bulit-Bulit. Maka mereka pun bermainlah bersuka-sukaan, bertaruh main gading, panca, dan menyumpit. Maka dalam segala permainan itu, senantiasa kalahlah Ne’ si Bulit-Bulit sekalian adiknya oleh Baruakng Kulup, sebab makanan mereka itu hanyalah kulat (jamur) semata-mata, tiada memiliki kekuatan tubuh.

Kalakian, pada suatu hari Baruakng Kulup turun kembali ke bumi. Demi ia menjejakkan kaki, tatkala itu ada sebutir tanaman yang melekat pada tulang keringnya. Maka tatkala dilihat oleh Ne’ Umang-Umang akan butir itu, lalu diambil dan dimakannya. Seketika itu juga, maka dirasanya tubuhnya menjadi amat segar dan kuat tak terperi. Maka dengan berkat memakan butir itu, pada sekali bertanding, kalahlah Baruakng Kulup ditewaskan oleh Ne’ Umang-Umang.

Maka Baruakng Kulup pun heran seraya bertanya, "Geriangan apa yang membuatkan engkau boleh menang atas diriku ini?"

Maka sahut Ne’ Umang-Umang, "Bahwa aku telah memakan benda yang berkilau di tulang keringmu itu. Apakah gerangan namanya?"

Maka kata Baruakng Kulup, "Itulah yang dinamakan padi."

Maka kata Ne’ Umang-Umang, "Wahai sahabatku, sembunyikanlah sedikit padi itu dan bawakan bagi kami, karena kami sekalian belum pernah melihat benda yang seelok itu."

Maka Baruakng Kulup pun kembali ke kayangan, lalu menyembunyikan sebutir padi pada ujung cawatnya. Tetapi demi dilihat oleh ayahnya, maka padi itu direbut kembali. Maka Baruakng Kulup pun berdiri termangu-mangu. Atas muslihat Ne’ Umang-Umang, maka pada kali yang lain, Baruakng Kulup pun menyembunyikan padi itu di dalam kemaluannya, lalu dibawanya turun ke bumi dan diserahkan kepada manusia. Pesannya, "Tanamlah olehmu akan padi ini di dekat dapur, dan bertekunlah bersembunyi agar jangan kelihatan oleh ayahku."

Maka ditanamlah padi itu oleh manusia. Bermula dari bulan keenam, ketujuh, hingga bulan kedelapan, maka padi itu pun merumpunlah dan mengeluarkan kuncup tangkai yang elok, lalu berbunga dan masaklah ia. Akan tetapi, Ene’ Panitah mendapati hal itu lalu murka ia karena anaknya telah memberikan padi kepada manusia yang bebal dan suka memboroskan makanan.

Maka Ene’ Panitah pun memasang suatu perangkap tombak lompat hendak membunuh Baruakng Kulup. Tetap dengan belas kasih ibunya, ditolaknya seonggok bangkai babi betina tua ke perangkap itu, sehingga tombak itu mengenai babi, dan loloslah Baruakng Kulup melarikan diri.

Sebelum pergi, berpesanlah ibunya, "Wahai anakku, jika engkau menempuh jalan yang lurus, niscaya engkau tiba di alam Subayan (alam arwah). Tetapi jika engkau mengambil jalan ke kiri, niscaya engkau menuju ke negeri manusia."

Maka sebab tiada hati-hati, berjalannyalah Baruakng Kulup pada jalan yang lurus, lalu sampailah ia ke alam Subayan. Di sana ia terpikat dan menikah dengan seorang anak dara arwah bernama Ne’ si Putih. Maka setelah genap sembilan bulan sepuluh hari, melahirkanlah Ne’ si Putih akan satu bakul penuh berisi burung-burung. Maka heranlah Baruakng Kulup melihat anaknya berupa unggas. Lalu ia menghadap ayahnya di kayangan.

Maka titah ayahnya, "Tusukkanlah sebatang bambu aur di serambi luar, lalu lepaskan burung-burung itu satu per satu dan berikan nama."

Maka dilepaskannyalah burung itu seekor demi seekor; yang pertama dinamainya burung Keto’, kemudian Kohoat, Caruit, Buria’, Biang, Jantek, Rooh, Anst, Jiji, Dugal, Tongo’, dan Adain. Maka burung-burung itulah yang dititahkan menjadi petunjuk (peramal) bagi manusia tatkala hendak berladang padi. Sesudah itu, atas titah ayahnya, dicabutnyalah sehelai rambut putih di kepala Ne’ si Putih, maka seketika itu juga bercerailah mereka.

Hatta, maka Baruakng Kulup pun diperintahkan turun ke bumi manusia dan menikah dengan seorang perempuan bumi bernama Jamani, lalu beroleh seorang anak laki-laki dinamai Kuling Langit. Sebelum Baruakng Kulup kembali ke kayangan, ia berpesan kepada Jamani, "Jikalau anak kita hendak bermain dan memakan buah langsat, perhatikanlah olehmu akan suara abang-abangnya (burung peramal) itu. Jika mereka melarang, jangan sekali-kali dilanggar, karena mereka itu kakak kandungnya sendiri."

Alkisah pada suatu hari, Kuling Langit sangat ingin memakan buah langsat. Maka ia pun turun ke halaman hendak memanjat pohon. Tiba-tiba burung Keto’ dan Jantek terbang melintas seraya berbunyi memberikan pertanda buruk sampai tiga kali berturut-turut. Namun Kuling Langit tiada mengindahkan petunjuk abangnya itu. Maka ia pun bersikap tegar hati lalu memanjat pohon buah-buahan tersebut. Demi ia sampai di atas, belum pun sempat memakan buah itu, maka tiba-tiba terjatuhlah ia—debuk!—lalu terhempas di atas batu-batuan dan mati seketika itu juga.

Maka menangislah sekalian burung-burung itu melihat adiknya tewas. Maka dengan kekuatan sayapnya, dibawanyalah jasad Kuling Langit naik ke kayangan menghadap sang kakek. Maka oleh Ene’ Panitah, dibangkitkanlah kembali Kuling Langit dari kematian, lalu hidup abadi ia di kayangan dan tiada lagi kembali kepada manusia.

Arkian, maka Ene’ Panitah pun menitahkan Baruakng Kulup turun kembali ke bumi manusia, titahnya, "Pergilah engkau hai Baruakng Kulup, ajarkanlah kepada sekalian manusia akan bahasa dan ketentuan-ketentuan burung peramal itu."

Maka sebab itulah, hingga pada masa hari ini, sekalian orang-orang Dayak amat memeliharakan tata cara mendengar isyarat bahasa burung-burung tersebut apabila hendak membuka ladang dan menanam padi, menurut segala ajaran kuno yang ditinggalkan oleh Baruakng Kulup.

Maka tamatlah Hikayat Baruakng Kulup.

------------------------------

Cerpen: Tongkat Hitam dan Janji di Balik Beton Proyek

Manusia mengenalku sebagai Dentha, sang mandor gaib. Di dunia yang tak kasat mata ini, tugas-tugas pengusiran selalu jatuh ke tanganku. Saban kali para cukong manusia ingin mendirikan mal atau gedung bertingkat, akulah yang disewa untuk mensterilkan lahan dari hantu-hantu lama. Di tangan kananku, tergenggam sebuah tongkat kayu hitam pekat yang menjadi sumber seluruh kekuatanku. Bersama sepuluh anak buah kepercayaanku, aku adalah penguasa mutlak di wilayah proyek ini. Aku tak pernah gagal, tak pernah ragu, sampai malam itu—malam ketika aku bertemu dengannya.

Dia adalah Laras, roh wanita penjaga pohon jati tua yang tumbuh di pojok lahan. Berbeda dengan roh lain yang menyerangku dengan benci, Laras hanya berdiri diam di bawah rembulan, menatapku dengan sepasang mata redup yang menyimpan kesedihan teramat dalam.

"Pergilah, Laras. Tempat ini sudah dibeli manusia. Sebulan lagi beton-beton akan menancap di tanahmu," ujarku dingin, meski ada debar aneh yang mendadak menyusup ke dalam dadaku yang biasanya sekeras batu.

Laras tersenyum getir, melangkah mendekat tanpa rasa takut sedikit pun pada tongkat hitamku. "Lalu ke mana aku harus pergi, Dentha? Kota ini sudah penuh. Di mana-mana hanya ada kaca dan baja. Jika aku pergi, aku hanya akan menjadi hantu gelandangan tanpa rumah."

Melihat gundah di wajahnya, egoku runtuh. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, aku melakukan kerja ekstra yang menguras energiku. Aku menyiapkan sebuah tempat baru untuknya, sebuah sudut hutan terpencil yang belum terjamah manusia, jauh di luar kota.

"Aku sudah menyiapkan tempat untukmu di sana, Laras. Pergilah demi aku," bisikku malam itu, menggenggam jemarinya yang sedingin es.

Laras menatapku lekat-lekat. "Aku tidak peduli dengan tempat indah itu, Dentha. Aku hanya ingin bersamamu. Berjanjilah, setelah tugasmu di sini selesai, kau akan menyusulku ke hutan itu."

"Aku berjanji," jawabku mantap. Janji itulah yang menjadi asmara rahasia di antara kami, sebuah harapan manis di tengah gersangnya dunia proyek.

Namun, cinta di dunia gaib sering kali berakhir tragis. Beberapa roh tua sekutu Laras menolak keras untuk pindah. Mereka merasa dikhianati dan memilih bersembunyi di celah-celah bumi, menyusun rencana perlawanan.

Memasuki bulan kedua, saat bangunan manusia mulai meninggi, roh-roh itu mulai memprotes. Mereka merusak mesin ekskavator, memutus kabel baja, dan membuat para pekerja manusia jatuh sakit. Proyek kacau balau. Pemilik modal manusia menuntut hasil lewat ritual sajen di tengah malam. Aku terdesak oleh sumpah kontrak.

"Cari pengacau-pengacau itu! Hancurkan siapa saja yang menolak pergi!" perintahku pada anak buahku dengan amarah yang meluap. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat agar bisa segera menyusul Laras.

Pertempuran hebat di dimensi gaib pecah malam itu. Jeritan roh-roh yang tercabik bergema di udara malam. Aku merangsek maju membawa tongkat hitamku, menumbangkan setiap perlawanan. Hingga di sebuah sudut pondasi yang gelap, langkahku terhenti.

Laras berdiri di sana. Ia tidak pergi ke hutan yang kujanjikan. Di tangannya, ada sebilah pusaka bumi berenergi pekat. Wajahnya yang dulu lembut kini dipenuhi kekecewaan yang teramat runtuh.

"Kau membohongiku, Dentha," isaknya, air mata darah mengalir di pipinya. "Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau menghancurkan kaumku. Kau mengusir mereka demi menjadi budak keserakahan manusia!"

"Laras, tidak! Aku melakukan ini agar kita bisa segera pergi bersama!" teriakku, mencoba mendekat.

"Sudah terlambat, Dentha! Asmara kita adalah sebuah kesalahan!"

Laras menerjangku dengan sisa seluruh kekuatannya. Bukan untuk membunuhku, melainkan untuk menghancurkan sumber kutukan yang membelenggu hidupku. Ia menghantamkan seluruh inti energinya langsung ke arah tongkat hitam di genggamanku.

KRAAAK!

Tongkat kekuasaanku retak dan hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan itu, seluruh kekuatan gaibku menguap tak bersisa. Aku ambruk, dadaku terasa hampa dan sesak. Namun yang lebih menyakitkan adalah melihat tubuh Laras yang perlahan memudar, menjadi abu spiritual yang terbawa angin malam karena telah mengorbankan seluruh eksistensinya untuk menghancurkan tongkatku.

"Laras!!!" jeritanku melengking membelah malam, namun terlambat. Dia telah tiada, menyisakan kehampaan yang abadi. Anak-anak buahku yang melihatku kehilangan kekuatan langsung lari kocar-kacir meninggalkanku.

Kini, mal megah itu telah berdiri dengan kokoh. Di malam hari, lampu-lampunya berkilauan memikat hati manusia. Namun di basement terdalam yang gelap dan pengap, aku duduk bersandar pada tiang beton.

Aku kini hanyalah roh cacat yang lemah dan tak berdaya. Aku kehilangan segalanya—kekuatanku, harga diriku, dan wanita yang kucintai. Aku menjadi hantu gelandangan di atas tanah yang dulu kubersihkan dengan tanganku sendiri. Di tengah kebisingan langkah kaki manusia di atas sana, aku hanya bisa meratapi nasib, memeluk bayang-bayang janji asmara kami yang telah hancur terkubur di bawah dinginnya semen dan beton proyek.

Cerpen: Mandor Gaib dan Tangisan dari Tanah Proyek

Malam itu, dinginnya angin mengembus aroma tanah basah dan besi berkarat di area proyek pembangunan mal mewah setinggi dua puluh lantai. Di tengah kegelapan, berdiri sesosok makhluk tinggi besar yang dikenal sebagai Dentha. Wajahnya legam, matanya memancarkan redup cahaya kekuningan, dan tangan kanannya menggenggam erat sebuah tongkat kayu hitam yang memancarkan aura magis pekat—sumber seluruh kekuatannya.

Di sekelilingnya, sepuluh anak buah kepercayaannya berdiri siaga, menjaga perbatasan lahan agar tidak ada penyusup spiritual yang kembali. Proyek harus steril. Itu adalah sumpah dan kontrak gaib yang ia sepakati dengan pemilik modal manusia.

Tiba-tiba, dari balik tumpukan semen, muncul sesosok wanita tua bertubuh ringkih dengan pakaian compang-camping. Ia adalah salah satu penghuni lama lahan itu, roh yang telah menetap di sana sejak tempat itu masih berupa hutan jati ratusan tahun lalu.

"Tolong, Tuan Dentha... hamba mohon jangan usir kami lagi," ratap roh tua itu sambil bersimpuh di kaki Dentha. Suaranya bergetar penuh keputusasaan.

Dentha menatapnya dingin. Ia menghentakkan tongkatnya ke tanah, memicu gelombang kejut tak kasat mata yang membuat roh tua itu terjungkal. "Lahan ini sudah dibeli. Manusia akan membangun gedung di sini, dan tugasku adalah memastikan kalian semua pergi. Tempat ini bukan lagi milik kalian!"

"Tapi kami tidak punya tempat tujuan!" jerit roh tua itu, air mata darah menetes di pipinya yang pucat. "Semua lahan di kota ini sudah penuh dengan gedung-gedung tinggi. Tempat lain juga sudah memiliki penghuni tetap. Jika kami pergi, kami akan menjadi hantu gelandangan yang hancur perlahan-lahan di jalanan!"

Dentha terdiam sesaat. Jauh di dalam lubuk hatinya yang kelam, ia merasakan secuil iba. Pengusiran dengan kekerasan sebulan terakhir ini telah memakan banyak korban di pihak penghuni lama.

"Aku tahu," ucap Dentha, suaranya berat mengelegar, namun nadanya melunak. "Karena itulah aku telah menyiapkan tempat baru untuk kalian. Jauh di luar wilayah kota ini, sebuah hutan tua yang belum tersentuh besi-besi manusia. Pergilah ke sana demi keselamatan kalian sendiri."

"Hutan itu terlalu jauh, Tuan... perjalanan ke sana akan memusnahkan energi kami yang sudah lemah akibat pertempuran ini," sahut roh tua itu sambil terisak.

"Itu satu-satunya pilihan kalian. Pergi dengan damai, atau anak buahku yang akan menghancurkan kalian tanpa sisa," ancam Dentha, meski hatinya terasa berat. Menyiapkan tempat baru sebenarnya menguras energinya secara ekstra, namun ia lebih memilih jalur itu daripada harus memusnahkan mereka semua.

Melihat tidak ada pilihan lain, roh tua itu bangkit dengan tubuh gemetar. "Baik, kami akan pergi... Kami mengalah pada keserakahan manusia dan kekejaman tugasmu."

Keesokan harinya, proses pembangunan fisik oleh para pekerja manusia pun dimulai. Alat-alat berat meraung-raung, mengeruk tanah dalam-dalam. Dentha memandang dari dimensi gaib, meyakini tugasnya telah selesai dan lahan tersebut telah sepenuhnya steril dari gangguan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di bawah kepemimpinan roh tua yang menyimpan dendam terdalam karena diusir dari tanah kelahirannya, beberapa roh penghuni lama menolak untuk pergi ke hutan jauh yang dijanjikan. Mereka memilih bersembunyi di celah-celah terdalam bumi, bersiap melakukan perlawanan terakhir demi mempertahankan harga diri mereka.

Memasuki bulan kedua pembangunan, keanehan mulai terjadi.

"Brakkk!"

Tiba-tiba mesin ekskavator yang sedang mengeruk tanah mendadak mati total. Kabel baja pada mesin derek putus tanpa sebab, menjatuhkan balok beton besar yang hampir merenggut nyawa pekerja. Tidak hanya itu, satu per satu pekerja manusia mulai jatuh sakit secara misterius dengan demam tinggi dan igauan mengerikan.

"Ada yang tidak beres dengan lahan ini," bisik salah seorang mandor manusia dengan wajah pucat.

Melihat kekacauan itu, Dentha murka. Ia tahu ini adalah wujud protes dari sisa-sisa penghuni lama yang membangkang. Malamnya, ia mengumpulkan seluruh anak buahnya.

"Cari mereka! Hancurkan siapa saja yang masih berani menginjakkan kaki di lahan ini!" perintah Dentha, matanya menyala merah, dipenuhi amarah yang dipicu oleh rasa bersalah karena gagal menjaga sterilisasi proyek.

Pertempuran hebat di dimensi gaib pun pecah di tengah malam yang buta. Anak-anak buah Dentha merangsek maju, menyerang sisa-sisa penghuni lama dengan kejam. Suara lolongan pilu dan jeritan roh yang tercabik-cabik bergema di udara, meski tak satu pun manusia mampu mendengarnya.

Dentha maju ke garis depan, mengayunkan tongkat saktinya untuk menumbangkan roh-roh yang melawan. Hingga akhirnya, ia berhadapan kembali dengan roh wanita tua yang tempo hari memohon kepadanya. Di tangan roh tua itu, terdapat sebuah jimat kuno berisi energi bumi yang pekat.

"Kau mengkhianati belas kasihanku!" bentak Dentha.

"Kau yang mengkhianati tanah ini, Dentha!" balas roh tua itu dengan tatapan penuh kebencian. "Kau menjadi budak manusia demi memusnahkan bangsa kita sendiri!"

Tanpa ragu, roh tua itu menerjang Dentha, meledakkan seluruh sisa energinya langsung ke arah tongkat kekuasaan Dentha. Ledakan spiritual yang dahsyat pun terjadi.

"KRAAAK!"

Tongkat hitam di tangan Dentha retak, lalu hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan hancurnya tongkat tersebut, seluruh kekuatan besar Dentha menguap seketika. Tubuhnya melemah drastis, dadanya terasa hampa. Di hadapannya, roh wanita tua itu perlahan memudar, menjadi abu spiritual yang terbawa angin malam setelah mengorbankan seluruh eksistensinya.

Anak-anak buah Dentha yang melihat pemimpin mereka kehilangan kekuatan langsung mundur ketakutan, meninggalkan lahan yang kini dipenuhi aura kematian dan keputusasaan.

Kini, bangunan mal mewah itu telah berdiri kokoh dan megah di dunia manusia. Namun di balik dinding-dinding betonnya yang berkilau, di sudut-sudut gelap yang tak pernah tersorot lampu, bersemayam sebuah kisah tragis.

Dentha, sang mandor gaib yang dulunya perkasa, kini hanyalah sosok roh yang lemah, cacat, dan tak berdaya. Ia kehilangan segalanya—tongkatnya, kekuatannya, dan harga dirinya. Ia kini terperangkap selamanya di basement gedung tersebut, menjadi gelandangan di atas tanah yang dulu ia bersihkan dengan darah bangsanya sendiri, meratapi nasibnya yang tragis sembari mendengarkan tawa riang manusia yang menari di atas penderitaan makhluk-makhluk yang terusir.

Cerpen: Lampion Merah di Atas Tanah Montrado

Nenek moyang kami di pedalaman Borneo selalu percaya bahwa hutan dan sungai tidak pernah berbohong. Jauh sebelum terompet perang berbunyi dan dentuman besi memecah heningnya rimba, pepohonan telah meranggas dan angin membawa bau kecurigaan.

Dahulu kala, sewaktu Sultan Umar Alamudin masih bertahta di Sambas, kami melihat orang-orang berwajah pucat dan tubuh kurus turun dari kapal asing yang aneh. Mereka bersimpuh di tanah, memohon dengan sangat agar diberi sepetak tempat tinggal di Larah. Orang-orang tua kami di suku Dayak melihat mereka dengan belas kasihan. Kami mengajari mereka cara berdampingan dengan hutan, dan tak jarang gadis-gadis kami dipersunting oleh mereka. Saat itu, mereka tampak seperti tetangga yang taat dan rajin.

Namun, emas mengubah segalanya. Lapisan emas di tanah kami bagaikan sihir hitam yang menghapus rasa terima kasih.

Saya masih ingat betul cerita tentang hari naas saat pesta Tajau. Tetua kami dan warga suku Dayak datang dari dalam hutan dengan hati polos dan gembira untuk ikut merayakan pesta orang-orang Cina tersebut. Kami diajak makan bersama, mendengarkan irama musik, dan diajak melihat rahasia di dalam tepekong. Penjaga-penjaga benteng kami melonggarkan ikatan senjata mereka, terbuai oleh tawa dan keramahan yang ternyata palsu.

Di dalam pekong besar yang dipenuhi pendar merah lampion, asap hio membumbung tinggi bercampur dengan aroma hidangan pesta Tajau. Para tetua kongsi Cina dan pimpinan suku Dayak duduk berdampingan, saling melempar tawa dan meneguk tuak bersama. Di mata orang awam, aula itu tampak seperti simbol persaudaraan, namun di balik takdir yang terselubung, aura kematian sedang mengintai.

Di sudut aula yang paling tenang, Ah Seng—seorang pemuda kongsi—duduk dengan dada yang bergemuruh hebat. Di hadapannya duduk Barin, gadis Dayak bermata jernih dengan hiasan bunga melati di sanggul rambutnya.

Ah Seng mengetahui rencana rahasia para pimpinan kongsinya: bahwa jamuan ini hanyalah siasat berdarah untuk melumpuhkan orang-orang Dayak dan merebut kekuasaan atas tambang emas secara mutlak. Sementara itu, Barin menatap Ah Seng dengan penuh kepercayaan dan kasih sayang, sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengancam.

"Barin, pergilah dari sini sekarang... Lewat pintu belakang," bisik Ah Seng dengan suara bergetar penuh keputusasaan.

Barin mengerutkan dahi, bingung. Namun sebelum kata-katanya terucap, sebuah dentuman mendengung keras membelah riuk tawa di aula.

DONGGG!

Pukulan gong nyaring membahana dari dalam tepekong, menggetarkan tiang-tiang kayu bangunan. Suara itu adalah isyarat pembantaian.

Dalam sekejap mata, keramahan para pemuda kongsi berubah menjadi cengiran dingin. Kilatan pisau panjang dan parang dihunus serentak dari bawah meja jamuan. Para tamu dan penjaga benteng Dayak yang terlena ditusuk dari belakang saat cangkir minuman masih ada di genggaman mereka. Suasana damai berganti menjadi neraka banjir darah.

Di tengah kekacauan itu, seorang prajurit kongsi mengarahkan bilah parangnya ke arah Barin. Melihat bahaya itu, Ah Seng melompat tanpa ragu dan memasang dadanya sendiri sebagai perisai. Besi dingin menembus punggung Ah Seng. Ia roboh ke lantai kayu yang tergenang darah, memeluk Barin erat-erat di bawah pendar lampion merah yang bergoyang bisu.

Bertahun-tahun setelah tragedi berdarah itu, kekuasaan kongsi-kongsi Cina di Montrado tumbuh makin congkak, namun pondasinya kian rapuh oleh perang saudara dan kemarahan tanah Borneo.

Dari tepi perbukitan Lumar, Chen Wei—seorang juru catat tua di Balai Kongsi—menatap kepulan asap yang membubung dari reruntuhan pasar Kulor. Dentuman meriam dahsyat terdengar dari arah pesisir: pasukan Kompeni Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Andresen telah tiba membawa kapal perang beruap dan mortir-mortir besar.

Chen Wei mendesah berat. Ia ingat bagaimana beberapa hari lalu kongsi mereka menolak menyerah dengan sombong. Namun di hadapan disiplin militer Kompeni, benteng-benteng kongsi runtuh satu per satu. Pejuang kongsi membakar pasar mereka sendiri sebelum mundur kocar-kacir ke dalam hutan.

Pada bulan Juni 1854, asap perang di Montrado perlahan menyusut. Chen Wei berdiri di barisan depan bersama puluhan tokoh kongsi, semuanya mengenakan pakaian putih polos sebagai tanda duka dan kepasrahan mutlak. Di sepanjang jalan, ribuan warga keturunan Cina bersimpuh di atas tanah liat yang basah saat pasukan Belanda berbaris masuk.

Chen Wei menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh debu jalanan. Kejayaan, kedaulatan, dan kebebasan kongsi yang dahulu dibangun di atas cucuran keringat—dan dilumuri pengkhianatan di pesta Tajau—kini resmi berakhir, terkubur di bawah bayang-bayang penguasa baru dari seberang lautan.

Dari balik rimbunnya dedaunan di atas bukit, saya dan para pemuda Dayak mengamati pemandangan itu dalam diam.

Kami melihat orang-orang yang dahulu membantai saudara-saudara kami di dalam pekong, kini bersimpuh dan berlutut memohon ampun di hadapan tentara Kompeni. Kekuasaan kongsi yang dibangun di atas tanah Larah akhirnya runtuh juga.

Gema gong pembantaian di pekong puluhan tahun silam telah berganti menjadi dentuman meriam asing. Kami mengelus hulu mandau di pinggang, menyadari bahwa meski satu penindas telah tunduk di tanah ini, hutan dan tanah kelahiran kami akan selalu menuntut kami untuk tetap waspada.

Cerpen: Bunga Melati di Balik Lampion Pekong

 Telah dibuatkan dokumen PDF berisi cerpen bertema tragis dan cinta dengan sudut pandang orang Cina di Pekong.Aroma wangi hio yang terbakar perlahan di atas altar tembaga malam itu tak mampu memadamkan kegelisahan yang menggejolak di dada Ah Seng. Di dalam pekong yang dipenuhi pendar merah lampion, meja-meja kayu panjang telah tertata rapi menyajikan hidangan pesta Tajau—babi panggang berkulit renyah, sup hangat, dan gentong-gentong tuak jernih. Gelak tawa para anggota kongsi dan tamu-tamu dari suku Dayak melintasi aula, menciptakan ilusi kedamaian yang teramat semu.

Di sudut aula yang paling tenang, Ah Seng menatap gadis di hadapannya. Barin, gadis Dayak bermata jernih dengan hiasan bunga melati di sanggul rambutnya, tersenyum lembut sembari mengulurkan cangkir keramik berisi tuak. Ah Seng menerimanya dengan jemari gemetar. Sudah dua tahun berlalu sejak mereka pertama kali bertemu di tepi Sungai Larah, ketika Ah Seng terluka diserang demam dan Barin merawatnya dengan dedaunan obat. Sejak hari itu, jiwa mereka saling tertaut, melangkahi tembok tebal perbedaan bangsa dan keyakinan.

“Mengapa wajahmu begitu pucat, Ah Seng?” bisik Barin penuh kelembutan, jemari halusnya menyentuh lengan Ah Seng. “Hari ini orang-orangmu mengajak sukuku bersuka ria. Apakah engkau tidak bahagia melihat kita duduk bersama?”

Suara Barin bagaikan sembilu yang menyayat hati Ah Seng. Pria muda itu memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Barin yang polos dan penuh kepercayaan. Ah Seng tahu rahasia kelam yang tersembunyi di balik keramahan para tetua kongsinya. Pesta Tajau ini bukanlah simbol persahabatan, melainkan sebuah jebakan berdarah yang dirancang untuk menghabisi para penjaga benteng dan tetua Dayak demi menguasai secara mutlak tanah-tanah tambang emas di Montrado.

Ah Seng menggenggam erat pergelangan tangan Barin. “Barin, dengarkan aku,” bisiknya setengah berbisik, nadanya sarat akan keputusasaan. “Pergilah dari sini sekarang. Lewat pintu belakang pekong. Bawa adikmu dan tinggalkan benteng ini.”

Barin mengerutkan dahi, matanya memancarkan kebingungan. “Mengapa? Ayahku dan para tetua baru saja diajak minum bersama pemimpin kongsimu. Mereka sedang bercengkerama di depan altar—”

Sebelum Ah Seng sempat menarik Barin berdiri, sebuah suara mendengung keras membelah riuk tawa di aula.

DONGGG!

Dentuman gong tembaga raksasa dari dalam tepekong bergema dahsyat, menggetarkan dinding-dinding kayu dan menghentikan seluruh aktivitas di dalam ruangan.

Seketika itu juga, senyum ramah para pemuda kongsi berubah menjadi dingin dan kejam. Dari bawah meja jamuan dan balik lipatan baju, kilatan parang dan pisau panjang dihunus serentak. Suasana damai bertukar menjadi neraka dalam sekejap mata. Jeritan histeris pembantaian meletus. Ayah Barin dan para penjaga Dayak yang terlena tanpa senjata diikat oleh pengkhianatan, ditusuk tanpa ampun saat cangkir minuman masih berada di genggaman mereka.

“Ah Seng! Apa yang terjadi?!” jerit Barin histeris saat melihat ayahnya ambruk bersimbah darah di depan altar.

“Lari, Barin! Lari!” teriak Ah Seng seraya melompat berdiri, menarik tubuh Barin ke dalam pelukannya untuk melindungi gadis itu dari kekacauan yang merebak.

Namun, di tengah kegelapan hati yang dikuasai rasa tamak dan dendam, tidak ada tempat bagi cinta. Seorang prajurit kongsi dengan mata merah memegang parang berdarah menerobos kerumunan, mengarahkan bilahnya tajam ke arah Barin. “Pengkhianat! Jangan biarkan orang Dayak tersisa!”

“Tidak!” jerit Ah Seng.

Tanpa ragu sedikit pun, Ah Seng memutar tubuhnya, memasang dadanya sendiri sebagai perisai. Bilah tajam itu menembus punggung Ah Seng dengan telak. Rasa dingin merayap seketika, disusul rasa panas membakar yang menghentikan napasnya. Ah Seng terhuyung, roboh ke lantai kayu yang kini banjir oleh genangan darah, membawa Barin jatuh bersamanya.

“Ah Seng! Ah Seng!” Barin meratap histeris, memangku kepala kekasihnya. Air matanya menetes berhamburan, membasahi wajah Ah Seng yang makin pucat.

Ah Seng menggenggam jemarinya yang makin dingin, menyentuh pipi Barin untuk terakhir kalinya. Bunga melati di sanggul Barin telah terlepas, jatuh tepat di atas dada Ah Seng yang bersimbah darah. "Pergi... Barin... hiduplah..." bisik Ah Seng dengan sisa napasnya yang patah-patah.

Genggaman tangan Ah Seng terkulai lemas. Mata pria muda itu tetap terbuka, menatap lampion-lampion merah yang bergoyang di langit-langit pekong—menyaksikan bagaimana pesta kegembiraan yang diimpikannya berakhir menjadi tragedi kelam yang membunuh cintanya dan meremukkan jiwanya di tanah Montrado.

Hikayat Ngariboa Karumah

Maka tersebutlah pula suatu riwayat pada zaman dahulu kala, tatkala belantara tanah Kalimantan masih diselimuti kabut purba dan hukum para k...